Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Jodohmu Adalah Cerminan Dirimu


__ADS_3

"Kau kenapa, Bro? Apa obatmu habis?" tanya Iwan, sengaja bergurau untuk memecah keheningan yang terjadi setelah Sahrul ngerocos panjang lebar, bertanya tentang alasan Naziah mengajukan izin cuti itu.


"Aku serius, Iwan. Buat apa coba Mba' Naziah, ketua HRD kita ini meminta izin dengan tiba-tiba seperti ini? Udah begitu, minta izin cutinya pun full, 12 hari. Aku stres tahu!!! Jika dilimpahkan tugas-tugasnya dengan cara mendadak seperti ini. Memangnya, Mba' Naziah ambil cuti untuk apa sih...? Kok nggak bilang-bilang dulu dari jauh hari." ucap Sahrul lagi mencerca Naziah.


"Heh...!" desah Naziah, berat.


"Mba' mau menikah ya? Sama siapa Mba'?" tanya Iwan mencoba menebak. Sambil memberi tatapan mengintrogasi kearah Naziah.


Mendengar para bawahannya yang mencerca dan berasumsi sendiri-sendiri seperti itu. Naziah putuskan untuk berterus terang saja. Tetapi akan membuat para bawahannya itu berjanji untuk menjaga kerahasiaannya itu sampai pada waktu yang ditentukan nanti.


"Karena kalian sudah mencerca dan membuat asumsi macam-macam tentang aku. Aku jadi takut sendiri, jika harus menutupinya dari kalian. Takut asumsi yang kalian buat dan tidak benar itu menyebar kemana-mana. Baiklah. Aku akan jujur. Tapi, kalian harus janji untuk menutup mulut kalian. Bagaimana?" ucap Naziah membuat penawaran.


"Memangnya kenapa kami harus tutup mulut, Mba'? Sepertinya... sangat rahasia sekali" ucap Iwan, bermonolog.


"Jika dikatakan rahasia... nggak juga. Hanya saja, aku ingin mencegah akibat yang akan ditimbulkan nanti. Kalau-kalau Tuhan membuat rencana yang berbeda dan berlawanan dari rencana... seseorang itu. Dan semua orang mengetahui rencana yang mungkin gagal itu. Maka, aku yang akan menanggung malu dari semuanya itu. Dan aku tidak siap untuk itu." tutur Naziah, menjelaskan.


"Aku akan menggelar akad nikah di kampung ku. Dan waktunya itu, seminggu lagi dari sekarang. Untuk itu, aku harus pulang kampung besok. Karena,---"


"Pulang besok, Mba'? Kok buru-buru sekali sih? Bukankah baru semalam, Mba' menerima lamarannya itu! Kenapa cepat sekali ingin menggelar nikahnya...?" potong Ifah dengan nada suara naik satu oktaf, karena terkejut. Kemudian bernada lesu saat mengucap kalimat tanya akhirnya.

__ADS_1


"Ya... tentu saja, karena sudah tak tahan melihat pesona dari atasan kita ini. Dodol...!!!" jawab Sahrul dengan mencibir sambil mendelik kesal kearah Ifah.


"Iya. Benar tuh. Siapa sih yang tahan dan menolak pesona yang ditampilkan atasan kita ini. Aku sendiri saja, awalnya juga terpesona padanya. Tapi setelah lama saling kenal dan akrab. Aku jadi sadar diri dan merasa minder atas diriku sendiri jika harus disandingkan dengannya. Menurutku, yang pantas bersanding dengannya itu. Cuma pria sekelas Pak Rega saja yang pantas. Bukan begitu, 'Rul?" tutur panjang lebar Iwan dan meminta pendapat serta dukungan dari Sahrul.


Dan Sahrul hanya menganggukkan kepalanya pasti. Demi menanggapi pertanyaan dari Iwan itu.


Mendengar penuturan Iwan itu dan mendapat dukungan dari Sahrul, tentang orang yang pantas bersanding dengannya itu. Leher Naziah seperti tercekat karenanya.


"Apa maksud kalian dengan mengatakan diriku hanya bisa bersanding dengan pria sekelas Big bos kita itu?" tanya Naziah yang tak habis pikir dengan penilaian yang diberikan para bawahan prianya itu.


"Tidak ada maksud apa-apa, Mba'. Karena mba' Naziah itu termasuk dalam salah satu wanita langkah di dunia ini. Bagaimana tidak dikatakan seperti itu? Mba' itu sudah cerdas, cantik luar dalam, dan dengar-dengar memiliki kemampuan ilmu bela diri cukup tinggi juga. Jadi, menurut diriku sendiri... wanita langkah seperti Mba' itu memang cuma bisa dimiliki orang sekelas Big Bos kita itu. Seperti itu Mba'...!" jelas Iwan lagi.


"Ahh... kau itu terlalu keseringan menonton film action yang banyak di perankan kaum wanita. Jadi, membayangkan aku juga sama seperti itu. Dasar kau...!!!" elak Naziah, merendah diri.


"Oh iya, Ifah. Aku minta maaf! Sebenarnya, aku juga baru diberitahu-nya tadi, tentang ini. Jujur, jika bisa menolak, sebenarnya aku tidak suka tradisi pingit itu. Tapi, aku tidak punya daya untuk menolak segala kemauan pria itu. Kau tahukan, dia seperti apa?! Dia juga tidak memberi akses padaku untuk berpendapat. Tapi In syaa Allah, jika selesai menggelar acara di kampung ku nanti. Dia juga berencana akan menggelar pesta resepsi pernikahan kami itu untuk teman-teman disini." sambung Naziah jujur. Namun, masih berusaha menutup identitas calon suaminya itu dihadapan Iwan dan Sahrul.


"Wah... ngomong-ngomong, jika kedengarannya seperti itu. Aku bisa pastikan, calon Mba' Naziah ini adalah seseorang yang kaya raya dan berpengaruh. Dan... sepertinya, dia juga sangat menjagamu Mba'. Makanya, dia sendiri yang ingin Mba' menjalani tradisi pingit itu. Tapi, kalau boleh tahu, siapa orangnya Mba'?" ucap tanya Iwan, penasaran.


"Iya, Mba'. Kami janji akan tutup mulut setelah mengetahuinya. Dan juga berjanji akan menjaga rahasia Mba' ini sampai diwaktu yang Mba' tentukan itu." ucap Sahrul menimpali ucapan Iwan.

__ADS_1


Naziah dan Ifah saling melempar pandangan satu sama lain. Dan kemudian secara bersamaan menjawab maksud arti dari tatapan masing-masing. Namun, jawaban mereka itu sungguh tidak kompak. Naziah dengan gerakan kepala mengangguk. Sedang Ifah dengan gerakan kepala menggeleng.


Dan Naziah pun mengambil keputusan yang dibuat Ifah untuknya itu. Untuk memberi jawaban atas pertanyaan dan permintaan kedua orang pria yang sedang bersama dengan mereka itu.


"Sepertinya, nanti saja kalian tahu sendiri siapa orangnya. Karena Ifah tak mengizinkanku untuk memberitahukan namanya pada kalian. Oke." jawab Naziah.


"Sudah masuk jam, mulai bekerja lagi. Ayo, kembali bekerja! Dan aku minta maaf sebelumnya padamu 'Rul. Karena harus membebaniku dengan tugas-tugas milikku padamu. Untuk 10 sampai 12 hari kedepannya. Ya...?!" lanjut Naziah pada Sahrul. Dengan ekspresi pop eyes-nya.


Sahrul memanyunkan bibir dan mengerutkan sebelah otot hidungnya. Serta mendelik kearah Naziah dan Ifah. Demi mengekspresikan kekesalannya pada Naziah yang hanya mendengarkan seorang Ifah saja. Dan memilih menolak untuk menjawab keingintahuannya pada calon suami Naziah itu. Dan Naziah malah dengan santainya meminta bantuannya untuk menggantikan diri untuk sementara. Serta mengemban nya pada Sahrul.


Itulah sebabnya, Sahrul memperlihatkan ekspresi wajahnya seperti itu.


"Berikan saja pada Ifah. Mba' kan cuma percaya padanya dibandingkan kami. Ya 'kan, 'Wan?!" jawab Sahrul setelahnya.


"Aku serius minta maaf!!! Jadi, aku tidak menerima penawaran untuk itu. Oke!!!" ucap Naziah tegas.


Mendengar itu, Ifah yang sudah duduk di kursi kerjanya, Cekikikan sendiri. Kemudian sedikit menyadari sesuatu atas sikap yang baru saja tunjukkan Naziah itu. Tetapi, tidak berani untuk mengungkapkannya secara gamblang. Dia hanya mengucapkan dalam hatinya saja.


'Jika Mba' Naziah berlaku seperti itu. Dia memang tidak ada bedanya dengan calon suaminya itu. Ya pantaslah Tuhan menjodohkan mereka berdua. Seperti kata pepatah, jodohmu adalah cerminan dirimu. ckckck...'

__ADS_1


"Hei...!!! Kok malah bengong?! Ayo kerja!!!" ucap Naziah menyadarkan Ifah yang tampak bengong menatap kearahnya.


"Hehehe... baik, Mba'." jawab Ifah cengengesan. Dan mulai menghidupkan komputer miliknya.


__ADS_2