Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Malam Nokolontigi


__ADS_3

Waktu pun berlalu, detik bergulir menjadi menit dan menit berubah menjadi beberapa jam kemudian. Sedang tugas sang mentari juga mulai digantikan oleh sang rembulan untuk menyinari bumi. Sungguh! perputaran waktu yang begitu cepat dan tak terasa.


Ya iyalah nggak ke rasa! Karena dalam dunia cerita ini, hanya mengikuti kehendak penulisnya ya... hihihi,😁😁😁✌️. Lanjut...!!!


Setelah siang hari tadi, dia menjalani beragam ritual adat dan tradisi yang dianut oleh seluruh penduduk asli setempat, termaksud keluarganya. Kini didalam kamarnya, gadis itu sudah duduk manis di atas kasurnya yang berukuran sedang.


Ya, gadis itu tidak lain adalah Naziah.


Dia sedang menunggu tetua adat yang akan melakukan ritual adat selanjutnya sebagai penutup dihari itu. Namun jangan salah! Dikatakan penutup, bukan berarti ritual terakhir. Sebab, keesokan harinya masih ada ritual-ritual lainnya yang dia jalani.


Saat ini, Naziah sudah tampak sangat-sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya. Kenapa? Karena saat ini, dia mengenakan pakaian adat serba berwarna kuning. Mulai dari bajunya hingga rok yang ia kenakan. Dia juga mengenakan berbagai hiasan dan pernak-pernik berwarna kuning di atas kepalanya yang berbalutkan jilbab berwarna putih.


Dan wajahnya yang biasa hanya dipoles bedak serta lipstik tipis. Kini dipoles dengan makeup yang cukup tebal dan juga warna-warna yang mencolok. Meski seperti itu, wajah Naziah tak tampak menor sedikitpun. Aura kecantikannya justru semakin bertambah berkali-kali lipat. Dia tampak sangat cantik.


Didalam kamarnya itu, Naziah tak sendiri. Dia sedang ditemani oleh kedua sahabat wanitanya dan juga kedua adiknya. Sambil menunggu tetua adat datang ke kamarnya. Mereka berfoto ria dan bersenda gurau. Sesekali Naziah tampak tersenyum malu saat mendapat godaan dari sahabatnya, Tita.


Sementara itu, secara diam-diam dan tanpa sepengetahuan Naziah. Ulfi memotretnya saat sedang tersenyum malu seperti itu. Dan kemudian mengirimkan foto tersebut ke nomor Rega. Yang sudah dia ambil dan salin ke ponselnya tadi siang. Saat dia menyita ponsel Naziah secara diam-diam. Dan Naziah belum menyadarinya hingga saat ini. Jika siang tadi, ponselnya sempat disita oleh salah satu sahabatnya itu.


Sedang disebuah ruang keluarga. Saat sedang asyik mengobrol bersama Pamannya, Anto dan juga Ayahnya Anto. Dan sambil melihat para wanita dari keluarganya yang menyiapkan beberapa seserahan yang akan dibawa esok hari. Ponsel Rega tiba-tiba berbunyi dan bergetar. Pertanda ada sebuah notifikasi yang masuk di sana.


Rega pun mengambil ponselnya itu dan memeriksa notifikasi tersebut. Sebelah alisnya terangkat dan bertaut melihat sebuah nomor asing mengiriminya sebuah pesan gambar. Penasaran! Rega pun mengarahkan jempolnya untuk menekan tanda pada gambar tersebut. Agar gambar yang buram tersebut terbuka dan jelas terlihat.


Setelah menunggu beberapa detik untuk loading. Akhirnya, seiring dengan gambaran tersebut terbuka. Sejenak tubuh dan mata Rega terpaku. Kemudian dengan perlahan, raut wajahnya yang tampak bingung itupun berubah. Matanya berkedip sekali dengan sangat perlahan. Dan bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman.


Karena terpana dengan gambar yang baru saja dilihatnya. Tanpa Rega sadari, salah satu wanita sudah berdiri dibelakang sofa yang ia duduki. Sedang mengintip kedalam ponselnya dengan sedikit membungkukkan badan. Dan tiba-tiba berujar didekat telinga Rega. Sehingga, sedikit membuat Rega terkejut dan melihat kearah sumber suara tersebut.


"Wah... calon adik ipar ku jadi semakin cantik sekali ya... ? Jika dirias seperti itu!" ujar Mega, salah satu kakak sepupu Rega.


Karena terkejut, bukannya menanggapi ucapan kakak sepupunya itu. Rega malah balik bertanya dengan wajah bingung. Dia heran, kenapa tiba-tiba kakak sepupunya itu sudah ada dibelakangnya.


"Kak Mega!!! Ngapain disitu, kak??!" tanya Rega.


__ADS_1


"Hehehe ... nggak ngapa-ngapain. Cuma sedang ngintip ke ponsel kamu!" jawab Mega sambil cengengesan. Dan dengan raut wajah tanpa sedikitpun merasa berdosa terhadap adik sepupunya itu.



"Itu foto Ziah 'kan?" lanjut Mega bertanya, memastikan.



"Memangnya di rumah Ziah sedang diadakan acara apa malam ini, Om?" tanya Mega beralih pada Ayahnya Anto.



"Acara Nokolontigi, Nak." jawab Ayah Anto.



"Acara Nokolontigi??! Acara seperti apa itu, Om?" tanya Mega lagi.




"Maksudnya?" giliran Rega yang bertanya dengan raut wajah yang begitu bingung.


Mendengar kata perceraian dan tangan sang calon istri yang akan diberi warna merah. Rega sungguh tak mengerti. Dalam benaknya, 'Apa hubungannya coba, antara memberi warna merah di tangan calon istriku dengan perceraian? Baru juga akan ke pembahasan akad, besok. Kok sekarang sudah pembahasan cerai aja sih. Nggak ngerti aku??'


"Baiklah. Om akan menjelaskan sedikit. Sebelum acara Nokolontigi ini dilakukan. Di rumah sang calon pengantin wanita terlebih dahulu diadakan acara pengajian. Sebagai bentuk perlindungan dan kekuatan terhadap sang calon pengantin wanita dan juga calon pengantin prianya. Agar tidak mudah dipengaruhi oleh setan ataupun roh-roh jahat."


"Sedang upacara Nokolontigi-nya, sebagai makna simbolik untuk sang calon pengantin wanita tentang sebuah peristiwa perceraian. Dengan adanya alat-alat kelengkapan yang bernilai simbolik, seperti:



Daun pacar yang sudah ditumbuk halus dan akan memberi warna merah pada tangan sang wanita. Dan sebagai lambang darah (pengorbanan diri bilamana terjadi suatu perceraian).

__ADS_1


Minyak kelapa yang akan digosokkan ke kepala sang wanita. Yang bermakna, bahwa kepala itu akan dipotong bilamana berkhianat.


Kapur siri dan bedak, simbol batang leher yang akan disembelih; Yang ke


Kain putih, simbol kain kafan yang artinya mayat.



Jadi, setiap wanita remaja hingga dewasa dari suku kami yang mengerti dan memahami makna tentang upacara itu. Maka, setelah menikah dan menjadi milik seorang pria. Akan berpikir berulang-ulang kali untuk berkhianat. Seperti itu saja sepenggal pengetahuan yang bisa saya jelaskan." ucap Ayah Anto menjelaskan cukup panjang kali lebar sekali.


Sedang semua yang ada di ruangan itu, kompak mengangguk-anggukan kepalanya masing-masing tanda mengerti. Termaksud Mega dan Rega.


"Kalau begitu, apa Ziah juga mengerti dan memahami tentang makna upacara adat itu, Om?" tanya Mega lagi.


"Tentu saja. Ziah termasuk salah satu aktifis remaja yang sangat menjunjung tinggi dan sangat menghargai setiap adat istiadat yang ada. Jadi, sudah tentu Ziah akan sangat memahami makna setiap upacara dan ritual yang sedang dijalaninya dari beberapa hari sebelumnya. Hingga upacara ritual-ritual lainnya lagi yang dijalaninya. Setelah acara akad dan resepsi besok. Saya sangat mengenalnya. Karena, saya salah satu sahabatnya. Yang juga sudah dianggap kakak baginya. Begitupun sebaliknya, aku pun menganggap Ziah selayaknya adik saya sendiri."


Kini giliran Anto yang menjawab pertanyaan yang terlontar tersebut.


"Jika seperti itu, sudah dipastikan Ziah tidak akan pernah berkhianat. Jadi disini, tinggal kau saja yang harus berhati-hati, Ega! Setelah berstatus suami Ziah nanti. Jangan sampai kau berkhianat darinya. Jika sampai itu terjadi, maka Ziah akan memenggal kepalamu itu. Srett...!"


Ucap Mega dengan sedikit menekan tiap kata-katanya. Dan diakhir kalimatnya ia mengangkat tangan kanannya. Lalu mengarahkan ke lehernya dengan gerakan menyembelih.


"Jangan berkata begitu, Kak! Setiap kata itu, bisa saja menjadi doa. Jadi, jangan pernah berkata seperti itu lagi. Aku dan Ziah itu hanya manusia biasa. Masa depan setiap manusia itu tidak ada yang akan bisa menebak, mengetahui dan menentukan, selain Allah SWT. In syaa Allah, Aku dan Ziah akan saling setia dan mampu menjaga keutuhan rumah tangga kami nantinya. Aaamiin!!!" jawab Rega


"Aamiin...!!!" jawab serempak


Yang langsung kompak di aamiin 'kan oleh semua yang ada di sana.


"Astagfirullahal'adzim...! Maafin Kakak, Ega??! Kakak nggak maksud kok." ucap Mega tulus.


"Iya. Tidak apa-apa. Aku sudah memaafkan Kak Mega kok, sebelum kakak minta maaf." jawab Rega juga tulus. "Ya sudah, Ega pamit ke kamar duluan. Assalamu'alaikum!" lanjut Rega berpamitan pada semuanya.


"Iya. Wa'alaikumsalam."

__ADS_1


__ADS_2