
"Tuan ingin bicara sepenting apa dengan ibuku? Bolehkah saya tahu lebih dulu!"
Bukannya menuruti perintah Rega. Naziah malah bertanya balik dan ingin tahu lebih dulu. Apa yang sedang direncanakan dan ingin dikatakan Big Bos-nya itu pada ibunya.
Sementara itu, Devan dan Ifah yang sejak keluarnya Naziah telah diam seribu bahasa. Melihat dan merasa pembahasan Rega dan Naziah mulai mengarah ke pembahasan yang lebih privasi. Kompak izin untuk duduk di kursi teras depan mess Naziah itu. Untuk memberi ruang pada kedua insan itu.
"Kami izin duduk di teras depan aja ya, Kak?!" ucap Devan, hati-hati. Dan hanya mendapat jawaban dengan anggukan kepala dari Rega dan Naziah.
Setelah mendapat izin, Devan pun beranjak dengan tak lupa membawa serta minuman dan kue miliknya. Yang telah disuguhkan untuknya sejak tadi. Sambil memberi kode pada Ifah untuk mengikutinya.
Dan Ifah yang mengerti kode dari Devan tersebut. Melakukan hal yang sama seperti Devan lakukan. Yaitu beranjak dengan membawa serta minuman dan kue miliknya pula.
Sepeninggalan Devan dan Ifah ke ruang teras depan. Rega pun memulai pembicaraan seriusnya dengan Naziah. Dan Naziah yang tadinya masih berdiri, segera duduk di kursi yang tadi ditempati Ifah. Yaitu, kursi yang berhadapan langsung dengan Rega dan dibatasi sebuah meja diantara mereka.
Rega sedikit berdehem sebelum memulai pembicaraannya "Ehem....!"
"Apa kau lupa? Aku sudah melamar-mu dan memberi kesempatan waktu yang banyak untukmu berpikir. Tapi, sepertinya... kau tidak perduli dan hanya menyia-nyiakan waktu itu." ucap Rega dengan nada sedikit meninggi dan perlahan menurun dengan sendirinya.
"Atau kau pikir, aku hanya bercanda?Jika sampai kau berpikir seperti itu, kau salah besar! Aku serius sama kamu, Zi'. Bahkan, dimulai sejak pertama aku mengutarakan maksudku untuk menjadikanmu pendamping hidupku. Dan memberimu kesempatan untuk berpikir. Aku sudah sangat tersiksa menunggumu untuk diberikan jawabanmu." lanjut Rega dengan memberi pertanyaan namun kemudian menjawabnya sendiri.
"Maaf...jika aku tampak terlalu sibuk dengan pekerjaanku! Tapi, sungguh! Aku hanya ingin berusaha untuk bersikap profesional dalam bekerja. Sedang terlepas dari semua itu, aku selalu memikirkan-mu, Naziah. Apa kau mengerti itu?"
Ucap Rega masih melanjutkan bicara lagi. Kini dengan suara lemah. Kemudian mengungkap semua apa yang ingin dikatakan dan segala yang dia rasakan selama ini. Dan setelahnya, benar-benar menutup ucapannya dengan sebuah pertanyaan lagi.
__ADS_1
Mendengar ungkapan panjang lebar Rega yang sudah seperti sebuah ungkapan keluh kesah yang selama ini dirasakan. Tenggorokan Naziah serasa tercekat dan hanya mampu menganggukkan kepalanya pelan. Menanggapi pertanyaan yang memang tertuju padanya itu.
Sungguh, bukan maksudnya menunda memberikan jawabannya. Karena menganggap hal itu hanya candaan semata. Tetapi, dia memang butuh waktu untuk memantapkan hatinya. Dan juga bertepatan dengan kunjungan kerja yang dilakukan Rega ke luar negeri, beberapa hari lalu. Sementara, Naziah yang sudah siap memberikan jawabannya. Tidak ingin memberi tahu jawabannya hanya melalui ponsel. Jadi, dia putuskan untuk menunggu kepulangan Rega saja, baru akan memberitahukannya.
Tetapi, sesuatu terjadi malam ini dan membuat Rega tampak kesal padanya. Dan mempertemukan mereka dengan cara seperti ini.
"Jadi, apa kau sudah siap memberikan jawabanmu sekarang?" tanya Rega lagi. Kini dengan nada suara lembut.
"Se-sebenarnya, aku sudah akan memberikan jawabanku, sejak tadi pagi. Tapi, karena Tuan---"
"Berhenti memanggilku Tuan! Aku tidak suka. Panggil Aku... Rega, saja." potong Rega. Yang tidak suka, jika Naziah terus memanggilnya dengan sebutan Tuan. Jadi, dia meminta Naziah memanggilnya dengan namanya saja. Karena, dia juga belum memikirkan panggilan apa yang pantas untuk dirinya bagi Naziah.
"Hem...! Baiklah, Tu- eh R-Rega." 'Heh! Baru sebentar saja aku melihat sisi lembutnya. Eh, sisi Arogannya mulai keluar lagi. Jadi, males deh bicara lembut' " ucap Naziah menghembuskan nafas beratnya. Sebelum memutuskan mengganti panggilannya untuk Rega, meski sedikit kaku. Dan disambung dengan mencibir Rega dibenak, setelahnya.
"Sebenarnya, aku sudah membicarakan tentang hal ini pada Mamaku, beberapa hari lalu. Dan..."
"Jadi, apa tanggapan beliau?" potong Rega lagi.
Dia kembali menyela ucapan Naziah. Membuat Naziah memutar bola matanya karena kesal bercampur malas.
"Bisa nggak, Jangan menyela ucapan-ku!" ucap Naziah, dingin
"Hehe... maaf...?!" ucap Rega seraya nyengir kuda memperlihatkan kedua barisan gigi putihnya.
__ADS_1
"Jika sekali lagi kau menyela ucapan-ku. Maka, Jangan salahkan aku kalau aku masuk kamar dan tidur!" ucap Naziah memberi peringatan sekaligus ancaman.
"Eh,eh, jangan dong!!! Baiklah. Aku janji akan diam mendengarkan dan tak akan menyela lagi." ucap Rega masih dengan senyumnya. Dan berjanji mengunci mulutnya saat Naziah berbicara nanti karena takut Naziah meninggalkannya. "Ayo, bicaralah!" pinta Rega
"Huff...! Kenapa malam ini, ada-ada saja yang membuat mood aku berubah-ubah sih! Mengesalkan sekali!!!" ucap Naziah pada dirinya sendiri sambil menghembuskan nafasnya kasar melalui mulut.
"Aku benar-benar minta maaf, my future wife! Ayo, bicaralah! Malam sudah semakin larut. Aku tidak akan pulang sebelum kau bicara. Jadi, cepatlah bicara!!! Kecuali, jika kau ingin aku menginap di mess-mu ini. Hem..?!!" ucap Rega dengan menggoda Naziah akhirnya. Sambil menaik-turunkan kedua alis keningnya.
Mendengar dan melihat kelakuan Rega seperti itu. Bukannya tergoda, Naziah malah mendelik malas.
"Ayolah...!" ucap Rega lagi dengan memelas.
"Diam!!!" ucap Naziah tiba-tiba, berubah serius dan tegas. Hingga membuat Rega seketika terdiam dan mematung dengan sendirinya.
Usai membuat Rega diam dan mematung seperti itu. Naziah pun menenangkan dirinya sendiri dengan menarik dan membuang nafas pelan. Sambil menutup matanya. Merasa cukup tenang, Naziah mulai membuka matanya perlahan. Kemudian menatap Rega dengan serius.
"Sebenarnya, aku sudah membicarakan hal ini dengan Mamaku, beberapa hari lalu. Dan Mamaku memberikan hak penuh padaku untuk memutuskan semuanya. Kata Mama; Beliau akan mendukung, apapun keputusanku itu. Hingga, aku pun telah memikirkan dan mempertimbangkannya beberapa hari belakangan. Berhubung kau masih diluar negeri kemarin. Aku putuskan untuk menunggu pulang saja.
Tapi, kenapa baru pulang saja, kau sudah menyeret-ku dengan tiba-tiba dari cafe, tadi. Memalukan sekali! Beruntunglah, ada seorang pengunjung yang salah mengira kalau kau kakakku. Jadi, malu-ku sedikit terobati dengan salah kira dari pengunjung itu."
Naziah men-jeda ucapannya dengan kembali menarik nafas lewat hidung dan membuangnya pelan melalui mulutnya. Sebelum akhirnya melanjutkan pembicaraan ke inti pembicaraan sebenarnya.
Sementara Rega, masih setia mengunci mulut dan mematung dirinya. Karena tak ingin menyela ucapan Naziah yang menurutnya memang belum selesai.
__ADS_1
"Emmm, aku bersedia... menjadi pendamping hidupmu" ucap Naziah, akhirnya.