
Sesampainya di rumah kontrakan, betapa terkejutnya Naziah. Ketiga sahabatnya sudah menunggunya didepan pintu masuk. Dan menyambutnya dengan wajah cemas dan khawatir.
Sebab mendapati luka lebam pada pipi dan sobek pada bibir Naziah. Serta mendengar kabar dari Rendi. Jika Naziah baru melawan para begal bersenjata tajam beberapa saat lalu.
Dan malam itu, ketiga sahabatnya pun meminta pada Naziah untuk menemaninya saat tidur.
Alasan mereka adalah Naziah pernah mengalami panas tinggi dan pingsan. Setelah sebelumnya bekerja terlalu keras dan melakukan perlawanan terhadap para perampok di jalanan. Dan mengalami luka lebam pada tubuh serta wajahnya di keesokan harinya seperti saat ini.
Karena itulah, ketiga sahabatnya itu bertindak siaga terhadapnya. Agar peristiwa masuk rumah sakit secara mendadak itu tak terulang lagi pada sahabat mereka itu.
Keesokan paginya, berhubung hari minggu. Dan tidur malamnya yang sedikit terganggu karena terhimpit oleh Ulfi dan Tita. Sehingga menyebabkan tidurnya tak begitu nyenyak.
Usai melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan ketiga sahabatnya itu. Naziah memutuskan untuk kembali tidur. Dan merebahkan tubuhnya yang masih terasa lelah sekali.
Tepat pukul 8 pagi, Naziah baru terbangun.
"Astagfirullahal'adzim, Aku kesiangan!!!" ucap Naziah terkejut dan langsung bergerak bangun dari tidurnya. Dan...
"Eh..eh... kau mau kemana sayang?!!"
Tiba-tiba suara yang begitu familiar dan tak asing ditelinga Naziah terdengar bertanya. Dan membuat Naziah bertambah terkejut saat menemukan Rendi ada di kamarnya.
"Aaa....!!! Astaghfirullah...Rendi!!! Sejak kapan kau ada di kamarku? Dan... siapa yang mengizinkanmu masuk kedalam kamarku hah!!!" tanya Naziah mencerca dengan nada tinggi. Sambil memundurkan tubuhnya hingga tersandar di kepala ranjang tempat tidurnya.
Rasa terkejutnya yang terbangun karena kesiangan belum saja hilang. Kini ditambah lagi dengan terkejutnya. Akibat mendapati keberadaan Rendi yang duduk begitu dekat disisi ranjangnya, didalam kamar itu.
Jantung Naziah serasa mau copot saja dari tempatnya. Sehingga, iapun spontan memegangi dadanya yang terasa bergemuruh.
"Ya Allah, rambutku!!!" ucap Naziah lagi.
Setelah sadar dengan rambut panjangnya yang tergerai begitu saja dan tak tertutupi oleh apapun saat ia tidur tadi. Naziah pun dengan terburu-buru menarik selimut yang ada di pangkuannya. Dan menutupi rambut panjangnya tersebut. Lalu menatap kesal kearah Rendi.
__ADS_1
"Em...aku sudah di sini, sejak sejam yang lalu. Dan yang mengizinkan aku masuk kesini, ketiga sahabatmu sendiri." jawab Rendi santai sambil sedikit melirik ke arloji yang ada di tangannya.
Rendi tampak begitu santai menjawab pertanyaan dari Naziah seperti itu. Dan tak lupa senyum devil yang ia tampilkan di bibirnya. Saat melihat tingkah dan keterkejutan Naziah seperti itu.
Dia merasa semua rencana yang telah ia susun sejak tadi. Sepertinya akan segera terwujud dan berjalan dengan sempurna.
Ya, berhasil mendapat izin dari Anto, Ulfi dan Tita. Untuk menunggui Naziah yang sedang tertidur di kamarnya.
Diam-diam, otak jahat Rendi sudah menyusun rencana untuk menjebak Naziah. Dan rencana itupun muncul begitu saja. Saat dia mendapati Naziah yang tidur tanpa mengenakan jilbab ataupun Ciput yang menutupi rambutnya itu.
Mendengar teriakan Naziah tadi. Ketiga sahabat Naziah yang berada di dapur pun. Langsung berlari kearah kamar Naziah untuk melihat apa yang terjadi.
"Zi'... apa yang terjadi? Kenapa kau berteriak?" tanya kompak Anto, Ulfi dan Tita.
"Kalian... kenapa membiarkan dia masuk ke kamarku sih??!" tanya kesal Naziah pada ketiga sahabatnya. "Dan kenapa tak membangunkan ku saat dia datang hah...??!!!" sambungnya
"Hehe... maafkan kami?!!! Rendi yang melarang kami untuk membangunkan mu. Kami pikir, dia adalah calon suamimu. Jadi, tak apalah jika dia ingin menjenguk dan melihat keadaanmu seperti itu." jawab Anto mewakili Ulfi dan Tita. Sambil cengengesan dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Dan tanpa membantah, Ulfi pun menurut saja dengan perintah itu. Dia mengambilkan jilbab yang dimaksud. Kemudian memberikannya pada Naziah.
Setelah mendapatkan jilbabnya, Naziah langsung mengenakan di kepalanya. Dari balik selimut yang menutupinya.
Ketika Naziah selesai mengenakan jilbabnya. Tiba-tiba suara seseorang mengucap salam dari arah pintu depan, terdengar.
"Assalamu'alaikum...!"
"Wa'alaikumsalam." jawab Ulfi, Tita dan Anto. Sambil melangkah keluar bersama-sama. Untuk menemui tamu yang datang itu.
"Bukankah itu suara Bunda?!" tanya Rendi menebak. Dan masih setia berdiri ditempatnya. Yaitu, berdiri di samping ranjang tempat tidur Naziah.
Naziah begitu geram dengan sikap santai yang ditunjukkan oleh Rendi itu. Sehingga, dia memutuskan untuk mendorong Rendi. Agar keluar dari dalam kamarnya itu.
__ADS_1
"Hei... apa yang kau lakukan padaku Zi'? Kau mengusirku?" tanya Rendi bingung.
"Iya, aku mengusirmu. Karena kau sudah sangat lancang terhadapku, Ren'. Kau sudah masuk ke kamarku tanpa izin. Dan kau juga sudah...." jawab Naziah menjelaskan.
Dan penjelasan Naziah itu terpotong begitu saja. Saat kemunculan Dokter Karina diruang televisi. Yang kebetulan, ruangan tersebut berhadapan langsung dengan kamar Naziah.
"Astagfirullah...!!! Apa yang sudah dilakukan Rendi padamu Nak? Katakan pada Bunda!" ucap dan tanya Dokter Karina berbarengan. Sambil merangkum wajah Naziah dengan kedua telapak tangannya.
"Eh...Bunda! Rendi tidak melakukan apa-apa. Dia hanya..." jawab Naziah berusaha menjelaskan lagi.
Namun, bukannya mendengarkan hingga tuntas semua penjelasan Naziah itu. Dokter Karina malah kembali memotong penjelasannya.
"Astaga! Jangan coba melindungi dan menutupi kesalahan anak Bunda yang nakal ini Nak. Katakan saja yang sejujurnya, Bunda tidak akan marah padamu. Justru Bunda akan memarahinya. Dan akan memberi hukuman padanya." ucap lembut Dokter Karina pada Naziah dan sesekali melihat kearah anaknya, Rendi.
"Anak nakal!!! Apa sudah kau lakukan pada calon menantuku hah?!!!" umpat dan tanya Dokter Karina dengan penuh kekesalan. Sambil menjewer kuat telinga Rendi dihadapan Naziah dan ketiga sahabatnya.
"Aah... Bunda, Jangan menghukum ku seperti ini! Aku bukan anak kecil lagi Bun'." ucap Rendi pelan. Sambil menahan tangan Dokter Karina yang menjewer telinganya.
"Baiklah. Jika kau merasa bukan anak kecil lagi. Maka, Bunda akan mengganti hukuman untukmu. Hukumannya adalah kau harus segera menikahi Naziah Minggu depan (titik)." ucap tegas Dokter Karina.
"Tapi Bunda...." ucap Naziah
"Tidak ada tapi-tapian Zi'. Rendi pantas mendapatkan hukuman itu. Kau tenang saja, Nak. Bunda akan membuat peraturan-peraturan yang wajib dia patuhi dan laksanakan. Setelah kalian resmi menikah. Oke?!!! Sekarang, ayo duduklah! Bunda harus mengobati luka di wajahmu itu." ucap Dokter Karina tak terbantahkan.
Kemudian mengajak Naziah untuk duduk kembali di atas ranjangnya. Agar memudahkannya untuk mengobati luka pada wajah Naziah itu.
Sementara itu, ketiga sahabat Naziah hanya bisa saling melempar pandangannya satu sama lain. Karena tak menyangka, jika izin yang mereka berikan pada Rendi tadi. Menjadi jurang perangkap bagi sahabat mereka sendiri. Dan menimbulkan rasa bersalah yang besar dalam hati mereka masing-masing.
Sedangkan Rendi sendiri, justru tersenyum bahagia dalam hatinya. Bahkan, jika bukan karena saat ini dia sedang bersandiwara. Dia bisa saja melompat-lompat kegirangan. Demi meluapkan kebahagiannya tersebut. Sebab rencananya untuk menjebak Naziah, akhirnya berhasil. Dan berjalan sesuai dengan keinginannya.
Bersambung dulu ya guys...
__ADS_1
Salam manis dan 💕dari penulis amatir ini😊