Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Perkenalan Antara Besan


__ADS_3

Tepat pukul 16.35 WITA, Dokter Karina sudah sampai di rumah yang saat ini ia sedang tinggali bersama Rendi dan juga Aldi.


Tadi siang, karena bertepatan dengan jam istirahat, Dokter Karina memang meluangkan waktunya. Untuk menjemput dan mengantarkan Rendi serta Aldi dari bandara ke rumah mereka.


Usai memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil milik Rendi. Dengan berjalan sedikit tergesa-gesa, Dokter Karina masuk kedalam rumah.


"Assalamu'alaikum, Bunda pulang...!!!" ucap Dokter Karina sedikit berteriak. Tepat saat kakinya melangkah memasuki pintu rumah. "Anak-anak, kalian dimana?" sambungnya sambil celengak-celenguk mencari keberadaan Rendi dan Aldi.


"Wa'alaikum salam, Bun...! Kami ada di sini." jawab Rendi dan Aldi kompak dari ruang keluarga yang ada di rumah itu.


"Wah... anak-anak Bunda lagi santai rupanya. Gimana dengan persiapannya? Apa ada yang bisa Bunda bantu untukmu?" tanya Dokter Karina pada Rendi.


"Iya, ada Bun." jawab Rendi cepat.


Rendi memutar tubuhnya hingga menghadap Dokter Karina.


"Bunda boleh bantu berbicara dengan Ibu Adelia, ibunya Ziah? Aku ingin Bunda meminta izin dan restu pada beliau. Untuk melamar anaknya malam ini, usai makan malam." ujar Rendi


"Hemm... boleh." jawab Dokter Karina sambil menganggukkan kepalanya. "Tapi, Bunda mandi dulu ya...?! Tubuh Bunda rasanya lengket karena keringat." sambungnya meminta izin.


"Baiklah, tapi jangan kelamaan ya Bun! Aku tunggu." ucap Rendi


"Oke, sayang. Bunda akan cepat." jawab Dokter Karina dengan gerakan tangan membentuk huruf 'O' dan sambil berlalu pergi.


"Em...." jawab Rendi lagi


Sementara itu, Aldi yang duduk di sofa tunggal di sebelah Rendi. Sejak tadi, ia sibuk dengan laptop yang ada dihadapannya. Dia baru saja mendapatkan email dari seorang ahli IT kepercayaannya. Dan email itu berisi tentang detail data keluarga Naziah yang Rendi minta.


"Bacalah Ren'! Ini semua data tentang keluarga Ziah yang kau minta." ucap Aldi. Sambil menggeser laptop yang ada dihadapannya itu kearah Rendi.

__ADS_1


Rendi pun memfokuskan diri untuk membaca email yang ada didalam laptop tersebut.


Didalam email tersebut tertulis, Naziah Chairunnizwa. Saat ini berusia dua puluh dua tahun. Dia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Nama ayahnya adalah Sofyanto dan telah meninggal tiga tahun yang lalu. Sedang ibunya bernama Adelia Ramadhani saat ini berusia 49 tahun.


Adik pertamanya bernama Elvira, saat ini berusia kurang lebih tujuh belas tahun. Dan adik keduanya bernama Sulastri, berusia lima belas tahun. Sedang bersekolah di sekolah yang sama dimana Naziah pernah menuntun ilmu, yaitu sekolah menengah kejuruan. Yang ada di desa lain yang masih satu kecamatan dengan desa mereka.


Dan Naziah memiliki seorang paman dari ayahnya. Yang juga merupakan orang yang akan menjadi wali Naziah, jika menikah.


"Ternyata, Ziah menjadi yatim sejak tiga tahun lalu. Dan saat ini, dia juga menjadi tulang punggung keluarganya. Aku kagum padanya. Di saat hampir semua gadis memilih pekerjaan. Yang bisa mengedepankan dan menjaga penampilan mereka tetap terlihat cantik memukau. Namun Ziah berbeda, dia lebih memilih pekerjaan yang sesuai dengan hobinya. Yaitu, menjadi gadis montir yang bekerja mengutak-atik segala mesin kendaraan. Yang mana, saat ia bekerja akan terlihat kotor. Sungguh gadis langkah!!!" gumam Rendi panjang lebar. Sambil memandangi potret Naziah yang tertera dalam email tersebut.


"Iya. Dan bukan itu saja Bro, Selain dari pekerjaannya yang langkah digeluti seorang wanita. Dia juga pandai bela diri dan mampu melawan dua pria bersenjata sekaligus. CK...CK... Jika masih ada yang sepertinya, aku juga ingin mendapatkannya." timpal Aldi sambil berdecak kagum.


"Aamiin. Semoga Allah mendengar permintaanmu itu?!!" ucap Rendi berdoa.


"Aamiin...!!!" ucap Aldi ikut mengamini perkataannya sendiri.


"Apaan nih... yang di aamiinin heh?" tanya Dokter Karina dan ikut duduk di sofa di samping Rendi.


"Eh, Bunda. Cepat banget mandinya?!!" ucap Rendi sedikit terkejut.


"Ya 'kan disuruh cepat. Ya jadinya, harus cepat dong...!!!" jawab Dokter Karina terlewat santai.


"Bunda memang the best deh...!!! Oke, karena Bunda sudah disini. Sekarang, Aku telfon ibunya Ziah ya...??!" ucap Rendi.


Dan mulai menscroll ponsel pintarnya. Untuk mencari nomor kontak dari Ibu Adelia. Yang pernah diberikan oleh Anto padanya tempo hari. Setelah menemukannya, Rendi langsung menghubungkan nomor tersebut.


Dering pertama mulai terdengar dan terlewatkan begitu saja. Tak putus asa, Rendi kembali mengulang panggilannya. Dan benar saja, panggilan tersebut langsung terhubung.


"Halo, assalamu'alaikum!"

__ADS_1


Terdengar suara lembut ibu Adelia dari seberang telfon tersebut.


"Wa'alaikumsalam." balas Dokter Karina sopan. "Benarkah ini dengan Ibu Adelia, Ibu dari Naziah Chairunnizwa?" sambung Dokter Karina bertanya terlebih dahulu.


"Iya. Ini dengan siapa ya?" tanya Ibu Adelia.


"Perkenalkan Bu, nama saya Karina Larasati. Saya ibu dari Rendi Rahardian. Pria yang pernah datang ke rumah Ibu, seminggu yang lalu. Untuk meminta anak ibu yang bernama Naziah itu. Apa ibu Adelia masih ingat pada anak saya ini?" jawab dan tanya Dokter Karina


Ia ingin sedikit berkenalan dengan calon besannya itu. Sebelum membicarakan inti dari maksud dan tujuannya menelfon.


"Oh... iya, aku masih ingat. Salam kenal Bu Karina!" ucap Ibu Adelia


"Iya, Bu. Begini, saat ini saya sedang bersama anak saya Rendi. Tadi, Rendi meminta saya untuk berbicara dengan anda. Dengan maksud, ingin menyampaikan kepada Anda. Bahwa malam ini, Insya Allah saya dan Rendi serta Aldi. Ingin mengunjungi rumah kontrakan Ziah. Untuk meminta jawaban atas permintaan lamarannya tempo hari itu, Bu. Jadi, sebelum itu kami ingin minta izin dari Ibu terlebih dahulu. Bagaimana Bu Adel?" jelas dan tanya Dokter Karina lagi.


"MasyaAllah Bu. Jika seperti ini, tentu saja saya mengizinkan. Silahkan datang saja Bu!!!" jawab Ibu Adelia dengan memuji Tuhannya.


"Alhamdulillah, terimakasih Bu Adel. Oh iya, saya dan anak saya ini. Ingin ibu bisa menyaksikan pertemuan kami nanti. Dengan cara melakukan panggilan video. Apa ibu ada waktu nanti malam?" jawab dan tanya Dokter Karina.


"Oh... insya Allah Bu. Nanti saya akan meminta menggunakan ponsel adik Ziah saja. Maklum... ponsel saya ini hanya ponsel tulalit. Jadi, tidak bisa untuk melakukan panggilan seperti itu. He...he...he..." jawab Ibu Adelia terdengar sedang tertawa karena merasa malu.


"O...walah, maafkan saya Bu??! Saya tidak bermaksud. Hanya saja, aku ingin ibu dari seorang Naziah juga bisa menyaksikan dan mendengar secara langsung. Seperti apa jawaban yang akan diberikan Naziah nanti atas permintaan anak saya, Rendi." ucap sungkan Dokter Karina


"Iya, tidak apa-apa. Aku sangat menghargai keinginan Ibu itu. Karena memang seperti itulah keinginan setiap ibu atas anaknya." jawab Ibu Adelia bijak.


"Iya Bu. Ya sudah, hanya itu saja yang ingin saya sampaikan. Sampai jumpa nanti malam ya Bu?!! Assalamu'alaikum...!" ucap Dokter Karina sebelum mengakhiri panggilannya.


"Iya, sampai jumpa juga. Wa'alaikumsalam." jawab Ibu Adelia.


Dan panggilan telefon itupun mereka akhiri.

__ADS_1


__ADS_2