Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Menggoda Kakak Ipar


__ADS_3

"Mau jawaban jujur atau bohong?" ucap tanya Rega balik.



"Ya jujurlah, Mas. Masa iya jawaban bohong sih...!" jawab Naziah.



"Emang kalau kamu, punya mantan pacar berapa?" tanya Rega



"Yehhh... Mas yang ditanya kok malah nanya balik." ujar Naziah menghembuskan nafas, mulai kesal. "Baiklah. Biar Mas ikut menjawab pertanyaan itu. Ziah akan menjawabnya lebih dulu. Heh... Ziah cuma punya satu mantan. Tidak lebih. Sekarang, giliran Mas yang jawab!" sambungnya menuntut.



"Em... saat Mas masih kuliah, Mas sempat naksir satu cewek. Tapi, karena Mas anaknya pemalu. Mas butuh waktu banyak buat cari cara mendekatinya. Eh...akibat terlalu banyak mikir. Ya... jadinya, si ceweknya itu udah ditembak duluan sama senior Mas waktu itu. Dan oleh karena itu pula, Mas nggak punya mantan pacar deh." jawab Rega sedikit bercerita tentang kisah cintanya yang sedikit miris.



"Masa...? Kok Zian nggak percaya ya, kalau Mas nggak punya pacar dulunya." ucap Naziah.


Dan pagi itupun, Naziah tak jadi mengaji. Sebab, Rega dengannya hanya asyik bercerita. Dari mulai tentang kepribadian masing-masing. Hingga melebar kemana-mana sampai membahas hobi dan kebiasaannya masing-masing.


Hingga sampai bumi yang tadinya masih cukup gelap. Kini mulai terang benderang. Sebab, sang mentari pagi mulai memenuhi tugasnya hari itu untuk menyinari bumi. Dan cahayanya, menembus celah gorden di kamar itu, sejak tadi. Tapi, Rega dan Naziah yang masih asyik bercerita tak menyadarinya. Nanti setelah bunyi yang dihasilkan dari sebuah ketukan pada daun pintu kamar mereka itu. Mengalihkan perhatian mereka dari dua yang mereka ciptakan sendiri itu.


*Tok...tok...tok*... (Kak Rega! Mba' Ziah! Apa kalian sudah bangun? Kenapa belum turun untuk sarapan? Bukankah, kita harus ke kantor sekarang!" ucap Devan dari balik pintu.


"Astagfirullahal'adzim, Mas! Ini sudah siang. Gara-gara Mas ngajakin ngobrol, aku sampai nggak nyadar kalau diluar sudah terang benderang gitu." ucap Naziah sambil menunjuk dengan pandangannya kearah jendela.


"Iya, 'Van. Tunggu saja di meja makan. Kami akan segera turun." jawab Rega, santai.


Menjawab pertanyaan-pertanyaan Devan yang sepertinya masih setia menunggu sahutan kedua orang pemilik kamar itu, dibalik pintu.


"Hem.... dasar pengantin baru. Apa mereka masih sibuk bercinta di pagi hari begini. Sampai lupa waktu dan lupa untuk mengisi perut mereka." umpat Devan setelah menghembuskan nafas kesal. "Membuatku iri saja dan pengen juga jadi pengantin baru kayak mereka. Biar merasakan juga apa yang saat ini mereka rasakan itu." sambungnya lagi berbicara sendiri.


__ADS_1


Setelah kurang lebih hanya dua menit saja Devan menunggu di meja makan. Akhirnya, kedua orang yang ditunggunya pun terlihat sudah menuruni tangga dan menghampirinya. Melihat Rega dan Naziah masih mengenakan pakaian tidur mereka. Devan memicingkan matanya dan bertanya dengan curiga.



"Kenapa kalian belum bersiap? Jangan bilang, kalau kakak ingin membatalkan pertemuan dengan tamu luar negeri kita itu!"



"Jangan su'udzhon dulu, 'Van! Tenang saja, aku tidak akan membatalkan pertemuan itu. Tapi, kami belum berganti pakaian saja. Karena, Mba' mu ini tak ingin membuatmu menunggu kami, lama. Untuk sarapan bersama pertama kali ini sebagai seorang istri dan juga kakak ipar untukmu. Nanti setelah sarapan, baru kita berganti pakaian" jawab Rega, santai.


"Wah... Mba' Ziah pengertian banget sih! Jangan terlalu baik, Mba'! Nanti, Devan bisa jatuh cinta lagi sama Mba'."


*pletakkkk*! Baru saja Devan selesai bicara dan menggoda kakak iparnya itu. Sebuah pukulan keras di kepalanya oleh Rega. Dengan menggunakan punggung sendok makan. Seketika membuatnya mengadu kesakitan. Sambil melototi Rega dan mengusap-usap bagian kepalanya yang terasa sakit, akibat pukulan itu.



"Aduh!!! Kak Rega... kenapa memukulku? Itu sakit tahu, kak." adu Devan. Dan bertanya apa salahnya sehingga kakak sepupunya itu tega memukulnya seperti itu.




"Siapa suruh dia berani menggoda istrimu didepan mataku pula. Dasar adik laknat dan tak berperikemanusiaan.



"Aku hanya bercanda, Kak. Begitu saja sudah diambil hati. Dasar posesif! Huhh..." ucap Devan, menjelaskan dengan sewot. Sambil masih terus mengusap bagian kepalanya yang sakit itu.



"Bodoh. Makanya, cepat nikah juga sana. Biar kita lihat disini, siapa yang akan dan lebih posesif nantinya pada istrinya." ucap Rega cuek, santai dan tak perduli dengan adiknya yang masih terlihat kesakitan itu.



Sementara Naziah, begitu mereka sampai di meja makan itu. Langsung saja bergerak melayani suami dan juga adik ipar sepupunya itu. Sambil mendengarkan dan menyaksikan perdebatan kecil suami dan adik iparnya itu. Naziah terlebih dahulu melayani Rega, suaminya. Dia mengisi nasi dan beberapa lauk pauk ke piring suaminya itu. Yang memang semua sudah tersedia di atas meja makan itu. Oleh Bibi Suni sejak pukul enam pagi tadi. Setelahnya, Naziah mengisi piring makan milik Devan sang adik iparnya itu. Dan terakhir, baru ia mengisi piring makannya sendiri.


__ADS_1


"Dasar bucin! Iya. Nanti aku cari dulu calonnya yang tepat. Baru aku akan menikahinya. Lihat saja nanti! Semoga saja aku tidak akan se-bucin dan se-posesif kakak ini." balas Devan



"Sudah-sudah! Ayo kita baca doa dan makan dulu, tanpa ada yang boleh berbicara. Sebelum makanan masing-masing selesai. Oke!!! Ayo pimpin doanya, Mas!" lerai Naziah atas perdebatan antar suami dan adik iparnya itu. Sekalian memberi titah yang tak terbantahkan itu.


Dan Rega pun dengan patuh menuruti perintah istrinya itu. Segera menghentikan perdebatannya dengan adik sepupunya itu. Dan mulai memimpin doa makan mereka itu dengan khusyuk.


Begitupun dengan Devan. Dia pun langsung menurut dan tak membantah lagi.


Setelah selesai membaca doa makan. Mereka pun makan dengan khusyuk. Hingga makan pada piring masing-masing, tanda tak bersisi.




Tepat pukul 07.00 pagi, Naziah dan Rega yang memang telah selesai mandi sejak subuh tadi. Dan hanya tinggal mengganti pakaian tidur mereka itu dengan pakaian kantor. Kini sudah bersiap berangkat ke kantor mereka. Yang tentunya satu tempat dan satu gedung itu. Hanya berbeda ruangannya saja.



Rega yang memang biasa disopiri oleh Devan itu. Sudah masuk kedalam mobilnya. Dengan memilih duduk seperti biasa di kursi penumpang di samping kursi pengemudi. Tetapi, kembali keluar dari mobilnya itu. Saat melihat Naziah masih setia berdiri di sudut lantai teras. Tanpa berniat ikut masuk kedalam mobilnya itu.



"Sayang...! Ada apa, kok masih berdiri disitu? Kenapa nggak ikut masuk ke mobil?" tanya Rega, bingung.



"Mas duluan aja ya, sama Devan! Aku mau naik motor saja bareng Ifah." ucap Naziah memberi alasan.



"Emang, Ifah-nya mana? Nanti kamu telat loh sampai kantornya, gara-gara nungguin dia." ucap Rega lagi, tak yakin. Sambil mengedarkan pandangannya ke luar mencari sosok dikatakan oleh istrinya itu, untuk menjemput.



"Dia masih dijalan, Mas. Sedikit lagi nyampe kok. Mas tenang aja. Kita nggak akan telat sampai kantor nya. Lagipula, kalau pun kami telat. Kan Mas pimpinannya! Jadi, nggak mungkinkan Mas tega memotong gaji ku. Hehehe..." jawab Naziah, meyakinkan suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2