Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Jaga dia baik-baik!


__ADS_3

"Alhamdulillah... terima kasih Mba' Naziah dan Mas....?!" ucap Eka mengucap syukur dan berterimakasih pada Naziah dan Adi. Namun kalimatnya tertahan, karena lupa pada nama Adi.


"Panggil saja Adi. Tidak usaha menambah embel-embel Mas." ucap Adi tersenyum manis kearah Eka.


"Oh... iya. Terimakasih Mas eh, Adi!" ulang Eka berterima kasih.


"Hem." jawab Adi singkat.


"Ya sudah, karena mobilnya sudah nyala dan in syaa Allah sudah bisa jalan juga. Sekarang, waktu sudah hampir masuk sholat isya. Rumahmu, masih berapa jauh lagi dari sini, Mba' Eka?" ucap tanya Naziah.


"Em... masih sekitar 20 kiloan lagi dari sini, Mba'." jawab Eka


"Hem... masih cukup jauh ya! Apa tidak apa-apa, kalau kau pulang sendiri?" ucap Naziah lagi, dengan rasa khawatir.


"Sepertinya tidak apa-apa, Mba'. Ini masih belum terlalu malam kok. Dan biasanya, jam segini ini.... jalanan menuju ke rumahku itu. Masih cukup ramai dengan lalu-lalang orang berkendara lainnya. Jadi, in syaa Allah masih aman, Mba'." jawab Eka, meyakinkan dan tak ingin membuat orang yang telah membantu dirinya itu. Jadi semakin repot dengan harus mengantarkannya untuk sampai ke rumahnya juga.


"Aamiin. Baiklah. Kalau begitu, pulanglah lebih dulu. Pesanku, jika melewati jalanan yang sepi. Paculah mobilmu dengan lebih cepat dan tetap hati-hati. Jangan pedulikan! Jika ada orang yang ingin meminta tumpangan padamu. Fokuslah untuk sampai ke rumah, oke! Pergilah!!!" ucap Naziah mewanti-wanti Eka sebelum akhirnya menyuruhnya untuk pulang.


"Baik, Mba'. Aku akan pulang. Tapi, aku harus membayar air radiator yang telah dibawakan Adi tadi. Berapa harganya itu, 'Di?" jawab Eka. Dan beralih bertanya pada Adi.


Adi yang baru saja akan mengucapkan sesuatu untuk menjawab pertanyaan yang dilemparkan padanya itu. Seketika menjadi urung karena Naziah sudah lebih dulu memotong jawabannya.


"Tidak perlu, Eka. Biar itu menjadi urusanku dengan Adi. Pergilah!!! Bukan maksud aku mengusirmu. Hanya saja, mendengar cerita sahabatmu tadi. Jujur, Aku sedikit khawatir. Jika saja tadi, aku membawa sepeda motorku sendiri kesini. Mungkin aku akan mengantarmu sampai ke dekat rumahmu!" jelas Naziah dengan raut wajahnya yang memang tampak khawatir akan keselamatan gadis yang baru dikenalnya beberapa saat lalu itu.

__ADS_1


"Ya Allah, Mba'! Terimakasih sudah mengkhawatirkan diriku. Aku akan pastikan diriku untuk selamat sampai di rumahku. Tapi sebelum itu, apa aku boleh meminta nomor ponselmu, Mba'?" tanya Eka pada Naziah. Sambil merogoh saku blazernya dan mengeluarkan ponsel miliknya dari sana. Lalu menunjukkannya pada Naziah.


"Tentu saja, boleh. Sini!!!" jawab Naziah cepat. "Ini. Sudah ku save ya?!" sambungnya mengambil ponsel Eka itu dan mulai mengisi nomor ponselnya ke sana.


"Iya. Sekali lagi terimakasih ya, Mba' Naziah, Adi dan semuanya. Aku pulang dulu. Semoga kita bisa bertemu lagi dilain waktu. Assalamu'alaikum!" ucap Eka berpamitan.


"In syaa Allah, aamiin. Wa'alaikumusalam." jawab Naziah dan Adi berbarengan.


"Wa'alaikumsalam." ucap Rega, Devan dan Ifah juga barengan.


Eka mulai menaiki mobilnya dan tak lupa mengenakan sabuk pengamannya. Kemudian mulai menghidupkan mesin mobilnya itu. Lalu, dengan melaju pelan ia mengarahkan mobilnya untuk memasuki jalanan dan bergabung bersama kendaraan lain yang sedang berlalu-lalang di sana.


Setelah kepergian Eka, Adi pun berpamitan pula pada Naziah.


Dan Naziah yang begitu cerdas dengan cepat mengerti arti tatapan teman laki-lakinya itu.


"Oh iya, aku lupa. Kenalkan, dia...." jawab Naziah dengan sedikit memutar tubuhnya yang tadi membelakangi Rega dan Devan menjadi berhadapan. Untuk memperkenalkan kedua pria lain yang bersama mereka itu pada Adi.


Tapi Rega, yang sempat melirik dan mendapati isyarat pandangan Adi pada Naziah itu. Langsung saja kembali memotong ucapan Naziah dan memperkenalkan dirinya sendiri pada Adi, teman laki-laki dari calon istrinya itu. Seperti tadi dia memperkenalkan dirinya pada Eka.


"Kenalkan, namaku Rega. Aku calon suaminya Naziah. Yang in syaa Allah akan menikahinya seminggu lagi dari sekarang!" ucap Rega dengan nada bicara yang penuh penekanan. Sambil mengulurkan tangannya kearah Adi dengan senyuman yang penuh keterpaksaan.


Seakan mempertegas pada Adi, bahwa dia adalah calon pemilik diri Naziah, satu-satunya. Jadi, jangan coba-coba untuk mendekati Naziah lagi.

__ADS_1


Mendengar ucapan Rega seperti itu. Adi hampir tak bisa berkata-kata lagi. Beruntunglah, dia mampu menguasai diri dan balik memperkenalkan dirinya pula pada Rega. Meski didalam hatinya begitu terkejut dengan pernyataan dari Rega itu.


"Wah, senang berkenalan dengan anda, Tuan! Nama saya, Adi. Saya teman Naziah. Kami saling kenal sejak dia datang ke kota ini untuk PKL saat masa kuliahnya beberapa tahun lalu. Dan kami semakin akrab setelah dia sering-sering berkunjung ke bengkel tempatku bekerja saat ini, diwaktu senggangnya." ucap Adi memperkenalkan diri dan menyambut uluran tangan Rega itu. Kemudian sedikit menjelaskan tentang kedekatannya dengan Naziah saat ini.


"Kau sangat beruntung, Tuan. Bisa mendapatkan wanita sepertinya. Jadi, jaga dia baik-baik. Agar, tak jatuh ke tangan orang lain." imbuh Adi. Namun dengan cara berbisik ke telinga Rega. Agar ucapannya itu tak terdengar oleh Naziah.


"Tentu saja. Aku akan menjaganya. Terimakasih sudah mengingatkan." jawab Rega.


Sementara itu, Naziah yang mendengar ucapan Rega. Yang kembali memotong ucapannya dengan kepercayaan diri tinggi memperkenalkan diri sebagai calon suaminya. Membuatnya mendongkol dalam hati dan merutuki Rega.


'Kenapa dia selalu memotong ucapanku sih!!! Mengesalkan sekali! Apa dia tahu, kalau aku hanya akan memperkenalkan dirinya sebagai temanku saja dan bukan sebagai calon suamiku. Lagipula, apa salahnya jika hanya dikenalkan sebagai teman!!! Dan kenapa juga dia begitu pedenya memperkenalkan diri sebagai calon suamiku. Aneh banget?!! Apa iya... aku seistimewa itu?!" batin Naziah merasa kesal sekaligus kegirangan dalam hatinya. Karena Rega begitu bangga menjadi calon suaminya.


Naziah mengalihkan pandangannya kearah lain. Saat Adi sedang merapatkan diri kearah Rega dan membisikkan sesuatu di telinganya. Sehingga, saat kembali mendengar kalimat yang ambigu baginya dan diucapkan oleh Rega. Naziah tampak menautkan ujung kening dalamnya, bingung. Namun berusaha cuek dan berpikir, mungkin kedua pria itu sedang membahas urus lelaki. Sehingga wanita seperti dia dan Ifah tak boleh mendengarnya.


Setelah Adi selesai berkenalan dengan Rega. Dia lanjut berkenalan dengan Devan juga. Usai sedikit berkenalan, Adi pun langsung undur diri untuk pulang.


"Kalau begitu, aku pamit pulang ya Zi'. Sudah cukup lama aku keluar rumah. Ibu pasti mencariku karena aku tidak sempat pamit padanya, tadi." pamit Adi


"Iya. Astaga, kau itu... kenapa tidak pamit dulu baru keluar! Ya sudah, pulanglah! Ini uang untuk membayar air radiator-mu, tadi." ucap Naziah sedikit meninju lengan atas Adi. Kemudian buru-buru merogoh saku blazer-nya untuk mengambil dompetnya. Dan memberikan uangnya pada Adi.


"Aauh..." ucap Adi pura-pura kesakitan sambil mengusap-usap lengannya yang ditinju oleh Naziah. "Sudahlah... Tidak perlu. Aku ikhlas membantumu dan juga temanmu tadi." tolak Adi. "Jangan lupa mengundangku ya! Assalamu'alaikum!" lanjutnya berbisik kearah Naziah sekaligus langsung beranjak pergi sambil mengucap salam.


"Baiklah, terimakasih. In Syaa Allah, Wa'alaikumsalam. Hati-hatilah di jalan! Salam sama Mamamu!" jawab Naziah.

__ADS_1


"Hem. Akan aku sampaikan. Dah...!" ucap Adi lagi. Dan kemudian mulai melajukan motornya meninggalkan Naziah, Ifah, Rega dan Devan.


__ADS_2