Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Penentuan


__ADS_3

Matahari pagi mulai menyingsing. Naziah telah siap untuk berangkat ke kantor. Sebelum meninggalkan mess-nya itu, tak lupa Naziah selalu mengunci pintunya.


Pagi-pagi sekali, Ifah yang tadi malam menginap di mess Naziah. Telah kembali ke mess-nya sendiri pukul 05.30 WITA. Usai Naziah melaksanakan sholat subuh-nya dan mengajaknya sarapan bersama.


Dan karena motor kesayangannya masih bersama dengan Devan, sejak semalam. Akibatnya, Naziah harus berjalan kaki sendiri menuju kantornya. Beruntung, jarak kantor dan mess-nya itu sangat dekat. Hanya berjalan kaki sekitar seratus meter saja. Naziah sudah akan sampai di lobi kantornya.


Dalam perjalanan menuju kantor. Naziah harus melewati beberapa buah mess. Sebelum mencapai gerbang keluar komplek mess khusus karyawan tersebut.


Dari salah satu mess yang Naziah lewati. Tiba-tiba dua orang wanita keluar dari sana. Sudah tampak rapi seperti halnya Naziah. Dengan tas jinjing masing-masing yang telah menggantung disebelah pundak mereka. Mereka mencoba menyapa Naziah.


"Eh, Mba' Naziah! Selamat pagi! Kok, tumben jalan kaki lagi?! Motornya mana, Mba'?" ucap si Lia, ramah. Sambil menunggu temannya Gina yang sedang mengunci pintu mess mereka.


"Ehh...Mba Lia! Selamat pagi juga." balas Naziah menyapa. "Kebetulan, motor saya itu... sedang saya pinjamkan pada Pak Devan dan Pak Rega semalam." sambungnya jujur, tanpa ditutup-tutupi.


"Hah...?! Berarti benar ya, yang semalam lewat itu Pak Rega?" ucap Gina bertanya dengan hebohnya. Sambil menghampiri Naziah dan berjalan bersama. Setelah selesai mengunci pintu mess-nya. Dan Naziah hanya menganggukkan kepalanya pelan, menanggapi pertanyaan Gina itu.


"Dia ngapain, tiba-tiba datang kemari, Mba'?" tanya Lia, menimpali. "Bukankah sejak tiga hari lalu, dia ada di Jepang ya? Mungkin dia baru datang. Apa... diantara Mba' Naziah dan Pak Rega ada sesuatu? Atau... dengan Pak Devan?" sambungnya lagi dengan mencerca Naziah dengan pertanyaan. Seraya menatap Naziah dengan selidik.


"Eh... saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Pak Rega ataupun Pak Devan itu." jawab Naziah menolak dikatakan punya hubungan dengan Rega ataupun Devan. "Iya. Dia baru saja sampai tadi malam. Dan kami tidak sengaja bertemu di cafe XXX tadi malam, saat akan pulang. Karena itu, dia datang ke mess-ku. Yang ternyata, hanya datang untuk mengucapkan terimakasih padaku dan juga Ifah. Karena, kami telah menolong ART yang bekerja di rumahnya. Yang kebetulan kecopetan beberapa hari lalu didekat jalan pasar. Dan katanya, dia baru mendengarnya. Makanya, baru bisa datang untuk berterimakasih pada kami semalam. Dan sekalian, mereka juga datang untuk melihat-lihat keadaan lingkungan mess ini." sambungnya berbohong. Dan memilih alasan yang cukup masuk akal bagi teman sesama karyawatinya itu.

__ADS_1


"Oh... begitu ya." ucap Lia seraya menganggukkan kepalanya, paham. "Kirain benar, Mba' Naziah ada hubungan dengan salah satu dari mereka. Mereka berdua itu kabarnya jomblo loh, Mba'. Mba' Naziah kan juga jomblo nih! Apa Mba' tidak ada niatan buat memikat hati salah satunya, gitu?!! Kalaupun ada, aku mendukung-mu, Mba'." sambung Lia, ngerocos sendiri mengutarakan isi pikiran dan hatinya saat ini pada Naziah.


"Ah... kau itu. Jangan mengkhayal terlalu tinggi. Orang besar seperti mereka itu, mana mungkin mau sama orang seperti kita ini. Sudahlah, nggak usah bahas hal yang nggak perlu! Lebih baik, kita bahas soal pekerjaan. Bagaimana dengan keadaan di devisi kalian?" ucap Naziah


Tak ingin terus membahas tentang Rega saat itu. Akhirnya, Naziah berusaha mengalihkan pembicaraan itu ke hal pekerjaan mereka di kantor. Sambil melangkahkan kaki mereka bersama menuju kantor.


"Ah... pekerjaan di devisi kami masih aman. Tidak begitu banyak kendala yang berarti." jawab Lia sekenanya.


Mereka pun akhirnya jadi membahas pekerjaan mereka. Sambil terus memacu langkah menuju kantor. Dan berpisah setelah menuju ke masing-masing ruangan mereka.


*****


Siang harinya, saat Naziah sedang sibuk mengerjakan tugasnya di ruangannya. Dan disaat jam makan siang hampir tiba. Tiba-tiba Naziah mendapat telfon dari ruangan sekretaris Rega. Yang mengatakan, kalau Naziah diminta oleh Rega untuk datang ke ruangannya sekarang.


tok tok tok


"Masuk!" ucap Rega dari arah dalam ruangannya.


Mendengar itu, Naziah pun dengan berat hati melangkah masuk. Dan mendapati Rega yang sedang sibuk didepan komputernya.

__ADS_1


Melihat kedatangan Naziah. Rega segera melepaskan pekerjaannya itu dan menghampiri Naziah. Kemudian mempersilakan Naziah untuk duduk di sofa yang memang tersedia di ruangannya itu.


"Maaf sebelumnya?! Apa Kau masih sibuk, tadi?" ucap tanya Rega berbasa-basi.


"Em... tidak apa-apa, Pak. Tidak perlu meminta maaf seperti itu. Ini sudah kewajiban saya untuk menuruti perintah Anda." jawab Naziah sekenanya. "Memangnya, ada keperluan apa Bapak memanggil saya kemari?" sambung Naziah bersikap formal seperti sikap karyawan pada umumnya, kepada atasannya.


"Aku ingin makan siang bersamamu disini. Sekalian membahas tentang masalah kita." jawab Rega jujur.


"Masalah kita???" jawab Naziah pura-pura tak mengerti.


Sejujurnya, Naziah sangat tidak ingin para karyawan kantor mengetahui tentang hubungan mereka secepat itu. Karena itu, dia tidak ingin membawa masalah pribadi mereka kedalam kantor. Apalagi hubungan mereka itu, baru sebatas tunangan dan itupun belum resmi. Naziah sungguh masih trauma akan hal semacam itu. Meski bibirnya sering mengatakan yang sebaliknya. Untuk itu, sebisa mungkin dia ingin menutupi hubungan itu terlebih dahulu.


Tapi sepertinya, Rega tidak ingin menutupi hubungan mereka itu.


"Aku tidak sabar untuk menunggu nanti malam. Aku ingin kita bicara saat ini saja dengan ibumu. Untuk meminta dirimu secara langsung pada beliau. Kemudian akan langsung menentukan tanggal baik pernikahan kita." jawab Rega.


"Minggu depan??? Secepat itu?" tanya Naziah sedikit terkejut. Seraya membelalakkan matanya.


"Em." jawab Rega seraya mengangguk. "Aku sudah membicarakan ini dengan pamanku-ayah Devan. Satu hari setelah aku melamar-mu Minggu lalu. Dan saking bahagianya beliau mendengar aku telah melamar seorang gadis. Hari itu juga, Beliau langsung membantuku bertanya pada salah satu Alim ulama di daerahnya. Kapan hari dan tanggal baik untuk kita menggelar sebuah pernikahan. Dan alim ulama itu mengatakan, hari serta tanggal baik itu berada di hari keempat Minggu depan." jelas Rega mengenai maksudnya ingin berbicara dengan Ibu Adel- Mamanya Naziah.

__ADS_1


"Mungkin bagimu, itu terlalu cepat, Zi'. Tapi bagiku, itu adalah waktu yang cukup lama untuk menikahi-mu, Zi'. Bagaimana tidak? Aku sudah menunggu-mu selama hampir dua tahun ini untuk membuka dirimu. Yang sepertinya selama ini, masih terpaku pada masa lalu. Jadi, karena saat ini kau sudah memberiku peluang untuk memilikimu seutuhnya. Aku tidak akan membuang kesempatan yang diberikan padaku itu.


Jadi, mau ya... kita menikah Minggu depan?" pinta Rega akhirnya. Setelah panjang lebar menjelaskan pada calon istrinya itu. Agar mengerti maksud hatinya.


__ADS_2