Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Menu Sarapan Porsi Doubel


__ADS_3

Keesokan harinya, Naziah terbangun lebih pagi dari biasanya. Ia merasa lapar. Karena itulah, saat bangun ia langsung membersihkan diri. Kemudian melaksanakan rutinitas hariannya yang selalu diawali dengan ibadah terlebih dahulu. Lalu, membuat sarapan untuk dirinya sendiri.


Karena semalam tubuhnya melemah. Jadi pagi itu, Naziah ingin memulihkan tubuhnya. Dengan memakan sarapan dua kali lebih banyak dari biasanya. Sebab, ia tahu tugas-tugas pelatihan kerja lapangannya untuk beberapa hari ke depan. Akan lebih berat dan membutuhkan ketelitian yang tinggi.


Sedang asyik-asyiknya memakan sarapannya. Tiba-tiba pintu kamar tamu didalam messnya itu terbuka. Dan menampilkan sosok Tasya yang masih mengenakan pakaiannya semalam.


"Astaga, maafkan aku Nona Tasya?!! Aku sudah mengganggu tidurmu ya?" ucap tanya Naziah sedikit terkejut. Dan baru teringat, jika saat ini ada seseorang yang sedang menginap ditempatnya itu.


"Jam berapa sekarang? Kenapa kau sudah bangun? Apa kau sudah merasa lebih baik?" cerca Tasya dengan sedikit kebingungan melihat Naziah yang saat ini terlihat sangat segar. Sementara semalam, dia terlihat begitu lemah.


"Em... sekarang jam 5.30 Nona. Aku sudah terbiasa bangun di jam segini. Dan Alhamdulillah, aku merasa sudah lebih baik. Apa kau ingin sarapan bersamaku?" jawab Naziah detail semua pertanyaan Tasya tadi. Kemudian menawarkan untuk sarapan bersamanya.


"Hm... aku harus berbersih dulu." jawab Tasya sambil tersenyum malu. "Apa kau punya sikat gigi cadangan?" tanya sungkan Tasya.


"Oh... ada. Sebentar aku ambilkan?!" jawab Naziah dan hampir berdiri dari duduknya.


Namun, Tasya segera menghentikan gerakannya. Dan meminta untuk dirinya saja yang akan mengambilnya.


"Eh, biar aku saja. Kau tunjukkan saja tempatnya padaku." ucap Tasya


"Em...baiklah. Itu di lemari penyimpanan sebelah kiri." jawab Naziah dan melanjutkan kembali makannya.


"Oh iya, apa kau membawa pakaian ganti?" tanya Naziah pelan dan hati-hati. Ia sedikit ragu karena takut menyinggung perasaan Tasya.


"E... sebenarnya, aku punya. Hanya saja, semua aku tinggalkan di kota P kemarin. Karena terburu-buru, aku tidak membawanya. Dan aku juga tak menyangka akan menginap semalaman di sini. Tapi, tidak apa-apa. Setelah selesai sarapan nanti, aku akan langsung kembali ke kota P." jawab Tasya sedikit malu.


"Kenapa terburu-buru untuk kembali? Jika kau mau, kau bisa memakai pakaianku saja dulu. Tetapi pakaianku, yah... hanya ada yang seperti ini saja. Jika kau mau, akan aku ambilkan?!" ujar Naziah lembut.


"Em... tidak apa-apa. Jika kau memang tidak keberatan, bila aku meminjam pakaianmu." ucap sungkan Tasya.


"Tentu saja tidak. Lagipula, yang menawarkannya padamu kan aku. Sebentar ya, aku ambilkan dulu?!!" jawab Naziah dan langsung beranjak dari duduknya menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Sepeninggalan Naziah, Tasya memperhatikan bekas makan Naziah. Dan juga kondisi dapur mungil milik Naziah.


Tak berapa lama Naziah pun kembali dari kamarnya. Sambil membawakan pakaian ganti dan juga handuk kimono untuk Tasya.


Mendapati Tasya yang sibuk memperhatikan dapur miliknya. Naziah merasa sedikit malu. Karena belum sempat merapikan dapurnya tadi sebelum duduk untuk sarapan.


"Maaf ya, dapur aku berantakan?!! Karena terlalu lapar, aku buru-buru untuk sarapan terlebih dahulu." ucap Naziah tersenyum malu.


"Ah...tidak apa-apa. Ini tidak seberantakan dapur aku, jika aku sedang di dapur. Jadi, kau tak perlu malu. Disini... justru aku yang malu sendiri he...he..." jawab Tasya malu sendiri.


"Tapi ngomong-ngomong, kau sarapan sebanyak ini tadi?" tanya Tasya lagi hati-hati.


"Hehehe... iya. Karena mengingat hari ini aku punya tugas pekerjaan yang akan cukup menguras tenaga dan pikiranku. Jadi, aku sengaja menyiapkan diri saja dengan sarapan lebih banyak." jawab Naziah sambil cengengesan.


"Em... begitu ya. Kalau boleh tahu, apa pekerjaanmu?" tanya Tasya pelan.


"Sejujurnya, aku masih kuliah semester akhir. Dan saat ini aku sedang pelatihan kerja lapangan selama tiga bulan lamanya di sebuah perusahan sekaligus pabrik perakitan mobil yang menyediakan Mess ini." jawab Naziah jujur.


"Perusahaan perakitan mobil?? Memangnya... kau kuliah mengambil fakultas dan jurusan apa?" tanya Tasya sedikit bingung.


"Hah...benarkah?!!" tanya Tasya terkejut dan sedikit tak percaya. Dan Naziah menjawab dengan anggukan kepala pasti.


"Berarti... kau bisa memperbaiki mesin kendaraan yang rusak dong?!!" duga Tasya


"Alhamdulillah... dan insya Allah... bisa." jawab Naziah.


"Wah... kau wanita yang unik. Pantas saja Rendi langsung jatuh cinta padamu." ucap Tasya malu pada dirinya sendiri.


"Aku nggak unik. Aku hanya sedikit memiliki hobi dan impian untuk menjadi mekanika handal. Dan itu berbeda dari hobi dan impian wanita pada umumnya. Itu saja." jawab Naziah menolak disebut wanita unik.


"Sama saja Naziah." sanggah Tasya. "Sudah ah... aku mandi dulu. Setelah itu, baru kita lanjut ngobrolnya ya!!!" lanjut Tasya pamit dan langsung masuk kedalam kamar mandi yang ada di dapur itu.

__ADS_1


"Oke... Aku akan menunggu sambil membersihkan dapurku ini." jawab Naziah sambil mulai bergerak membereskan piring-piring bekas makannya tadi. Dan juga kaleng-kaleng susu yang yang baru saja diminumnya.


Setelah tiga puluh menit kemudian, Tasya baru selesai dengan ritual mandinya. Dan sudah selesai berpakaian saat keluar.


Naziah yang sedang menunggunya pun. Ternyata sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Yaitu mengenakan seragam jumpsuit khusus mekanik di perusahaan tempatnya bekerja saat ini.


Dan ternyata, Naziah tak sendiri. Di sana sudah ada Rendi dan Anto juga. Mereka sedang minum teh bersama di ruang tamu Naziah.


"Wah... Kalian sudah disini rupanya." ucap Tasya.


"Iya, Nona. Mereka datang sejak 15 menit yang lalu. Aku sudah menyiapkan teh untukmu. Jadi, mari bergabung Nona Tasya?!!! Aku sudah menyiapkan teh untukmu." ucap dan persilahkan Naziah pada Tasya.


"Oh... berhentilah memanggilku dengan embel-embel Nona! Aku sungguh geli mendengarnya. Aku hanya lebih tua sedikit darimu. Jadi, panggil Tasya saja. Maka, aku akan menurutimu dan duduk untuk bergabung. Jika tidak, lebih baik aku pergi saja." kelakar Tasya dengan mengancam.


"Wah... kenapa ancamannya seperti itu? Perbedaan usia kita terpaut beberapa tahun. Jadi, wajar aku memanggilmu seperti itu. Aku merasa tidak sopan, jika hanya memanggil dengan nama saja. Em... bagaimana kalau aku panggil dengan sebutan Kakak??! Kak Tasya." ucap Naziah mempertahankan adab kesopanannya.


"Hem... baiklah, begitu saja. Itu jauh lebih baik. Aku akan bergabung." jawab pasrah Tasya. Kemudian, ikut duduk bergabung bersama Naziah, Rendi dan Anto.


Melihat obrolan yang terjalin antara Naziah dan Tasya yang terlihat akrab. Anto dan Rendi tampak saling melempar pandang. Kemudian tersenyum kecil karena bahagia atas keakraban tersebut.


"Oh iya, sudah jam 7. Kalian mulai bekerja jam berapa? Kenapa masih bersantai? Bukan maksud aku mengusir ya...! Aku hanya bertanya saja." tanya Tasya lagi setelah melihat arloji di tangannya.


"Kami masuk tepat jam 8 pagi, Kak. Jadi, kami masih punya waktu 45 menit lagi. Lagipula, tempat kerja kami itu cuma terhalang oleh tembok tinggi di depan itu saja." jelas Naziah.


"Oh begitu rupanya. Kalau begitu, bagaimana kalau kita mencari sarapan saja dulu?! Dan sarapan bersama." ucap Tasya memberikan ide.


"Boleh. Ayo!!! Kebetulan, didepan gerbang Mess ini. Ada tempat makan yang menyediakan menu sarapan yang enak. Bagaimana kalau kita ke sana saja?" jawab dan tanya Anto.


"Aduh!!! Aku sudah sarapan yang banyak tadi. Kak Tasya kan lihat sendiri?!" ucap Naziah.


"Aku lihat. Jadi, Kau cukup temani kami dan pesan menu yang ringan saja nanti. Agar tak boring, oke?!!!" timpal Tasya memaksa dan memberi usul pada Naziah.

__ADS_1


"Iya Zi'. Ikut saja ya... ayo?!!" ucap Rendi ikut menimpali.


Dengan terpaksa, Naziah pun menurut saja. Dan pergi bersama mereka untuk sarapan di luar.


__ADS_2