Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Si Ulfi


__ADS_3

Grubrakk...


Suara pintu yang terbuka secara kasar. Dan menampilkan Ulfi dengan wajah juteknya. Sambil menenteng kantong plastik yang berisi obat-obatan untuk Naziah.


"Astagfirullahal'adzim! Walaikumsalam Ul'!!!" ucap Naziah masih dengan suara lemah.


Bersamaan dengan Tita yang ikut terkejut. Akibat ulah sahabat mereka itu.


"Ekh iya, assalamu'alaikum Ziah...Tita! Nih, obatmu!!!" ucap Ulfi memperbaiki tingkahnya.


Sambil melangkah mendekati Naziah. Ulfi meletakkan kantong obat yang dibawahnya. Di atas lemari kecil di samping brankar Naziah.


"Kalian kok ketawa-tawa bareng sih? Apa ada yang terlewati olehku?!" tanya Ulfi kepo dan sedikit sewot.


Tita dan Naziah saling pandang.


"Nggak ada. Kita hanya ingin ketawa saja. Bukan ketawain kamu ataupun orang lain. Jadi, jangan tersinggung ya maniss...!!! Justru kami yang mau tahu, kau kenapa datang-datang mukanya ditekuk gitu? Ada apa, cepat cerita pada kami?" jawab dan tanya Tita mewakili Naziah.


"Oooh begitu...baiklah! Aku kesal pada apotekernya. Aku sudah ngantri terlalu lama buat beli obatmu. Eh, dia malah..."


Tok tok tok...


Penjelasan Ulfi terpotong saat tiba-tiba ada ketukan yang terdengar dari arah pintu.


"Silahkan masuk...!" ucap Tita dengan sedikit berteriak.


Karena posisi mereka yang agak jauh dari pintu ruangan itu. Setelah mendapat persetujuan dari orang-orang yang ada didalam. Seseorang yang berada dibalik pintu itupun masuk. Dan ternyata dua orang perawat yang bertugas mengantar makanan untuk setiap pasien di rumah sakit itu.

__ADS_1


"Permisi Mba'-Mba', kami mengantarkan makanan untuk pasiennya?!!" ucap sopan perawat wanita.


"Iya. Mari silahkan Mba', Mas."


Tita pun menjawab dengan tak kalah sopan pada perawat wanita itu. Yang temannya adalah perawat pria dan hanya bertugas mendorong troli makanan. Sedang perawat wanita itu bertugas selebihnya.


Kedua perawat itupun hanya mengangguk sambil tersenyum. Setelah Tita mempersilahkan mereka untuk menyajikan makanannya.


"Ini Mba'. Selamat menikmati dan semoga cepat sembuh!" ucap perawat wanita itu setelah selesai menyajikan makanan untuk Naziah. "Kamu permisi Mba'-Mba'?!!" lanjutnya pamit undur diri.


"Iya, terimakasih..." ucap Naziah, Tita dan Ulfi kompak. Sambil melemparkan senyum termanis mereka masing-masing.


Sepeninggalan kedua perawat itu. Tita membantu memberikan makanan tersebut pada Naziah.


"Mau aku siapin Zi'?" tanya Tita sebelum makanan itu sampai ke tangan Naziah.


"Ya... aku tahu. Aku pura-pura aja nanya. Siapa tahu kamu lagi malas makan sendiri." ucap Tita. "Oh iya, lanjut Ul' ceritamu tadi?!!" lanjutnya beralih pada Ulfi.


"Udah nggak penting. Melihat Ziah makan, aku jadi ikutan lapar. Aku mau cari makanan di kantin rumah sakit ahh...! Kamu mau titip apa 'Ta? Biar kubelikan." ucap Ulfi menawarkan. Sambil ancang-ancang beranjak pergi.


"Boleh. Terserah kamu saja. Yang penting makanannya bisa buat aku kenyang sampai besok." jawab Tita


"Ada-ada saja kau, 'Ta. Emang ada,,, makanan yang bisa bikin kenyang sampai besok??!" ucap Ulfi bingung dengan permintaan sahabatnya itu. Sampai-sampai dia kembali menghentikan langkahnya dan berbalik melihat kearah sahabatnya itu.


"Hahahaa... ada-lah! Makanan khusus untuk tentara." jawab Tita sambil tertawa ngakak.


"AU ah. Kalau memang dikantinnya ada tuh makanan yang kau inginkan itu. Akan kubelikan untukmu. Dan kau tidak perlu mengganti uangku nantinya. Aku pergi dulu, assalamu'alaikum!" putus Ulfi sambil berbalik dan melanjutkan langkahnya yang tertahan sejenak.

__ADS_1


"Oke, deal...!" ucap Tita menyepakati gurauan Ulfi.


Sementara Naziah, terus memakan makanannya. Meski makanan tersebut terasa hambar baginya. Namun, ia tetap memaksakan untuk menghabiskan makanan itu. Kemudian akan meminum obatnya. Agar ia biasa segera sembuh dan secepatnya keluar dari rumah sakit itu.


Karena Sungguh! Naziah tak betah harus berlama-lama menginap di rumah sakit. Apa lagi, jika mengingat para sahabatnya yang akan ikut menjaganya. Mereka akan tidur dimana nantinya. Sedang didalam ruangan itu, hanya terdapat dua brankar pasien. Dua lemari kecil khusus barang-barang pasien. Dan dua kursi tunggal khusus penjenguk.


Para sahabatnya itu akan sedikit tersiksa saat menjaganya. Dan waktu tidur mereka akan terganggu, pikir Naziah.


*"


*"


*"


Di kantin rumah sakit


Sesampainya didalam kantin, Ulfi langsung memesan makanan yang diinginkannya pada penjaga kantin. Kemudian sambil menunggu, Ulfi memilih duduk disalah satu meja makan yang tersedia di kantin itu.


Sebelum makanan pesanannya datang. Ulfi mengisi waktu dengan membuka medsos di ponsel pintarnya.


Sementara itu, tepatnya di meja lain yang ada didepan Ulfi. Salah satu pria dari dua pria yang duduk saling berhadapan itu. Terus memperhatikan Ulfi sejak memasuki kantin itu.


"Bro! Coba deh, kau balik badan. Lihat! Bukanya itu si Ulfi, teman Naziah?"


Pria yang duduk dengan posisi tepat menghadap Ulfi. Memerintahkan temannya itu untuk berbalik. Dan mengikuti arah pandangnya.


"Hem." gumam teman pria tersebut spontan berbalik. "Ah...benar Bro. Itu Ulfi. Kita sapa yuk?!!" ajaknya selanjutnya. Setelah memastikan ucapan temannya itu, benar adanya.

__ADS_1


Sambil membawa serta makanannya. Kedua pria tersebut berniat pindah tempat duduk. Dan ikut bergabung di meja makan tempat Ulfi duduk saat ini. Jika diizinkan oleh Ulfi.


__ADS_2