
*14.55
Naziah sampai di bengkel tempat kerjanya. Usai memarkirkan motor matic kesayangannya. Naziah langsung bergegas ke ruangan khusus karyawan. Dan mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus mekanik di bengkel tersebut.
Saat Naziah akan menuju tempat untuk memulai pekerjaannya. Suara Bosnya menghentikan langkah kakinya.
"Ziah! Kok tumben datang terlambat nak?" tanya Bos Ardi
"Ekh...Bos. Iya, maafkan saya?! Sebenarnya, tadi saya sudah berangkat tepat waktu. Tapi diperjalanan, ada peristiwa yang memaksa saya harus berhenti sejenak." ucap Naziah jujur.
"Memaksa?! Maksudnya?" tanya Bos Ardi Bingung.
"Tadi, saat akan melintasi jalan PJ terjadi perampokan. Dan yang menjadi sasaran korbannya itu seorang Ibu-ibu, Bos. Dan dua perampok itu semuanya membawa senjata tajam. Aku nggak tega dong... kalau hanya diam saja." ujar Naziah
"Apa itu artinya, kau melawan dua pria perampok bersenjata itu Nak?
"Iya." jawab Naziah santai.
"Benarkah? Kau tidak terluka dan kenapa-napa kan Nak?" tanya Bos Ardi lagi dengan wajah khawatir. Sambil memeriksa tubuh Naziah itu dengan cara memutar-mutarnya.
"Hehe... Aku tidak apa-apa Bos..." jawab Naziah terkekeh.
"Syukurlah..." ucap Bos Ardi lega. Karena tak menemukan satupun luka sayat atau luka lebam. "Kenapa tidak menelfon polisi saja hah?" sambung bertanya dengan nada kesal bercampur khawatir.
"Buang-buang waktu saja Bos. Para perampok itu keburu kabur dong... Kalau harus tunggu polisinya datang." jawab Naziah terlalu santai
"Haahh... Kau ini, gadis nakal! Ya sudah, ayo kerja! Sudah ada dua mobil dan dua motor rusak yang menunggumu untuk kau perbaiki." ajak Bos Ardi dengan merangkul pundak Naziah sambil berjalan.
"Heem..." ucap Naziah
Jadilah siang itu, Naziah sibuk memperbaiki beberapa kendaraan. Yang menjadi bagian tugasnya sebagai montir di bengkel tersebut. Naziah berusaha menyelesaikan hari itu juga, semua tugas-tugasnya itu. Hingga sampai malam hari dan bengkel mulai tutup.
__ADS_1
Pukul 20.55 WITA, motor Naziah mulai memasuki gerbang lorong buntu menuju kontrakannya.
Dari jauh, teras rumah kontrakannya itu tampak begitu ramai. Masih di atas motor yang melaju dengan kecepatan rendah menyusuri lorong tersebut. Sesaat kening Naziah tampak berkerut dalam.
Namun di detik berikutnya, saat motornya sudah hampir memasuki garasi. Naziah baru teringat sesuatu. Setelah melihat wajah orang-orang yang ada di teras rumah kontrakannya itu.
"Lusi! Astaga, aku benar-benar lupa. Tadi siang dia memang sudah izin pada ku untuk datang." ucap Naziah membatin.
Dengan segera Naziah memarkirkan motornya kedalam garasi. Kemudian, sambil membuka helmnya. Naziah melangkah menuju teras tempat para sahabatnya dan dua tamunya itu berkumpul.
"Assalamu'alaikum semuanya...!" ucap Naziah dengan senyum manisnya. Sambil menapaki anak tangga teras.
"Wa'alaikumusalam Zi'...!" balas serentak para sahabatnya. Tak terkecuali Lusi dan Mayapun menjawab salam Naziah.
"Sudah lama datangnya?" tanya Naziah menyapa dua tamu itu.
"Lumayan... kami sudah hampir jamuran loh Zi'!" jawab Lusi lebay
Mendengar penuturan itu, Ulfi, Tita dan Maya hanya mengangguk kecil sambil tersenyum geli. Sedang satu-satunya pria diantara mereka, yaitu Anto. Hanya tersenyum manis sambil sibuk memainkan senar gitar di tangannya.
"Tidak apa-apa. Kami datang belum sejam kok, Ziah." jelas Lusi.
"Oh... Ya sudah, aku tinggal lagi sebentar ya?! Aku mandi dulu. Sudah gerah dan lengket banget rasanya nih...!" pamit Naziah
"Ya sudah, cepat masuk sana! Pantas saja saat kau datang, bau oli langsung menyeruak ke hidungku." sindir Lusi bercanda. Sambil pura-pura mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya dan menutup hidungnya sendiri.
"Ah...iyakah??!" tanya Naziah sambil mengendus tubuhnya sendiri. Dengan mengangkat kerah pakaiannya.
"Nggak juga kale'... Emang saat kerja, aku mainin oli apa?!!!" elak Naziah sedikit sewot
"Hahaha... becanda aja kali Zi'. Ya sudah, sana mandi!" usir Lusi halus
__ADS_1
"Iya-iya." ucap Naziah sambil berlalu masuk kedalam rumah.
Lusi dan Maya memang telah mengetahui tentang Naziah. Yang bekerja sebagai montir disalah satu bengkel terbesar di kota P itu. Setelah para sahabat Naziah menceritakan pada mereka. Sebelum kedatangan Naziah tadi.
Awalnya, Lusi dan Maya sedikit terkejut dan tak percaya. Jika seorang gadis lemah, lembut, cantik dan bertubuh semampai seperti Naziah. Akan berprofesi sebagai seorang montir atau mekanik handal seperti itu.
Namun, setelah beberapa lama mereka berkenalan dan bercakap-cakap. Dengan sahabat-sahabat Naziah selain Anto. Mereka baru mempercayainya. Dan semakin menambah kekaguman mereka terhadap sosok Naziah.
Selain memiliki wajah cantik dan sikap lemah lembutnya. Serta keahlian beladiri yang cukup mumpuni di bidangnya. Ternyata Naziah juga memiliki profesi unik untuk dilakoni seorang wanita masa kini.
Yang pada umumnya, lebih memilih melakukan profesi atau pekerjaan di tempat yang bersih tanpa takut akan ada noda yang mengotori pakaian mereka. Dan tetap tampil cantik walau bekerja.
Meninggalkan orang-orang yang berada di teras rumah. Beralih ke Naziah yang masuk kedalam rumah.
Sesampainya di dalam kamar, ponsel Naziah yang berada di saku jaket woodynya. Tiba-tiba berdering dengan nada panggilan khusus.
"Halo, assalamu'alaikum Ma!" ucap Naziah saat panggilan teleponnya terhubung.
"Wa'alaikum salam Nak." jawab Ibu Adel di sebrang telfon
"Apa kabar Ma? Semua baik-baik saja kan?" tanya Naziah.
Naziah coba menebak, jika Ibunya sudah menelfonnya. Selain merindukannya, pasti terjadi masalah.
"Alhamdulillah Mama dan adik-adikmu sehat. Hanya ada sedikit masalah tentang biaya sekolah Elvira. Mama sudah sangat lupa untuk menyisipkan uang untuk membayar biaya semesternya. Dan uang Mama sudah tidak cukup untuk membayarnya Nak. Bisakah Mama meminjam uangmu Nak?" tanya Ibu Adel sungkan. Setelah menjelaskan maksudnya menghubungi putri sulungnya itu.
"Apa sih Ma?!! Kenapa harus berkata pinjam? Kakak kan udah sering bilang, kalau butuh bantuan Kakak. Jangan pernah sungkan untuk mengatakan padaku. Dan jika butuh uang dariku. Jangan ada kata pinjam! Jika ada, aku akan berikan Ma. Karena membiayai Dede dan Ade itu juga tanggungjawab Kakak. Sebagai kakak tertua dari mereka, Ma." jawab Naziah tegas.
"Ya sudah, nanti Kakak transfer ya Ma. Dan katakan pada Dede: 'Besok ambil uangnya di ATM sebelum ke sekolah. Bayar uang semesternya yang tertunda itu. Sisanya bagi tiga, untuk jajan mereka dan juga Mama.' Kakak baru pulang dari bengkel Ma. Udah gerah dan lengket banget nih... Telfonnya Kakak tutup dulu ya Ma...??! Kakak mau mandi dan sholat isya. Assalamu'alaikum!" ucap Naziah ingin mengakhiri panggilan telfonnya.
"Iya. Ya sudah, jaga diri baik-baik. Wa'alaikum salam..." ucap Ibu Adel sebelum akhirnya memutus panggilan telfonnya.
__ADS_1
Setelah panggilannya terputus, Naziah langsung membuka aplikasi Mobile Banking pada ponselnya itu. Dan mentransfer sejumlah uang ke rekening Ibunya di kampung.
Setelah menerima laporan bahwa uangnya berhasil dikirim. Naziah meletakkan ponsel dan tas punggungnya di atas tempat tidur. Kemudian Naziah menyambar handuk kimononya yang tersampir di gantungan. Dan bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.