Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Sarapan Khusus


__ADS_3

Dari ufuk timur sana, warna jingga mulai menghiasi langit yang masih berwarna abu gelap. Pertanda hari yang baru telah tiba untuk mengantarkan kita melakukan aktivitas baru pula atau melanjutkan pekerjaan yang tertunda di hari kemarin.


Saat ini, jam masih menunjukan pukul 05.20 WITA. Naziah yang masih tampak mengenakan mukenah lengkap. Dia baru saja beranjak dari duduknya di atas sajadah.


Ya, seperti hari biasanya Naziah akan langsung mengaji seusai melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Setelah meletakkan kitab suci yang baru saja selesai dia bacanya, ke atas meja belajarnya.


Kemudian, beranjak mendekati jendela kamar Messnya. Untuk membuka jendela tersebut dan membiarkan udara yang masih tampak bersih itu. Untuk masuk dan memenuhi kamarnya itu.


"Selamat pagi, dunia. Semoga dengan izin Allah; Hari ini akan menjadi hari terbaik untukku, aamiin...!!!" ucap Naziah


Ketika jendelanya sudah terbuka lebar dan udara pagi yang begitu sejuk langsung seperti berebut menerpa wajah cantik alaminya.


Merasakan udara segar yang menyentuh kulit wajahnya. Naziah memejamkan matanya sejenak. Sambil menghirup dengan rakusnya udara tersebut demi mengisi setiap rongga yang ada di paru-parunya.


Setelah beberapa saat puas menikmati udara segar pagi itu. Naziah pun beranjak dari sana dan berencana ingin membuat sarapan untuknya sendiri. Setelah sebelumnya, dia melepas mukenah dan meletakkannya di stand hanger yang terdapat disudut kamarnya itu.


Karena semalam dia banyak mengeluarkan tenaga ekstra melawan para preman. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan donor darah terhadap Rega.


Jadilah pagi itu, Naziah ingin memulihkan kondisi jasmaninya yang sedikit terasa lemah karena lelah. Agar kembali bertenaga dan lebih segar. Dengan membuat sarapan yang kaya zat besi, tembaga dan juga vitamin. Seperti membuat nasi goreng dicampur potongan sawi hijau dan juga sedikit irisan sosis ayam. Serta diberi toping udang goreng. Lalu, dia berencana akan meminum jus alpukat untuk teman makanannya nanti.


Setelah membuka kulkas dan melihat isinya. Naziah tampak tersenyum bahagia, karena semua bahan-bahan yang dia butuhkan masih tersedia di sana. Tanpa perlu lagi ke pasar atau ke mini market untuk membelinya.

__ADS_1


Tok tok tok


Baru saja tangan Naziah terulur untuk mengeluarkan semua bahan-bahan masakan itu dari kulkas. Tiba-tiba, pintu depan Messnya terdengar diketuk oleh seseorang dari luar. Dengan terpaksa, Naziah pun mengurungkan tindakannya dan menutup kembali kulkas itu. Setelahnya, Naziah melangkah pergi untuk melihat dan memastikan. Siapakah tamu yang datang ke Messnya itu, sepagi ini?


Sebelum membuka pintu, Naziah sedikit menyingkap gorden dan mengintip dari balik jendela Messnya itu. Untuk melihat terlebih dahulu orang yang ada dibalik pintu tersebut.


"Tuan Devan...!" ucap Naziah dengan kening bertaut, bingung. Saat melihat orang yang ada dibalik pintu itu.


Ceklek, Naziah membuka pintu itu.


"Assalamu'alaikum, Nona Naziah." ucap Devan dengan tersenyum ramah.


"Tidak, Nona. Alhamdulillah, Tuan Rega baik-baik saja di rumah sakit dan tidak terjadi apa-apa padanya. Saya datang kemari untuk mengantarkan ini, Nona." jawab Devan menjelaskan. Kemudian menunjukkan pada Naziah, sebuah kantong plastik yang sejak tadi ada ditangannya.


"Apa itu, Tuan?" tanya Naziah menatap benda tersebut.


"Ini sarapan khusus untuk mengembalikan kondisi dan stamina Anda, Nona. Kata Tuan Rega, "Mungkin saat ini, Nona merasa lemas karena semalam telah mendonorkan darah untuknya.". Karena itulah, dia memerintahkan saya untuk membeli sarapan seperti ini dan mengantarkannya langsung pada Anda. Tolong diterima, Nona!" jelas Devan. Kemudian meminta Naziah untuk menerima pemberian Tuannya itu.


Karena merasa tidak enak, dengan terpaksa Naziah pun menerima pemberian Tuan Rega yang dititipkan melalui Devan itu.


"Baiklah. Aku menerimanya." ucap Naziah pasrah. "Tapi ... sebenarnya, Anda tidak perlu repot-repot seperti ini, Tuan. Sungguh! Saat ini, saya tidak apa-apa. Darah yang diambil dariku, hanya satu kantong saja. Dan ... dengan berkurangnya satu kantong itu tidak akan membuat saya lemas, Tuan." imbuh Naziah berkata jujur apa adanya.

__ADS_1


Karena memang dia tidak merasa lemas sedikitpun saat ini. Dia hanya sedikit merasa lelah saja.


"Anda bisa saja berkata seperti itu, Nona. Tapi, wajah Anda tidak bisa berbohong. Anda tampak sedikit pucat saat ini, Nona." ucap Devan jujur pula.


Ya, sejak bangun dari tidurnya pagi tadi. Hingga bertemu dengan Devan saat ini. Naziah belum sempat bercermin untuk melihat keadaan wajahnya itu. Yang memang tampak sedikit pucat. Meski perasaannya merasa, kalau dia baik-baik saja. Maka, wajahnya pun akan tampak normal dan biasa-biasa juga.


"Oh ... benarkah!!!" ucap Naziah tak percaya. " Ini ... mungkin, hanya efek dari donor darah itu saja kok. Siang nanti ... pasti, wajahku sudah akan kembali normal lagi. Ya sudah, Saya harus siap-siap dulu. Karena sebentar lagi sudah masuk jam kantor."


Naziah sengaja segera mengganti topik pembicaraan mereka dengan mengedarkan pandanganya. Mengisyaratkan pada Devan; kalau hari sudah mulai terang benderang. Yang artinya, hari sudah menjelang siang. Karena Naziah tak mengenakan arloji. Untuk itu, dia hanya mengandalkan alam sekitar demi memperkirakan waktu saat itu.


"Ya sudah, Nona. Silahkan siap-siap! Saya juga akan ke kantor nanti. Tetapi sebelum itu, saya haru kembali ke rumah sakit terlebih dahulu. Untuk memastikan keadaan Tuan dan menyuruh salah satu perawat di sana untuk menjaganya sementara." jawab Devan mempersilahkan Naziah untuk bersiap-siap.


"Em... Oh iya, Saya ucapkan terimakasih karena Tuan sudah mau repot-repot mengantarkan sendiri sarapan ini untukku. Dan juga, tolong sampaikan ucapan terimakasih ku juga pada Tuan Rega atas perhatiannya. Kalau hari ini saya ada waktu luang; in syaa Allah ... saya akan menjenguknya nanti." jawab Naziah dengan sedikit menganggukkan kepalanya. Kemudian mengucap terimakasih pada Devan dan juga menitip ucapan terimakasih pada Rega.


"Terimakasih kembali, Nona. Dan akan saya sampaikan pesan Nona itu pada Tuan. Baiklah, saya permisi. Selamat menikmati sarapannya. Assalamu'alaikum." jawab Devan sekalian pamit undur diri. Dan berlalu pergi meninggalkan Mess Naziah itu.


"Iya. Wa'alaikumsalam." jawab Naziah.


Setelah kepergian Devan, Naziah kembali menutup pintu Messnya. Dan menghembuskan nafas kasar sambil menatap malas kantong plastik yang ada ditangannya itu.


Karena gara-gara kantong itu, semua rencananya untuk membuat sarapan sendiri menjadi gagal total. Sebab, dia harus memakan sarapan yang ada didalam kantong plastik itu untuk saat ini. Agar tak menjadi makanan yang mubazir nantinya. Dan rencana tadi, hanya tinggal menjadi sebuah rencana saja.

__ADS_1


__ADS_2