Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Pindah Kamar


__ADS_3

Setelah kepergian Dokter Karina dan perawat asistennya. Naziah, Tita dan Ulfi mengobrol-ngobrol ringan sambil bercanda.


"Oh iya, maaf ya guys...??! Gara-gara jagain aku, kalian jadi nggak masuk kerja." ucap Naziah merasa bersalah.


"Apaan sih Zi'! Nggak perlu minta maaf begitu. Kita kan sahabat sejati. Jika salah satu dari kita sakit, maka yang lainnya harus bergantian untuk menjaga. Lagi pula, selama ini yang sering sakit dari kita berempat. Cuma aku deh... Dan yang sering repot buat rawat dan jagain aku. Ya kamu kan Zi'?!! Dan ini adalah waktunya aku membalasmu. Dengan menjaga dan merawat dirimu yang tampak lemah serta tak berdaya itu. Oke!!!" ucap Tita tegas


"Jadi, jika kami nggak masuk kerja sehari dua hari, itu tak mengapalah....! Ya kan Ul'??!" lanjut Tita meminta dukungan pada Ulfi. Dan Ulfi membalasnya dengan anggukan kepala pasti.


"Hemmm, baiklah. Terimakasih." ucap Naziah pasrah. Setelah sebelumnya membuang nafas pelan melalui hidungnya.


Baru saja Naziah memperbaiki posisi berbaringnya. Terdengar dari arah luar seseorang mengetuk pintu.


"Permisi Mba'-Mba'! Mau tanya, benarkah pasien ini atas nama Mba' Naziah Dzikra?"


Tampak dua orang perawat wanita berdiri didepan pintu ruangannya. Salah satu dari mereka terlihat mendorong kursi roda.


"Iya. Ada apa ya Mba'?" jawab dan tanya balik Ulfi


"Kami diperintahkan oleh Pak Rendi untuk membantu Mba' Naziah pindah ke kamar VVIP, Mba'." jawab salah satu Mba' perawat itu.


Naziah, Ulfi dan Tita saling pandang satu sama lain. Dengan kening tampak berkerut dalam.


"Maksudnya,,,?" giliran Tita bertanya.


"Kami tidak tahu maksudnya apa Mba'. Sebab, kami hanya diperintahkan seperti itu...!"


"Assalamu'alaikum...! Ada apa ini?"

__ADS_1


Tiba-tiba Anto sudah berdiri didepan pintu ruangan itu. Dan mendengar perdebatan kecil antara para sahabatnya dan dua perawat yang ada di sana.


"Waalaikumsalam. Ini loh 'Nto, dua perawat ini mau membawa Ziah pindah ke kamar VVIP, katanya." jelas Tita.


"Atas perintah siapa Mba'? Apa kalian tidak salah orang?" tanya Anto memastikan. "Sebagai penanggung jawab dari Mba' Naziah ini. Kenapa saya sendiri tidak tahu, Mba'?" jelas Anto


"Anda memang tidak tahu soal ini. Karena aku yang memerintahkan mereka." jawab Rendi lantang. "Ayo Mba'! Bantu Mba' Ziahnya pindah ke kursi Roda." lanjutnya memerintah kedua perawat itu.


"Tunggu dulu Pak Rendi!!!" tahan Naziah. "Saya tidak ingin pindah kamar. Saya di sini saja Pak. Lagipula, biaya perawatan di kamar VVIP itu terlalu mahal untuk saya. Saya tidak punya cukup uang untuk itu Pak. Jadi, saya disini saja." tolak Naziah tegas. Meski terdengar lemah.


Rendi tampak menghirup dan menghembuskan nafas kasar dari hidungnya. Sebelum berucap :


"Kau tak perlu memikirkan soal biaya Zi'. Anggap ini sebagai tanda balas jasamu. Karena sudah menolongku tempo hari. Aku juga kasihan pada teman-teman kamu. Mereka harus tidur hanya dengan beralaskan selembar matras itu saja. Saat menginap untuk menjagamu. Jadi, Aku memerintahkan Aldi untuk mengurus perpindahan kamar rawatmu. Maaf, jika aku bertindak tanpa sepengetahuanmu?!" jelas Rendi panjang lebar.


"Siapa dia Zi'? Sok perhatian banget!!!" ucap Anto ketus. Sambil memandang tidak suka kearah Rendi.


"Benar juga katanya, kasian para sahabatku itu. Mereka akan ikutan sakit, Kalau harus berhari-hari menjagaku disini." batin Naziah berucap.


"Baiklah. Aku akan ikut." putus Naziah akhirnya.


Sambil memegangi bagian lambungnya. Naziah bergerak untuk bangun dari pembaringannya dengan sangat hati-hati.


"Hati-hati Zi'!" ucap Anto spontan mendekat.


Dan bermaksud ingin membantu Naziah. Namun tindakan Anto itu terhenti, kala kedua perawat yang sejak tadi diam seribu bahasa. Langsung bergerak lebih cepat membantu Naziah. Setelah mendapat tatapan tajam dari mata Rendi. Sebab posisi mereka yang berada lebih dekat dengan Naziah, daripada posisi Anto.


"Kalian, tolong pindahkan barang-barang Naziah ya...?! Saya dan perawat-perawat ini akan membawa Naziah lebih dulu. Kalian akan dituntun oleh Aldi ke kamar rawat Naziah yang baru." ucap Rendi sebelum melangkah pergi membawa Naziah dengan dua perawat utusannya. Setelah melihat kemunculan asisten Aldi di ruangan itu.

__ADS_1


Mendapat perintah dari Rendi, Ulfi dan Tita saling pandang sejenak. Lalu melaksanakan apa yang diperintahkan Rendi tersebut. Meski dengan saling berbisik mencela perintah yang menurut mereka adalah sifat semena-mena dari Rendi.


"Emang dia siapa sih...?! Bertingkah semena-mena seperti itu pada kita. Jika bukan karena sahabat kita, Ziah. Aku nggak mau menurutinya. Dasar pria aneh dan angkuh!!!" umpat Tita setengah berbisik.


"Sudah... kerjakan saja apa yang dia bilang. Toh untuk kebaikan kita juga. Jarang-jarang loh, kita bisa nginap di kamar VVIP. Walaupun bukan kamar VVIP di hotel... Setidaknya sama kata VVIPnya saja. Hihihi..." ucap Ulfi sambil tertawa cekikikan.


Mendengar pembicaraan kedua gadis itu. Aldi tampak tersenyum simpul. Namun segera menyembunyikan senyumnya itu. Setelah mendapat tatapan tajam dari Anto.


"Ayo cepat Ulfi...TiTa...!" ucap Anto setengah kesal dengan kedua sahabatnya itu.


"Iya iya. Ini juga sudah selesai." jawab Tita


Melihat Ulfi dan Tita sudah selesai mengemasi barang-barang Naziah. Aldi langsung beranjak untuk membimbing ketiga sahabat Naziah itu. Menuju kamar rawat baru yang akan ditempati Naziah.


*


Sementara itu, Rendi bersama dua perawat yang membantunya memindahkan Naziah. Sudah sampai sejak tadi di kamar rawat VVIP yang dimaksud.


Naziah juga sudah berbaring nyaman di atas brankarnya. Yang terlihat lebih besar dan nyaman dari brankar rawat yang sebelumnya.


Seorang perawat masih sibuk merapikan botol infus Naziah. Sedang perawat yang satunya sedang menunggu temannya itu didepan pintu ruang rawat itu. Untuk beranjak dari sana bersama-sama.


"Kami permisi Tuan, Nona...!" pamit salah satu perawat itu.


"Iya. Terimakasih Mba'!" ucap Naziah ramah. Sedang Rendi hanya mengangguk pelan.


Mendengar umpatan

__ADS_1


__ADS_2