Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Mengabari Para Sahabat


__ADS_3

Keesokan harinya, tepat pukul 07.30 WITA, Rega kembali masuk kantor. Begitupun dengan Devan, sang adik sepupu yang juga berperan sebagai asisten pribadi bagi seorang Adrian Rega.


Sementara itu, tepatnya dikediaman ibunya di kampung halamannya. Naziah yang dibantu oleh Bibi Yani dan juga kedua adiknya. Mulai sibuk membersihkan dan berbenah area rumahnya dan sekitarnya. Sebelum para sanak saudara mereka yang akan datang dari jauh. Sehingga nantinya, mereka dapat beristirahat dengan tenang dan nyaman di sana.


Sedang ibunya Naziah dan Paman Lukman pergi berkunjung ke kediaman para sanak-saudara mereka yang berada di dusun dan desa lainnya. Demi memberi kabar tentang pernikahan Naziah dan Rega yang akan segera digelar dalam beberapa hari lagi. Serta meminta semuanya untuk datang membantu persiapan dan ikut memeriahkan acara tersebut, nantinya.


***


Tepat saat kumandang adzan untuk sholat Dzuhur terdengar dari salah satu mesjid yang ada didekat rumahnya. Naziah pun selesai beberes rumah. Dia bergegas untuk membersihkan diri sebelum nantinya melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim yang taat.


Setelah beberapa saat, Naziah pun selesai mengerjakan sholatnya. Dan memutuskan untuk sejenak mengistirahatkan tubuh lelahnya di atas tempat tidurnya. Sambil rebahan, tiba-tiba ia teringat akan ketiga sahabatnya. Untuk itu, diapun meraih ponsel dan mencoba menghubungi para sahabatnya itu.


Tut... Tut...


📞 Halo, Assalamu'alaikum... Tita!" ucap Naziah menyapa sahabatnya. Setelah panggilannya mulai tersambung.


📞 Ya Allah, Zi'...! Wa'alaikumsalam. Apa kabar? Aku marah padamu. Kemana saja dirimu? Sudah sesibuk apakah dirimu di sana? Sehingga baru menghubungiku lagi saat ini, setelah sekian purnama menghilang entah kemana. Hem...?" cerocos Tita panjang lebar dari balik teleponnya, memarahi Naziah.


📞 Kabarku baik. Maaf... Maafkan aku!!! Jangan memarahiku... Aku mohon...?!! Aku sungguh tak berdaya. Belakangan, aku memang terlalu disibukan dengan tugas-tugas kantor dan juga yang lainnya. Untuk itu, saat ini aku ingin menebus kesalahanku. Kau ada dimana sekarang? Apa kau masih di kantormu?" tanya Naziah. Setelah merengek meminta pengampunan dari kemarahan salah satu sahabatnya itu.


📞 Tentu saja. Tapi, karena masih jam istirahat. Jadi, aku masih berada diluar sedang makan siang bersama temanku. Oh iya, ada apa? Tumben sekali, kau menghubungiku disaat masih jam kantor. Apa kau sendiri tidak di kantor? Atau kau sedang sakit, Zi? Katakan!!!"


Kembali Tita mencerca Naziah dengan pertanyaan-pertanyaannya yang bernada penuh kekhawatiran. Mengingat sahabatnya itu berada jauh darinya dan juga keluarganya.


📞 Tidak... Aku tidak sakit. Hanya saja, bisakah kau hubungi Ulfi sekarang? Aku akan menghubungi Anto. Setelah itu, kita akan video calling. Apa itu boleh?" jawab dan tanya Naziah dengan nada bicaranya yang dibuat sebegitu lembut dan santai. Sebab hal itu, biasanya mampu meredam kecemasan dan kekhawatiran dari sahabat cerewetnya itu. Dan benar saja, triknya itupun berhasil dengan terdengarnya hembusan nafas lega dari sahabatnya itu.


📞 Huhfff... Alhamdulillah...!!! Kupikir kau sakit. Baiklah, tentu saja boleh. Apa sih yang nggak boleh untukmu, Hem. Sekarang juga, aku telfon Ulfi?!"

__ADS_1


Dan panggilan mereka pun sejenak terjeda. Karena Tita, sibuk menghubungi nomor ponsel Ulfi. Sedang Naziah menghubungi Anto.


Setelah beberapa saat, dari layar ponsel Naziah. Sudah menampilkan wajah-wajah ketiga sahabatnya itu.


"Masya Allah, Zi'! Semakin hari, kau semakin cantik saja. Apa kabar, Bebs?" sapa Ulfi. Sambil merangkum kedua pipinya yang mulai tampak tirus karena mengagumi wajah Naziah yang setelah sekian lama baru dilihatnya dari balik layar ponselnya.


"Alhamdulillah, Ul'." jawab Naziah dengan senyuman manis di bibirnya. "Dan kabar aku juga Alhamdulillah baik. Kau pun sama, kelihatannya sudah semakin cantik saja dan tampak lebih cantik dariku, malah Bebs...! Sudah semakin glowing aja tuh wajah. Dan... bisa kutebak, sepertinya kau mulai kurusan ya? Wajahmu terlihat sedikit tirus!" tebak Naziah pada keadaan sahabatnya itu. Sedang Ulfi, sudah tersenyum-senyum malu dan lebay, menanggapinya.


"Iya, Zi'. Gajinya sudah mulai naik dan sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan perutnya. Jadi, saatnya kebutuhan wajah dan penampilan yang harus dipenuhi. Dia udah naik pangkat sekarang, Zi'." timpal Tita dengan sedikit menceritakan keadaan Ulfi.


"Benarkah...?! Syukur Alhamdulillah. Kalau begitu, sekali-kali boleh dong... traktir kita-kita?!" ucap Naziah dengan menggoda Ulfi seraya menaik-turunkan kedua ujung keningnya.


"Wah... Lihatlah!!! Jika para wanita mulai berkumpul. Diriku mulai tak terlihat, sepertinya ya...!" timpal Anto dengan wajah datarnya, namun dalam mode merajuk.


"Hahahaha...." Naziah, Tita dan Ulfi pun kompak tertawa.


"CK..ck..ck...! Tentu saja, aku yang paling tampan. Karena dari kalian semua, hanya diriku saja yang bergenre pria." ucap Anto, berdecak. "Sudahlah! Jam istirahat akan segera berakhir. Katanya, Ziah ingin mengatakan sesuatu pada kita. Jadi, ayo cepat katakan, Zi'!!!" titah Anto. Setelah melihat benda kecil yang melingkar dipergelangan tangannya. Dan menunjukan waktu istirahat kerja mereka akan segera berakhir.


Tiba-tiba, suara seseorang yang bertanya dan berada dibelakang Naziah mengalihkan pandangan mereka. Tak terkecuali Naziah sendiri.


"Kakak!!!" panggil Elvira sambil memutar kenop pintu kamar Naziah dan masuk.


"Iya. Ada apa, De'?"


Dan seketika itu pula, para sahabat Naziah yang ada dibalik layar ponselnya itu, sejenak terdiam sambil menyimak saja percakapan Naziah dengan Elvira.


"Ayo kita makan siang dulu!" ajak Elvira. "Oh... Kakak sedang video call an ya." lanjutnya sambil sedikit melirik kearah ponsel kakaknya.

__ADS_1


"Eh eh eh...sebentar!!! Kok ada Dede di situ?" tanya Ulfi. Tiba-tiba, karena melihat Elvira bersama dengan Naziah di sana.


"Iya. Sebenarnya, kau ada dimana sekarang, Zi'?" tanya Tita ikut menimpali pertanyaan Ulfi dengan tatapan menelisik.


"Em...Jika kalian bisa menebak, sebenarnya... dimana aku sekarang?!" ucap Naziah mencoba berteka-teki dengan para sahabatnya.


"Sebentar, biar aku yang menebak!" tahan Anto. "Em... Kau ... berada di rumah Mama Adel di kampung." tebak Anto sambil menelisik kearah ruangan dibelakang tempat Naziah saat ini berada.


"Benarkah, kau ada di kampung Zi'" tanya Ulfi dengan rasa penasaran tingkat tinggi. Saraya bibirnya tampak tersenyum sumringah.


Naziah tampak menggelengkan pelan kepalanya. Kemudian menjawab;


"Iya. Anto memang yang terbaik dan sungguh hebat. Bagaimana bisa kau menebaknya dengan benar, hah?!"


"Hm... mudah saja. Aku melihat suasana kamar yang saat ini kau tempati. Aku sangat hafal, sebab yang mendesain cat dindingnya adalah aku sendiri. Dan juga adanya sosok Dede barusan. Semakin menguatkan tebakanku, sudah pasti benar tentang ini." jelas Anto dengan pelan dan santai.


"Wah... sejak kapan kau berada di sana, Bebs? Jika seperti ini, Jum'at sore, kita harus pulang kampung dong guys...!" ucap Ulfi.


"Iya dong, 'Ul. Kita memang harus pulang. Dan itu adalah suatu keharusan untuk kita!!! Karena, aku sudah sangat merindukan pelukanmu Zi...!" jawab Tita dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Sebab, terharu mendengar kedatangan Naziah. Serta rasa rindu dihatinya yang membuncah atas sahabatnya itu. Setelah hampir empat tahun pergi ke rantau orang dan baru kembali saat ini.


"Hehehe... kalian memang harus pulang untuk bisa bertemu dengan diriku ini. Tetapi untuk itu, kalian harus mengajukan cuti selama tiga hari lamanya ke atasan kalian terlebih dahulu. Sebab, kalian harus hadir di acara pernikahanku Sabtu nanti. Oke?!!!" ucap Naziah.


"Apa???!" ucap kompak ketiga sahabat Naziah itu dengan mata terbelalak karena terkejut mendengar ucapan Naziah barusan.


"Acara pernikahanmu? Kau akan menikah, begitu???!" tanya Tita dengan sedikit ngegas, tentunya. Karena terkejut dan demi meyakinkan organ pendengarannya masih berfungsi dengan baik atau tidak.


Naziah hanya menganggukkan kepalanya menjawab segala pertanyaan dari para sahabatnya itu. Sambil bibir merah muda alaminya menampilkan senyum manisnya.

__ADS_1


__ADS_2