
Mula-mula Naziah mencuci piring bekas makannya dan juga bekas Anto. Setelahnya, dia menuju ke kebun kecil dihalaman belakang.
Naziah memperbaiki pucuk-pucuk tanaman sayur yang mulai menjalar ke sembarang arah. Dan memperbaiki gundukan tanah yang mulai merata serta mencabut rerumputan yang mulai tumbuh. Kemudian memetik buah-buahan sayur yang sudah siap petik. Untuk disimpan kedalam kulkas.
Merasa cukup dengan waktunya berkebun dan juga waktu sholat Dzuhur pun telah tiba. Naziah segera menyelesaikan pekerjaannya dan menyimpan peralatan berkebunnya.
Kemudian langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Selama 30 menit lamanya, Naziah baru keluar dari kamar mandi. Usai berpakaian ia segera mengerjakan sholat Dzuhur.
Tepat pukul 01.30 siang, Naziah keluar dari kamarnya. Dan langsung mengunci pintu kamarnya. Dia sudah tampak cantik dan modis. Dengan mengenakan kaos berbentuk long tunik dan berlengan panjang berwarna hijau botol. Serta dipadukan dengan jilbab pashmina plisket dan celana kulot yang senada berwarna hitam. Juga tas ransel kecil yang menempel cantik dipunggungnya.
Dia terlihat menuju pintu kamar Anto dan mengetuk pintu itu.
tok tok tok
"Anto...!!! Aku berangkat ya?!!" panggil dan pamit Naziah dari balik pintu kamar itu.
"Iya. Hati-hati di jalan!!!" jawab dan peringat Anto tanpa membuka pintu kamarnya.
"Oke, Assalamu'alaikum." ucap Naziah
"Wa'alaikum salam." jawab Anto.
Usai mendapat jawaban atas salamnya. Naziah pun langsung melangkah keluar rumah. Sambil menutup sendiri pintu utama itu. Kemudian Naziah menuju garasi yang terbuka lebar dan langsung menaiki motor maticnya yang sudah sejak tadi terparkir di sana.
Setelah sedikit memanaskan mesin motornya terlebih dahulu. Sambil mengenakan helmnya. Kini terlihat Naziah mulai melajukan motornya itu keluar dari lorong dan memasuki area jalan raya.
Sambil menghirup udara bebas kota itu bibir Naziah mengulas senyum bahagia. Pikirnya berkata: "*Hem... Meninggalkan kota ini selama tiga bulan, membuatku rindu dengan suasananya."
"Ngomong-ngomong karena ini sudah siang dan aku juga lapar. Aku putuskan mencari tempat untuk makan dulu saja. Setelahnya, baru lanjut ke bengkel*." ucap hati Naziah berbicara sendiri.
Merasa tiba-tiba perutnya membunyikan lonceng kroncong. Sebelum menuju bengkel bekas tempatnya bekerja beberapa bulan lalu. Untuk menyapa mantan bos dan juga teman-temannya di sana. Naziah pun memutuskan untuk mampir disalah satu warung makan pinggir jalan langganannya terlebih dahulu.
Tak butuh waktu lama Naziah pun sampai di warung langganannya itu. Setelah memarkirkan motornya. Naziah masuk kedalam warung tersebut sambil mengucap salam.
"Assalamu'alaikum Mba' Yuyun!" salam Naziah pada pemilik warung tersebut sambil tersenyum manis.
"Wa'alaikum salam. Eh... Neng Ziah, apa kabar? Kapan balik dari tugas PKLnya Neng? Mba' kangen loh sama kamu." ucap sapa Mba' Yuyun sambil tersenyum bahagia melihat Naziah.
"Alhamdulillah, saya baik Mba'. Baru semalam saya dan rombongan sampai di kampus. Dan langsung dijemput sama Ulfi dan Tita. Masa iya... Mba' kangen padaku? Entar suaminya salah paham loh Mba'." jawab Naziah bergurau.
"Kamu itu. Mana ada seperti itu? Jikapun dia salah paham, biarkan saja. Mba' nggak perduli! Kan Mba' benaran kangen sama wajah cantik dan imut kamu ini." ucap Mba' Yuyun sambil mencubit gemas kedua pipi Naziah.
__ADS_1
"Auh... sakit Mba'!" ucap Naziah sambil memegang kedua pipinya dan memanyunkan bibir mungilnya.
"Biarin. Siapa suruh menganggap ku bercanda." ucap Mba' Yuyun cuek. Sambil kembali melanjutkan pekerjaannya yang terkesan karena kedatangan Naziah barusan. "Ya sudah, mau makan kan?" tanya Mba' Yuyun kemudian. Dan Naziah menjawab cepat dengan anggukan kepala. "Cepat cari tempat duduk mu sana! Nanti Mba' siapkan menu makanan kesukaan mu setelah ini." ujarnya lagi.
"Oke. Aku siap menunggu...!" jawab Naziah ceria sambil beranjak mencari tempat untuknya duduk makan dengan nyaman.
Setelah menemukan tempat yang nyaman untuknya. Naziah meletakan helm miliknya tepat disampingnya. Kemudian menyibukkan diri dengan bermain ponsel.
Warung tersebut merupakan bangunan ruko sewaan. Yang Yuyun serta suaminya sewa dan tinggali selama hampir 6 tahun ini. Mereka membuat warung tersebut dengan menawarkan konsep lesehan yang tampak adem saat siang hari. Serta menyediakan menu-menu favorit dan harga yang sangat terjangkau bagi kalangan menengah ke bawah seperti Naziah.
Dan konsep itulah yang menjadi salah satu alasan Naziah memilih warung tersebut. Sebagai tempat makan dan tongkrongan favorit bagi Naziah dan ketiga sahabatnya. Dikala ingin suasana yang berbeda saat makan.
Saat sedang menunggu makanannya siap. Dari kejauhan dan di seberang jalanan. Tampak seorang pria paruh baya sedang mencoba menghidupkan mesin mobilnya berulang kali. Namun mesin mobil tersebut tak kunjung hidup.
Melihat itu, hati Naziah merasa iba. Diapun beranjak dari duduknya. Dan mendekati Mba' Yuyun kembali.
"Mba' titip helm saya dulu ya. Saya mau ke sana dulu." ucap Naziah sambil menunjuk kearah pria paruh baya yang dimaksud.
Mendengar itu, Yuyun pun melihat kearah yang ditunjuk oleh Naziah. Kemudian menjawab sambil menganggukkan kepalanya.
"Iya, hati-hati nyebrang jalannya Zi'!"
Kemudian, sebelum menyeberang jalanan. Naziah memperhatikan jalanan yang akan ia sebrangi. Setelah merasa aman, segera saja Naziah menyebrang dan mendekati pria paruh baya tersebut.
"Permisi! Mobilnya kenapa Pak?" tanya Naziah sopan.
Merasa ada seseorang yang bertanya padanya. Pria paruh baya yang sedang memandangi mesin mobilnya itupun menoleh kearah seseorang itu. Dan mendapati seorang gadis cantik nan imut serta berjilbab hitam di sana. Ya, itu adalah Naziah. Sejenak Pria itu memicingkan matanya saat memandang Naziah. Kemudian menjawab pertanyaan Naziah dengan cuek. Sambil membuang pandangannya ke segala arah seperti mencari sesuatu.
Melihat sikap cuek pria itu, Naziah sangat mengerti dan memaklumi. Bahwa, pria itu pasti meragukan bahkan mungkin tidak mempercayai kemampuannya. Karena sikap seperti itu, sudah sangat tidak asing baginya.
"Di jalan ini tidak terdapat bengkel Pak. Jika anda izinkan, bolehkah saya menolong dan mencoba menghidupkan mesin mobil Anda ini?" terang Naziah kemudian meminta izin dengan pelan dan hati-hati.
Mendengar penuturan dan izin lembut Naziah seperti itu. Sontak saja pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu. Menatapnya dengan kening yang tampak berkerut dalam.
"Baik. Cobalah jika kau bisa Nona!" jawab pasrah pria tersebut dengan dingin. Setelah menghembuskan nafas kasarnya melalui rongga hidungnya.
Mendapat jawaban seperti itu, Naziah kembali bertanya. "Apakah kunci-kunci mesin mobil ini ada Pak?"
"Sepertinya ada. Sebentar, aku ambilkan." jawab pria paruh baya itu. Kemudian membuka pintu bagasi mobilnya dan mengambilkan kotak peralatan yang dimaksud Naziah.
"Ini." ucap pria paruh baya itu sambil menyerahkan kotak kunci-kuncinya pada Naziah.
__ADS_1
"Terimakasih." jawab Naziah.
Saat pemiliknya sedang mengambilkan peralatan yang dia minta. Naziah telah melihat dan menganalisis kondisi mesin serta masalah yang ditimbulkan oleh mobil itu. Jadi, setelah menerima peralatan yang bisa membantunya memperbaiki mesin yang menjadi penyebab mobil itu mogok. Langsung saja Naziah melakukan tindakan perbaikan.
Diseberang jalanan, mata Mba' Yuyun terus memperhatikan Naziah dari tempatnya. Sambil tangannya terus sibuk menyiapkan pesanan para pengunjung warungnya. Sesekali ia tampak menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil."Bukan hanya wajahmu saja yang cantik Zi'. Hatimu juga cantik." ucap batin Mba' Yuyun.
Setelah dua puluh menit berlalu. Naziah akhirnya berhasil menghidupkan mesin mobil tersebut.
brem brem...
Melihat mesin mobilnya sudah bisa dihidupkan. Pria paruh baya itu tampak menyunggingkan senyum tipis. "Wah... Gadis hebat." gumam batin pria paruh baya itu.
Naziah mulai memasukkan kembali peralatan yang tadi ia gunakan kedalam kotaknya. Kemudian menutup kap mobil itu dengan baik.
"Alhamdulillah, mesin mobilnya sudah hidup Pak. Dan Ini kunci-kuncinya." ucap Naziah sambil menyerahkan kotak peralatan tersebut.
"Terimakasih Nona. Maafkan sikap saya tadi yang tidak mempercayaimu!" ucap Pria paruh baya itu tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya kearah Naziah sebagai tanda terimakasih.
Melihat tangan yang terulur itu. Naziah memperlihatkan kedua telapak tangannya yang kotor.
"Maaf Pak, tangan saya kotor. Dan masalah kepercayaan, saya maklumi Pak. Saya sudah biasa dengan itu semua. Saat bertemu orang baru dan ingin menolong mereka. Jadi, tidak masalah, tidak perlu minta maaf. Karena Aku sudah memberikan maafku lebih dulu." jawab Naziah tanpa memudarkan senyum di wajahnya.
"Mulianya hatimu Nak." puji lirih Pria paruh baya itu. "Siapa namamu? Dan... apa kau seorang mekanik?" lanjutnya bertanya
"Namaku Naziah, Pak. Beberapa bulan yang lalu memang aku seorang montir disalah satu bengkel di kota ini. Tapi, sekarang tidak lagi Pak." jawab Naziah jujur.
"Kenapa tidak lagi Nak?" tanya pria paruh baya itu penasaran.
"Ceritanya panjang Pak. Jika aku cerita sekarang, mungkin sebentar lagi aku akan pingsan disini." tutur Naziah.
Mendengar penuturan Naziah yang mengatakan dirinya akan pingsan. Pria paruh baya itu memandang Naziah dengan kening berkerut dalam.
"Pingsan. Kenapa??" tanya Pria paruh baya itu bingung.
"Sekarang ini aku sudah sangat lapar Pak. Dan tadi, aku sudah memesan makanan untukku di warung itu. Tapi, karena melihat Bapak sepertinya membutuhkan mekanik. Jadi, aku menunda dulu makanku." jelas Naziah sambil menunjuk kearah warung Mba' Yuyun.
"Oh... astaga!!! Maafkan saya Nak??! Jika seperti itu, ayo masuk kedalam mobilku! Kita ke sana sama-sama. Biar aku yang akan membayar makananmu sebagai tanda terimakasih ku padamu. Karena telah membantu menghidupkan mobilku." ucap dan ajak Pria paruh baya itu pada Naziah.
"Hem...baiklah. Sebenarnya aku tidak meminta imbalan apapun. Tapi, sepertinya tenagaku sudah tidak ada untuk berjalan ke sana. Jadi, aku setuju." jawab pasrah Naziah.
Akhirnya, setelah Naziah menyetujui ajak pria paruh baya itu. Merekapun masuk kedalam mobil dan bersama-sama menuju ke warung Mba' Yuyun.
__ADS_1