Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Rahasia dan Kejutan Tuhan


__ADS_3

 Dan malam itupun menjadi malam terindah bagi Naziah dan Rega. Meski hal itu baru pertama kali bagi mereka melakukanya. Tapi, mereka begitu menikmatinya. Sebab masing-masing diri bergerak mengikuti nalurinya. Untuk menciptakan malam indah bagi mereka itu


Setelah selesai melakukan salah satu hal wajib dan merupakan ibadah bagi mereka itu. Sebelum tidur, Rega sedikit membersihkan dirinya dan kembali mengenakan pakaian tidurnya. Yang sebelumnya ia kenakan. Kemudian, melihat istrinya itu sudah terlelap lebih dulu. Masih dengan tubuh polosnya dibalik selimut tebal itu. Rega putuskan untuk membantu istrinya itu mengenakan pakaiannya. Sebab, jika dia membiarkan istrinya itu seperti itu. Takut, nantinya istrinya itu akan tak nyaman dan cepat terbangun. Sementara tubuhnya itu masih butuh waktu istirahat.


Dengan perlahan-lahan, Rega membantu Naziah mengenakan pakaiannya itu. Namun, karena tak ingin terlalu banyak menggerakkan tubuh istrinya itu. Saat dikenakan pakaian. Rega hanya langsung mengenakan Naziah baju dan celananya. Tanpa pakaian dalamnya.


Waktu telah menunjukkan pukul 04.30 dini hari. Alarm pada ponsel Naziah seketika berbunyi dengan kerasnya. Hingga mengusik tidur lelap Naziah saat itu.


Dengan susah payah, Naziah mulai membuka kelopak mata indahnya itu. Dan akan membangkitkan tubuhnya dari pembaringannya itu. Sambil berniat menggeliatkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri terlebih dahulu. Yang terasa begitu remuk redam pikirnya. Namun, sesuatu yang terasa begitu berat menindih pada bagian perut rampingnya. Dan juga salah satu pahanya yang ada dibalik selimut tebal itu. Berhasil menghalangi usaha dan niatnya untuk menggeliatkan tubuhnya itu.


Belum lagi, sebuah hembusan nafas yang hangat menyentuh pipinya. Naziah sejenak terpaku dengan posisinya itu. Sambil tampak memikirkan sesuatu di otaknya. Dengan mata yang sesekali berkedip-kedip lucu.


'Ya ampun...! Apa ini yang menindih tubuhku? Berat sekali.' ucap batin Naziah.


Cukup lama ia terpaku, hingga alam bawah sadarnya itu kembali ke sedia kala. Sebuah pemikiran menyadarkannya, bahwa saat itu. Dia bukanlah wanita yang kemana-mana sendiri. Mau makan, mau tidur tetap sendiri. Kini, dia adalah seorang istri dari pria bernama Adrian Rega. Sang bos dari kantor tempatnya mengais rezeki. Selama kurang lebih dari empat tahun lalu, hingga kini.

__ADS_1


"Ya Allah...! Kenapa aku masih selalu saja lupa sih! Kalau sebenarnya, sekarang aku itu sudah menikah. Dan sudah pasti, aku akan tidur ditemani oleh suamiku ini di setiap saatnya. Nggak sama seperti dulu waktu masih gadis dan sendiri. Mau ngapain aja pasti sendiri. Sekarang, sudah sangat pasti di sampingku adalah suamiku" ucap Naziah berbicara sendiri.


Setelah bermonolog panjang lebar, sendiri seperti itu. Naziah mencoba memiringkan tubuhnya menghadap sang suami dengan perlahan. Agar ia bisa melihat wajah suaminya itu. Tanpa mengusik tidur dari suaminya itu.


"Aku baru sadar. Ternyata, suamiku ini benar-benar tampan sekali. Pantas saja, hampir semua karyawati di kantor begitu memujanya. Dan mungkin hanya aku sendiri sajalah yang tak memperhatikan dirinya. Tapi lucunya, justru aku yang cuek dan tak tergila-gila padanya Justru yang dipilihnya. Bukan para wanita-wanita itu. Yang terkadang begitu nampak jelas tergila-gila dan memujanya itu. Apa aku dulu pernah berbuat sesuatu amal yang baik. Hingga saat ini, Allah membalas amal dari kebaikan ku itu. Dengan menjodohkan ku dengan pria tampan ini. Udah gitu... bos sendiri lagi. Hihihi... lucu sekali. Allah memang penuh rahasia dan kejutan untuk setiap mahluk-Nya ya." ucap Naziah panjang lebar, masih dengan berbicara sendiri. Sambil terus memandangi wajah tampan Rega itu dari jarak yang begitu dekat itu.


"Aku dipertemukan dijodohkan dengan pria yang bukan hanya tampan saja. Tapi juga lembut hati dan penuh kasih sayang ini. Ini sungguh nikmat Tuhan yang tak bisa didustakan. Dan juga, aku sungguh tak menyangka. Jika dulu sangat terluka dan trauma dalam hati. Saat terlepas dari tangan pria yang hampir menikahiku itu. Kini, berhasil menerima pria yang menurutku asing bagiku awalnya. Justru, dialah yang telah berhasil merebut hati dan mahkotaku di... malam kedua setelah ijab kabul diikrarkan. Sungguh!!! Lama-lama, aku merasa hidupku bagai cerita-cerita seorang gadis desa yang ada didalam novel-novel yang pernah aku baca sebelumnya ya."


"Hemmm... Semakin dipandang, wajahnya semakin tampan berkali-kali lipat saja. Dan sepertinya membuatku semakin jatuh cinta saja padanya. Ah... aku harus..." ucap Naziah, seketika terpotong.


"Mau kemana, hem? Ini masih sangat pagi buta, Sayang. Apa kau tidak lelah setelah kegiatan kita semalam, Hem?" ucap tanya Rega. Masih dengan mata yang terpejam rapat.


"Hem... Lelah sih, Mas. Dan aku juga sadar ini masih pagi buta. Tetapi, justru pagi buta itu. Bukankah kita seorang muslim yang memiliki kewajiban atas perintah sholat lima waktu-Nya. Yang harus kita laksanakan sebagai ucapan syukur kita ke padaNya. Karena telah memberikan kita kehidupan, rezeki, jodoh dan lain sebagainya. Ayo bangun, Mas! Ini sudah masuk waktu sholat subuh. Kita harus sholat. Aku dulu yang mandi atau Mas?" tanya Naziah akhirnya. Setelah sedikit menjelaskan maksudnya ingin bangkit dari tidur mereka itu.


"Kau saja dulu, sayang. Sambil nunggu kamu, Mas mau tidur sedikit lagi ya!" jawab Rega pelan. Dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

__ADS_1


"Baiklah. Aku duluan ya." ucap Naziah sambil berusaha turun dari ranjang king size mereka itu.


Namun, baru saja Naziah melangkahkan kakinya. Tiba-tiba, ia spontan menjerit dan meringis. Sambil memegangi bagian intimnya.


"Aauhh...ssst!" adu Naziah sambil meringis kesakitan. Dan kembali terduduk dipinggir kasur.


Mendengar suara istrinya yang seperti kesakitan itu. Rega seketika membuka matanya dan bangkit dari tidurnya.


"Astagfirullahal'adzim! Kamu kenapa Sayang?" ucap dan tanya Rega, khawatir. Sambil segera turun dari ranjang dan mendekati istrinya itu.


"Itu ku terasa sakit dan perih sekali, Mas." jawab Naziah dengan wajah kesakitan.


"Ya Allah...! Itu pasti karena ulahku semalam, Sayang. Maafkan Aku ya...?!" ucap Rega merasa bersalah. "Aku gendong aja ya, ke kemar mandi. Itu pasti sangat sakit kalau dipaksa jalan." sambungnya berinisiatif.


Naziah menggeleng, menolak tawaran suaminya itu. "Sepertinya tidak perlu Mas. Aku bisa jalan sendiri aja. Tapi aku, nenangin hati dulu ya. Baru lanjut jalan, mungkin jika pelan-pelan tidak akan terasa sesakit tadi. Dan... Mas tak perlu minta maaf begitu. Aku nggak apa-apa. Sakit ini pasti cuma sebentar kok. Nanti juga sembuh sendiri." ucap Naziah menolak. Dia tak ingin luka pada perut suaminya itu berdarah lagi gara-gara menggendongnya.

__ADS_1


__ADS_2