
Sementara itu, di kantor polisi. Setelah mengetahui kalau pemuda pelaku penikam Rega itu adalah anak dari Pak Kades setempat. Akhirnya, dengan segera menghubungi dan meminta Pak Kades untuk datang ke sana. Dan sedikit menjelaskan tujuannya tersebut menghubungi beliau, saat itu.
Dan tak menunggu waktu yang begitu lama, Pak Kades pun datang bersama istrinya. Tampak dari wajahnya Pak Kades tersebut begitu marah, namun ia tahan.
"Selamat pagi, Pak Yogi! Dimana anak itu?" sapa Pak Kades saat sampai dan menjabat tangan polisi Yogi. Kemudian langsung saja menanyakan keberadaan anaknya itu.
"Selamat pagi menjelang siang juga, Pak! Mari ikut saya!" balas dan ajak polisi Yogi pada Pak Kades. Sambil berbalik arah menuju ruang interogasi.
'Plakk'
"Anak kurang ajar! Memangnya, apa yang sudah dilakukan suami Naziah itu padamu, hah!!! Hingga kau berniat membunuhnya seperti itu. Apa kau sudah gila, hah!!!" maki Pak Kades dengan amarahnya yang membuncah.
Setelah sampai di sana, tanpa ba-bi-bu Pak Kades langsung melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi anaknya itu. Sehingga membuat pemuda itu spontan memegangi pipinya yang langsung memerah itu.
Melihat itu, polisi Radit yang ada di sana sejak tadi. Hanya tersenyum sinis tanpa merasa iba sedikit pun. "Itu hanya hukuman kecil saja untuk seorang pecundang sepertinya." batinnya.
Sedang Ibu Kades langsung bergerak menahan tubuh anaknya yang sedikit limbung akibat tamparan dari ayahnya itu. Dengan air mata yang mulai membasahi pipinya karena kasian pada anaknya itu.
"Iya, Ar'. Bagaimana bisa kau melakukan semua itu, Nak? Apa suami Naziah itu telah berbuat sesuatu yang membuatmu marah hingga hilang akal seperti tadi, hem!" timpal Istri Kades itu lembut. Dia ikut bingung melihat kelakuan anaknya itu. Karena selama ini, anaknya itu terkenal ramah dan mudah bergaul, namun sedikit pendiam.
"Sejak dari SMA, aku sudah jatuh cinta pada Ziah, Ma. Dan selama ini, diam-diam aku menjadi pengagum rahasianya dari jauh. Dan aku sedang menunggunya kembali dari perantauannya. Baru akan meminta Papa untuk melamarnya untuk ku. Tapi tiba-tiba, Pria itu datang dan sudah ingin menikahinya tanpa sepengetahuanku. Aku tidak terima. Ziah itu hanya milikku. Selain aku, tidak ada yang boleh memilikinya." tutur pemuda yang ternyata nama Arbain pada Ibunya.
__ADS_1
'Plakk'
Mendengar penuturan anaknya itu, seketika Pak kades kembali melayangkan tamparannya. Dan itu mengenai pipi Arbain yang lainnya. Setelah tadi mengenai pipi kirinya, kini pipi kanannya lagi.
"Dasar bod*h!!! Apa kau pikir dengan membunuh calon suaminya. Maka, Ziah akan menerimamu begitu saja. Kau memang bod*h! Jika sejak lama kau menyukainya, kenapa tidak mengatakan kepada kami, orang tuamu. Supaya kami tahu dan langsung melamarnya untukmu. Setelah kemarin Ziah lulus sarjana. Hah!!!" sergah Pak kades lagi. Sungguh, dia geram sekali dengan tingkah anak bungsunya itu.
"Aku tidak ingin egois terhadapnya, Pa. Karena aku tahu, dia masih ingin mewujudkan impiannya untuk menjadi wanita karir. Belum lagi, saat dia lulus sarjana kemarin. Dia sedang mengalami patah hati akibat dikhianati pria yang waktu itu telah menjadi tunangannya. Aku sangat mencintainya, dan tidak ingin melihatnya sedih. Jadi, aku membiarkannya mengejar impiannya dahulu. Sebelum nantinya akan mengabdikan diri selamanya sebagai istriku." tutur Arbain lagi. Dan menjelaskan sedikit alasannya terus menunda untuk melamar Naziah, kemarin.
"Anak ini memang sudah gila, Ma. Dia pikir dengan membunuh calon suami Naziah seperti tadi itu. Tidak akan membuat Naziah sedih. Heh..!" ucap Pak Kades sambil tersenyum sinis pada istrinya.
"Astagfirullahal'adzim! Beristigfar, Ar'! Justru karena ulahmu yang mencoba membunuh calon suaminya tadi. Naziah sampai tampak menangis pilu. Yang seharusnya dia menangis haru karena bahagia. Eh, malah menangis haru bercampur pilu. Karena melihat calon suaminya memaksa melakukan ijab Kabul. Meski dengan keadaannya yang sudah sekarat karena ulah mu." ucap Ibu kades dengan lembut berusaha menyadarkan anaknya itu dari ke khilafah-nya itu.
"Benarkah, Ma?" tanya Arbain, memastikan. Dan ibunya itu mengangguk pasti. "Berarti, pria itu berhasil memperistri Ziah, Ma?" sambungnya lagi.
"Tapi, Ma...." ucap Arbain lagi.
"Tapi sekarang, kau harus menjalani hukuman mu. Karena sudah melakukan tindakan kriminal. Meskipun itu kau lakukan karena khilaf. Karena hukum tetaplah harus ditegakkan. Dan kau akan dijatuhi hukuman penjara sesuai dengan tindak kejahatan yang kau lakukan itu. Kecuali, jika sang korban mau mengerti dengan ke khilaf-an mu itu. Dan memberikan keringanan atas waktu hukuman untukmu nanti. Ayo!" ucap polisi Yogi, memotong ucapan Arbain itu. Agar segera membawanya masuk kedalam sel tahanan.
Dan tanpa perlu membuang waktu lebih banyak lagi. Polisi Yogi langsung menyeret tubuh Arbain. Untuk dimasukannya kedalam sel tahanan yang ada di sana. Sambil menunggu persidangan dan putusan hakim atas hukuman yang akan didapatkan si Arbain itu.
Sedang Ibu kades hanya mampu menatap sedih anaknya. Yang harus mendekam didalam penjara karena ke khilaf-an atas seorang wanita pujaannya itu.
__ADS_1
Dan Pak kades serta polisi Radit sudah sejak tadi keluar dari ruangan interogasi itu. Dan mencari udara segar di luar demi meredam amarah mereka masing-masing.
🍃🍃🍃🍃🍃
Di rumah sakit, setelah menunggu hampir setengah jam lamanya. Akhirnya, Rega mulai membuka matanya dengan perlahan. Dia sedikit mengedipkan matanya. Demi menyesuaikan cahaya yang menyentuh retina matanya itu.
Dan Naziah yang tadinya sedang membaca Al-Qur'an, surah Al-Khafi. Sambil menunggui suaminya itu siuman. Dia duduk di kursi tepat disisi brankar suaminya itu. Langsung memanggil mamanya dan juga Nyonya Devi.
"Ma! Tante! Mas Rega sudah membuka matanya." ucap Naziah sambil tersenyum bahagia.
Mendengar itu, langsung saja Mama Adel dan Nyonya Devi yang sedang mengobrol santai di kursi sofa yang tersedia di sana. Beranjak mendekati brankar Rega.
"Rega! Kau sudah bangun, Nak? Bagaimana, apa kau ingin sesuatu, Nak? Biar Ibu ambilkan!" tanya Nyonya Devi antusias.
"Em... Rega ingin minum, Bu." jawab Rega sambil menganggukkan kepalanya sedikit dan tersenyum.
"Iya, sayang. Ini air minumnya." ucap Nyonya Devi sambil menyodorkan gelas berisi air itu kearah Rega.
"Ibu! Bolehkah Rega minta, biar istri Rega yang meminumkan air itu ke Rega?" pinta Rega, lemah dengan wajah dibuat sedikit memelas kearah ibu angkat sekaligus Tantenya itu.
"Oh.... tentu saja boleh dong sayang." jawab Nyonya Devi, lembut. "Ini, Nak Ziah! Sepertinya dia ingin bermanja-manja padamu, saat ini." lanjutnya beralih pada Naziah sambil menyerahkan gelas berisi air itu. Kemudian sedikit menggoda Naziah.
__ADS_1
Dan Naziah pun langsung menyambut gelas itu dengan wajahnya yang dibuat sedikit cemberut. Namun, tidak bisa menutupi raut wajah malunya karena godaan dari Nyonya Devi itu.
"Bu Adel! Sepertinya setelah sadar, Rega sudah tidak apa-apa. Daripada kita jadi anti nyamuk pengantin baru ini. Ayo, lebih baik kita keluar saja!" ucap Nyonya Devi mengajak Mama Adel keluar. Dengan suara sedikit keras menyindir Rega dan Naziah. Yang sepertinya ingin berdua saja di sana tanpa adanya orang lain.