
Sesampainya di kantor, Naziah dan Ifah yang memang berkerja dalam satu ruangan yang sama. Langsung menuju ruangan mereka itu.
Sedangkan Rega dan Devan menuju ruangannya masing-masing. Yang ada dilantai yang sama dan berada paling atas dari gedung perkantoran itu. Hanya berbeda ruangan saja.
Saat Naziah membuka pintu ruang kerjanya. Dia langsung disambut bahagia oleh dua pria yang menjadi bawahan di divisi itu.
"Ya Allah!!! Mba' Ziah udah balik dari kampung? Alhamdulillah.... Aku rindu loh, Mba'?! Boleh peluk nggak sih?" ujar Iwan, rekan kerja pria Naziah yang sedikit rese itu. Sambil memasang wajah memelas kearah Naziah. Namun, masih tetap standby ditempat duduknya. Karena memang ia juga baru sampai dan baru mendudukkan bokongnya di kursinya itu.
"Enak aja! Ya, nggak boleh. Mba' Ziah itukan sudah mem....." sambar Ifah menjawab permintaan memelas dari salah satu rekan kerja prianya itu.
Namun, ucapannya itu langsung terpotong begitu saja. Sebab, mulutnya sudah dibekap oleh tangan kanan Naziah dengan tiba-tiba.
"Jangan ngomong... Kau ini!!! Kan tadi Mba' sudah bilang untuk tutup rapat dulu. Kabar tentang Mba' yang sudah menikah. Kau ingat! Kau sudah berjanji tadi." bisik Naziah dengan sangat pelan. Tepat ke sisi telinga Ifah. Sambil tangannya yang masih setia membekap mulut temannya itu. Menunggu hingga Ifah menganggukkan kepalanya, patuh padanya.
Dan Ifah yang baru tersadar kalau dia hampir keceplosan. Langsung menganggukkan kepalanya cepat. Patuh atas perintah Naziah itu. Barulah Naziah melepaskan bekapan tangannya itu dari mulut Ifah.
"Maksud Ifah, Mba' Ziah sudah apa?" tanya Iwan lagi, penasaran. "Sudah ada yang punya, seperti... pacar atau kekasih begitu?" lanjutnya mencoba menebak lanjutan cerita Ifah itu. Sebab hatinya, merasa kalau dua gadis didepannya itu. Bertingkah aneh dan seperti merahasiakan sesuatu padanya.
__ADS_1
"Em... iya. Dan, asal Mas Iwan tahu, pria itu sangat galak dan posesif. Jadi, Mas Iwan dan Mas Arul jangan coba cari gara-gara deh, minta peluk-peluk sama Mba' Ziah!" jawab Ifah, mencoba berkilah. "Karena, kalau sampai dia mendengar... Maka, habislah Mas Iwan nantinya." sambung Ifah
Dengan ekspresi wajah tegang. Ifah mendekat dan sedikit berbisik kearah Iwan dan Sahrul. Yang memang fokus mereka, terhadapnya saat itu. Membuat Iwan sedikit bergidik ngeri.
Sedangkan, Sahrul tampak tak percaya begitu saja. Dengan kedua keningnya yang tampak bertaut dan salah satunya terangkat. Dia menatap Ifah dan Naziah secara bergantian. Mencoba mencari kebenaran. Yang mungkin bisa dia dapatkan dari raut wajah antara kedua wanita yang ada dihadapannya itu.
Seakan dapat membaca pikiran dari Sahrul. Mendapat tatapan menelisik seperti itu. Ifah segera menganggukkan kepalanya cepat dan mengekspresikan wajah meyakinkan. Demi membuat pria itu percaya akan ucapan yang tak sepenuhnya bohong itu.
Sementara Naziah, saat mendengar pertanyaan Iwan yang mulai menebak-nebak. Dia merasa sedikit gugup. Takut, jika Iwan sampai menebak dengan benar. Dan Ifah juga tak mampu lagi untuk menutup mulutnya sendiri. Apa yang akan dilakukannya saat itu? Untuk menutup rapat mulut Ifah saja susah. Apalagi harus ditambah dengan akan menutup mulut kedua pria itu. Sungguh...! Naziah menjadi pusing sendiri. Tetapi, karena begitu lihainya Naziah menutupi ekspresi perasaan. Yang mungkin akan nampak jelas tergambar dari wajahnya saat itu.
"Apa itu benar? Mba' Ziah sudah punya pacar? Apa Mba' Ziah sudah bisa membuka diri dan hati Mba' Ziah untuk pria?" cerca Sahrul.
Dia sungguh tak mampu untuk dibuat penasaran. Apalagi cerita tentang seorang Naziah. Yang merupakan sosok wanita muslimah yang hampir dua tahun ini sudah menjadi contohnya. Untuk dapat menilai seorang wanita muslimah yang baik sesungguhnya, menurutnya. *POV author -> Itu menurut pikiran Sahrul ya...!*
"Assalamu'alaikum, Bu Rena! Ini aku, Naziah dari bagian finance, accounting & IT directorste. Bisa kirimkan padaku tentang laporan keuangan Minggu lalu? Aku ingin memeriksanya sekarang." ucap Naziah.
__ADS_1
Kepada seseorang yang bernama Bu Rena diseberang telepon kantor yang ia gunakan saat itu. Naziah mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. Dengan mulai ingin fokus bekerja dan tak lagi ingin menjadi pusat perhatian dari ketiga orang lainnya di ruangan itu. Yang sepertinya semakin ingin tahu tentang kisah cinta dan kehidupannya itu.
Naziah memang sudah bekerja di perusahaan milik Rega itu sejak empat tahun lalu. Karena dia orang yang mudah akrab dengan orang yang meski baru ia kenal dan apa adanya. Sehingga, saat pertama kali bekerja di sana. Iwan dan Sahrul yang merupakan senior dua tahun darinya saat itu. Sehingga, dua pria itu sudah sedikit tahu tentang kisah cinta dan kehidupan dirinya itu.
"......"
"Iya. Aku tunggu ya, Bu! Assalamu'alaikum!" ucap Naziah lagi, setelah mendengar segala kicauan orang yang ada diseberang teleponnya itu. Dan tak lupa mengakhiri panggilannya dengan salam tentunya.
Sementara itu, Sahrul yang tadinya mencerca Naziah dengan berbagai pertanyaannya. Seketika tertahan untuk berbicara lagi. Sebab, melihat dan mendengar Naziah yang mulai ingin fokus bekerja. Dia begitu paham betul watak Naziah. Yang jika sudah seperti itu, tandanya Naziah belum ingin membahas tentang topik itu, saat itu. Sehingga, Sahrul hanya bisa mendengus kesal dan menahan rasa penasarannya itu. Dan akan memaksakan dirinya untuk bersabar menunggu. Hingga gadis bernama Naziah itu mau membuka suaranya sendiri. Untuk menceritakan hal yang sebenarnya tentang dirinya sendiri itu padanya. Atau dia dan Iwan yang memang belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan hanya baru Ifah saja yang tahu.
Ya, Naziah dan ketiga anggota tim divisinya itu. Memang sejak tiga tahun lalu itu. Mulai memutuskan untuk menganggap semua mereka yang ada di ruangan itu. Adalah saudara yang akan saling terbuka satu sama lain. Kenapa seperti itu? Sebab, mereka berempat yang ada dalam ruangan itu sama-sama adalah pendatang dari berbagai daerah yang ada di pulau tempat tinggal mereka itu.
Naziah sendiri dari daerah Sulawesi tengah. Ifah dari Sulawesi selatan itu sendiri. Iwan dari Sulawesi tenggara. Sedang Sahrul dari Sulawesi barat.
Setelah meletakan kembali gagang teleponnya ke tempatnya. Naziah menunjuk jam yang ada ditangannya. Pada tiga orang yang satu ruangan bersamanya itu. Sebagai pertanda, bahwa saatnya mereka untuk bekerja. Jadi, berhentilah membicarakan hal lain selain pekerjaan. Dan mulailah bekerja saat ini juga.
__ADS_1
Sangat begitu paham dengan isyarat yang ditunjukan oleh Naziah itu. Ifah segera duduk di kursi meja kerjanya. Iwan yang memang sejak tadi sudah duduk di kursinya. Patuh dan mulai memfokuskan diri untuk bekerja. Meski hati masih begitu menyimpan banyak tanya atas diri Naziah itu.
Begitupun dengan Sahrul. Pertanyaannya yang sebelumnya belum dijawab oleh Naziah. Dia harus rela menyimpan kembali pertanyaan-pertanyaan itu di benaknya. Dan fokus terlebih dahulu bekerja untuk saat itu.