Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Sebatang kara


__ADS_3

Setelah Naziah menunggu hampir setengah jam lamanya di kursi tunggu itu. Akhirnya, Devan pun kembali dari membeli sesuatu seperti yang dikatakannya. Terbukti, dikedua tangannya saat ini terlihat menenteng sebuah paper bag berukuran sedang dan juga sebuah kantong kresek berwarna hitam.


Namun, lampu merah yang terdapat di atas pintu ruangan instalasi gawat darurat itu belum juga padam. Yang itu artinya, penanganan khusus atas luka Rega belum selesai.


Setelah langkah kakinya berada tepat didepan posisi duduk Naziah.


"Ini satu set pakaian. Silahkan Anda ke toilet dan kenakan pakaian itu, Nona!" ucap Devan sambil memberikan paper bag ditangannya ke arah Naziah.


Bukannya langsung menyambut paper bag pemberian Devan itu. Naziah menatap bingung dan ragu untuk menerima benda tersebut.


"Tuan... Saya sungguh tidak apa-apa. Jika hanya mengenakan pakaian ini saja sambil menunggu operasi Tuan Rega selesai. Kenapa Anda harus repot-repot membelikan saya pakaian, Tuan?!" tolak Naziah halus. Karena merasa tidak enak hati pada sekretaris Big Bosnya itu.


"Saya tidak merasa repot kok, Nona. Justru, kalau saya tetap membiarkan Anda dalam kondisi seperti ini hingga operasi Tuan Rega selesai. Atau sampai beliau sadar dalam beberapa menit atau bahkan jam nanti. Dan Beliau melihat kondisi Anda yang masih seperti ini juga. Maka, Beliau bisa saja segera memecat saya saat itu juga. Apa Anda tega melihat saya dipecat, Nona?" tanya Devan setelah berusaha memberi pengertian dan alasan atas semua tindakan yang dilakukannya itu.


Mendengar pertanyaan seperti itu, spontan Naziah menggelengkan kepalanya. Namun detik berikutnya, setelah otaknya mulai mencerna ulang dengan cepat semua penuturan Devan sebelum melempar pertanyaan itupun. Naziah menatap bingung wajah Devan dan bertanya.


"Tapi... bagaimana bisa Tuan Rega memecat Anda hanya karena saya, Tuan? Itu sangat tidak masuk akal." ucap tanya Naziah. Akhirnya mengungkapkan kejanggalan yang ia rasakan itu.


"Em... itu akan masuk akal Nona. Jika suatu saat nanti Nona tahu alasan sebenarnya yang mendasari semuanya itu. Sudahlah Nona!!! Sebaiknya, ayo segera bersihkan tubuh Anda dan kenakan pakaian ini." putus Devan tak ingin dibantah lagi. "Setelah itu, kita harus makan. Agar tubuh kita tetap fit menunggu hingga operasi Tuan Arga itu selesai. Aku yakin, sepulang kerja tadi Anda pasti belum sempat makam malam 'kan?" lanjut Devan lagi bertanya demi memastikan.


"Iya. Baiklah, Tuan." jawab Naziah pasrah dan mengangguk pelan. Kemudian menyambut juga paper bag pemberian Devan yang sejak tadi menggantung didepan matanya.


Setelahnya, Naziah pun segera melangkahkan kakinya menuju toilet terdekat yang ada di area sana. Sesampainya di toilet, tanpa membuang banyak waktu. Langsung saja Naziah masuk kedalam salah satu toilet wanita yang kosong.


Hanya butuh waktu lima belas menit saja. Akhirnya, Naziah selesai membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian lengkap dengan hijabnya yang tadi diberikan oleh Devan padanya.

__ADS_1


Usai mengganti pakaiannya dan merapikan hijabnya. Naziah melihat sebentar pantulan dirinya di kaca dalam toilet tersebut.


"Alhamdulillah, pakaian ini sangat pas untukku. Tidak sempit ataupun longgar. Pandai juga Tuan Devan memilihkan pakaian untukku. Aku harus berterimakasih padanya, nanti atas ini." ucap Naziah


Dia mengucap syukur sambil sedikit memutar-mutar tubuhnya memperhatikan pakaian yang ia kenakan. Kemudian dilanjutkan mengisi pakaian kotornya kedalam paper bag bekas pakaian yang telah ia kenakan saat ini.


Setelah merasa puas dan cukup rapi dengan penampilannya. Naziah pun segera keluar dan kembali menemui Devan untuk sama-sama menunggui jalannya operasi Tuan Rega hingga selesai nanti.


Karena hanya ada pakaian saja tanpa adanya peralatan makeup ataupun bedak yang disiapkan oleh Devan untuknya. Naziah bersyukur dan tetap percaya diri tampil ditempat umum seperti itu dengan wajah alaminya.


Dari jarak jauh, tanpa sengaja Devan yang mengalihkan pandangannya menyusuri lorong. Matanya langsung menangkap sosok Naziah yang sedang berjalan kearahnya. Diam-diam, Devan menatap kagum pada Naziah.


"Rega memang tidak salah, jika harus jatuh hati pada wanita ini. Lihatlah!!! Meski wajahnya tampak polos dan tak tersentuh bedak sedikitpun. Itu tak sedikitpun mengurangi kecantikannya." batin Devan sambil terus menatap wajah Naziah dari kejauhan.


Karena terlalu terpaku menatap kearah kedatangan Naziah. Hingga Devan tak menyadari, jika pintu ruangan yang sedang ditungguinya itu sedikit terbuka. Dan menampilkan seorang perawat di sana.


"Ada apa Suster? Kenapa Anda sudah keluar sementara lampu itu belum padam?" cerca Naziah pada suster perawat yang keluar itu.


"Kami butuh donor darah yang sama, sekarang Nona. Luka Tuan Rega terlalu banyak mengeluarkan darah. Dan bank darah di rumah sakit kami ini, telah kehabisan stok golongan darahnya. Sedang saat ini, stok kantong darah terakhir yang digunakan sudah hampir habis. Apa Nona keluarganya?" jawab dan tanya balik Suster tersebut dengan cepat pada Naziah.


"Saya bukan keluarganya, Sus. Saya hanya karyawan yang kebetulan bersamanya, tadi. Tapi, kalau boleh saya tahu, apa golongan darahnya, Sus?" jawab Naziah jujur dan lagi balik bertanya.


Mendengar penuturan suster tentang habisnya stok darah untuk Rega. Seketika itu, Devan yang tadi masih terpesona atas kecantikan Naziah tadi. Langsung tersadar dan beranjak dari duduknya. Ikut mendekati suster yang sedang berbicara dengan Naziah itu.


"Apa golongan darahnya, Suster? Aku adik sepupu dari Tuan Rega. Jika bisa, ambil darahku saja, suster!!!" timpal Devan menggebu-gebu menawarkan diri.

__ADS_1


"O positif." jawab suster singkat, jelas dan padat.


Mendengar jawaban itu, seketika Devan yang tadinya menggebu-gebu. Langsung merasa lemah tak berdaya dan menjadikan dinding sebagai penopang tubuhnya yang hampir roboh karena syok.


"Astagfirullah, bagaimana ini?! Rega itu seorang yatim-piatu dan dia juga tidak punya saudara kandung di dunia ini. Dia sebatang kara." ungkap Devan lirih dan merasa putus asa.


"Suster!!! Saya memiliki darah dengan golongan yang sama. Namun, Rhesusnya negatif, Sus. Apakah boleh?" ucap Naziah dan bertanya.


"Sempurna!!! Itu lebih baik, Nona." ucap Suster tersebut dengan senyuman secerah mentari pagi. "Ayo ikut aku, Nona!!! Aku harus memastikannya lebih dulu dan mengecek kondisi Anda." lanjutnya mengajak Naziah sambil beranjak lebih dulu dari sana.


Naziah pun langsung mengikuti langkah cepat Suster itu menuju ruang pemeriksaan. Sedang Devan, setelah mendengar Naziah memiliki golong darah yang sama dengan Rega. Seketika itu, kembali bertenaga dan mengucap syukur atas semua itu. Kemudian mendudukkan kembali tubuhnya, di bangku tunggu sebelumnya. Sambil menunggu, tak putus-putusnya ia berdoa dalam hati. Berharap kondisi fisik dan kesehatan Naziah stabil. Agar bisa melakukan transfusi darah langsung pada Rega nantinya.


*


*


*


Bersambung....


Penasaran nggak sama ceritanya???


Jika, ya...?!


Sama. Aku juga masih penasaran sama ceritaku selanjutnya. Karena idenya masih nge-gantung didalam otakku. Dan aku juga bingung, mau nolong Rega dan melanjutkan ceritanya hidupnya lagi. Ataukah berakhir sampai disini saja ya???

__ADS_1


Berikan komentar kalian ya... pada kolom komentar. Dan jangan lupa untuk meninggalkan jejak dengan cara menekan tanda πŸ‘, 🎁 dan jika berkenan berikan tanda vote kalian. Terimakasih πŸ™πŸ₯°πŸ₯°


Salam hangat dan penuh πŸ’•dariku penulis cerita amatir dan penuh imajinasi. Yang tentunya cerita ini hanya fiksi dan khayalan aku saja. Jadi, jika ada cerita dan kalimat yang tak sesuai. Mohon maaf dan maklumi ya??! Karena aku hanya berniat menghibur para pembaca semua. πŸ€—


__ADS_2