Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Panggilan Sayangku


__ADS_3

"Tangkap mereka semua dan bawa ke mobil!" titah Kepala Polisi kepada anak buahnya.


Setelah para begal itu berhasil diamankan oleh anak buahnya. Kepala polisi yang bertuliskan nama Rully di kemejanya itu menghampiri Naziah.


"Bagaimana keadaanmu Nona? Apakah anda terluka parah atau semacamnya?" tanya Kepala Polisi Rully ramah.


"Tidak. Aku tidak apa-apa Pak. Jika tadi Anda tidak datang tepat waktu. Mungkin saja, aku terkena luka tembak oleh begal itu. Untuk itu, terimakasih sudah menyelamatkan ku, Pak?!! Ssst...."


Jawab Naziah tak kalah ramah sambil tersenyum dan sedikit meringis karena sudut bibirnya yang terluka. Kemudian mengulurkan tangannya kearah Polisi Rully sebagai tanda terimakasih.


Sedangkan Rendi yang datang bersama Kepala polisi Rully itu. Langsung menghampiri ibunya yaitu Dokter Karina yang tampak syok. Akibat insiden yang menimpanya barusan.


Rendi melewati Naziah yang masih setia berdiri ditempatnya. Dan sedang melayani pertanyaan dari Kepala polisi Rully. Karena posisi Naziah yang berdiri membelakanginya. Sehingga, membuat Rendi tak mengetahui jika itu adalah dia.


"Bunda...! Kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka Hem...?" tanya Rendi mencerca Dokter Karina. Sambil memeriksa kondisi tubuh ibunya.


Mendengar cercaan pertanyaan dari putranya seperti itu. Dokter Karina yang tadi terlihat syok langsung tersadar. Namun, bukannya menjawab pertanyaan Rendi barusan. Dokter Karina malah meninggalkan Rendi. Dan berlari menghampiri Naziah yang sedang berbicara bersama Polisi Rully.


"Ziah...! Kau tidak terluka kan Nak?!!!" tanya Dokter Karina khawatir. Sambil membolak-balik tubuh Naziah.


Mendapat perlakuan seperti itu, Naziah hanya tersenyum geli. Dan memegang kedua tangan Dokter Karina.


"Bunda... aku tidak apa-apa. Bunda sendiri bagaimana? Begal tadi, tidak melukai Bunda kan?" jawab Naziah dan balik mengkhawatirkan keadaan Dokter Karina.


"Kau bilang, kau tidak apa-apa. Tapi ini apa? Bibirmu terluka dan ini... pipimu juga memar Nak...!" ucap Dokter Karina.


Melihat luka memar di pipi dan sobek diujung bibir Naziah. Bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan Naziah. Dokter Karina malah memarahi Naziah. Karena telah jelas-jelas berbohong.


"Ini hanya luka kecil Bunda. Pastinya... besok lusa juga sudah akan sembuh. Tidak perlu khawatir seperti itu...!" jawab Naziah santai dengan nada lemah lembut.


"Baiklah. Bunda akan menurut untuk saat ini. Tetapi, tidak saat sampai di rumah." ucap Dokter Karina mengalah.

__ADS_1


Setelah beberapa saat terpaku ditempatnya. Barulah Rendi menyusul Ibunya yang menghampiri Naziah. Dia mulai melangkahkan kakinya dengan pelan dan pasti. Hingga mendekati posisi dimana ibunya dan Naziah berdiri saat ini.


"Ya Allah... apakah dia benar Naziah, calon istriku?! Aku sungguh tidak mengira, jika yang melawan kelima orang begal tadi. Dan menyelamatkan ibuku, ternyata calon istri kecilku." batin Rendi berkata sambil terus melangkahkan kakinya.


Melihat kedatangan Rendi, Polisi Rully berkata. "Pak Rendi, tugasku sudah selesai. Terimakasih sudah membantu kami membekuk para begal yang telah lama meresahkan masyarakat itu. Untuk itu, saya permisi dan selamat malam!"


Perhatian Rendi pada Naziah sedikit teralihkan oleh ucapan polisi Rully itu.


"Iya, terimakasih kembali Pak. Kami juga senang bisa membantu. Selamat malam." jawab Rendi dengan senyum ramah.


Setelah kepergian Polisi Rully dan semua anggotanya. Yang membawa serta kelima orang begal tersebut. Baru kemudian Rendi kembali memusatkan perhatiannya ke Naziah.


"Zi', kenapa bisa kau ada disini bersama Bunda? Dan kenapa kau melawan begal-begal itu Zi'? Kau tahu... jika tadi Polisi Rully tak segera melepaskan timah panahnya kearah salah satu begal tersebut. Mungkin kau...." cerca Rendi pada Naziah dan tak sanggup meneruskan kata-katanya lagi.


"Sudahlah, ini sudah hampir larut malam. Aku harus mengganti ban mobil Bunda terlebih dahulu. Setelah itu, baru kita pulang oke?!!" ucap Naziah mengalihkan pembicaraannya.


Naziah sengaja melakukan itu, karena jika sampai dia melayani pertanyaan-pertanyaan dari Rendi tersebut. Mereka akan kemalaman di sana nantinya.


Usai mengatakan itu, Naziah memungut rantai motor yang tadi ia gunakan untuk melawan para begal bersenjata tadi. Kemudian melangkah pergi begitu saja meninggalkan Dokter Karina dan Rendi.


"Mau ke sana mengambil mobilku. Sebab, ban serep untuk menggantikan ban mobil Bunda yang pecah itu ada didalam mobil itu. Ren'...!" jawab Naziah dengan nada santai dan sedikit berteriak sambil terus melangkah pergi.


Rendi hanya bisa membuang nafas beratnya. Sedang Dokter Karina menggeleng-gelengkan kepalanya. Melihat tingkah laku Naziah yang seperti itu.


Usai menjemput mobil pickup yang ia tinggalkan sebelumnya. Dan memarkirnya tepat dibelakang mobil milik Dokter Karina. Setelahnya, Naziah langsung menggantikan ban mobil yang pecah itu dengan ban serep yang telah ia bawah.


Sementara Rendi, tidak tinggal diam melihat kekasih hatinya itu. Iapun turut membantu Naziah dalam menggantikan ban mobil milik Dokter Karina tersebut.


"Kau kesini tadi naik apa Ren'?" tanya Naziah.


"Dari rumah, aku naik motor Aldi. Karena mengingat Bunda yang menyetir mobil sendiri. Dan kemungkinan ia tidak akan mampu menyetir lagi. Jika dalam keadaan syok akibat peristiwa ini. Jadi, aku putuskan ikut mobil para polisi tadi. Dan akan mengambil motor Aldi besok pagi saja." jawab Rendi sambil terus mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh Naziah. Malah ialah yang mengerjakannya.

__ADS_1


Sementara Naziah dan Rendi menggantikan ban mobilnya. Sambil menunggu mobilnya siap. Dokter Karina menghubungi suaminya yang berada jauh di pulau Jawa sana. Untuk menceritakan semua peristiwa yang baru saja terjadi.


"Oke, sudah selesai sayang. Ayo kita bereskan alat-alatnya!" ucap Rendi lembut.


"Em... oke." jawab Naziah.


Mendengar kata sayang yang baru saja dilontarkan Rendi. Naziah hanya tersenyum kecil sambil mengumpulkan peralatan yang baru saja mereka gunakan.


Dan sepintas, Rendi melihat senyuman Naziah itu. Kemudian dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya ke telinga Naziah.


"Apa kau senang jika aku memanggilmu seperti itu?" tanya Rendi sedikit berbisik.


"Hah...!!! Biasa aja." ucap Naziah terkejut dan spontan menjauhkan wajahnya.


"Katakan dengan jujur. Jika iya, maka aku akan terus memanggilmu seperti itu. Dan kau juga harus memanggilku dengan panggilan sayang. Terserah mau panggilan sayang seperti apa? Aku pasti akan menerimanya." ucap Rendi lagi.


"Hem...nggak usah lebay deh Ren'. Karena, kita nggak perlu harus saling memanggil dengan panggilan seperti itu. Untuk supaya dibilang saling menyayangi satu sama lain. Sebab, rasa sayang seseorang itu tidak akan cukup hanya dengan terdengarnya panggilan sayang yang ia ucapkan. Tapi bagiku, rasa sayang itu harus dibuktikan dengan tindakan. Bukan hanya dengan panggilannya saja." jawab Naziah menjelaskan.


"Oke, baiklah. Jika seperti itu, aku akan membuktikan semua rasa sayangku ini dengan tindakan dan panggilan sayang juga." ucap Rendi


"Terserah padamu. Lagipula, kau tak menerima penolakan kan?!" ujar Naziah. "Karena mobil Bunda sudah siap. Ayo pulang?!" sambungnya.


"Ayo." jawab Rendi. "Oh iya, bagaimana dengan lukamu itu? Apa perlu dibawa ke rumah sakit sayang?" tanyanya.


"Tidak perlu. Ini cuma luka kecil. Setelah sampai di rumah akan aku obati sendiri. Pulanglah...!!! Bunda pasti sudah butuh istirahat." jawab Naziah.


"Iya, aku tahu. Tetapi ngomong-ngomong, apa kau mengusirku?" tanya Rendi datar.


"Tidak, bukan seperti itu." jawab Naziah.


"Iya-iya aku mengerti. Tapi seharusnya, aku yang berkata seperti itu padamu. Pulanglah dan istirahat!!! Dan jangan lupa untuk mengobati lukamu itu. Kami pergi dulu. Jaga dirimu dan hati-hati di jalan! Assalamu'alaikum Sayang...!" ucap Rendi penuh perhatian. Sambil memperlihatkan senyum memukaunya.

__ADS_1


"Iya. Sampaikan salam ku sama Bunda ya...?! Sepertinya dia sudah tertidur. Kau juga hati-hati! Wa'alaikum salam." balas Naziah.


Dan mereka pun meninggalkan tempat itu dengan mengendarai mobil masing-masing.


__ADS_2