
"Maaf, aku baru dari apotek??! Karena obat maag di kotak P3Knya habis. Jadi, aku pergi untuk membelinya dulu." jelas Anto. "Ziah udah selesai makan?" sambung bertanya.
"Tuh, baru mau makan. Aku mau siapin, tapi dia nggak mau. Katanya, dia bisa makan sendiri...!" sela Tita sedikit kesal dengan sikap keras kepala Naziah.
"Beneran 'Ta. Aku bisa makan sendiri, nggak perlu disuapin segala. Kayak anak kecil saja." jawab Naziah lemah. Namun memaksa untuk kuat.
"Lemes gitu Zi'?!! Nanti pegang sendoknya pasti gemetar. Sini, biar aku saja yang suapin kamu!" ucap Anto sambil mengambil alih nampan yang masih berada di tangan Tita.
Baru saja Naziah akan melayangkan protesnya. Anto langsung menyelanya dengan tegas. "No no no. Nggak ada penolakan!!!"
"Ulfi, Tita, bisa bantu aku mendudukkannya ?!!" pinta Anto pada Ulfi.
"Emm..." jawab Ulfi dan Tita dengan sedikit anggukan kepala.
Dan Ulfi yang berada didekat Naziah. Langsung bergerak membantu Naziah untuk bangun dan duduk bersandar. Menggunakan dua buah bantal yang disusun oleh Tita.
"Ya sudah, kita sarapan duluan ya 'Nto?! Soalnya, kita ada jadwal ketemu DosPem pagi ini." jelas Ulfi sambil beranjak turun dari ranjang Naziah.
"Iya, pergilah." jawab Anto. Sambil bergerak mengambil posisi duduk disisi ranjang. Agar memudahkan dia untuk menyuapi Naziah.
Sementara itu, Tita dan Ulfi berlalu pergi meninggalkan mereka. Untuk sarapan lebih dulu dari Anto.
"Buka mulutmu Zi'! Aaak... " ucap Anto sambil mempraktekkan cara membuka mulut.
Sementara di tangannya, sesendok nasi yang dicampurkan dengan kuah bening buatan Ulfi dan Tita. Sudah menanti untuk di makan.
__ADS_1
Naziah menghembuskan nafas beratnya. Meskipun rasa malas untuk makan seperti menggerogoti hatinya. Dia tetap membuka mulutnya. Agar memudahkan Anto untuk menyuapinya.
Hingga makanan di tangan Anto itu terlihat tinggal separuh. Naziah menggelengkan kepalanya.
"Udah 'Nto. Aku kenyang" ucap Naziah
"Baru setengah Zi'... Sedikit lagi ya?!!" bujuk Anto lembut.
"Nggak mau. Jika dipaksakan lagi, aku akan muntah Anto..." tolak Naziah dengan sedikit menggelengkan kepala lemah.
"Hem...baiklah." ucap Anto pasrah. "Sekarang minum obatnya. Lalu beristirahatlah!" sambungnya sambil memberikan beberapa butir obat ke tangan Naziah.
Bagai seorang adik, Naziah patuh atas perintah Anto. Setelah semua butiran obatnya masuk ke mulut Naziah. Anto menyodorkan segelas air untuknya.
"Nggak usah lewat Kak Rafli, 'Nto. Langsung ke nomor Bos aku saja, pakai ponselku. Nih!" saran Naziah memberikan ponselnya pada Anto.
"Baiklah." ucap Anto menyetujui dan mengikuti saran Naziah.
Ulfi dan Tita masuk ke kamar Naziah untuk berpamitan. Karena mereka akan ke kampus dulu.
"Kami pergi dulu ya Zi'. Semoga cepat sembuh...!" ucap Ulfi sambil Cipika-cipiki dengan Naziah. Dan disusul oleh Tita dibelakangnya.
"Semoga cepat sembuh Ziah cantik...!" ucap Tita dan melakukan hal yang sama seperti Ulfi.
"Iya, kalian hati-hati di jalan!" ucap Naziah lemah.
__ADS_1
"Kamu nggak ngampus 'kan 'Nto?" tanya Ulfi
"Iya. Kalau aku ngampus, siapa yang akan jagain putri yang sakit ini ?!" jawab Anto santai. Dan menunjuk Naziah dengan matanya.
"Ya ya ya. Kau memang pengeran sekaligus pengawal kami yang paling tampan dan baik hati. Terimakasih ya?!" ucap Tita alay dan berakhir dengan mencubit sebelah pipi Anto.
"Auuuh...sakit tau 'Ta!!" keluh Anto sambil mengelus-elus pipinya yang terasa kebas akibat cubitan Tita.
"Ups, maaf!! Habisnya... Kamu ngegemesin sih..." ucap Tita sambil berlalu pergi.
Melihat tingkah usil salah satu sahabat mereka itu. Naziah dan Ulfi hanya bisa tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala mereka.
"Ya sudah, kami pergi dulu ya Anto. Jangan lupa, kasih kabar jika terjadi sesuatu pada Ziah. Assalamu'alaikum?!" ucap Ulfi sebelum ikut melangkah pergi. Mengikuti Tita yang sudah keluar lebih dulu dari kamar Ziah itu.
"Iya, berhati-hatilah di jalan. Walaikum salam..." balas Anto dan Naziah bersamaan.
Setelah kepergian kedua sahabat mereka itu ke kampus. Naziah mulai membaringkan tubuh yang lemahnya di atas kasur. Sedang Anto mulai sibuk dengan ponsel di tangannya. Dari menghubungi Bos Naziah di bengkel. Hingga menghubungi DosPem mereka. Untuk mewakili Naziah meminta izin tidak masuk karena sakit.
Setelah beberapa saat, Anto akhirnya selesai dengan ponselnya. Dia membuang pandangannya kearah Naziah. Dan mendapati sahabatnya itu sudah tertidur karena efek obat yang diminumnya.
kruuk... kruuk...
Tiba-tiba terdengar suara dari bagian perutnya. Seketika itu, Anto memegangi perutnya tersebut. Dan teringat, jika sejak tadi dia belum sempat sarapan pagi. Akibat terlalu mengkhawatirkan keadaan Naziah. Dia sampai melupakan dirinya sendiri.
Akhirnya, Anto memutuskan meninggalkan Naziah sebentar. Demi menenangkan kampung tengahnya yang rakyat jelatanya mulai demo.
__ADS_1