
*Masih didalam sebuah taksi,
Karena Rega tak merespon ucapannya ataupun melihat kearah layar ponsel yang ditunjukannya. Devan berusaha menambah volume suara ponselnya. Agar, suara Naziah yang menyanyi dan terekam beberapa menit lalu itu. Dapat tertangkap oleh Indra pendengaran kakak sepupunya itu.
Dan benar saja, setelah beberapa detik video itu terputar. Rega membuka mata dan menegakkan kepalanya. Merasa tak asing dengan warna suara penyanyi yang diperdengarkan dari ponsel Devan itu. Rega mengarahkan pandangannya ke layar ponsel Devan yang sedang menyala itu.
Merasa kurang yakin dengan pandangannya. Rega sengaja merebut dengan tiba-tiba ponsel Devan tersebut. Dan melihat dengan lebih seksama, siapa penyanyi wanita berhijab yang ditampilkan dalam video tersebut.
"Tadi, katanya nggak mau diganggu. Kok sekarang main rebut aja... ponselku!" celetuk Devan setengah kesal dengan kelakuan kakak sepupunya itu.
"Naziah!!!" ucap lirih Rega sambil menatap serius layar ponsel Devan itu. "Siapa pemilik akun ini, 'Van?" lanjut Rega bertanya dan beralih menatap tajam kearah mata Devan.
"Nona Ifah. Temannya Mba' Naziah." jawab Devan santai tanpa merasa terintimidasi dengan tatapan tajam Rega itu.
"Apa ini? Eh, maksudku... apa kau tahu dimana rekaman ini terjadi?" tanya Rega pada Devan. Dia bingung sendiri untuk mengatakan apa yang dimaksud pertanyaannya. Akibat kecemburuan yang sedang mendera hatinya saat ini.
Bagaimana tidak cemburu? Dalam video itu, Naziah sedang berbicara dengan dua orang pria di atas sebuah panggung. Yang mana, salah satu dari dua pria itu. Tampak masih sangat muda darinya dan tak kalah tampan dari dirinya. Dan ditambah dengan posisi duduk mereka yang saling berhadapan. Serta sesekali saling melempar senyum saat berbicara.
Membuat jantung Rega seakan memompa darahnya dengan begitu cepat ke kepala. Hingga kepalanya langsung terasa berdenyut nyeri. Dan sepertinya, hanya dengan mendapat pelampiasan atas kemarahan yang disebabkan oleh kecemburuannya itu. Yang akan mampu meredakannya.
Mendengar pertanyaan Rega seperti itu. Devan kembali merebut ponselnya dari tangan Rega. Dan kembali memperhatikan dengan seksama area sekitar tempat Naziah menyanyi dalam video tersebut.
"Sepertinya ini... ada di cafe XXX. Cafe yang ada ditepi pantai kota ini. Dan kita pernah mengunjungi beberapa kali waktu itu." jawab Devan dengan wajah serius. Sambil memaparkan hasil pandanganya atas lingkungan sekitar yang terpampang dari video Naziah tersebut.
"Baiklah. Ayo kita ke sana sekarang!" ucap tegas Rega.
"Hem...baik, Kak!" jawab Devan sedikit malas. "Pak! Kita mampir ke cafe XXX dulu ya?!" sambung Devan berbicara pada sopir taksi.
"Oh... baik, Tuan." jawab sang sopir taksi.
Tanpa banyak bertanya, sopir taksi itu langsung menambah kecepatan laju mobilnya. Agar segera sampai ke tempat yang dikatakan penumpangnya itu. Dan tanpa perlu menanyakan lokasi cafe yang dimaksud. Sebagai sopir, dia tentu sudah sangat tahu dan hafal alamat cafe tersebut, tentunya.
__ADS_1
Dan tak butuh waktu lama. Akhirnya, mereka pun sampai didepan cafe tersebut. Tanpa menunggu sang sopir memarkirkan mobilnya dengan sempurna. Rega langsung saja membuka pintu mobil yang berada tepat disisinya dan keluar.
Devan yang melihat kelakuanku kakak sepupunya itu. Hanya bisa geleng-geleng kepala. Sambil dalam hatinya merutuki Rega. 'Dasar bos bucin! Gara-gara cemburu, ia sampai tak memperdulikan keselamatan dirinya sendiri. Semoga saja aku takkan seperti itu nantinya!' batinnya berdoa.
"Jangan kemana-mana, Pak! Parkirkan saja mobilnya. Dan tunggu kami disini, nanti aku akan bayar dua kali lipat." ucap Devan kepada sang sopir. Kemudian ikut keluar dan mengejar langkah Rega yang sudah hampir memasuki cafe.
Sementara itu, di atas panggung didalam cafe itu. Naziah masih menyanyi dan bermain dengan gitarnya. Sambil ditemani oleh penyanyi pria teman duetnya itu. Dan sedikit lagi, hampir menyelesaikan lagu yang mereka nyanyikan.
Sedang Rega sudah berdiri tepat didepan pintu masuk ruang indoor cafe, tempat saat ini Naziah berada. Melihat banyaknya pengunjung cafe di sana dan sedang menikmati sajian musik di atas panggung itu. Yang mana penyanyi wanitanya adalah Naziah.
Niat awal Rega yang ingin langsung membawa pulang wanita pujaan hatinya itu, langsung urung karena itu. Dengan terpaksa, dia menahan dirinya dan menunggu hingga lagu yang dinyanyikan wanitanya itu selesai. Rega memilih duduk disalah satu kursi yang ada disudut ruangan itu. Dan ikut menyaksikan pertunjukan live musik yang dilakukan wanita pujaan itu.
Walaupun jalan yang berduri
Rela ku tempuh ku jalani
Namun pilu slalu menghantui
Mari kita bersama melangkah seiringan
Menuju bahtera lautan madu
Kita lebur rantai yang dulu membelenggu
Cinta mu cinta ku akan berpadu
Sedang Naziah masih terus menyelesaikan lagunya.
Devan yang baru menyusul masuk. Melirik ke sana kemari ke sekeliling ruangan itu. Untuk mencari keberadaan kakak sepupunya yang baru saja meninggalkan dirinya dan masuk lebih dulu.
Beberapa saat mencari, Devan tak juga menemukan Rega dalam ramainya suasana cafe tersebut. Dan pandangannya hanya mendapati postur tubuh seseorang yang sepertinya dia sangat mengenalinya. Dan seseorang itu sedang berdiri tepat di sisi kanan bawah panggung. Sambil memegangi ponsel ditangannya yang diarahkan ke panggung.
__ADS_1
Untuk memastikan, Devan pun menghampiri seseorang tersebut.
"Nona Ifah!" panggil Devan sambil menyentuh sebelah pundak seseorang yang dimaksud itu.
Dan benar saja, seseorang orang itu adalah Ifah. Seperti dugaannya tadi.
Ifah yang merasa disentuh pundaknya oleh seseorang. Langsung menolehkan kepalanya.
"Tuan Devan!!!" ucap Ifah dengan mata membulat sempurna karena terkejut.
"Em... " jawab Devan dengan gumamannya saja. "Apa Tuan Rega sudah menemuimu?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Tuan Rega?!!" ulang Ifah mengulang. "Tidak. Untuk apa dia menemui ku, Tuan?" lanjut Ifah menjawab dan bertanya karena bingung.
"Baiklah. Aku tidak perlu menjawab. Intinya sekarang, bantu aku mencarinya!!!" perintah Devan tanpa ingin dibantah. Karena sudah memegang kedua pundak wanita itu dan mendorongnya.
"Kau cari dari sisi sana! Sementara aku, akan mencari dari sisi ini." ucap Devan lagi.
"Heh...! Baiklah." jawab Ifah menurut saja sambil menghembuskan nafas kasar.
Dan mereka pun berpencar untuk mencari keberadaan Rega ke segala sudut ruangan cafe tersebut.
Sementara Naziah, telah menyelesaikan lagunya. Dan unsur diri dari panggung tersebut. Namun sebelum itu, dia mengembalikan gitar yang tadi telah dia gunakan. Setelahnya, diapun turun dari atas panggung itu.
Dan betapa terkejutnya Naziah saat melihat seseorang yang telah menunggunya tepat didepan anak tangga terakhir panggung itu.
Sudah kepalang tanggung harus turun dari panggung itu. Naziah pun tetap mengayunkan langkahnya untuk menuruni anak tangga didepannya itu.
"Sudah selesai?" tanya Rega dengan nada sedingin es dan tatapan yang mengintimidasi.
"Em." jawab Naziah dan menganggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Baiklah. Ikut aku sekarang!!!" ucap Rega tegas. Dan langsung menggenggam tangan Naziah erat. Lalu menggiringnya untuk keluar dari cafe tersebut.