
Tepat pukul 14.55 WITA, Ziah tiba ditempat kerjanya dengan mengendarai motor matic kesayangannya. Dia bekerja disalah satu bengkel ternama dan terbesar di Ibu Kota itu. Dia juga merupakan satu-satunya montir wanita diantara lima montir yang bekerja di bengkel tersebut.
Ziah juga memiliki kemampuan yang lebih baik. Daripada para rekan-rekan seprofesinya, untuk melakukan servis pada kendaraan yang rusak.
Karena itulah, pemilik bengkel itu sekaligus Bos Ziah. Sangat bangga memiliki karyawati seperti Ziah. Selain cerdas, Ziah juga profesional dan tepat waktu dalam bekerja, serta rajin beribadah.
Seperti sebelum-sebelumnya, saat sampai di bengkel. Ziah akan langsung mendapat bagiannya. Dalam memperbaiki atau melakukan servis pada kendaraan-kendaraan yang masuk ke bengkel tempatnya bekerja itu.
Dan Ziah akan menyelesaikan semua bagian tugasnya sebelum bengkel itu tutup. Jika semua tugas itu bisa diselesaikan saat itu juga. Maka akan ia selesaikan hari itu juga. Tapi jika tidak, dia akan menyelesaikannya dalam waktu dua sampai tiga hari saja.
Jam kerja Ziah akan berlaku dari jam 15.00 sampai 21.00 WITA. Namun, jika jam kuliahnya kosong atau libur. Dia akan mengisi waktu luangnya itu dengan bekerja di bengkel.
Dan hari ini, di bengkel tersebut tampak ramai dengan pengunjung. Hingga membuat bengkel harus tutup di jam 21.44 WITA.
Karena tutup di jam yang sudah hampir larut. Akibatnya, Ziah pun harus pulang larut malam. Sebab, dia dan teman-teman montir di bengkel tersebut. Terbiasa membersihkan dan merapikan bengkel itu terlebih dahulu sebelum ditinggalkan.
Saat akan mendekati motornya, Ziah mengaktifkan ponselnya terlebih dahulu. Karena tadi, pada saat jam kerjanya sedang berlangsung. Ziah mematikan ponselnya.
Sambil duduk di atas motornya, Ziah memeriksa pesan masuk pada ponselnya. Dan salah satunya dari sahabatnya, Tita.
* Isi pesan chatnya:
> Tita
"Assalamualaikum! Kamu dimana Zi'? Kenapa belum pulang?"
< Ziah
"Masih di bengkel. Tapi, udah mau jalan pulang kok."
Saat pesannya terbaca, tiba-tiba Tita mengalihkan pesan chatnya menjadi sebuah panggilan suara. Tanpa berpikir Ziah langsung menggeser tombol hijau yang tertera pada layar ponselnya.
"Zi! Nitip boleh?"
__ADS_1
Tanya Tita to the poin, saat panggilannya langsung tersambung.
"Iya, boleh. Mau nitip apa, Hem?"
"*Tolong mampir di penjual martabak telur ya...! Belikan martabak telurnya yang spesial satu porsi, Oke, Assalamualaikum!"
Tut...Tut*... Usai mengucapkan salam, Tita langsung memutus panggilannya.
"Heemm.... wa'alaikum salam!"
Ziah hanya bisa membuang nafas kasar. Mendapati sikap salah satu sahabatnya yang memang sudah biasa seperti itu. Walau salamnya tak lagi dapat didengar oleh sahabatnya itu. Namun, Ziah tetap membalasnya meski dengan sedikit lesu.
Kemudian, Ziah menyimpan ponselnya kedalam kantong tas khusus menyimpan ponsel. Yang memang selalu dia bawa kemanapun dia pergi.
Tak lupa, Ziah mengenakan helm di kepalanya, sebelum berkendara. Dia mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.
Karena harus membeli martabak telur terlebih dahulu. Ziah mengambil jalan lain dari jalan yang biasa dia lalui.
Setelah berkendara selama hampir 10 menit. Akhirnya, dari jarak kurang lebih 100 meter jauhnya. Tampaklah sebuah gerobak penjual di sisi kiri jalan.
Ziah sedikit melirik kedalam gerobak. Untuk memastikan, kalau benar itu penjual martabak telur dan bukan penjual gorengan.
"Alhamdulillah...benar, penjual martabak." batin Ziah bersyukur.
"Assalamu'alaikum Mas. Martabak spesialnya masih ada?" sapa Ziah sekaligus bertanya.
"Wa'alaikum Salam. Masih tinggal dua porsi lagi Mba'. Mau berapa?" balas tanya Mas penjual martabat telur itu.
"Oo... ya udah, dua-duanya itu aja Mas buatkan saya." jawab Ziah
"Oke. Sabar ya Mba, saya buatkan?!" ucap Mas tersebut lagi. Sambil tangannya mulai membuat adonan kulit martabaknya.
"Hemmm...." jawab Ziah dengan sedikit anggukan kepala.
__ADS_1
Sambil menunggu martabaknya siap. Ziah mengisi waktunya dengan membaca novel toon pada ponselnya. Hingga tak terasa waktu pun berlalu. Martabak pesanannya pun sudah siap.
"Ini Mba', martabaknya sudah siap" ucap Mas penjual tersebut.
"Oh...iya, ini uangnya! Terima kasih ya Mas?!" ucap Ziah dengan tersenyum.
Sambil tangan kirinya menyambut bungkusan berisi martabak telur pesanannya dari tangan Mas penjual tersebut. Kemudian, memberikan uang pas untuk membayarnya.
Setelah menggantung bungkusan martabaknya pada gantungan bagasi depan motornya. Ziah menyimpan kembali ponselnya di tas jinjingnya. Lalu kembali melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke kontrakan.
Namun, di pertigaan jalan yang sepi. Saat Ziah akan berbelok ke arah kiri. Tiba-tiba seorang wanita berlari dari arah depan dan hampir tertabrak oleh motor Ziah. Dengan sigap Ziah mengerem motornya mendadak.
'chiiit...!' bunyi ban motor Ziah beradu dengan aspal jalan.
"Hei!!! Apa-apaan sih kamu? Mau..." bentak Ziah terpotong.
"Tolong, tolongin saya Mba'?! Ada yang mau memperkosa saya. Hiks...hiks..." tutur wanita itu sambil menangis dan terus melihat ke arah belakangnya.
Wajah wanita itu tampak pucat. Rambut sebahunya terlihat berantakan. Sebelah lengan baju kaosnya sudah hilang entah kemana? Dan rok jeans mininya juga terlihat sobek sana-sini. Belum sempat Ziah bertanya.
"Itu mereka Mba'! Hiks...hiks... Tolong bawa kabur saya dari sini Mba'?! Saya takut. Hiks...hiks..." ucap wanita itu sambil menunjuk ke arah dua orang pria. Yang tampak sedang berlari ke arah mereka.
Ziah sedikit mendorong motornya ke tepi jalan. Kemudian menurunkan standar motornya. Masih mengenakan helmnya, Ziah turun dan ingin mendekati kedua pria itu. Namun, wanita yang meminta pertolongannya itu langsung menahan lengannya.
"Kau mau apa Mba'?" tanya wanita itu dengan kebingungan dan rasa takut yang semakin bertambah.
Ziah memegang tangan wanita itu yang mencoba menahan lengannya. Dengan tenang dan memperlihatkan senyum manisnya. Ziah menenangkan wanita itu dan berucap : "Tidak apa-apa. Kau bisa tunggu aku di samping motorku. Oke!!
Meski masih dengan perasaan takut yang besar. Mendengar itu, wanita itu hanya bisa pasrah. Dan melakukan apa yang diperintahkan Ziah. Yaitu menunggunya di samping motor.
"Siapa kamu hah?!! Buat apa kamu ikut campur urusan kami? Apa kau juga ingin bermain-main dengan kami, cantik?!" tanya salah satu pria dengan senyum nakalnya. Dan matanya yang memandang liar kearah tubuh Ziah.
"Aku bukan siapa-siapa. Hanya saja... Nona ini hampir tertabrak motorku tadi. Dan dia juga meminta pertolongan dariku. Otomatis, mendengar seseorang yang meminta pertolongan. Aku akan berusaha menolongnya sebisaku."
__ADS_1
"Eeemm... Ngomong-ngomong, mendengar kata bermain-main. Aku jadi penasaran... permainan seperti apa yang ingin kalian mainkan denganku, Hem...?!" ujar Ziah panjang kali lebar dengan santai dan tanpa ada raut ketakutan dari wajahnya. Saat berhadapan dengan kedua pria dengan postur tubuh yang dua kali lebih besar dari tubuhnya.