Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Permohonan Maaf


__ADS_3

Sepeninggalan Nyonya Devi dan Mama Adel, tinggallah Naziah dan Rega di sana.


"Kenapa, kok wajahnya cemberut gitu? Nggak suka ya, melayani suami!" tanya Rega masih suara lemahnya, mencoba menebak.


"Bukan begitu, Mas. Tapi, aku nggak enak hati aja sama Nyonya Devi. Kalau kayak gini caranya...!" jawab Naziah menjelaskan perihal apa yang membuat wajahnya cemberut seperti itu.


"Ya, di enak-in saja, Sayang...! Aku masih sakit ini loh. Dan ingin bermanja-manja dengan istriku ini. Memangnya salah?" ucap Rega lagi dengan santai. Meski masih terlihat lemah.


Mendengar Rega memanggilnya dengan panggilan Sayang. Pipi Naziah sedikit merona karena merasa bahagia. Dan bibirnya sedikit menyunggingkan senyum tipis, sangat... tipis. Namun, ia berusaha untuk menutupinya dari pria dihadapannya itu. Dengan buru-buru berusaha menundukkan kepalanya.


Tetapi gerakannya menundukkan kepala sedikit lambat. Sehingga, Rega sudah melihat senyum malunya itu. Dan berusaha mengangkat tangannya untuk menahan dagu istrinya itu, agar tak menunduk.


Mendapat sentuhan pertama kali diwajahnya langsung dari lawan jenis seperti itu. Membuat jantung Naziah berdegup dengan kencang tanpa terkendali. Dan semakin membuat pipinya merah merona, karenanya.


"Kenapa tersenyum begitu, Hem...?" tanya Rega lemah lembut. Tanpa melepas tangannya dari dagu Naziah.


"Eng-nggak apa-apa." jawab Naziah gugup. "Udah ah, ini minumnya!" sambungnya.


Sambil menyodorkan gelas berisi air minum ditangannya itu kearah bibir Rega. Dan Rega meminum airnya dengan bantuan sedotan. Karena, ia belum bisa duduk.


Karena begitu kehausan, Rega sampai menghabiskan setengah gelas dari air minumnya itu. Sambil tak putus menatap wajah merona dari Naziah itu. Sungguh, melihat senyum manis istrinya itu. Membuat Rega semakin jatuh cinta padanya. Namun, hatinya dibuat sedikit bingung. Atas apa yang tadi sudah dia ucapkan. Hingga membuat istrinya itu sampai tersipu malu seperti itu


Setelah sedikit berpikir, Rega akhirnya mengingat sesuatu. Dan langsung tersenyum sambil terus dan semakin menatap intens wajah istrinya itu.


Sementara Naziah, setelah suaminya itu selesai meminum airnya. Naziah kembali meletakan gelas itu ke atas nakas di samping tempat tidur suaminya itu.


"Jangan menatapku seperti itu?" ucap Naziah. Sambil membuang wajahnya kearah lain. Dia ingin memutus pandangan suaminya darinya. Sungguh tidak sanggup lagi, jika terus ditatap seperti itu. Dia seperti ingin pergi saja dari sana karena terlalu malu.



"Kau tidak bisa melarang ku. Sejak aku mengucapkan ijab Kabul untukmu. Maka, mulai saat itu segala yang ada pada adalah milikku. Termasuk memandang wajahmu itu sepuas hatiku." jelas Rega. Seakan memberi ultimatum pada Naziah. Bahwa dirinya saat ini adalah seutuhnya miliknya.



"Baiklah. Terserah, Mas. Aku pasrah saja." ucap Naziah sedikit mendelik. Namun kemudian, memasang wajahnya itu, pasrah. Agar, ia tak berdosa karena melawan dan sang suami itu juga puas. Dan melihat tingkah istrinya seperti itu. Rega semakin tersenyum lebar karena merasa menang.



"Ngomong-ngomong, apa Mas punya musuh? Dan... apa Mas tahu siapa orang yang sudah menusuk Mas tadi?" tanya Naziah, tiba-tiba serius.


Sejak tadi, Naziah memang sibuk berpikir bagaimana cara mengalihkan pandangan penuh arti dari suaminya itu padanya. Sehingga, ia tiba-tiba mengingat tentang siapa orang yang telah berbuat jahat pada suaminya itu, tadi. Dan memutuskan untuk menanyakan hal itu pada suaminya itu.


"Aku tidak punya musuh sama sekali. Dan mengenai orang yang menusukku tadi. Aku juga seperti tidak mengenalinya. Apalagi tadi, dia mengenakan topi dan masker untuk menutupi wajahnya. Jadi, aku tidak bisa mengenali wajahnya. Tapi, dia sempat membisikkan sesuatu padaku. Kalau, *kau itu hanya miliknya. Dan hanya dia saja yang boleh memilikimu, termasuk diriku*. Itu yang dia katakan padaku." jawab Rega ikut serius. Dan tanpa sadar melepas pandangannya saat tampak berpikir.


Namun, mendengar penuturan suaminya itu. Naziah juga sudah tak memperdulikan hal itu lagi.


Dan tiba-tiba, pintu ruang rawat Rega itu didorong dengan sedikit kasar dari luar. Dan ternyata itu adalah Devan.


"Kak! Kau sudah sadar? Apa kau tidak apa-apa?"cerca Devan sambil mendekati Rega dan memperhatikan setiap inci tubuh kakak sepupu sekaligus Bosnya itu. Masih dengan sedikit ngos-ngosan.


__ADS_1


"Sssst... " Rega sedikit meringis saat Devan memeriksa tubuhnya. Dan dia mencoba untuk bangun. "Aku tidak apa-apa. Hal seperti ini sudah yang kedua kalinya terjadi padaku, bukan. Jadi, tubuhku seperti sudah sedikit pandai untuk menyikapi rasa yang ditimbulkannya. Apalagi sekarang, sudah ada bidadari ini yang mendampingi dan merawat-ku." jawab Rega setelahnya.



"Tapi, bagaimana bisa kau ada disini? Bukankah kau sedang ku tugaskan menghendel pekerjaan di kantor, saat ini." sambung Rega lagi. Sambil menatap wajah asisten pribadi sekaligus adik sepupunya itu.



"Hehehe.... Maaf, Kak?! Aku terlalu panik saat mendapat telfon. Kalau kau sengaja ditusuk oleh seseorang disini. Jadi, aku putuskan untuk segera kemari dan meninggalkan pekerjaanku di sana." jawab Devan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali dan cengengesan.



"Siapa yang menelfon? Apa Ibu? Atau Ayah?" tanya Rega balas mencerca adik sepupunya itu dan tetap menatapnya tajam.



"Sudahlah, Mas. Itu tidak penting. Devan datang, mungkin karena terlalu khawatir padamu. Dan itu tandanya, dia sangat menyayangimu sebagai saudaranya. Yang terpenting sekarang itu kita harus mencari tahu siapa orang yang sudah menusukmu itu." sergah Naziah demi melerai pertikaian yang seperti akan terjadi antara dua bersaudara itu.



"Benar itu, Mba' Zi. Apa Kak Rega tak melihat orangnya?" timpal Devan langsung antusias bertanya.



"Sudah...."



Dan ucapan Rega langsung terpotong oleh ketukan itu. Dan mereka bertiga pun langsung mengarahkan pandangan mereka ke pintu yang saat itu sudah terbuka karena ulah Devan tadi. Dan belum sempat ditutup kembali.


Di sana sudah berdiri para orang tua mereka dan juga.... Pak Kades bersama sang istri.


"Wa'alaikumsalam." ucap kompak Naziah, Rega dan Devan.



"Eh, Pak kades dan Ibu! Mari Pak, silahkan masuk!" ucap Naziah mempersilahkan para tamu itu. Sambil berdiri dari duduknya dan memberi sedikit ruang untuk Pak kades dan istrinya itu yang mungkin datang untuk menjenguk suaminya itu.



"Iya. Terima kasih, Nak Ziah." jawab Pak Kades sambil tersenyum ramah. Begitu pula dengan istrinya.


Mereka pun masuk dan mendekat kearah Rega yang masih setia berbaring ditempatnya.


"Jadi, bagaimana keadaan Anda, Tuan Rega? Apa lukanya tidak begitu parah?" tanya Pak kades



"Maaf sebelumnya, Pak. Kalau bisa tidak perlu anda memanggil saya dengan menyematkan kata Tuan. Aku mungkin seumuran dengan anak anda. Jadi, panggil saja saya Rega, Pak."


__ADS_1


"Alhamdulillah, aku sudah baik-baik saja. Dan beruntung, lukanya juga tidak begitu parah. Dan mungkin, Insyaa Allah dua tiga jam lagi. Aku sudah bisa pulang." jawab Rega sopan.



"Oh, baiklah, Nak Rega. Syukur Alhamdulillah, kalau kau sudah baik-baik saja." jawab Pak kades lagi. Tampak sedikit bernafas lega.


Terlihat Pak kades itu melempar pandangannya kepada istrinya. Seperti meminta persetujuan dari istrinya itu. Dan sang istri yang mengerti arti tatapan dari suaminya itu. Langsung menganggukkan kepalanya.


"Begini, Nak Rega. Kami datang kemari untuk meminta maaf yang sebesar-besarnya padamu dan juga Nak Ziah. Dan jika berkenan untuk sedikit meringankan hukuman yang akan dijatuhi pada anak kami, nantinya." sambung Pak Kades menjelaskan dengan pelan maksud kedatangan mereka ke sana.


Rega dan Naziah saling pandang dengan kening masing-masing yang tampak bertaut, bingung.


"Maksud Bapak, apa ya? Kami tak mengerti sama sekali!" tanya Rega dan juga sekaligus mewakili Naziah.



"Em... sebenarnya, yang telah menusuk Nak Rega tadi itu adalah anak bungsu kami. Alasannya melakukan itu karena terlalu terobsesi pada istrimu, yaitu Nak Ziah. Tadi, dia sempat bercerita. Kalau sejak dari Nak Naziah SMA, dia sudah menyukainya. Dan hingga Nak Naziah lulus kuliah. Dia terus memendam rasa dan menjadi pengagum rahasia mu, Nak Ziah."


"Sungguh! Sebenarnya, Saya pribadi... malu untuk meminta keringanan hukuman atas apa yang sudah dilakukan anak kami itu. Tapi, setelah kami mendengar ceritanya dan juga sudah memberinya pemahaman tentang apa yang telah dia lakukan itu salah. Sekaligus kami juga telah mengarahkannya untuk melakukan yang seharusnya dia lakukan saat ini. Jadi, dia mulai sadar dan menyesali atas tindakan kriminal yang dilakukannya padamu tadi." jelas Pak Kades panjang kali lebar.


Sedang istrinya sejak tadi diam saja dan hanya sesekali terlihat menganggukkan kepalanya. Membenarkan setiap penuturan suaminya itu.


Dan Naziah, mendengar bahwa dialah yang menjadi alasan dari anak pak kades itu melakukan kejahatan terhadap suaminya sendiri. Hanya bisa mengurut kedua keningnya, pusing. Dan tidak habis pikir akan hal itu. Sebab setahunya, anak pak kades itu sangatlah terkenal akan keramahannya, sopan santunnya dan juga tidak pernah sama sekali tampak menyukainya selama ini. Karena, setiap kali bertemu dengannya dipertemuan rutin pemuda-pemudi desa itu. Pria itu berlaku biasa-biasa saja terhadapnya.


"*Sungguh! Pandai sekali pria itu menyembunyikan perasaannya dari semua orang*." batin Naziah


Sementara Rega, hanya bisa menghela nafas panjang. Karena tak menyangka, bahwa kali ini dia kembali menjadi sasaran seseorang yang terobsesi atas istrinya itu.


"*Sebegitu tampak sempurnanya kah istriku ini. Hingga harus membuat para pria terobsesi. Dan sialnya, aku yang selalu menjadi sasaran kemarahan para pria gila itu. Heh*!!!" batin Rega sambil melirik kearah Naziah yang masih setia di sampingnya itu.



"Hah... sebelumnya, saya juga minta maaf, Pak. Tapi memang sepertinya, saya juga tidak tahu harus berbuat apa untuk meringankan hukuman yang akan dijatuhkan atas tindakan anak Bapak ke saya. Karena dia jelas-jelas melakukan tindakan kriminal. Dan itupun dilakukan didepan mata dua orang aparat ke polisian, tadi." jelas Rega, akhirnya.


Setelah pusing memikirkan apa jawaban yang harus dia berikan atas permohonan orang tua atas tindakan kejahatan anak mereka kepadanya itu.


"Hem.... tidak apa-apa, Nak Rega. Sebelumnya, saya juga sudah menduga atas jawaban Nak Rega saat ini itu. Tindakan anak kami kali ini itu memang hukumannya tidak bisa untuk diringankan. Tapi, yang kami inginkan saat ini, itu. Hanya kata maaf dari Nak Rega dan tak berlapang dada atas kesalahan anak kami itu. Seperti itu, Nak Rega." ucap Pak kades lagi sedikit menjelaskan.



"Jika hanya seperti itu, insyaa Allah saya ikhlas memaafkan anak Bapak. Dan saya harap dia benar-benar sudah menyesali kesalahannya itu." jawab Rega, tulus.



"Iya, Nak Rega. Terima kasih banyak. Semoga lukamu lekas sembuh. Dan selamat ya atas pernikahan kalian. Semoga segera dikaruniai momongan dan menjadi keluarga sakinah, mawadah serta warahmah nantinya. Aamiin!" ucap Pak Kades lagi.



"Aamiin...!" ucap semua yang ada di sana terutama Naziah dan Rega.


"Kalau begitu, kami permisi dulu. Selamat beristirahat dan sekali lagi semoga cepat sembuh. Assalamu'alaikum!" ucap Pak kades akhirnya berpamitan.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam."


__ADS_2