Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Lamaran Rega


__ADS_3

* Masih di ruang makan khusus


"Van!" panggil Rega tanpa mengalihkan pandangannya ke orang yang dipanggilnya. Dia fokus menatap wajah Naziah yang penuh kebingungan dan menuntut jawabannya. " Bisakah kalian tinggalkan kami berdua saja disini, sebentar?!" sambung Rega.


"Tentu, Tuan." jawab Devan cepat sambil menganggukkan kepalanya. "Ayo, Nona! Kita tunggu Nona Naziah di luar." sambung Devan beralih pada Ifah yang duduk kursi yang diapit kursi yang didudukinya dan kursi Naziah, mengajak keluar dari ruangan tersebut.


"Tapi, Ifah---" ucap Naziah mencoba menahan teman sekaligus bawahannya itu.


"Aku tidak akan berbuat tak senonoh padamu. Aku hanya butuh privasi saja." potong Rega dengan menekan setiap katanya.


Mendengar penyataan yang diucapkan Rega tersebut. Ifah pun menghembuskan nafas lega. Karena pikiran-pikiran negatif yang sempat terlintas sejenak dibenaknya itu. Langsung seketika lenyap dengan seiringnya pernyataan tersebut. Sebelum pergi, Ifah melempar senyum dan sedikit membelai lengan Naziah untuk menenangkan temannya itu. Seolah-olah lewat sentuhannya itu, Ifah mengatakan; 'bahwa semua akan baik-baik saja, tenanglah!'. Sehingga mampu membuat Naziah yang tadinya tak ingin ditinggal berdua saja dengan seorang pria didalam ruangan itu. Akhirnya tampak menurut dan pasrah. Sebelum akhirnya, dia melangkah pergi dengan mengikuti langkah Devan yang sudah lebih dulu, keluar.


Setelah kepergian Devan dan Ifah, sejenak terjadi keheningan diantaranya. Naziah yang bingung dan menunggu apa yang akan dikatakan Rega nanti. Serta sibuk menerka-nerka; bentuk terimakasih seperti apa, sebenarnya yang diinginkan Big Bosnya itu. Sedang Rega sendiri, sibuk menyusun kata-kata dalam benaknya untuk menyatakan keinginannya itu.


"Mereka sudah pergi. Tolong... jangan membuang banyak waktu, Tuan! Anda seorang pemimpin di Perusahaan ini. Jadi, kapan saja Anda ingin kembali bekerja, tak masalah. Nah, saya...???!" ucap Naziah, semakin tak sabar berlama-lama di sana.


Saat tinggal berdua saja atau hanya dihadapan Devan. Naziah memang terbiasa memanggil Rega dengan sebutan Tuan. Berbeda saat dihadapan para karyawan lain. Naziah akan memanggilnya Bapak alias Pak Direktur Rega.


"Zi', tidak akan ada yang bisa memecatmu dari perusahaan ini. Jika terlambat kembali bekerja. Lagipula, kau sedang bersamaku saat ini." jawab Rega dengan nada suara naik satu oktaf


Rega menjadi sedikit kesal dan gemes pada lawan bicaranya. Karena, konsentrasinya menyusun sebuah kalimat jadi buyar seketika. Meski yang mengganggunya itu adalah orang yang akan mendengar sebuah kalimat pernyataan yang sedang disusun dalam benaknya itu.


Entah mengapa, hanya akan membuat sebuah pernyataan atas perasaannya pada seorang Naziah. Membuat Rega gerogi dan menjadikannya seperti seorang pecundang.


Rega menetralisir degup jantungnya yang semakin tak beraturan itu. Dengan menghirup udara sebanyak-banyaknya melalui hidung. Dan menghembuskan kembali udara tersebut dari paru-parunya melalui mulut. Itu sengaja dilakukan, agar ia kembali rileks dari kegugupannya itu.

__ADS_1


"Huft...!" suara Rega menghembuskan nafasnya. Kemudian, mulai fokus menatap kedalam mata bening Naziah yang duduk sedikit jauh. Dengan jarak kurang dari satu meter darinya.


"Mungkin aku terlambat dari yang lain untuk mengatakannya. Tapi, aku tak peduli. Selamat ulang tahun, Zi'. Semoga, dengan bertambahnya umur kamu. Semua yang kau inginkan dapat terwujud dan meraih kebahagian di masa mendatang, aamiin!" ucap Rega tulus.


"Terimakasih, Tuan. In syaa Allah, Aamiin." timpal Naziah.


"Tapi sebenarnya, bukan hanya itu yang ingin aku katakan padamu, Zi'!" ucap Rega


"...?!!"


Baru saja wajah Naziah tampak datar. Mendengar itu, ia kembali menautkan kedua kening dalamnya, bingung.


"Sebelum itu, apa kau sudah menerima buket bunga dariku tadi pagi?" tanya Rega


"Sudah, terimakasih untuk itu." jawab Naziah seadanya.


"Saya hanya menebak sesuai filling saja dan itu tak salah." jawab Naziah


"Apa itu artinya, kau memiliki perasaan khusus untukku?" tanya Rega lagi penasaran.


Jika benar Naziah memiliki perasaan terhadapnya. Itu artinya, dia akan mendapat balasan atas perasaan cintanya akan sesuai harapannya, pikir Rega. Tegang sendiri menunggu jawaban Naziah atas pertanyaannya itu.


"Perasaan khusus??? Sepertinya Anda salah paham, Tuan. Fillingku menebak benar. Itu karena seingat saya, waktu di rumah sakit, Tuan pernah bilang; Kalau Tuan pernah mencari tahu tentang identitas dan segala tentangku. Dan tentunya, Tuan akan tahu bunga kesukaanku. Makanya, saya menebak itu adalah Tuan. Jika pria lain, sudah pasti buket yang datang berisi bunga mawar. Sebab, yang mereka tahu hanya bunga mawar saja." jelas Naziah.


Dan seketika, raut wajah Rega menjadi lesu. Setelah mendengar penjelasan Naziah itu.

__ADS_1


"Baiklah. Aku tak ingin membuang waktu lagi. Sudah cukup lama aku menahan dan memendam ini sendiri. Aku mencintaimu dan ingin memilikimu seutuhnya, Zi'. Aku ingin kau menjadi pendamping hidupku nanti. Dihari yang spesial bagimu ini, Aku ingin melamarmu. Maukah kau menikah denganku dan menjadi istriku?" ungkap Rega jujur dari hati.


Sambil menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna hitam telah dibuka dan menampilkan sebuah cincin emas putih yang bertahtakan permata berwarna merah maroon kehadapan Naziah di atas meja.


Seketika itu, Naziah mematung dan menatap kagum pada cincin tersebut. Namun, secepat itu pula dia memasang wajah datarnya dan menatap Rega.


"Jangan bercanda Tuan! Ini sungguh nggak lucu." ucap Naziah tak ingin terbuai suasana dan menganggap Rega hanya bercanda saja dengannya.


Bagaimana mungkin seorang Adrian Rega yang notabennya seorang pemimpin perusahaan tempatnya menggantungkan hidup. Jatuh cinta padanya yang hanya seorang karyawan rendah di perusahaan tersebut. Itu sungguh tidak masuk akal baginya. Ditambah lagi dengan hubungan mereka selama ini yang tidak sama sekali dekat ataupun akrab. Hanya baru beberapa hari yang lalu saja mereka dekat dan mengenal. Saat Rega dirawat di rumah sakit karena sebab menolong Naziah. Itu isi pikiran Naziah.


"Berhenti menganggapku hanya bercanda, Naziah. Saat ini, Aku sedang sangat serius dan tidak bercanda. Aku tahu kamu mungkin masih sedikit trauma akan pertunanganmu yang pertama. Tapi kali ini, aku berjanji padamu. Jika kau membalas cintaku ini dan siap menjadi istriku. Aku tidak ingin berlama-lama untuk mengikatmu dengan tali pernikahan. Jika kau siap, Minggu depan pun... aku siap!" jawab Rega menggebu-gebu.


Mendengar penuturan Rega seperti itu. Naziah tak serta-merta merasa bahagia atau senang sekalipun. Naziah sadar, dan tidak ingin mengambil keputusan dengan gegabah. Apalagi menyangkut kehidupannya di masa mendatang.


"Hem... Jika ini tidak bercanda, aku butuh waktu untuk berpikir sebelum menjawab semuanya, Tuan. Jadi, beri aku waktu!" ucap Naziah pasrah, namun serius dengan ucapannya.


"Aku akan menunggu, Zi'. Dan aku harap, kau tidak membuatku menunggu lama. Kau bawa dan simpan cincin itu! Kenakan itu saat kau memberiku jawaban IYA. Kemudian, potret tanganmu yang mengenakan cincin itu dan kirim ke nomor via WhatsApp. Jika kau menolak ku kembalikan saja cincin itu padaku. Aku tidak akan menyentuhmu. Sekalipun hanya mengenakan cincin ke jari manismu. Kau tahu alasannya kan?" ucap Rega lagi dan menjelaskan cara Naziah memberikan jawaban atas lamarannya itu.


"Baik, Tuan. Jika tak ada lagi yang ingin Anda katakan pada saya. Saya akan pamit untuk kembali bekerja terlebih dahulu." jawab Naziah


"Tolong berikan aku jawaban sesuai kata hatimu, nanti Zi. Pergilah! Selamat bekerja dan jangan terlalu lelah. Aku tidak mau kau sakit. Karena jika kau sakit, aku tidak akan bisa merawatmu sebab tak bisa menyentuhmu. Aku tahu, kau hanya tinggal sendiri di kota ini. Untuk itu, aku ingin menjadi pelindungmu, Zi'. Ingatlah!!! Aku sangat mencintaimu." ucap Rega lembut dan tulus dari hati.


"In syaa Allah. Assalamu'alaikum!" ucap Naziah dengan nada lembut dan pamit. Sambil beranjak dari kursinya dan berlalu pergi.


"Wa'alaikumsalam." jawab Rega sambil menatap punggung wanita pujaan hatinya hingga menghilang dibalik pintu ruangan itu.

__ADS_1


Selayaknya wanita kebanyakan, tentu saja Naziah merasa bahagia dan senang sekali mendapat lamaran dari orang seperti Rega. Tetapi, dia juga pernah mendapat lamaran dari orang seperti itu beberapa tahun lalu. Dan malah berakhir dengan perpisahan, bukan pernikahan. Beruntung, saat itu... hati Naziah belum sepenuhnya untuk Rendi. Sehingga, perpisahan itu tak menyisakan rasa sakit dihatinya. Justru dia menjadikan cerita kelam itu sebuah pelajaran agar berhati-hati menempatkan rasa cinta di hatimu, terhadap seseorang. Yang akan berpengaruh untuk kelanjutan cerita masa depanmu.


__ADS_2