
Keesokan harinya, tepat berkumandangnya adzan subuh. Naziah terbangun dari tidurnya. Perlahan tapi pasti, dia membuka mata. Dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
Dia mendapati kedua sahabatnya yang masih tertidur pulas di sofa. Dengan posisi, si Ulfi menyilangkan tangannya didepan dada dan merapat ke sandaran sofa. Sedang si Tita, tidur dengan posisi memeluk si Ulfi bak sebuah bantal gulingnya.
Melihat itu, Naziah sedikit menyunggingkan senyum. Kemudian, dengan gerakan pelan dan hati-hati. Naziah mencoba turun dari brankarnya. Dia ingin buang air kecil dan sekalian akan berwudhu.
Setelah merasa perutnya cukup aman dan tak merasa sakit lagi saat bergerak. "Alhamdulillah... terima kasih Ya Allah. Atas nikmat hilangnya rasa sakit di lambungku." ucap lirih Naziah.
Kemudian dengan sedikit lemah, Naziah melepas botol infus dari gantungannya. Lalu, dengan perlahan dia melangkah menuju kamar mandi.
Sesampainya didalam kamar mandi. Naziah berusaha menggantung botol infusnya. Setelah botol infus itu berhasil tergantung dengan sempurna. Dia langsung memulai ritual paginya.
*Di luar kamar mandi,
"Enghh..."
Tiba-tiba Tita melenguh sambil bergerak merentangkan kedua tangannya. Dan membuat Ulfi ikut terbangun karena tergencet lengan atas Tita yang tampak cukup berisi.
"Uuh... apa-apaan sih 'Ta! Sempit tahu...!" ucap Ulfi langsung tersadar dari tidur. Dia menjadi kesal karena tidurnya terganggu.
"Maaf... kupikir kita ada di kamar kita, tadi?!!" ucap Tita jujur.
Setelah semua nyawanya terasa sudah terkumpul seluruhnya di tubuhnya. Tita langsung menjatuhkan pandangannya ke atas brankar Naziah. Dan betapa terkejutnya dia, setelah mendapati brankar kosong.
"Astagfirullahal'adzim!!! Ziah dimana Ul'?" tanya Tita panik.
__ADS_1
"Ada apa? Aku disini." ucap Naziah begitu santai. Sambil melangkah pelan menuju brankarnya dengan menenteng botol infusnya.
"Astaga!!! Kau darimana Zi'? Kenapa tidak membangunkan kamu?" ucap Ulfi mencerca Naziah.
"Aku nggak kemana-mana. Hanya ke kamar mandi untuk pipis, kemudian berwudhu." jawab Naziah terlalu santai.
"Emang sudah jam berapa? Kok berwudhu?" tanya Tita lagi.
"Tuh..." ucap Naziah sambil menunjuk dengan matanya. Posisi jam di dinding yang berada tepat di belakang Tita dan Ulfi.
Spontan kedua sahabatnya itu mengikuti arah pandangan Naziah. Dan mendapati jam yang menunjukan pukul 04.56 WITA. Merasa masih terlalu pagi, kedua sahabatnya itu kembali berbaring. Dan bermaksud melanjutkan tidur mereka yang sempat terganggu.
"Hei... jangan tidur lagi!!!! Ayo sholat bareng!" ucap Naziah begitu lembut.
"Emm... duluan aja Zi'. Kami menyusul sebentar lagi." tolak Tita dengan suara yang mulai parau karena mengantuk.
"Ke surga." jawab singkat dan kompak Tita dan Ulfi.
"Alhamdulillah. Ya sudah, terserah kalian. Aku duluan!" ucap Naziah malas.
Tanpa menghiraukan lagi kedua sahabatnya itu. Naziah mulai mengenakan mukenahnya. Merasa belum kuat untuk berdiri lama. Akhirnya, Naziah melaksanakan sholat Subuhnya dengan cara duduk di atas brankarnya.
Naziah memang gadis yang taat beribadah. Kemanapun dan dimana pun dia berada. Dia selalu berbekal mukenah travel didalam ranselnya. Seperti saat ini, setelah Naziah dibawa ke rumah sakit. Tak lupa, para sahabatnya membekali beberapa barang keperluannya dengan peralatan sholat dan juga Al-Qur'an mininya.
Seperti kebiasaannya setiap pagi hari. Usai menyelesaikan rakaat sholatnya. Naziah langsung melanjutkan dengan membaca Al-Qur'an.
__ADS_1
Tepat pukul 05.33 pagi, Tita dan Ulfi sudah terbangun. Berhubung jarak antara rumah sakit tempat Naziah dirawat saat ini dengan kontrakan cukup jauh. Dan juga berlawanan arah dengan jalan menuju kampus.
Sebelum memutuskan untuk menjaga Naziah yang dirawat di rumah sakit itu. Mereka sudah berbekal pakaian ganti. Dan pagi ini, usai membersihkan diri. Tita dan Ulfi langsung bersiap-siap untuk ke kampus.
Namun sebelum itu, mereka sudah janjian dengan Anto. Untuk sarapan bersama dengan Naziah di sana. Sambil menunggu, ketiga sahabat itu berbincang-bincang ringan.
"Zi'! Kalau aku lihat-lihat, kayaknya...si Rendi-Rendi itu naksir kamu deh...!" ucap Tita sambil menatap intens wajah Naziah
Dengan posisi Naziah yang setengah berbaring di atas brankarnya. Dan posisi Tita yang duduk di kursi di samping brankar. Tita terlihat seperti seorang polisi yang mengintrogasi seorang calon napi.
"Jangan ngadih-ngadih deh 'Ta! Mana ada seperti itu?! Lagi pula, tipe orang seperti dia itu. Mana mau sama orang kaya kita?! Kalaupun iya, dia naksir sama aku... Kalian tau kan, jawaban apa yang akan aku jawab! Jadi, kamu jangan ngaco 'Ta!!!" ucap Naziah sambil menoyor pipi sahabatnya itu.
"Iya Zi'. Aku juga melihatnya seperti itu?" timpal Ulfi.
"Iya kah??!!! Tapi... ngomong-ngomong, emang Ulfiyana udah punya pacar berapa sih?! Sampai udah tahu baca mimik wajah orang." ucap Naziah dengan sedikit sindiran untuk sahabatnya itu.
"Hehe... belum berapa atau pernah pacaran sih Zi'. Aku hanya ikut nebeng omongan Tita aja sih!" jujur Ulfi sambil cengengesan.
"Emmm, dasar lu!!!" ucap Tita ikut menoyor pipi Ulfi.
"Hahaha..."
Ketiga sahabat itupun mengawali harinya dengan canda tawa.
Tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu ruang rawat. Sambil mengucapkan salam.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum...!"
"Wa'alaikumsalam..." balas Naziah, Tita dan Ulfi kompak.