
"Pesanannya datang Tuan-tuan...! Maaf, karena membuat kalian sedikit menunggu lama.?!!" ucap Ulfi sambil menyajikan gelas-gelas yang berisi minuman pesanan para tamu dan sahabat prianya itu.
Usai Ulfi menyajikan minumannya. Giliran Tita yang maju membawa nampannya. Yang ternyata berisi kue pancake buatan Naziah tadi. Tetapi, yang menyajikan dihadapan para pria-pria di sana adalah Naziah.
Sambil menunggu Naziah dan Tita menyajikan cemilannya. Ulfi memilih duduk disalah satu kursi yang masih kosong. Karena memang, kursi yang tersedia di teras itu cukup untuk enam orang.
Setelah dilihatnya semua minuman dan cemilannya tersaji. Kembali Ulfi berucap ala pelayan resto.
"Selamat menikmati Tuan-tuan! Semoga minuman dan cemilannya cocok di lidah kalian ya...!" ucap Ulfi lebay.
"Terimakasih...!" balas Rendi dan Aldi bersamaan.
"Biasa aja kali Ul'. Nggak usah lebay kayak gitu!" ucap Naziah menimpali. Dia merasa geli melihat dan mendengar tata cara bicara sahabatnya itu.
"Ekh... aku sudah biasa aja kali Zi'! Aku hanya mencoba sopan, nggak salahkan 'Ta??!" elak Ulfi pada Naziah. Dan meminta dukungan dari Tita.
"Iya. Ya sudah, berhenti berdebat. Kita lagi ada tamu nih...!" jawab Tita bijak.
"Ekh, tumben Tita bicara bijak." timpal Anto. "Ngomong-ngomong, kue pancakenya beli dimana Zi'? Dan kapan belinya?" sambung Anto bertanya. Sambil terus memakan pancake bagiannya.
"Beli di dapur." jawab asal Naziah.
"Hah!!!! Di dapur...??!" ulang Anto karena terkejut. "Emang ada yang jualan di dapur?" tanya Anto lagi.
"Nggak ada Anto." kembali Tita yang menjawab. "Emang kenapa, nggak enak ya? Itu... Ziah yang buat barusan." sambungnya sambil menunjuk Naziah dengan pandangannya.
"Enak banget. Tapi, kok cepat banget Ziah buatnya? Diakan baru nyampe. Terus...belum sejam loh...dia nyampenya. Kok udah bisa buat ini?" jawab dan tanya Anto keheranan.
"Nggak usah banyak nanya 'Nto...!!! Kalau enak, ya dihabiskan. Bersyukurlah... karena kamu sudah bisa makan yang manis-manis lagi." ucap Naziah
"Iya, Alhamdulillah. Tapi, kamu baru sembuh dan belum pulih sepenuhnya loh Zi'... Jadi, jangan capek-capek dulu!!!" ucap Anto memperingati Naziah tentang kondisinya.
"Iya... aku tahu Anto. Sudah ah!!! Hanya gara-gara masalah pancake doang. Jadi panjang gini ceritanya." ucap Naziah jengah
__ADS_1
Naziah jadi merasa malu pada tamu mereka itu. Karena sibuk memperhatikan perdebatan masalah sepele antara dia dan para sahabatnya. Para tamunya itu belum bisa menikmati hidangannya. Akhirnya, Naziah memutuskan untuk kembali mempersilahkan tamunya itu. Untuk mencicipi minuman dan cemilan buatan dia dan Ulfi itu.
"Ayo Aldi, Rendi ! Silahkan diminum dan dimakan kuenya! Seperti kata Ulfi, semoga cocok di lidah kalian. Dan maaf, hanya ini yang bisa kami sajikan untuk kalian??!" ucap Naziah beralih pada Aldi dan Rendi.
"Iya. Kau tak perlu minta maaf. Kami justru merasa tersanjung. Karena, meskipun kau baru saja keluar dari rumah sakit. Kau sudah bela-belain menjamu kami dengan seperti ini. Terimakasih ya...!" ucap Rendi
"Iya. Terimakasih Zi'. Kau sangat pandai membuatnya, ini enak." jawab Aldi ikut menimpali. Sambil mulai memakan pancake miliknya hingga habis tak bersisa.
"Terimakasih, jangan memujiku!!! Nanti kepalaku jadi besar seperti balon udara nantinya. Terus... aku terbang ke angkasa lagi. Kan jadi berabe?!!!" jawab Naziah bercanda.
"Benarkah??! Lucu sekali Hahaha... ." ucap Aldi kemudian tertawa terbahak-bahak.
Naziah hanya mengangguk dan tersenyum. Sedang Tita, Anto dan Ulfi pun ikut tertawa.
Sementara Rendi, sambil memakan pancake miliknya. Dia terus menatap wajah Naziah dan sedikit menyunggingkan senyum. Kebetulan, kursi tempatnya duduk saling berhadapan dengan kursi yang diduduki oleh Naziah.
"Kau memang gadis yang unik dan sempurna bagiku, Naziah. Jadi, jangan salahkan aku jika jatuh hati padamu. Dan jika hati ini sudah memilih, maka aku harus mendapatkanmu!!!" batin Rendi berucap. Dan masih terus memandangi wajah cantik dan teduh milik Naziah itu.
Setelah beberapa saat ikut terbawa suasana. Naziah baru menyadari, jika ada yang sejak tadi menatapnya intens.
Mendengar sarkasme Naziah seperti itu. Bukannya malu karena ketahuan dan segera memutus pandanganya. Rendi malah bersikap santai dan semakin intens menatap Naziah.
"Heem...baiklah. Bagaimana kalau aku menjadikanmu muhrimku? Apakah kau mau?" ucap tanya Rendi serius.
"Heh, Jangan berlebihan dalam bercanda Ren'!!! Tidak baik." ucap Naziah dengan tersenyum kecil.
"Siapa yang mengatakan aku bercanda? Aku serius Naziah." tanya dan jawab Rendi.
Sementara itu, mendengar topik yang mulai serius dan privasi itu. Anto dan Aldi saling melempar senyum. Dan juga saling menendang kaki masing-masing.
Sedang Ulfi dan Tita juga segera beranjak dari sana. Mereka memutuskan untuk masuk kedalam rumah.
"Sebenarnya, aku tidak bermaksud menggurui. Aku hanya sekedar menyampaikan yang aku tahu selama ini. Jika seseorang melihat lawan jenisnya lebih dari artian kata melihat (memandang). Dan bukan termaksud dari muhrimnya. Maka akan menjadi dosa mata bagi yang melakukannya. Dan aku tidak ingin menjadi penyebab dosa itu, Ren'. Tapi jika kau memaksa, lebih baik aku masuk saja." jelas Naziah dan memberi keputusannya.
__ADS_1
Karena tak ingin kembali berdebat dengan Rendi, seperti di rumah sakit tadi. Dan jika bukan karena kedatangan Dokter Karina. Mungkin perdebatan itu akan terus berlanjut.
Jadi, seiring dengan kalimat terakhirnya, Naziah pun berdiri dari duduknya dan berniat pergi begitu saja. Meninggalkan para tamu dan salah satu sahabatnya itu.
Namun, suara bariton dengan nada tegas dari Rendi. Mampu menghentikan gerakan Naziah.
"Baiklah, aku mengalah. Jadi, tolong duduk kembali Zi'!!!" ucap Rendi
Terlihat Naziah menghembuskan nafas kasar melalui hidungnya terlebih dahulu. Kemudian, barulah dia duduk kembali.
"Hemm...baiklah." ucap Naziah
"Sekarang, aku tanya padamu. Apa yang harus aku lakukan, jika hati dan otaku memaksa mataku untuk memandangimu?" tanya Rendi serius. Sambil kembali menatap intens wajah Naziah.
Sedang Naziah sendiri, tak sama sekali menatap wajah lawan bicaranya itu. Dia malah membuang pandangannya kearah lain.
"Ya seperti yang aku katakan tadi. Berhenti menatap wajahku seperti itu." jawab Naziah "Jika tidak, mulai sekarang kita harus jaga jarak. Agar nanti, dosaku sebagai penyebab dari dosa mata, otak dan hatimu itu, tidak semakin bertambah." sambung Naziah, kembali memberi kesimpulan sendiri.
"Aldi, terimakasih karena sudah mengantarkan kami pulang. Dan terimakasih juga atas semua bantuanmu padaku selama di rumah sakit. Ya??!!!" ucap Naziah pada Aldi. Dan Aldi hanya menjawab dengan menganggukkan kepala pelan.
Usai mengucapkan terimakasihnya pada Aldi. Naziah langsung beranjak dari duduknya. Dan melangkah dengan cepat masuk kedalam rumah.
Namun, dengan gerakan tak kalah cepat. Rendi menggenggam erat dan menahan tangan Naziah. Hingga dengan terpaksa, Naziah menghentikan langkahnya. Dan berbalik menatap nyalang kearah tangan Rendi, yang menggenggam tangannya.
*
*
*
**Bersambung....
{Mohon tinggalkan jejak ya... para pembaca setiaku!!! Dengan cara menekan tanda 👍 dan 🎁. Bahkan, jika berkenan... tolong berikan komentar positif kalian atas cerita ku ini. Kemudian, saran dan kritiknya juga boleh...?!!!
__ADS_1
Karena itu semua akan membantuku menjadi penulis yang lebih baik. 🤗🙏
Salam Hangat dan beribu 💕💖 buat Pembaca setiaku**