
Setelah berhasil memarkirkan mobilnya ditempat yang seharusnya. Pria paruh baya dan Naziah pun terlihat turun dan masuk kedalam warung Mba' Yuyun.
"Assalamu'alaikum Mba'." ucap Naziah sambil melepas alas kakinya dan melangkah masuk.
"Wa'alaikum salam Zi'. Kok... Bapaknya ikut?" balas dan tanya bingung Mba' Yuyun. Saat melihat orang yang ditolong oleh Naziah, malah mengikuti Naziah.
"Iya. Kebetulan saya juga mau makan Mba'. Bolehkan?" jawab dan tanya Pria paruh baya itu cepat. "Dan... karena Nona ini sudah menolong saya. Maka, saya ingin berterimakasih padanya. Dengan mentraktirnya Mba'." sambungnya menjelaskan. Agar Mba' Yuyun tidak salah paham dan bingung lagi.
"Oh... seperti itu toh ceritanya. Ya boleh toh Bapak. Silahkan ikut duduk bersama Ziah!" jawab Mba' Yuyun mengerti. Kemudian mempersilahkan pria paruh baya itu untuk ikut duduk di meja yang telah dipilih Naziah tadi. "Menunggu sebentar ya... Saya akan siapkan menu spesial warung saya ini ya Pak?!" sambungnya lagi.
Dan Pria paruh baya itu mengangguk setuju sambil tersenyum kecil. Lalu, mengikuti langkah Naziah menuju mejanya yang sempat ia tinggalkan tadi.
"Silahkan duduk Pak!" ucap Naziah mempersilahkan Pria tersebut.
"Iya. Oh iya, kita belum kenalan dengan benar tadi. Kenalkan, nama saya Roy Rahardian." ucap Pria paruh baya itu memperkenalkan dirinya. Sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Naziah.
Dengan segera, Naziah pun menyambut uluran tangan itu. Dan kembali memperkenalkan dirinya. "Iya. Nama saya Naziah, Om. Panggil Ziah saja. Dan... bolehkan saya panggil Om Roy saja??!"
"Tentu. Itu memang lebih baik." jawab Om Roy dengan tersenyum senang. "Oh iya, sebentar... saya telfon istri saya dulu. Agar dia bisa ikut makan bersama kita disini. Bolehkan?" ucap izinnya lagi pada Naziah.
"Sangat boleh Om." jawab Naziah cepat. "Ajak saja istrinya kesini. Biar kita tidak dianggap ada apa-apanya sama mereka." sambungnya dengan sedikit berbisik dan mengangkat jari telunjuk dan tengahnya yang sedikit ditekuk. Sambil menunjuk ke sekeliling mereka dengan bola matanya.
Mendengar dan mengerti dengan tanda yang diperlihatkan oleh Naziah. Om Roy pun langsung menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Kemudian segera mengeluarkan ponsel pintarnya dari saku dalam jasnya. Dan langsung menghubungi nomor istrinya di sana.
"Halo Bunda!" ucap Om Roy menyapa istri yang ada dibalik telfonnya.
"......"
"Maaf ya... ayah nggak sempat jemput Bunda sekarang?! Karena tadi, mobil Bunda mendadak mogok ditengah jalan. Dan beruntungnya, ada gadis cantik ini yang menolong ayah. Jadi, untuk membalas kebaikannya. Ayah akan mentraktirnya sekarang. Dan Bunda harus kesini ya... ayah tunggu!!! Bunda naik taksi saja. Biar ayah share lokasi ayah sekarang. Oke??!" tutur Om Roy sedikit memberi penjelasan pada istrinya.
__ADS_1
"......"
"Oke. Sampai jumpa disini ya Bun'!" ucap Om Roy sebelum akhirnya memutus panggilannya.
Dan segera men-share lokasi tempatnya bersama Naziah saat ini. Agar istrinya cepat sampai, tanpa harus nyasar.
Sementara Naziah, melihat Mba' Yuyun yang tampak sedikit kesusahan dalam membawakan makanan pesanan mereka. Naziah segera berdiri dan membantu Mba' Yuyun membawa sebagian menu makanan tersebut ke mejanya dan ikut menyajikannya.
"Em...tolong tambahkan satu porsi lagi menu yang seperti ini ya Mba'! Untuk istri saya. Dia dalam perjalanan ke sini sekarang." ucap Om Roy pada Mba' Yuyun.
"Oh... oke Pak. Akan saya siapkan segera." jawab patuh Mba' Yuyun dengan senang hati.
Bagaimana tidak, hari ini berkat kedatangan Naziah di sana. Warungnya menjadi ramai dan banjir orderan dari luar juga melalui via grab.
Beberapa menit berlalu, tampak sebuah taksi berhenti didepan warung tersebut. Dan menurunkan seorang wanita paruh baya yang masih tampak cantik meski di usia segitu.
Melihat wanita yang baru saja turun dari mobil taksi itu. Kening Naziah tampak berkerut dalam. "Bunda Karina?! Kenapa dia kesini? Apa istri Om Roy yang dimaksud itu... Bunda Karina?" ucap batin Naziah penuh tanya.
Bunda Karina pun langsung melihat kearah Om Roy. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat wanita yang sedang duduk satu meja dengan suaminya itu. Yang ternyata adalah wanita yang sangat ia kenal. Langsung saja senyuman bahagia terlukis di wajah cantiknya itu.
"Astaga, Ziah...! Kau rupanya Nak." ucap Bunda Karina dengan senyum bahagianya.
Dan segera saja dia menghampiri meja Naziah dan suaminya itu. Dan langsung memilih duduk di samping Naziah. Membuat kening Om Roy terangkat dan berkerut karena bingung melihat keadaan itu.
"Iya. Assalamu'alaikum Bunda. Apa kabar?" ucap sapa Naziah dengan menyalami tangan mertuanya itu, takzim.
"Wa'alaikum salam, Nak. Alhamdulillah, seperti yang kau lihat, Bunda sehat. Bahkan, Bunda sangat... sangat merasa sehat setelah melihatmu." jawab Bunda Karina jujur. "Kau juga sehat kan, Nak? Kapan kau kembali dari kota M? Kenapa tak memberi kabar pada Bunda hem...??!" sambungnya, balas bertanya dengan beberapa pertanyaan.
"Alhamdulillah Ziah juga sehat, Bun'. Ziah sampai di kota ini, semalam. Ziah memang sengaja tidak memberi kabar. Karena rencananya, setelah dari sini. Ziah baru akan menemui Bunda di rumah sakit untuk memberi kejutan. Eh... ternyata, kita sudah dipertemukan disini." jawab Naziah lembut dengan memberi penjelasan.
__ADS_1
Baru saja Bunda Karina ingin menanggapi penjelasan calon menantunya itu. Tiba-tiba Om Roy mencegatnya dengan berkata : "Tunggu!!!" ucapnya cukup lantang. "Apa kalian saling kenal?" tanyanya mengungkap rasa penasarannya yang tertahan sejak tadi.
Refleks, Naziah dan Bunda Karina menganggukkan kepala mereka kompak.
"Tentu saja kami saling kenal, Ayah. Karena Nak Ziah inikan calon istri Rendi. Yang berarti calon menantu kita." jawab Bunda Karina pelan dan lembut. "Apa ayah tidak mengenalinya?" sambungnya bertanya.
"Benarkah??!" tanya ragu Om Roy sambil memperhatikan wajah Naziah dengan seksama. "Astaga!!! Dia benar-benar Si Naziah, calon menantu kita. Aku sungguh tidak mengenalinya tadi, Bunda." ucapnya mengejutkan Naziah dan Bunda Karina. Sambil menepuk jidatnya pelan namun sedikit keras. Setelah menyadari kenyataan itu.
Ya, Om Roy memang belum pernah sekalipun bertemu dengan Naziah secara langsung. Namun, Bunda Karina sudah pernah mengirimkan foto Naziah. Pada saat pertunangannya dengan Rendi.
"Wah...ayah ini, apa foto yang Bunda kirim tampak kurang jelas?!" tanya Bunda Karina
"Tidak. Foto itu tampak sangat jelas. Tetapi, penampakan nyata seorang Nak Naziah ini yang lebih cantik dari fotonya. Karena itulah, Ayah jadi tidak mengenalinya tadi." jawab dan jelas Om Roy sedikit menggombal calon menantunya untuk menutupi kesalahannya.
"Ahh...Om Roy terlalu berlebihan. Jangan seperti itu. Kepalaku akan membesar nantinya seperti balon. Kemudian akan berterbangan di langit-langit warung ini, bisa berabe Om. Hihihi..." elak Naziah dan tertawa cekikikan akhirnya.
"Oh iya ya. Hahaha..." ucap Om Roy ikut tertawa bahagia. "Ngomong-ngomong, kenapa saya masih dipanggil Om? Seharusnya, karena istri saya kau panggil Bunda. Kau juga harus memanggilku dengan panggilan Ayah, Nak. Bukan begitu Bunda?" sambung Om Roy kemudian. Menuntut untuk dipanggil Ayah juga oleh Naziah.
"Ah iya, baiklah... A-yah." jawab pasrah Naziah meski sedikit kaku.
"Nah... begitu kan enak dengarnya. Hahaha... teruslah begitu, oke!!!" ucap senang Om Roy yang kini berganti panggilan menjadi Ayah Roy.
Naziah hanya sedikit mengangguk sambil tersenyum.
Karena makanan mereka semua sudah tersaji rapi di atas meja. Mba' Yuyun pun mempersilahkan mereka untuk makan.
"Selamat menikmati Pak... Bu... dan Ziah!" ucap Mba' Yuyun sopan.
"Terimakasih Mba'." jawab mereka serempak.
__ADS_1
Dan kemudian mereka mulai menyantap makanan mereka masing-masing. Sambil terus bercanda ria dengan pembahasan yang unfaedah.