Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Memiliki Perasaan Yang Sama


__ADS_3

Naziah dan ketiga bawahannya itupun mulai menyibukkan diri dengan tugas mereka masing-masing. Hingga sore hari, saat jam kantor itu selesai. Mereka baru membubarkan diri untuk kembali keperadabannya masing-masing.


Dengan Sahrul yang kembali ke rumahnya yang berada dekat di daerah itu. Karena memang dia asli orang sana. Sedang Naziah, Iwan dan Ifah yang sama-sama pendatang di daerah itu. Kembali ke mess yang memang dipersiapkan khusus oleh perusahaan tempat mereka bekerja saat ini.


Karena motor kesayangannya masih berada di kediaman Rega. Jadi, Naziah memutuskan untuk pulang bersama Ifah ke mess-nya dengan berjalan kaki.


Ya, Ifah memang telah sepakat dengan Naziah, tadi siang. Untuk menginap bersama di mess Naziah, malam nanti. Dan tanpa perlu repot-repot untuk kembali dulu ke messnya untuk mengganti pakaian kantornya. Akibat keseringan menginap bersama di mess Naziah itu dan mengganti pakaiannya dengan pakaian Naziah.


Jadi, pakaian Ifah sudah ada beberapa yang tersedia di sana. Dan begitupun sebaliknya, pakaian Naziah sudah tersedia di mess Ifah. Tetapi selama ini, karena kamar yang tersedia di mess Ifah hanya satu. Jadi, Naziah terkadang hanya datang untuk sebentar saja.


***


Saat Naziah dan Ifah sampai di lobi perusahaan. Tiba-tiba, Devan keluar dari mobil yang dikendarainya sendiri, dengan Rega yang tampak sedang duduk di kursi penumpang, di samping pengemudi. Dan membukakan pintu penumpang untuk Naziah. Yang memang seperti mereka sudah menunggu kedatangan Naziah sejak tadi.


"Ayo, silahkan masuk, Mba'!!! Mba' Ifah juga boleh masuk, jika mau diajak ikut." titah Devan pada Naziah dan mempersilahkan Ifah juga.


Sejenak, Naziah dan Ifah saling tatap. Mereka tak tahu dan tak mengerti, apa lagi yang direncanakan oleh Rega saat ini. Naziah mendekati Devan dan sedikit berbisik.


"Kita mau diajak kemana, Tuan Devan?" tanya Naziah, berbisik lirih.


"Ikut saja Mba'. Nanti juga Mba' akan tahu sendiri." jawab Devan santai. Tanpa berbisik seperti yang Naziah lakukan padanya tadi.


"Hufh!!! Kenapa sih... kalian selalu berbuat sesuka kalian tanpa pernah meminta ataupun membicarakannya dulu denganku. Kalian kakak adik, sama-sama sangat menyebalkan! Ayo Ifah, tinggalkan saja mereka!" ucap Naziah kesal setengah mati. Sambil menarik tangan Ifah pergi begitu saja.


Namun, baru saja kaki Naziah melangkah sebanyak lima langkah. Rega yang dengan cepat keluar dari dalam mobilnya. Langsung menghadang langkahnya.

__ADS_1


"Aku sudah mengirim pesan ke ponselmu. Dan mengatakan, kalau kita akan pergi membeli oleh-oleh untuk keluargamu setelah pulang kerja. Dan kau tak membacanya 'kan?!" ucap tanya Rega dengan nada dan tatapan dinginnya kearah Naziah.


"Benarkah???" tanya Naziah. Dan seketika merogoh tas jinjingnya untuk melihat ponselnya.


Setelah menemukan ponselnya itu dan melihat keadaan benda itu. Seketika wajah Naziah berubah pias dan kesulitan menelan saliva-nya. Bagaimana tidak? Ternyata ponselnya itu dalam keadaan mati.


"Hehehe... ponselku mati. Jadi, aku----" ucap Naziah dengan cengengesan.


"Aku tidak mau dengar. Cepat masuk!!!" potong Rega tak terbantahkan.


Mendengar itu, Naziah langsung berbalik arah sambil menarik kembali tangan Ifah. Yang tampak pasrah ditariknya ke sana kemari tanpa perlawanan.


"Ssshht... B*d*h banget sih aku!" ucap Naziah sedikit meringis dan mengumpat serta mengetuk kepalanya dirinya sendiri.


Setelah semua penumpangnya sudah duduk manis ditempatnya dan juga telah memasang sabuk pengamannya masing-masing. Devan yang bertugas sebagai sopir untuk mereka itu. Akhirnya, menghidupkan mesin dan mulai menginjak pedal gas mobilnya dengan perlahan. Keluar dari area perusahaan itu menuju ketempat tujuan mereka.


Setelah berkendara selama kurang lebih 20 menit. Akhirnya, mobil yang dikendarai Devan itu. Memasuki area parkir sebuah toko besar yang menjual berbagai macam oleh-oleh khas dari kota itu.


"Ayo turun! Masuk dan pilihlah oleh-oleh yang ingin kau beli. Dan gunakan ini untuk membayar semuanya." ucap Rega sambil mengulurkan sebuah blackcard miliknya kearah Naziah.


"Terimakasih. Tapi, aku rasa tidak perlu. Aku akan bayar pakai uangku saja." tolak Naziah lembut. Dan mulai akan beranjak turun dari mobil. Setelah mengambil dompetnya dari tas jinjingnya dan memasukannya ke kantong blazernya.


"Jangan membeli seperlunya saja! Aku tidak mau, sampai dikatakan pelit oleh Mama dan adik-adikmu. Jadi, ayo ambil ini!!!" ucap Rega tega dan tak menerima penolakan dari Naziah itu.


"Heh?!! Kau pikir Mama dan kedua adikku seperti itu?!" ucap Naziah dengan meninggikan suaranya karena merasa tersinggung. Keluarganya dianggap tak mampu menghargai pemberian orang lain.

__ADS_1


"Bukan seperti itu maksudku! Aku---" ucap Rega


"Sudahlah. Aku akan tetap menggunakan uangku." potong Naziah dan sudah berlalu keluar dari mobil mengikuti Ifah yang sudah lebih dulu turun.


"Berhenti di sana!!!" ucap Rega dengan tegas dan penuh penekanan.


Membuat Naziah reflek berhenti didepan pintu mobil yang baru saja ditutupnya. Dan Rega yang tadinya hanya ingin menunggu dimobil saja. Akhirnya, ikut keluar dari mobilnya dan mengitari mobil itu untuk mendekati Naziah.


Rega berdiri tepat dihadapan Naziah dengan tatapan dinginnya. Kemudian mengukung tubuh Naziah dengan kedua tanganya. Yang menekan pada badan mobil disisi kiri dan kanan tubuh Naziah. Hingga terpaksa, Naziah memundurkan tubuhnya dan tersandar pada badan mobil dibelakangnya.


"Kau mau apa?" tanya Naziah mulai sedikit takut.


Melihat posisi Rega dan Naziah yang cukup intim seperti itu. Dengan cepat Devan menjauh dari sepasang insan yang sedang sedikit bersitegang itu. Sambil mengajak Ifah mencari tempat duduk untuk mereka. Agar sedikit bersantai sambil menunggu perseteruan kecil dari kedua insan itu selesai.


Lama Rega menatap wajah cantik alami Naziah itu. Yang meski sudah bekerja seharian tetap tampak segar dipandang mata. Dan selalu membuat Rega kesusahan menahan hasratnya untuk tidak menyentuh calon istrinya itu. Sebelum benar-benar manjadi halal untuknya.


"hei! Kau mau apa sih? Tolong menjauh dariku" ucap Naziah mengulang pertanyaannya. Dan meminta Rega untuk menjauhinya.


Rega tampak menutup matanya sejenak. Demi meredam suatu gejolak yang muncul dalam dirinya. Akibat menatap lama wajah calon istrinya itu dengan jarak begitu dekat seperti itu.


"Mau sampai kapan kau akan terus bersikap ketus seperti ini padaku, Hem? Sebentar lagi kita akan menikah. Dan besok, kau juga sudah akan terpisah denganku untuk beberapa lama. Apa kau tidak akan meninggalkan kesan baikmu untukku? Aku sangat menginginkannya sebagai sesuatu yang bisa aku ingat tentangmu!" jelas Rega dengan suara lembut.


Mendengar ucapan Rega yang seperti ungkapan hatinya itu. Naziah mematung mendengar pertanyaan-pertanyaannya itu. Dan tanpa sadar, dia menggigit bibir bawahnya. Yang tanpa diketahui Rega, Naziah pun tak jauh berbeda dengannya. Yang sengaja bersikap ketus seperti itu. Hanya untuk menutupi gejolak perasaan aneh yang dia rasakan setiap kali berada didekat Rega.


'Maafkan aku?! Aku sengaja bersikap seperti ini. Sejujurnya, hanya untuk menekan semua perasaan aneh yang entah kenapa? Selalu muncul saat aku berada di dekatmu. Jika tidak seperti itu, Aku takut tidak bisa menjauh darimu walau sedetikpun Tuan Rega.' batin Naziah

__ADS_1


__ADS_2