Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Harapan yang Tak Sampai


__ADS_3

Usai acara lempar bunga yang dilakukan oleh Naziah. Maka, berakhir pula acara resepsi pernikahan malam itu. Dan kedua mempelai pengantin pun dipersilahkan untuk meninggalkan pelaminannya. Yakni, Naziah dan Rega sudah berkenan untuk beristirahat.


Sementara para tamu undangan, ada yang memilih pulang setelah acara itu usai. Namun, masih cukup banyak juga yang masih betah berlama-lama di sana. Mungkin bertepatan dengan malam Minggu. Jadi, mereka ingin sejenak bersantai dan menghibur diri. Dengan ikut menyumbangkan suara mereka dan menyanyikan beberapa lagu dengan diiringi musik dari grup band yang kebetulan ada di sana.


Sedangkan Naziah dan Rega sudah memasuki kamar mereka. Masih dengan dibantu oleh Astrid, salah satu asisten MUA. Untuk mengangkat gaun pengantin Naziah yang cukup panjang menjuntai ke belakang itu. Sesampainya di kamar, Naziah langsung dibantu Astrid dan Widya temannya. Melepas segala pernak-pernik dan hiasan yang melekat pada Naziah saat itu.


Sementara Rega, langsung menuju kamar mandi. Sambil membawa pakaian santai untuk gantinya. Karena merasa gerah, akhirnya Rega putuskan untuk mandi sekalian.


Beberapa menit kemudian, Naziah akhirnya selesai melepas atribut pengantinnya dari tubuhnya. Tinggal pakaian pengantinnya saja yang masih melekat pada tubuhnya. Karena sudah merasa sangat gerah. Dan sepertinya, Rega masih akan lama menggunakan kamar mandinya. Naziah putuskan untuk segera melepas pakaian pengantin itu dari tubuhnya. Dan akan langsung mengenakan handuk kimono nya untuk sementara. Sambil menunggu Rega selesai mandi dan bergantian. Sedang para asisten MUA yang membantunya sudah keluar sejak tadi.


Dengan sedikit cukup sulit, Naziah berusaha menurunkan resleting yang ada dibelakang gaunnya. Akhirnya, gaun itu berhasil juga lepas dari tubuhnya.


Diam-diam, seseorang dibelakang tubuhnya sedang memperhatikannya. Sejak beberapa detik yang lalu. Dan berharap, mungkin dapat sedikit melihat tubuh polosnya.


Dan setelah gaun pengantin itu benar-benar terlepas dari tubuh Naziah. Ternyata, Naziah masih mengenakan pakaian lengkap didalamnya. Yaitu, berupa baju manset warna kulit. Serta celana legging berwarna hitam. Yang sangat pas badan dan ketat ditubuhnya.


Maka... seketika itu pula, Rega yang sejak tadi sejenak menahan nafas. Saat menanti sebuah pemandangan. Yang mungkin sangat indah sudah untuk dilihatnya. Langsung menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar, karena kecewa. Hingga menimbulkan suara yang mengejutkan Naziah.


"Hhemm...!"


Mendengar itu, Naziah yang sudah mengenakkan handuk kimono-nya dan sedang mengikatnya. Seketika menoleh ke sumber suara itu. Dan.... betapa terkejutnya Naziah. Setelah mendapati Rega sudah berdiri tidak jauh darinya. Dengan jarak, kurang lebih dua meter saja darinya. Sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil ditangannya.

__ADS_1


..."Eh, Mas! Sejak kapan berdiri di sana?" tanya Naziah, dengan degup jantungnya yang sangat kencang dan cepat. Saking terkejutnya....


"Sejak beberapa menit yang lalu. Kau ingin mandi juga?" jawab dan tanya balik, Rega.


Dan Naziah hanya mengangguk pelan. Karena masih berusaha menenangkan degup jantungnya. Dan juga sibuk mencerna jawaban dari suaminya itu.


"Ya sudah, sana cepat mandi! Sebelum malam semakin larut. Karena tidak baik mandi disaat larut malam. Setelah itu, tolong gantikan perban pada lukaku ya?!" sambung Rega, sedikit memerintah dan kemudian memohon. Karena melihat, istrinya itu masih bengong ditempatnya.


"Eh! Iya, Mas. Aku mandi dulu." jawab Naziah.


Sambil kemudian, melangkah gontai memasuki kamar mandi. Setelah sebelumnya, tangannya menyambar pakaian santainya. Yang sejak tadi tergeletak begitu saja di atas kasur. Saat ia melepas gaunnya dan mengenakan handuk kimono-nya.


Setelah menutup pintu kamar mandi. Naziah tak serta merta langsung mandi. Dia masih terlihat berdiri dibelakang pintu kamar mandi itu. Dan tampak sedang memikirkan sesuatu. Itu terlihat dari kedua keningnya yang tampak saling bertaut dalam.


"Astaga! Jika, benar dia melihatku. Ya Allah...! Aku malu sekali, kalau seperti itu." ucap Naziah lagi. Sambil menutupi wajahnya dengan pakaian ganti yang masih setia ditangannya itu, beberapa saat. Setelahnya, ia menurunkan tangannya yang berisi pakaian itu sebatas dadanya. "Ah... Masa bodoh! Dia 'kan nggak lihat tubuhku yang polos. Beruntungnya, aku masih menggunakan manset dan legging ini sebagai pelapis gaunku tadi." sambungnya, menenangkan diri. Dan itu berhasil.


"Ya sudah, aku harus segera mandi. Karena, dia pasti sudah menungguku untuk menggantikan perbannya." ucap Naziah lagi. Mengingatkan dirinya sendiri akan perintah dan permohonan suaminya tadi.


Setelah selesai berbicara sendiri. Naziah pun bergegas untuk mandi. Dan akan membantu suaminya mengganti perban lukanya, setelahnya.


Ya, dugaan Naziah tadi sangat salah. Akan Rega yang masih lama melakukan ritual mandinya. Ternyata, sejak ia berusaha membuka resleting gaunnya. Rega sudah keluar dari kamar mandi dan melihatnya.

__ADS_1


Dan saat, Rega melihat Naziah yang sedikit kesusahan menurunkan kepala resleting gaunnya. Sebenarnya, Rega berniat membantunya. Namun tiba-tiba, pikiran kotor memenuhi kepalanya. Dia ingin melihat tubuh polos istrinya itu. Namun, apa yang diharapkannya itu tidak terjadi. Sebab ternyata, Naziah masih mengenakan pakaian dalam yang membungkus seluruh kulit tubuh dalamnya.


Sementara itu, didalam kamar. Rega sedang mendapat telfon dari Devan


"Assalamu'alaikum, 'Van! Iya, ada apa?" tanya Rega, santai.


" Wa'alaikumsalam, Kak. Begini... tadi asisten pribadi dari pemilik perusahaan X yang akan menjadi distributor kita selanjutnya dari Jepang, menelfon-ku. Katanya : Bos besar mereka ingin berkunjung kemari, besok lusa. Untuk membicarakan tentang mekanisme kerja perusahaan mereka dalam mendistribusikan barangnya nanti. Dan Bosnya itu tidak ingin pertemuannya diwakilkan. Apa acara disitu, sudah selesai?" tanya Devan, setelah menjelaskan maksudnya menelfon saat itu.


"Hem... untuk malam ini, sepertinya sudah. Entahlah besok! Aku harus bicarakan hal ini dulu dengan Naziah. Semoga saja, besok sudah tidak ada lagi upacara-upacara adat yang harus dilakukan. Jadi, sorenya kami bisa langsung bertolak kesitu." jawab Rega


"Semoga saja ya, Kak. Ya sudah, aku hanya ingin menyampaikan itu. Oh iya, bagaimana acara malam, tadi ini? Apa berjalan dengan lancar?" jawab dan tanya Devan lagi


"Alhamdulillah, berjalan lancar." jawab Rega


"Oh iya, kalau nggak salah... ini malam pertama kalian 'kan! Wah.... Selamat menikmati santapan malam pengantinnya, Kak. Semoga rudalnya tokcer. Biar langsung cepat jadi. Dan... oh iya, semoga sekali adon langsung jadi tiga ya, Kak. Biar rumah ini langsung rame nantinya. Hahaha..."


"Eh, gila kau! Memangnya istriku mesin cetak anak, apa! Seenaknya aja, mulutmu minta dibuatkan tiga. Jadi, apa istriku nanti kalau begitu, 'Van. Ada-ada aja kau Tuh. Lagipula, aku ini masih sakit loh... belum bisa terlalu banyak gerak. Sudah ah, aku tutup telfonnya. Karena, aku mau istirahat." jawab Rega, sewot. Mendengar permintaan gila asisten sekaligus adik sepupunya itu.



"*Haha... maaf, Kak! Aku bercanda. Tapi, kalau memang dikabulkan Tuhan. Aku akan sangat bahagia. Ya sudah, selamat beristirahat, semoga cepat sembuh. Assalamu'alaikum*!" ucap Devan akhirnya, dan mengakhiri pembicaraannya itu.

__ADS_1



"Iya, terimakasih. Wa'alaikumsalam." jawab Rega, kembali santai. Dan langsung memutus panggilan telfonnya. Tanpa menunggu Devan yang memutuskannya.


__ADS_2