
"Ya Allah, Zi'...!!! Kenapa baru kasih kabar sekarang sih...!" ucap Ulfi dengan wajah tampak sedikit kesal.
"Hah??! Emang harusnya aku kasih kabarnya kapan?" tanya Naziah dengan wajahnya bingung.
"Ya harusnya, kamu kasih kabarnya ke kita sebulan sebelumnya dong...!!! Biar kita bisa puas-puasin dulu bersama seperti dulu. Hiks... Sebelum nantinya, kita udah nggak bisa kumpul sama-sama lagi dalam waktu yang lama. Hiks..." jawab Ulfi mulai berubah melow dan berkaca-kaca. Bahkan sudah tampak terisak saat mengutarakan keluh kesahnya.
"Iya. Jujur!!! Aku marah padamu, Zi. Kenapa baru sekarang kamu kasih kabarnya ke kita, Hem?" ucap Anto dengan nada mengintrogasi sambil menyilang tangan didepan dadanya.
"Ceritanya panjang. Untuk itu, nanti saja aku ceritakan pada kalian setelah kita bertemu. Oke!!! Sekarang, sudah waktunya kalian kembali bekerja. Maafkan aku?!! Aku tutup telfonnya. Selamat bekerja dan tetap semangat ya...! Aku sangat menyayangi kalian bertiga. Sampai jumpa di Sabtu nanti ya bye...!!!" ucap Naziah sambil melambai-lambaikan tangannya didepan kamera untuk berpamitan. Sebelum akhirnya menutup panggilan telefonnya.
"Iya, baiklah. Sampai jumpa nanti. Kami juga menyayangimu, Zi." ucap Anto, Ulfi dan Tita berbarengan ikut melambaikan tangan mereka kearah Naziah.
Dan akhirnya, setelah jumpa kangen lewat panggilan udara antara keempat orang bersahabat itupun berakhir.
Naziah pun segera beranjak dari posisinya dan keluar dari kamarnya. Untuk memenuhi panggilan dari kedua adik dan Bibinya makan siang bersama.
🍃🍃🍃🌺
Hari-hari pun berlalu dan hari ini adalah H-1 sebelum acara sebenarnya digelar.
Kediaman orang tua Naziah yang awalnya hanya dipenuhi berbagai tanaman hias dan juga bunga-bunga dari berbagai jenis dan warna.
Kini telah berdiri sebuah tenda terowongan yang cukup panjang dan luas di sana. Suasana di sana pun sudah mulai ramai dengan orang-orang yang sedang berlalu lalang. Mereka sibuk mengurusi tugas masing-masing. Dan disalah satu ujung terowongan tersebut. Telah berdiri dengan kokoh sebuah pelaminan yang juga sedang dalam proses dekorasi oleh para asisten MOA yang telah dipercayakan Naziah untuk mendukung dan memeriahkan acara terpenting dalam hidupnya itu.
Sedang didalam kamarnya yang kini telah berubah menjadi selayaknya kamar pengantin perempuan pada umumnya. Juga, sudah selesai didekorasi dengan berlatarkan kain berwarna putih dan biru. Sesuai permintaan pengantinnya yaitu Naziah sendiri. Serta bunga-bunga mawar putih, biru, beberapa kuncup mawar merah dan juga hiasan lainnya sebagai pemanis, tentunya.
Di atas tempat tidurnya, Naziah sedang membaca Al-Qur'an. Guna menenangkan hati dan pikirannya yang tak tenang serta detak jantungnya yang terus bergemuruh. Saat memikirkan kehidupannya setelah statusnya berubah dari seorang gadis menjadi istri seorang Adrian Rega dalam kurun waktu kurang dari 24 jam ke depan.
Didalam kamarnya, Naziah tidak sendiri. Dia sedang ditemani oleh kedua sahabat perempuannya, yaitu Tita dan Ulfi. Mereka pun ikut membaca Al-Qur'an menemani Naziah. Mereka baru saja usai melaksanakan sholat Dzuhur.
__ADS_1
Ya, para sahabat Naziah itu telah pulang kampung kemarin. Dan telah meminta cuti kerja selama beberapa hari ke depan. Demi menghadiri dan memeriahkan hari pernikahan salah satu dari sahabat mereka itu.
Setelah beberapa lama membaca Qur'an. Ulfi berinisiatif mengakhiri bacaannya dan menutup Al-Qur'annya. Dan berkata:
"Udah dulu ya, Zi'! Kau tidak boleh terlalu lelah. Kau harus mengistirahatkan tubuhmu sejenak. Sebelum sore nanti, kau harus melakukan ritual-ritual adat lainnya. Oke?!!! Kami keluar dulu."
"Iya, Zi'. Kau harus istirahat. Jika perlu apa-apa, telfon aja! Kami akan bantu-bantu pekerjaan diluar." timpal Tita.
"Baiklah. Aku akan istirahat. Terimakasih sudah menemaniku dan mengingatkanku. Dan terima kasih juga untuk semua bantuan kalian." ucap Naziah setelah menyelesaikan bacaan Qur'an dan menutupnya.
"Kenapa harus berterima kasih sih, Zi?! Kayak sama siapa aja...!" ucap Tita.
"Iya. Kau adalah sahabat kami. Dan sudah menjadi kewajiban kami untuk menemani, mengingatkan serta membantumu. Jadi, tidak perlu berterima kasih. Oke!!! Kami keluar dulu, Assalamu'alaikum!" ucap Ulfi dengan menekan setiap kata-katanya. Agar Naziah berhenti mengucapkan terima kasih pada mereka.
Sungguh, Ulfi sedikit kesal pada Naziah saat ini. Karena sejak kemarin, Naziah terus saja berterima kasih pada mereka. Setelah mereka selesai melakukan sesuatu untuknya.
"Hehehe... Iya-iya, baiklah. Wa'alaikumsalam." jawab Naziah sambil cengengesan.
Dan sepeninggalan para sahabatnya. Naziah pun meletakan kitab sucinya ke atas nakas di samping tempat tidurnya. Kemudian melepas dan menggantung mukenahnya di tiang khusus gantungan. Lalu melaksanakan perintah para sahabatnya untuk beristirahat.
🍂🍂🍂🍂🍂
Sementara itu, di salah satu Homestay. Rega dan beberapa keluarga intinya telah sampai. Dan sedang beristirahat sejenak di kamar masing-masing.
Dan di kamarnya, Rega yang tak mampu beristirahat. Karena pikiran dan hatinya terus tertuju pada Naziah, sang calon istri. Maka, ia putuskan untuk menelfonnya.
'Tuuttt... tutt...' ( bunyi sambungan telfonnya yang tersambung. Namun belum terhubung.)
"Halo... assalamu'alaikum! Ini dengan siapa ya?"
__ADS_1
Mendengar suara seorang wanita namun berbeda dari suara yang ia harapkan untuk didengar diseberang telfonnya. Salah satu kening Rega terangkat, ia bingung.
"Ini siapa? Naziah mana?!" tanya Rega sedikit ngegas dengan nada ketus.
"Biasa aja kali, Mas...! Nggak usah ngegas juga. Saya Ulfi, salah satu sahabat Ziah. Saat ini, Naziah-nya lagi nggak bisa diganggu. Dia sedang beristirahat. Dan karena saya tak ingin istirahat sahabat saya terganggu. Jadi, saya putuskan untuk mengambil alih ponselnya. Ada yang bisa saya bantu? Dan kalau boleh tahu, saya sedang berbicara dengan siapa ya? Karena disini nggak ada namanya!"
Ucap panjang kali lebar Ulfi dengan ikut ngegas pula akibat lawan bicaranya yang ngegas di balik telfon. Ya, ternyata Ulfi yang memegang ponsel Naziah tanpa sepengetahuan dari Naziah sendiri.
Mendengar kontaknya tak bernama pada ponsel Naziah. Rega kembali mengangkat keningnya sebelah, namun hanya sebentar. Karena setelahnya, ia tampak berpikir sebentar dan kemudian mengangguk seakan mengerti akan sesuatu hal.
"Oh... terimakasih. Sampaikan saja padanya, jika aku menelfonnya karena merindukannya. Assalamu'alaikum!" ucap Rega dan langsung menutup telfonnya.
Sedang di sana, usai telfonnya terputus. Ulfi tampak berpikir dengan keningnya yang tampak bertaut.
Melihat wajah sahabatnya seperti itu. Tita tak mampu untuk tidak bertanya.
"Ada apa, Ul'? Siapa yang menelfon, Ziah barusan?"
Ulfi mengendikkan bahunya. "Nggak tahu. Dia hanya titip pesan, untuk katakan pada Ziah. Kalau dia menelfon karena sedang merindukannya." lanjutnya.
Tita ikut mengangkat keningnya, bingung.
Namun setelahnya, mereka tampak kompak membelalakkan mata dan menutup mulut mereka dengan tangannya masing-masing.
"I-i-itu pasti calon suaminya Ziah...!"
Ucap Tita gagu dengan wajahnya tampak sedikit syok. Sambil mengangkat telunjuknya dan di goyang-goyangkan ke arah Ulfi. Yang masih setia dengan posisinya.
"Iya. Itu pasti dia. Siapa sih namanya? Eumm... Kok Ziah nggak ngasih nama ya sama nama kontak calon suaminya! Heran deh...?!!" ujar Ulfi
__ADS_1
"Ah... kau ini! Ziah 'kan udah cerita ke kita. Bagaimana jalan cerita dan kisah cinta mereka seperti apa?! Mungkin, Ziah belum sempat mengganti nama kontaknya. Jadinya, ya seperti itu!!" ujar Tita menjelaskan tentang pemikirannya tentang Naziah dan Rega.
Ya, Naziah memang belum mengganti nama kontak Rega yang ada pada ponselnya itu. Dan karena awalnya, Rega mendapat nomor ponsel Naziah tanpa izinnya. Serta tiba-tiba saja menelfon Naziah. Otomatis, Naziah yang sedikit malas terlalu lama mengutak-atik ponsel. Jadinya, ia hanya mengisi nama kontak dengan tanda (???!). Simpel banget kan...hahaha!