
"Permisi Nona! Boleh kami bergabung duduk denganmu?" tanya Salah satu pria pada Ulfi.
Mendengar pertanyaan yang mengandung arti permintaan izin padanya. Ulfi mengangkat wajah untuk melihat orang yang meminta izin tersebut. Dan sejenak memperhatikan meja-meja makan lainnya. Yang ternyata masih ada beberapa meja dan bangku makan di sana. "Perasaan...masih banyak deh meja yang kosong. Kenapa mereka memilih bergabung denganku? Mengganggu saja!!." batin Ulfi mengumpat kesal.
Dengan terpaksa, Ulfi menggeser duduknya sedikit lebih ke sisi ujung bangku panjang meja makan itu.
"Oh, silahkan Mas!" ucap Ulfi
Setelah mempersilakan kedua pria tersebut. Ulfi kembali fokus pada ponselnya. Sementara pelayan mulai menyajikan makanan pesanannya di atas meja, tepat didepannya.
"Selamat menikmati Mba'...!" ucap pelayan sebelum berlalu pergi.
"Terima kasih..." ucap Ulfi.
Karena Ulfi memesan bakso, setelah kepergian pelayan itu. Ulfi meletakan ponselnya kedalam tas jinjingnya terlebih dahulu. Setelah itu, barulah dia mulai meracik bumbu untuk membuat bakso pesanannya itu menjadi enak.
"Maaf Nona?!! Namamu, Ulfiyana 'kan" tanya pria yang duduk tepat di samping Ulfi. Sambil memandangi wajah Ulfi dengan seksama.
Mendengar itu, Ulfi yang baru saja akan mencicipi racikan bumbu baksonya. Langsung menghentikan gerakan tangannya. Dia mengernyitkan dahinya bingung. Dan kembali memperhatikan dengan seksama wajah-wajah kedua pria yang mengalihkan perhatiannya itu.
"Hah!!! Iya namaku Ulfiyana. Kalian siapa?" tanya Ulfi terkejut kemudian bersikap waspada.
"Emm...Tapi, wajah kalian memang seperti tak asing bagiku. Emang, kita pernah ketemu dimana ya Mas? Aku nggak ingat soalnya.
"Aku Aldi dan ini Rendi. Kami pemilik mobil yang pernah mogok di jalan kebun kopi tempo hari. Dan sahabatmu Naziah yang menolong memperbaikinya. Apa kau ingat??!" jelas pria itu.
__ADS_1
Ternyata kedua pria itu adalah pria yang pernah ditolong oleh Naziah. Yaitu Aldi dan Rendi yang merupakan seorang asisten pribadi dan Bos. Dari salah satu perusahaan properti yang sedang mengembangkan usahanya di kota tersebut.
Sejenak Ulfi terlihat berpikir sambil menatap dalam wajah Rendi dan Aldi dengan bergantian. Kemudian, "Aaah...aku ingat!!! Kau pria aneh yang pernah mendapat totokan dari Ziah 'kan?!" ucap Ulfi dengan menunjuk tepat didepan wajah Rendi.
Wajah Rendi yang awalnya datar. Langsung berubah jutek dan membuang pandangannya ke lain arah, karena merasa malu sendiri.
"Oh iya, kalian sedang apa disini?" tanya Ulfi lagi. Sambil memakan baksonya.
"Jalan-jalan." jawab Aldi santai.
Glek,"Jalan-jalan??!" tanya Ulfi setelah menelan paksa makanannya. "Jalan-jalan kok ke rumah sakit. Jalan-jalan itu harusnya ke pantai atau ke tempat wisata. Kalian memang aneh?!!" sambungnya.
"Kami nggak aneh. Kami memang sedang jalan-jalan. Untuk melihat Ibunya Pak Rendi yang sedang bertugas di rumah sakit ini. Kebetulan lagi nggak ada kerjaan." jawab Aldi lagi
Sementara Rendi hanya cuek sambil memakan makanannya.
"Ya... karena Ibundanya Pak Rendi adalah seorang dokter ahli dalam yang bertugas disini." jawab Aldi "Kamu sendiri ngapain disini? Dan... kemana kedua sahabatmu itu?" lanjut Aldi balik bertanya.
Merasa sudah sangat lapar, tanpa perduli dengan pertanyaan yang dilemparkan Aldi. Bak orang yang tiga hari tiga malam nggak makan. Ulfi sibuk menghabiskan makanannya.
Melihat tingkah absurd Ulfi yang melahap makanannya seperti itu. Aldi dan Rendi saling melempar pandangan. Lalu, kompak menggeleng-gelengkan kepala mereka.
Menunggu Ulfi menghabiskan makanannya. Mereka pun dengan sabar sambil memakan makanannya juga.
Setelah melihat Ulfi sudah menghabiskan makanannya. "Nona Ulfi, rasa penasaran kami belum tuntas. Karena kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Kau sedang apa disini sendirian?" ucap Aldi, mengulang pertanyaan yang belum terjawab oleh Ulfi.
__ADS_1
"Em..., apa urusannya dengan kalian. Kok kalian kepo sih denganku?!!" ucap Ulfi sewot tapi santai. Sambil membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Tadi pagi Ziah jatuh pingsan. Jadi, kami membawanya kesini. Sekarang dia sudah sadar dan juga sudah dipindahkan diruang rawat. Karena aku sudah sangat lapar. Jadi, aku pamit untuk makan di kantin ini lebih dulu. Dan mungkin aku akan bergantian menjaga Ziah dengan sahabatku yang bernama Tita nantinya. Apa sudah jelas??!" sambung Ulfi, akhirnya menjawab tanpa jeda juga.
"Apa?!!! Naziah Pingsan??!" tanya Rendi terkejut.
Yang tadinya diam seribu bahasa, akhirnya bersuara juga. Karena mendengar nama wanita yang beberapa hari lalu mengganggu hati dan pikirannya itu disebut. Dan Ulfi hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Namun, sepersekian detik berikutnya. Ulfi baru ngeh dengan keterkejutan Rendi itu. Dia menatap sinis wajah Rendi. Dan berucap;
"Biasa aja kali ekspresinya Pak!!! Emang situ siapanya sih??!" tanya ketus Ulfi.
"Ekhem. Terserah akulah, mau berekspresi seperti apa?!!!" ucap Rendi sambil berdehem dan membuang pandangannya ke lain arah. Kemudian merubah ekspresi wajahnya yang terkejut menjadi datar kembali.
"Terus... kalau boleh tahu, sekarang Naziahnya dirawat di ruangan apa?" tanya Rendi.
"Anda mau tahu aja? Atau mau tahu banget sih Pak??!"
Bukannya langsung menjawab, Ulfi malah balik bertanya. Dan pertanyaannya itu, sedikit membuat Rendi mengeratkan rahangnya, Karena menahan kesal.
"Jangan membuatnya marah Nona!!! Dia bisa membuatmu hidup bagaikan mati nantinya." ucap Aldi. Sedikit mendekatkan wajahnya kearah Ulfi seperti berbisik. Kemudian memperlihatkan senyum devilnya.
"Kau pikir aku takut dengan ancamanmu itu??! Heh...!!! Lagipula, Aku tidak akan takut padanya. Kemarin saja, dia sudah kalah telak oleh Ziah. Jadi, bagaimana bisa dia akan mampu membuatku menjadi manusia yang hidup bagaikan mati. Seperti yang kau katakan itu heh...??!!!" cibir Ulfi.
Mendengar cibiran Ulfi seperti itu. Aldi sudah tak sanggup berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa mengumpat dalam hati. "Gila!!! Ini di zaman apa sih? Kok bisa, aku ketemu nih cewek-cewek zaman Majapahit. Yang pada bisa punya ilmu beladiri dan ilmu dalam. Aneh!!!"
__ADS_1
Sementara itu, Rendi yang kembali diam tanpa ekspresi itu, ikut membatin.
"Apa iya? Nih cewek juga sama kayak sahabatnya, Naziah. Bisa menotok orang juga? Wah... Sudah beberapa negara aku kunjungi. Baru di pulau Sulawesi ini aku bertemu gadis-gadis unik seperti mereka. Kupikir, gadis-gadis seperti itu hanya ada di film-film saja."