Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Tamu Malam Minggu


__ADS_3

Setelah pengenalan lingkungan pabrik dan nama-nama peralatan serta kegunaannya. Mereka lanjut pengenalan dengan staf-staf penting dari pabrik tersebut. Hari itu mereka memang punya jadwal perkenalan dan segala peraturan didalam pabrik tersebut.


Dan keesokan harinya adalah jadwal mereka belajar menggunakan segala peralatan yang akan mereka gunakan untuk bekerja selama tiga bulan ke depan.


Hari-hari pun berlalu, tak terasa sudah sebulan Naziah menjalani tugas magangnya. Sama seperti saat dia bekerja di bengkel milik Pak Ardi. Naziah pun begitu tekun dan bertanggungjawab atas pekerjaan yang ia lakoni saat ini. Hingga beberapa staf dan teman seniornya, kagum atas dirinya.


Naziah benar-benar menerapkan semua ilmu pengetahuan yang ia dapat selama di kampus. Dan selalu memperhatikan serta menerapkan ilmu-ilmu yang baru dia dapatkan dari mentornya.


Dan selama bekerja, Naziah dan Anto tak pernah bertemu. Sebab, pabrik tersebut terdiri dari beberapa gedung didalamnya. Dan mereka bekerja di gedung yang berbeda. Serta saat dalam keadaan bekerja, mereka di larang menggunakan ponsel.


Karena itulah, Rendi dan Naziah hanya bisa berkomunikasi saat malam hari saja. Setelah Naziah sudah kembali Mesnya dan beristirahat.


Terpisah dan kurangnya info tentang situasi tempat Naziah melakukan PKL/magang itu. Membuat Rendi sedikit khawatir tentang keamanan kerja calon istrinya itu.


Sehingga, tiba-tiba di suatu malam minggu tanpa sepengetahuan Naziah. Rendi yang ditemani oleh Anto. Sudah berdiri dan mengetuk pintu pintu Mess milik Naziah.


Tok...tok...tok...


"Assalamu'alaikum...!"


"Wa'alaikumsalam."


Mendengar suara Anto yang memberi salam didepan pintu Messnya. Tanpa perlu bertanya lagi. Naziah langsung membuka pintu.


Dan betapa terkejutnya dia saat melihat sosok Rendi yang berdiri di belakang tubuh Anto. Merasa diri sedang berhalusinasi Naziah sedikit mengucek matanya. Demi meyakinkan, bahwa penglihatannya itu benar dan nyata adanya. Bukan sekedar halusinasinya semata.


"Hai sayang...!" sapa Rendi sambil melambaikan tangannya kearah Naziah. Dan memperlihatkan senyuman terbaiknya.


Naziah yang tak menyangka akan kedatangan Rendi, si calon suami. Hanya terpaku didepan pintunya dengan kening bertaut. Dan terbengong dengan mulut yang sedikit menganga.


"Sayang... apa kau tak berniat mengajak dan mengizinkan kami masuk kedalam Mesmu ini?" tanya Rendi sedikit berbisik ke telinga Naziah.

__ADS_1


Karena sapaannya tak mendapat respon dari calon istrinya itu. Rendi kembali bertanya sambil mendekati Naziah. Kemudian sedikit melirik kearah dalam Mess Naziah itu. Seperti sedang mencari sesuatu didalam sana.


Namun, sikap bengong Naziah membuatnya gemes sendiri. Dan berniat mengusili calon istrinya itu. Dengan gerakan secepat kilat, Rendi ingin mencuri menc**m pipinya.


Tetapi gerakan Rendi itu mampu dibaca olehnya. Setelah merasakan nafas hangat Rendi yang sedikit menerpa pipinya. Langsung saja Naziah tersadar dari bengongnya. Dan secepat kilat pula Naziah memundurkan tubuhnya. Demi menghindari niat buruk Rendi tersebut.


"Hei...!!! Apa yang kau lakukan??!" ucap Naziah dengan nada sedikit meninggi.


Sementara Anto hanya memalingkan wajahnya kearah lain dan tersenyum malu. Melihat tingkah laku calon suami sahabatnya itu.


"Apa?!!!" tanya Rendi


Ia pura-pura seperti tak melakukan apa-apa. Kemudian tersenyum devil menatap kearah Naziah.


"Makanya, jangan bengong aja...! Tamu datang, bukan disuruh masuk. Eh... malah dilihatin aja. Apa perlu ku curangi dulu, baru sadar Hem??!" ucap dan tanya Rendi dengan nada santai. Sambil menaik-turunkan alis keningnya untuk menggoda Naziah.


"Lupakan saja usahamu untuk berbuat curang padaku itu!!! Karena itu tidak akan pernah berhasil sekalipun. Ayo masuk!!!" jawab Naziah sedikit ketus. Sambil membuka lebar pintu masuk itu.


"Silahkan duduk dulu ya! Aku buatkan minuman untuk kalian." ucap Naziah


Setelah itu berlalu pergi masuk kearah dalam Messnya. Untuk menyiapkan minuman yang ia katakan. Dan setelah minumannya siap, iapun kembali ke ruang tamunya.


"Silahkan diminum 'Nto... Ren'...! Maaf... hanya ini yang bisa aku sajikan untuk kalian. Aku belum sempat belanja." ucap Naziah


"Iya, terimakasih sayang. Ini saja sudah cukup kok." jawab Rendi.


"Iya Zi'. Ini saja, sudah lebih dari cukup untuk kami. Terimakasih. Silahkan kalian bicaralah! Jangan pedulikan aku. Anggap saja kursi yang aku duduki ini kosong ya...?!!!" ujar Anto


Dia merasa sungkan karena sudah seperti menjaga orang yang sedang berpacaran. Namun itulah, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Untuk menjaga Naziah hingga ia menemukan seseorang yang mampu melindungi dan menjaganya.


Karena Rendi baru berstatus calon suami. Maka dari itu, Anto merasa masih perlu untuk menjaga Naziah. Dan, Agar ia tak dianggap pengganggu waktu kebersamaan sahabatnya sendiri saat ini. Anto pun menyibukkan diri dengan ponselnya. Dia menyetel musik pada ponselnya dan mengenakan earphone ke telinganya.

__ADS_1


Selesai menyajikan minuman dan sedikit sisa biskuitnya. Kemudian, Naziah pun ikut duduk untuk menjamu tamu dadakannya itu.


"Apa yang membawamu jauh-jauh kemari Ren'?" tanya Naziah pelan.


"Aku merindukan mu. Sebulan rasanya seperti sudah setahun aku tak melihatmu. Dan aku sudah tidak sanggup untuk menunggu. Karena itu, lebih baik aku saja yang menemuimu." jawab Rendi lembut.


"Oh iya, bisakah kau memanggilku dengan sebutan sayang. Seperti kau memanggil diriku melalui panggil telefon, Hem...?! Jika kau terus memanggil dengan Namaku. Aku merasa... statusku sudah sama seperti status antara kau dan Anto saja." ujar Rendi dengan nada sedikit merajuk.


"Aku malu pada Anto, Rendi....! Jangan aneh-aneh deh." jawab Naziah dengan menyembunyikan senyum yang menciptakan warna merah merona pada pipinya.


"Kenapa mesti malu? Dia sudah menyumpal telinganya dengan earphone. Jadi, dia sudah tidak akan mendengarkan segala pembicaraan kita sayang. Cobalah?!!!." jelas Rendi sambil sedikit melirik kearah Anto.


"Baiklah. Bagaimana kabar Bunda?" tanya Naziah berbasa-basi.


"Alhamdulillah Bunda sehat dan sangat merindukanmu. Dan beliau juga menitipkan sebuah pertanyaan untukmu." jawab Rendi


"Pertanyaan apa itu?" tanya Naziah


"Bisakah kau cepat kembali? Karena dia sudah tidak sabar untuk segara menikahkan kita. Agar dia segera memiliki cucu dari kita." jawab Rendi


"Tidak bisa. Dan tolong katakan pada Beliau, jangan terlalu berharap besar padaku. Jika kau menemukan gadis lainnya, menikahlah Ren'!! Aku tidak apa-apa jika kau membatalkan pertunangan kita ini." jawab Naziah datar


"Apa yang kau katakan? Sampai kapanpun, aku tidak akan menikah dengan gadis selain dirimu Zi'. Aku akan setia menunggumu." tanya dan jawab Rendi tegas.


"Oh iya, selama disini... tidak ada yang menggoda mu kan?" tanya Rendi lagi berubah posesif.


"Em...ada. Hanya saja, aku tidak menghiraukan mereka. Aku lebih fokus pada pekerjaan ku saja. Agar semua tugas-tugas kuliahku selesai dengan nilai terbaik nantinya. " jawab Naziah santai


"Benarkah?!! Oh iya, mana cincinmu? Kenapa kau tak memakainya?" tanya Rendi dengan tatapan menelisik.


Rendi bertanya, Setelah matanya tak sengaja tertuju pada jari manis di tangan kanan Naziah. Dan tak menemukan cincin pengikat yang ia telah sematkan sebagai bukti bahwa seorang Naziah telah ada yang memiliki.

__ADS_1


"Eh...Maafkan aku?!! Aku..." ucap Naziah


__ADS_2