Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Sebuah Adab Sepele


__ADS_3

"Tapi Bi', menurutku... " ucap Naziah sengaja menggantung ucapannya.


Dia sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga Bibi Suni dan berbisik. Serta menunjuk Rega sebentar dengan matanya. "Siapa saja wanita yang akan menjadi pasangannya nanti. Pasti akan merasa tertekan hidupnya. Dan otomatis, tidak akan betah berlama-lama menjalani hubungan pernikahan dengannya, Bi'." lanjut Naziah mengutarakan pandangannya atas diri Rega dalam pernikahannya nanti.


"Eh, emang kenapa bisa begitu?!" ucap tanya Bibi Suni bingung dan ikut berbisik balik.


"Ya iyalah, Bi'. Secara... dia itu terlalu kaku sebagai pria. Udah jutek, arogan, pemarah dan terlalu disiplin. Kalau begitu, mana ada wanita yang akan mau dan betah dengannya." jawab Naziah menjelaskan.


"Naziah...! Nak Rega itu tidak seperti itu juga aslinya. Sifat yang kau lihat itu hanya dia tampakkan saat dengan bawahan dikantornya saja. Jika di rumah, dia adalah pria yang penyayang, pengertian dan... pokoknya yang terbaik deh, bagi Bibi dan keluarga. Jika tidak begitu, mana betah juga Bibi bekerja padanya selama hampir sepuluh tahun ini." tutur Bibi Suni berbicara jujur. Sambil masih berbicara berbisik ke telinga Naziah.


"Untuk itu, jangan pandang bungkusnya doang Nak! Rasakan dulu, baru kau bisa menilainya." sambung Bibi Suni dengan nada bicara normal dan sudah menegakkan tubuhnya ke posisi semula.


"Em?! Apa yang sebenarnya kalian bicarakan? Apa itu tentangku, Bi'?" tanya Rega dengan wajah mengintimidasi menatap Naziah dan Bibi Suni, bergantian.


"Enak saja. Tuan terlalu kege-eran deh." jawab Naziah pura-pura cuek. Dan mulai mencicipi desert miliknya. "Emmm... ini enak Bi'! Apa Bibi yang membuatnya?" ucap Naziah mengalihkan pembicaraan.


Sementara itu, saat Rega bertanya dan mengalihkan pandangan kearah Bibi Suni. Bibi Suni hanya mengedipkan sebelah matanya untuk memberi kode pada Rega. Seakan memberi jawaban, nanti saja dia menjawabnya. Dan Rega yang paham itu hanya menganggukkan kepalanya.


"Bukan. Itu dibeli oleh Rega dari luar, tadi. Apa memang sepekan itu? Jika kau masih ingin, dibelakang masih ada. Mau Bibi ambilkan?" jawab Bibi Suni, menawarkan.


"Aku mau, Bi'. Hehehe.... punyaku udah habis!"


Bukan Naziah yang menjawab, malah Ifah yang menimpali sambil cengengesan tanpa dosa dan memperlihatkan piring desertnya yang telah kosong.


"Aku udah, Bi'. Ini saja, sudah cukup. Kuenya sedikit lebih manis. Aku takut terkena penyakit gula darah lagi." jawab Naziah.


"Iya. Kau, jangan terlalu banyak makan makanan yang manis! Entar wajahmu ikutan terlalu manis karena makanan itu. Seperti itu saja, sudah cukup." ucap Rega dengan menggombal untuk menimpali jawaban Naziah. Dan tentunya, dengan nada santainya.

__ADS_1


"Huh!!! Gombal!" jawab Naziah cuek sambil terus memakan kuenya hingga habis.


"Aku tidak menggombal. Kau tanyakan saja pada Devan. Jika bukan karena aku, mungkin dia yang akan lebih dulu merayu dan menggombalimu dengan kata-kata rayuan gombalnya. Sedang aku, hanya bicara apa adanya. Benarkan yang kukatakan ini, 'Van?" jawab Rega lagi dan bertanya pada Devan untuk membuktikan, kalau dia tidak menggombal.


Devan yang sejak tadi sudah sibuk dengan ponselnya. Seketika mendongakkan kepalanya dan memandang kearah Rega dan Naziah.


"Iya, Kak Naziah. Yang dikatakan Kak Rega benar. Kak Naziah itu sudah tampak manis. Kalau bukan karena Kak Rega yang lebih dulu memilihmu. Aku yang akan maju merayumu. Beruntunglah dia mendapatkanmu. Sedang aku, masih betah menjomblo dan harus terus mencari pendamping hidup. Diusia yang sudah hampir matang ini." jawab Devan, jujur. Dia membenarkan segala ucapan kakak sepupunya itu.


"Pak Devan, sama aku aja. Aku juga lagi jomblo akut nih!" ucap Ifah menawarkan diri.


tak...!


"Aauhh... sakit Mba'!" ucap Ifah sambil meringis kesakitan dan memegangi bagian kepalanya yang sakit.


"Kau ini!!! Kenapa menawarkan diri seperti itu. Kau menurunkan derajat wanita saja. Memalukan!!!" umpat Naziah, tapi dengan nada lemah lembut.


Dan tanpa merasa bersalah telah menyakiti temannya. Setelah sebelumnya, tangan kanannya reflek menjitak kepala Ifah dengan sedikit keras.


"Ya sudah, aku maafkan. Tapi, jika sekali lagi kau begitu. Maka, aku tidak akan segan-segan untuk membenci dan berhenti menjadi temanmu!" ucap Naziah dengan menekan dua kalimat terakhirnya.


Mendengar ancaman seperti itu, Ifah langsung mengangguk patuh sambil mengacungkan dua jari berbentuk ' V '. Dia sangat tak bisa kalau sampai dibenci oleh Naziah. Sebab, keseharian mereka sudah terbiasa bersama selama sekitar dua tahunan. Belum lagi, Naziah juga merupakan atasannya yang bekerja dalam satu ruangan dengannya.


Sementara itu, Rega dan juga Devan menatap kedua gadis itu sambil tersenyum sinis. Mendengar perdebatan tentang martabat wanita yang merupakan masalah kecil bagi Rega dan Devan. Hanya asyik menyaksikan semua itu. Bagai menonton sebuah drama komedi emak-emak rempong.


Sedang Bi' Suni, sudah cekikikan sendiri menyaksikan perdebatan dan pertikaian kecil tersebut.


Setelah puas melakukan pertikaian kecil itu. Naziah sedikit menyentuh jam digital yang melingkar ditangannya. Yang kemudiaan jam tersebut menampilkan sudah pukul 21.35 WITA.

__ADS_1


"Sudah setengah sepuluh malam, kami harus pulang. Terimakasih atas undangan makan malamnya Bibi dan Tuan-tuan! Kami senang bisa menjadi salah satu tamu kalian. Sekali lagi, terimakasih. Kami pamit ya, Bi'!" ucap Naziah.


"Wah... kenapa waktunya terlalu cepat berlalu. Padahal, Bibi masih ingin mengobrol banyak dengan kalian berdua. Ya sudah, tak apa-apa. Terimakasih juga, sudah menyempatkan waktu untuk datang kemari. Lain kali, kesini lagi ya?!!!" jawab Bibi Suni, sendu. Dan meminta Naziah dan Ifah untuk kembali bertandang dilain waktu.


"In Syaa Allah, Bi'. Naziah nggak janji. Kecuali, jika Tuan Rega dan Tuan Devan tidak ada, kami pasti datang." ucap Naziah, ambigu.


"Apa maksudmu? Memangnya kenapa kalau aku atau Devan ada di rumah. Dan kalian bertamu?" tanya Rega tak mengerti ucapan Naziah itu.


"Bukan apa-apa, Tuan. Saya hanya tidak ingin menjadikan diriku ataupun Anda. Sebagai sebuah pergunjingan bagi tetangga nantinya. Karena terus bertandang ke rumah seorang pria yang bukan mahram saya. Meskipun di rumah ini ada Bibi Suni. Jadi, saya harap Anda mengerti akan hal itu." jawab Naziah, apa adanya sesuai pemahamannya.


"Oh... baiklah, aku mengerti itu." jawab Rega sambil manggut-manggut.


Kemudian, Naziah lebih dulu meraih tangan Bibi Suni dan menyalaminya takzim. Dan diikuti oleh Ifah setelahnya. Sedang pada Rega dan Devan. Naziah hanya menangkupkan tangannya ke depan dada.


Dan Ifah, meski dia seorang non-muslim. Setelah berteman lama dengan Naziah. Diapun ikut menangkupkan tangan ke depan dadanya. Jika menyalami seorang pria yang bukan mahramnya. Tanpa paksaan dari Naziah, dia melakukan dan membiasakan dirinya seperti itu. Setelah sebelumnya, bertanya pada Naziah tentang maksud dan tujuan wanita muslimah melakukan hal tersebut.


Melihat hal demikian, Rega dan Devan sudah tak merasa heran lagi. Sedang Bibi Suni cukup terheran atas hal itu. Sebab saat diperkenalkan mereka sebelumnya. Ifah memang mengatakan kalau dia seorang non-muslim. Karena Bi' Suni bertanya, kenapa Ifah tak ikut mengenakan jilbab seperti Naziah. Dan Bibi Suni pun sebatas itu mengerti dan memahami akan hal itu.


Tetapi, setelah kembali menyaksikan sebuah adab sepele dari seorang wanita muslim. Yang tidak seharusnya dilakukan juga oleh seorang wanita non-muslim seperti Ifah. Namun dilakukannya dengan tanpa paksaan dari siapapun. Membuat dan memaksa Bibi Suni untuk memahami lebih dalam pertemanan antara kedua gadis berbeda agama, yang ada di depannya itu.


Usai berpamitan dan bersalaman dengan ketiga penghuni rumah itu. Akhirnya, Naziah dan Ifah beranjak keluar dengan diantarkan oleh Bibi Suni sampai ke area carport rumah itu. Dimana Naziah memarkirkan motornya tadi, saat datang.


Sedang Rega ikut mengantar pula, namun hanya sampai ke teras rumahnya. Dan berdiri di sana memandang kedua tamunya yang sedang beranjak pergi. Sedangkan Devan sendiri, sudah masuk kedalam kamarnya. Saat bertepatan dengan beranjak nya Naziah dan Ifah keluar rumah. Karena mendapat sebuah panggilan telefon di ponselnya.


Setelah Naziah dan Ifah sudah mengenakan helm di kepala mereka. Dan sudah duduk aman di atas motornya. Bibi Suni segera menggeser pintu pagar besi itu agar terbuka. Dan memberi ruang untuk Naziah mengeluarkan motornya.


"Makasih ya, Bi'. Kami pergi dulu, Assalamu'alaikum!" ucap Naziah sambil menganggukkan kepalanya tanda hormat pada orang yang lebih tua. Dan mulai menghidupkan mesin motor maticnya.

__ADS_1


"Iya. Hati-hati di jalan, Nak. Wa'alaikum salam." jawab Bibi Suni.


Kemudian, Naziah mulai melajukan motornya keluar dari pekarangan rumah Rega itu memasuki jalanan besar.


__ADS_2