
Merasa telah salah karena berpamitan cuma lima menit saja. Tapi, malah kebablasan mengobrol dan bersapa ria dengan Bos dan teman-teman lamanya. Naziah tak bisa berbuat apa-apa ataupun marah pada Rega yang telah mengganggu acara temu kangennya itu. Dia hanya terlihat pasrah dan merasa tak enak pada teman-teman dan bos lamanya itu. Dan masuk kembali kedalam mobil bersama Rega. Untuk melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda sesaat itu.
Didalam mobil, dalam perjalanan menuju desanya. Hanya suara antara Devan dan Pak sopir saja yang terdengar. Mereka sesekali mengobrol tentang apa saja yang mereka lewati dan menarik untuk dibahas.
Sedang Naziah dan Rega hanya terdiam dan sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Merasa jenuh dan bosan berdiam diri selama hampir setengah jam lamanya didalam mobil yang sedang melaju itu. Naziah mencoba mencairkan suasana yang terasa senyap diantaranya dan Rega. Dengan mengajak Rega mengobrol santai.
"Mas...!" panggil Naziah, lembut pada Rega. "Apa kalian akan pulang hari ini juga?" sambungnya, bertanya.
"Hem." sahut Rega. Sambil mengalihkan pandangannya kearah Naziah yang memanggilnya. "Ya. Setelah semua urusanku dengan Ibumu selesai. Kami akan langsung kembali ke kota M. Memangnya kenapa? Apa kau masih ingin bersama Mas, di sini?" jawab Rega dan melempar kembali pertanyaan beruntun pada Naziah. Seraya menaik turunkan kedua alis keningnya untuk menggoda Naziah.
"Isshhh.... Apa sih! Bukan itu maksud aku. Apa kalian tidak lelah? Kenapa tidak menginap saja dulu, barang semalam! Besoknya, baru kembali." ucap Naziah, mendesis sebal. Dan mengungkap maksud pertanyaannya tadi.
"Jika ditanya, Mas lelah atau tidak. Tentu saja, jawabannya lelah. Tapi, mau bagaimana lagi? Mas ingin kita segera menikah dan memilikimu selamanya. Tetapi, tugas-tugas kantor sangat banyak yang harus Mas selesaikan secepatnya. Sebelum acara pernikahan kita digelar nanti. Agar setelahnya, kita bisa berlibur dengan tenang. Dalam beberapa hari kedepannya untuk merayakan honeymoon kita. Sayang...! Kecuali, jika kau memaksaku untuk menginap semalam, dan... di rumahmu. Maka, Mas akan dengan senang hati akan menunda kepulangan Mas itu. Hem!" jawab Rega panjang lebar. Yang ujung-ujungnya kembali menggoda Naziah.
"Jangan gila!" jawab Naziah dengan mendelik kesal kearah Rega. "Jika alasan Mas untuk menginap, seperti itu. Lebih baik, Mas pulang saja sana! Biar saja kau lelah. Aku tidak akan perduli padamu!" sambungnya sewot dan bersikap acuh.
Kemudian, karena malas berbicara dengan Rega. Yang serius awal-awal kata saja dana ujung-ujungnya lebih banyak menggodanya saja. Naziah memilih untuk tidur dengan melipat kedua tangannya didepan dada. Dan memposisikan kepalanya bersandar pada sandaran kursinya dengan nyaman.
__ADS_1
"Hei...! Jangan merajuk seperti itu! Baiklah, Mas minta maaf?! Mas janji tidak akan menggoda mu lagi. Jadi, mari kita bicara lagi!!!" sesal Rega dan mencoba kembali mengajak Naziah mengobrol.
"AU ah, aku udah malas bicara sama Mas. Bicara saja sana sama Devan dan Pak sopir! Aku mau tidur saja." jawab Naziah, menolak. Dan sudah menutup matanya rapat-rapat.
"Mas tidak mau. Mas ingin bicara denganmu saja." tolak Rega, balik. "Oh iya, berapa lama lagi kita akan sampai?" sambung Rega melempar pertanyaan sebagai umpan agar Naziah kembali berbicara dengannya.
Meski tampak terpaksa, Tetapi, Naziah tetap menjawab pertanyaan dari calon suaminya itu. Dengan awalnya bergumam dan mendesah kasar. Setelah sebelumnya melihat penunjuk waktu pada layar ponselnya. "Hemm....! Sekitar 2 jam lagi. Kenapa?"
"Wah... masih cukup lama waktu kita untuk bersama di mobil ini. Yang kemudian akan terpisahkan untuk sementara, selama lima hari ke depan. Mas pasti akan merindukanmu. Dan sebagai obat rindu Mas, nanti.... Bolehkah Mas bersua foto denganmu sekali saja?" jawab Rega, pelan. Kemudian meminta izin dengan suara lemah lembutnya. Untuk mengambil hati Naziah kembali, agar tak keterusan marah padanya.
"Malas. Biarin aja, rindu. Memangnya aku minta di rinduin?! Nggak kan. Jadi... itu sih derita Mas. Tanggung sendiri aja...!!!" jawab Naziah begitu santainya. Masih dengan mata tertutup seperti orang yang sedang tidur. Tapi masih tetap bicara panjang lebar menjawab permintaan dari Rega itu.
"Heh!!! Mana ada orang mati karena rindu?! Ada-ada saja." jawab Naziah, tersenyum sinis.
Sementara itu, tanpa Naziah sadari. Sejak Naziah sudah menutup mata dan mengatakan untuk tidur. Tapi, ternyata hanya wujud aksi ngambeknya saja. Rega telah merekamnya sambil senyam-senyum sendiri. Melihat aksi ngambek yang dilakukannya itu.
"Hmm... Jika sampai itu terjadi. Berarti... Mas adalah orang pertama yang akan mengalaminya dong...!" jawab Rega semakin mengada-ada. Semata-mata, agar Naziah tak berhenti berbicara. "Dan nama Mas akan tercatat dalam daftar orang-orang yang memiliki kisah cinta tragis di dunia ini." sambungnya, mendramatisir keadaannya, didalam khayalannya sendiri.
__ADS_1
Satu detik, dua detik, dan... hingga sampai lebih dari setengah menit berjalan. Naziah tak terdengar menyahuti segala guyonan dari Rega itu. Yang artinya, Naziah benar-benar sudah tertidur.
Demi memastikan, Rega yang baru saja ingin bergerak mencolek pundak Naziah. Tiba-tiba, mobil yang melewati sebuah tikungan. Langsung membuat kepala Naziah bergeser dari sandaran kursinya. Pindah dan tersandar ke pundak Rega.
Ya saat ini, mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki area pegunungan. Yang kontur jalannya sedikit mendaki dan berliku-liku.
Beberapa saat, Naziah tetap pada posisinya. Dengan posisi kelapa bersandar disalah satu pundak Rega.
Dan Rega yang baru kali itu berada diposisi sedekat itu dengan Naziah. Seketika menjadi kaku dan jantungnya deg-degan. Jika Naziah tidak sedang tertidur saat itu. Mungkin, dia akan mampu mendengar detak jantung milik Rega itu. Yang terdengar bagaikan bunyi genderang perang yang ditabuh. Beberapa kali, Rega mencoba menghela nafasnya pelan. Untuk meredam rasa gugupnya dan berusaha menenangkan detak jantungnya tersebut.
Setengah jam berlalu, akhirnya Naziah terbangun dari tidurnya. Dan betapa terkejutnya Naziah saat mendapati posisi kepalanya yang tersandar di pundak Rega.
"Astaghfirullah... maafkan aku, Mas! Saya ketiduran. Apa pundak Mas terasa kram karenaku?" ucap Naziah merasa sedikit malu dengan keadaannya barusan.
"Tidak. Tidak kram sama sekali. Pundak Mas tidak akan terasa kram hanya karena kau tiduri, Sayang. Jadi, tidak perlu minta maaf! Pundak Mas ini akan siap menjadi sandaranmu sampai kapanpun. Bahkan, jika sekarang kau masih mengantuk. Ayo tidur lagi, sini!!!" jawab Rega sambil memukul-mukul pelan pundaknya. Agar, Naziah kembali tidur dan bersandar di sana.
"Terimakasih, Mas. Tapi, aku sudah tidak mengantuk lagi." ucap Naziah.
__ADS_1
"Ya sudah, baiklah. Sekarang, jika tidak ingin tidur lagi. Kau mau apa?" tanya Rega, kembali membuka obrolan diantara mereka.
"Aku hanya ingin menikmati udara pegunungan ini sejenak. Dan ingin melihat pemandangan sepanjang jalan pegunungan ini. Yang telah lama aku rindukan dan baru kali ini bisa melewatinya lagi." jawab Naziah seraya mulai memandang kearah luar jendela mobil. Dan menikmati udara segar khas pegunungan itu.