
Sedang sibuk-sibuknya Ulfi dan Tita menyiapkan menu sarapan pagi itu. Tiba-tiba Anto memasuki ruang dapur. Sambil menyapa para sahabatnya itu seperti biasa.
"Selamat pagi girls!" sapa Anto dengan senyuman cerah.
"Pagi juga Boy!" balas Tita dan Ulfi kompak tanpa menghentikan kegiatan mereka.
"Loh, Ziah mana? Kok nggak kelihatan!" tanya Anto. Karena tak mendapati sahabatnya itu di sana.
"Masih tidur kayaknya 'Nto...!" jawab Tita sambil tangannya terus mengaduk-aduk masakannya di atas kompor.
"Hahh.!!! Kok tumben, jam segini Ziah belum bangun?!" ucap Anto sedikit terkejut dan bingung.
"Mungkin dia merasa sangat lelah, akibat tenaganya yang terkuras di bengkel beberapa hari ini. Coba kau bangunkan dia, 'Nto! Sebentar lagi, sarapannya siap." ucap Ulfi
"Baiklah... akan Ku bangunkan." jawab Anto malas. Sambil beranjak dari tempatnya berdiri menuju ke kamar Naziah.
Tok tok tok...
"Ziah...! Zi'!" panggil Anto sambil mengetuk pintu kamar Naziah. "Udah pagi nih... bangun yuk. Kita sarapan dulu Zi!" bujuk Anto dari balik pintu.
Beberapa detik berlalu, tidak ada sahutan dari dalam kamar tersebut.
Anto kembali mencoba mengetuk pintu kamar itu dengan sedikit lebih keras. Dan memanggil dengan nada suara yang juga lebih ditinggikan. "Ziah...! Udah siang nih, kamu nggak ngampus?" tanya Anto.
Dia berusaha melempar pertanyaan, berharap mendapatkan jawaban atas pertanyaannya itu. Namun, Anto tetap tak mendapat sahutan ataupun jawaban dari pertanyaannya itu.
"Kenapa ya? Nggak biasanya Ziah kayak gini. Apa jangan-jangan..." monolog Anto dalam hati.
Kemudian Anto merapatkan telinganya ke daun pintu. Lalu mencoba menajamkan pendengarannya kearah dalam kamar itu. Dari sana, samar-samar Anto dapat mendengar sebuah suara racauan seseorang. "Ziah pasti demam tinggi!" batin Anto kembali bermonolog.
Dengan wajah yang mulai panik, Anto sedikit berlari kearah meja televisi. Dia ingin mencari kunci cadangan kamar Naziah di salah satu laci meja tersebut. Setelah mendapatkan kunci yang dimaksud. Dia kembali berlari kecil ke pintu kamar itu. Dan berusaha membuka pintu tersebut dengan kunci di tangannya.
__ADS_1
Ketika pintu itu terbuka, mata Anto sedikit terbelalak. Mendapati sahabatnya itu terus meracau dalam tidurnya dengan wajah yang tampak sangat pucat. Anto langsung mendekati sahabatnya itu. Kemudian menempelkan punggung tangannya ke dahi Naziah.
"Astaghfirullahal'adzim. Badan kamu panas sekali Zi'!!" ucap Anto.
Dengan langkah cepat, Anto keluar dari kamar Naziah. Dia mengambil alat-alat kompres dari dalam kotak P3K dan juga alat termometer digital. Kemudian dia beralih ke wastafel untuk mengambil air.
Tita dan Ulfi yang sedang sibuk menyiapkan sarapan di atas meja. Dibuat bingung melihatnya.
"Kamu ngapain 'Nto?" tanya Tita dengan kening sedikit berkerut.
"Ziah demam." jawab Anto singkat. Sambil berlalu pergi ke kamar Naziah. Dengan membawa alat-alat kompres di tangannya.
Mendengar itu, Tita dan Ulfi kompak beristigfar: "Astagfirullahal'adzim!". Merasa khawatir, mereka langsung menyusul Anto.
Sesampainya di kamar, Anto meletakan alat-alat kompresnya di atas nakas. Kemudian menyisipkan alat termometer digital di ketiak Naziah terlebih dahulu. Setelah itu, barulah dia meletakkan kain kompresan itu di atas dahi Naziah.
"Kamu kenapa Zi'? Kok bisa demam gini. Perasaan... semalam kamu masih terlihat baik-baik saja." ucap Ulfi pelan. Sambil sedikit membelai sebelah pipi Naziah.
"Panasnya tinggi sekali." ucap Anto khawatir. Setelah melihat angka yang tertera pada alat termometer itu.
Tiba-tiba Tita teringat, saat tadi akan menyiapkan sarapan di atas meja. Tita mendapati jatah makanan yang mereka siapkan untuk Ziah semalam. Masih tampak utuh dan tak tersentuh di dalam tudung saji tersebut.
"Astaga, kayaknya semalam Ziah nggak makan deh!" ujar Tita. "Karena tadi, jatah makanannya semalam masih utuh di dalam tudung saji. Iyakan Ul'?!" sambungnya.
"Iya. Dia pasti nggak makan. Dan penyakit maagnya kambuh." jawab Ulfi dengan sedikit menganggukkan kepalanya.
"Hm... Pantas saja dia bisa jadi kayak gini." ucap Anto dengan membuang nafas kasar melalui hidungnya. "Ya sudah, tolong siapkan makanan untuknya ya 'Ta. Dan bawa ke sini. Aku mau ambil obat maag dan parasetamol dulu. Ulfi, tolong bangunin dia pelan-pelan." ucap Anto membagi tugas. Kemudian berlalu pergi.
Setelah kepergian Tita dan Anto, Ulfi membuka jendela kamar Naziah terlebih dahulu. Lalu, berusaha membangunkan Ziah dengan perlahan. "Zi, Ziah...! Kau bisa mendengar Ku? Jangan buat kami menjadi khawatir, Tolong bangun Zi!" ucap lembut Ulfi sambil sedikit menggoyangkan lengan atas Naziah.
Naziah pun membuka matanya dengan perlahan-lahan. Dan pandangannya langsung tertuju pada Ulfi yang duduk di samping kasurnya. Sambil memegang lengannya.
__ADS_1
Merasa ada sesuatu di atas keningnya. Naziah mencoba dengan perlahan meraba sesuatu yang terasa menempel pada keningnya itu. Dan mendapati sebuah handuk kecil khusus kompresan. Dengan wajah yang tampak bingung. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
"Ulfi...?! Kok kamu bisa ada di kamarKu. Memangnya, Aku kenapa?" tanya Naziah dengan sangat lirih. Karena tenggorokannya terasa serek.
Ulfi mengambil handuk kompresan itu dari tangan Naziah. Dan mencelupkan kembali handuk tersebut kedalam baskom yang berisi air. Yang telah di siapkan Anto tadi. Ulfi sedikit memeras terlebih dahulu handuk tersebut. Sebelum menempelkan kembali di atas kening Naziah.
"Kamu itu sakit Zi'. Suhu tubuhmu mencapai 40° tadi. Syukurlah kami memiliki kunci cadangan pintu kamarmu. Jika tidak, kami nggak akan tahu apa yang akan terjadi sama kamu. Dengan kondisi seperti ini." jawab Ulfi
"Semalam, kamu nggak makan ya Zi'?" tanya Tita tiba-tiba dari arah luar.
Sambil membawa nampan berisi menu sarapan untuk Naziah, di tangannya. Tita mendekati Ulfi dan Naziah.
Mendengar pertanyaan Tita itu, Naziah menjawab dengan anggukkan kepalanya pelan. "Aku malas makan, karena sudah ngantuk berat soalnya." sambung Naziah memberi alasan.
"Hmm... kalau begitu, sekarang kau harus makan yang banyak. Lalu minum obat!! Aku siapin ya...?!" ucap Tita
"Nggak perlu Tita... Aku bisa makan sendiri. Kalian sendiri, sudah pada sarapan apa belum?" tanya Naziah balik.
"Belum. Kami terlalu panik saat dengar kamu demam tinggi. Jadi belum sempat sarapan. Sekarang ini, kau tak perlu memikirkan kami. Yang perlu kau pikirkan sekarang adalah habiskan sarapanmu ini dan minum obat. Setelah itu, baru kami akan sarapan. Okey...?!!" ucap Tita tegas.
"Oke. Aku akan menghabiskan sarapanku ini, nggak perlu dijagain juga. Kalian sarapan aja sana!! Aku nggak pa-pa, makasih ya...??! Maaf sudah membuat kalian repot dan menjadi khawatir?!!" ucap Naziah tulus. Dan berpura-pura kuat agar tak membuat para sahabatnya itu semakin khawatir terhadapnya.
"Beneran...sudah bisa sendiri? Kelihatan masih lemes gitu juga!!" ucap Ulfi tak percaya.
"Iya, beneran. Obatnya mana?" tanya Naziah sambil berusaha tersenyum. Untuk menutupi rasa sakit yang tiba-tiba menyerang kepalanya.
"Oh iya, Anto mana ya? Katanya cuma ambil obat. Kok lama?! Obatnya ada di kotak P3K kan? Dan kotak P3K itu masih di dinding di ruang makan kan?" tanya Ulfi panjang kali lebar.
*
*
__ADS_1
*