Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
"Siapa orang itu?"


__ADS_3

Sementara itu, di lain tempat, tepatnya disebuah kantor polisi daerah. Seorang pemuda yang masih dengan pakaian dan atribut penutup wajahnya tadi dan menikam Rega. Sedang ditarik paksa oleh polisi yang nametag-nya Radit itu Untuk masuk kedalam kantor mereka tersebut.


Tepat didepan pintu masuk, salah seorang temannya melihat dan bertanya.


"Siapa pria itu, 'Dit? Dan... apa yang dilakukannya, hingga kau tampak marah seperti itu, hem? Oh iya, bukankah kau dan Yogi sedang bertugas menjaga dan mengamankan sebuah pesta perkawinan di desa X?"


"Iya. Kami memang sedang mengamankan pesta itu, tadinya. Tapi pria ini, dia mengacaukan acara yang baru saja akan dimulai. Dengan menikam sang pengantin prianya yang baru saja sampai di sana."


Bukan Radit yang menjawab, tapi Yogi. Sedang Radit, dia sudah berlalu sambil menyeret paksa pemuda yang lengannya ada dalam genggamannya itu.


"Astaga!!!" ucap polisi dengan nametag Rumi itu, terkejut. "Wah... itu pasti yang menjadi pokok permasalahannya ada pada pengantin wanitanya!" lanjut Rumi, menebak asal.


Dan Yogi nampak mengendikkan bahunya. "Mungkin. Untuk itu, aku dan Radit akan menginterogasinya terlebih dahulu." jawab Yogi sambil berlalu masuk ke ruang interogasi.


Sedang Radit, saat sampai didalam ruang interogasi itu lebih dulu. Langsung menghempaskan begitu saja dengan kasar hingga tubuh pemuda itu membentur meja yang ada di sana. Meski begitu, tak sedikitpun pemuda itu meringis atau mengadu kesakitan. Karena perutnya sempat tertabrak sudut meja di sana.


"Duduk di kursi itu!!!" ucap Polisi itu kasar dengan nada membentak.


Setelahnya, Radit beranjak pergi meninggalkan pemuda itu di sana. Saat Radit membuka pintu dan ingin keluar. Ia bertepatan dengan Yogi yang akan masuk ke ruangan itu.


"Kau mau kemana?" tanya Yogi, sambil melihat tepat kearah wajah Radit. Yang tampak merah padam karena menahan amarahnya.



"Kau urus dia dulu. Aku akan meredakan amarahku ini, dulu. Jika tidak, aku bisa saja akan membunuh pemuda itu nantinya. Berani-beraninya dia melakukan kejahatan tepat didepan mata kita." jawab Radit. "Hahh... dasar pria gila!" lanjutnya mendesah kasar sambil mengumpat kasar pemuda tahanan mereka itu.



"Heh... baiklah. Biar aku yang mengurusnya dulu." ucap Yogi dengan sedikit menyunggingkan senyum, menertawakan temannya itu. Yang memang mempunyai tingkah emosional yang tinggi.

__ADS_1


Sepeninggalan Radit, Yogi langsung mendekati pemuda tahanan mereka itu. Yang telah duduk manis di kursinya. Tanpa ba-bi-bu, Yogi langsung mengarahkan tangannya kearah pemuda itu. Untuk melepaskan topi dan masker yang menutupi wajahnya itu.


Setelah semua penutup wajah dari pemuda itu terlepas. Langsung saja wajah itu terpampang jelas didepan mata Yogi. Hingga membuat Yogi menatapnya tajam dengan kening berkerut dalam dan salah satunya terangkat, karena bingung.


"*Anak pak kades*?!" batin Yogi. "Bukankah kau anak dari pak kades?" tanya Yogi, memastikan.


🍃🍃🍃


Sementara di rumah sakit, setelah selesai mengganti pakaian dan mencuci wajahnya. Naziah langsung bergegas kembali. Dan seiring langkah Naziah yang mulai mendekat keruang operasi tempat Rega menjalani operasinya. Tampak lampu yang ada di atas pintu ruangan itu padam. Yang artinya operasi didalam sana sudah selesai. Dan dokternya pasti sebentar lagi keluar.


Dengan segera Naziah memacu langkahnya untuk segera sampai di sana. Dan benarnya, setibanya Naziah didepan pintu itu. Seseorang dari dalam sana membuka pintu ruangan itu. Dan menampakkan seorang dokter keluar dari sana. Naziah menghadang dokter tersebut dan bertanya tentang keadaan suaminya.


"Dokter, bagaimana keadaan suami saya, Dok? Apa dia baik-baik saja? Dan bagaimana dengan lukanya?" cerca Naziah dengan wajah cemas



"Puji Tuhan! Suami anda baik-baik saja, Nona. Dan operasinya berjalan dengan lancar. Beruntung, luka sobeknya tidak mengenai organ vitalnya. Hanya sedikit merobek kulit dalam bagian perut belakangnya saja. Tapi, tidak apa-apa. Jadi, mungkin ini hanya luka kecil baginya. Kita tinggal menunggu dia siuman. Dia masih tertidur karena pengaruh obat bius pasca operasinya. Jika nanti setelah siuman dia sudah merasa baik-baik saja. Maka, dia sudah bisa langsung dibawa pulang kok. Dan melanjutkan acara pernikahan kalian selanjutnya. Aku akui, Dia termasuk pria yang kuat, Nona." jelas Dokter itu dengan menjelaskan sedikit keadaan Rega saat ini.




"Alhamdulillah! Terimakasih, Dokter." jawab Naziah sambil menghembuskan nafasnya pelan dan tersenyum, merasa lega sekali.



"Iya. Itu sudah menjadi tugas kami." balas Dokter yang nametag-nya Karim itu. "Ngomong-ngomong, Selamat ya! Kalian memang pasangan yang serasi. Yang prianya sangat tampan dan yang wanitanya pun... sangat cantik, meskipun tanpa riasan seperti ini. Aku doakan semoga kalian menjadi pasangan yang berbahagia selalu. Dan segera dikaruniai momongan ya!" lanjut Dokter Karim. Sambil mengulurkan tangannya kearah Naziah. Sebagai ungkapan selamat atas pernikahan dari Naziah dan Rega.


__ADS_1


"Aamiin...! Sekali lagi, terimakasih, Pak Dokter. Ah... Dokter bisa saja mujinya. Semoga Dokter juga panjang umur dan sehat selalu." jawab Naziah sambil menyambut uluran tangan dokter dengan sedikit tersenyum malu atas pujian dokter itu.


Ya, Dokter paruh baya itu sedikit mendengar tentang pasiennya itu tadi. Karena saat operasi berjalan, para asistennya sedikit membicarakan tentang pasien yang sedang ditanganinya tadi. Jadi, karena itulah ia berniat mengucap selamat pada Naziah. Saat keluar dan selesai tugas operasi dadakannya itu.


"Iya. Jika Dokter berkenan, datanglah nanti malam ke acara resepsi mereka, Dokter." sangga Mama Adel. "Kau masih ingat rumahku 'kan, Pak Dokter?" lanjut Mama Adel karena mengenal baik dokter tersebut. Sebab dulunya mereka satu sekolah saat ditingkat menengah pertama.


"Eh... Adel! apa ini anakmu?" tanya Dokter itu sambil menelisik wajah Naziah dan Mama Adel.


"Iya. Dia anakku yang paling tua." jawab Mama Adel.


"Maaf, Ma' dan Pak Dokter! Apa saya sudah bisa menjenguk suamiku?" potong Naziah


Karena melihat pembicaraan antara Mama dan Pak Dokter itu akan sedikit panjang. Sedangkan, dia ingin cepat-cepat melihat keadaan suaminya itu. Maka, ia pun memotong pembicaraan mereka sebentar.


"Oh iya, silahkan." jawab Pak Dokter memberi izin.


Setelah mendapat izin dari dokter tersebut. Naziah pun tak lupa pamit pada Nyonya Devi dan Tuan Rully.


"Tante, Om, Ziah izin duluan menjenguk Mas Rega ya?!" pamit Naziah lembut kepada kedua orang tua angkat sekaligus paman dan bibi dari Rega itu.



"Iya. Pergilah, Nak! Kami akan menunggu di sini." jawab Nyonya Devi lembut. Dan Tuan Rully hanya menganggukkan kepalanya, tanda setuju dengan istrinya itu.



"Terimakasih, Om, Tante. Ziah masuk ya!" ucap pamit Naziah lagi. Dan setelahnya memacu langkahnya memasuki ruang operasi itu.


Setelah masuk, indera penciuman Naziah langsung disuguhkan dengan bau obat-obatan yang begitu menyengat. Sementara matanya langsung tertuju pada pria yang baru beberapa jam tadi berubah status menjadi suaminya. Sedang tertidur di atas sebuah brankar khusus. Dan disebagian tubuh atasnya menempel beberapa kabel yang terhubung dengan sebuah mesin pendeteksi detak jantung dan sebagainya, di sisi kanannya.

__ADS_1


Melihat itu, tanpa sadar setetes air matanya jatuh dari pelupuk matanya. Dengan langkah pelan Naziah mendekati brankar suaminya itu.


"*Kenapa semua ini terjadi, Mas? Siapa orang itu? Apa kau mempunyai musuh, hingga mengikutimu sampai kesini? Jujur, aku sangat takut melihatmu tadi, Mas*." batin Naziah berkeluh kesah. Sedang air matanya mulai mengalir dengan derasnya tanpa mengeluarkan suaranya sedikitpun. Ia tidak ingin Rega mendengar suara tangisnya itu. Dan ingin membiarkan suaminya itu beristirahat sementara ini.


__ADS_2