
"Sepertinya belum, Bu. Rega masih mencari kapan waktu yang tepat untuk mengungkap perasaannya itu. Dan aku hanya mengikuti rencananya saja." jawab Devan
Saat Devan dan keluarganya sedang asyik membicarakannya. Didalam ruangan, Naziah sudah selesai mendonorkan darahnya. Dan bersiap untuk keluar dari ruangan instalasi gawat darurat itu.
Sementara itu, operasi pada luka sobek yang ada di bagian punggung bawah Rega pun hampir selesai.
Setelah menunggu, total hampir tiga jam lamanya. Akhirnya, lampu yang terdapat di atas pintu ruangan IGD itu, padam juga. Dan menandakan, kalau tindakan operasinya telah selesai. Dua orang dokter yang terdiri dari dokter bedah dan dokter anastesi keluar dari ruangan tersebut. Dan disusul pula oleh Naziah di belakang para dokter itu. Sementara dua perawat yang terdiri dari perawat bedah dan perawat anastesi masih berada didalam. Untuk membersihkan alat-alat bekas operasi pada Rega tadi.
Seiring padamnya lampu dan terbuka pintu ruang operasi itu. Devan dan keluarganya langsung beranjak dari duduknya. Mereka kompak mendekati para dokter itu.
"Bagaimana keadaan keponakanku, Dokter? Apa dia baik-baik saja? Apa lukanya tidak parah?" tanya Nyonya Devi mencerca kedua dokter itu dengan wajah khawatir.
"Sayang...!!! Bertanyanya satu-satu dong...!" tegur Rully pada sang istri. Karena melihat raut wajah bingung yang ditampilkan oleh kedua dokter itu. Akibat beberapa pertanyaan yang dilontarkan istrinya barusan.
Namun, karena sudah terbiasa mendapati hal yang demikian dari beberapa keluarga pasien-pasien mereka sebelumnya. Para dokter itu kemudian tersenyum ramah terlebih dahulu. Sebelum akhirnya menjawab satu persatu pertanyaan dari Nyonya Devi itu.
"Alhamdulillah, pasien sudah berhasil melewati masa kritisnya. Dan sebentar lagi, para perawat akan memindahkannya ke ruang perawatan. Setelah itu, baru kalian boleh melihatnya. Karena setelah reaksi obat biusnya habis, maka pasien akan segera sadar, nantinya. Dan mengenai seberapa parahnya luka tusuk yang dialami pasien. Cukup parah. Sebab, benda yang ditusukkan ke tubuhnya itu langsung dicabut begitu saja. Sehingga mengakibatkan pendarahan hebat pada lukanya. Beruntung, Nona ini memiliki golongan darah yang sama dan mau mendonorkan darahnya untuk pasien. Terimakasih, Nona?!" jawab Salah satu dokter mewakili tamannya. Dan berterima kasih pada Naziah atas bantuannya menolong nyawa pasien mereka. "Kalau begitu, kami permisi dulu Tuan-tuan dan Nyonya?! Kami akan beristirahat sejenak." lanjut dokter itu lagi berpamitan.
Naziah hanya mengangguk untuk menjawab ucapan terimakasih dari Dokter tersebut sambil tersenyum ramah.
"Iya. Terimakasih, Dokter. Silahkan dan selamat beristirahat?!!" jawab ibu Devan mewakili semuanya. Sambil tersenyum bahagia setelah mendengar kabar baik dari para dokter tersebut.
****
Beberapa saat setelah dipindahkan dari ruang operasi ke salah satu ruang perawatan VVIP di rumah sakit itu.
__ADS_1
Kini Rega sudah diperbolehkan untuk dijenguk oleh keluarganya, karena diapun telah sadar.
"Assalamu'alaikum Ayah, Assalamu'alaikum Ibu! Apa kalian sangat mengkhawatirkan diriku? Hingga kalian bela-belain untuk datang kemari." ucap Rega santai dengan wajah datarnya yang masih tampak sedikit pucat. Setelah melihat paman dan bibinya itu muncul dari balik pintu ruang rawatnya.
"Wa'alaikumsalam. Tentu saja, kami sangat khawatir padamu. Dasar anak nakal!!!" jawab Nyonya Devi setengah kesal atas sindiran halus keponakannya itu dan mengumpatinya.
Sambil melangkah mendekati brankar Rega. Kemudian, dengan secara tiba-tiba mengetuk kepala keponakannya itu sebagai ungkapan kekesalannya tersebut.
"Aauhhh... sakit Bu!!!" ucap Rega pura-pura mengaduh kesakitan. Sambil mengusap-usap bagian kepalanya yang diketuk oleh Nyonya Devi. Dengan bibirnya yang sedikit menyunggingkan senyum simpul.
"Makanya, kau jangan suka asal bicara." ucap Nyonya Devi cuek tanpa merasa bersalah.
"Memangnya... siapa lagi yang akan mengkhawatirkan dirimu selain kami? Hem...?!" ucap Tuan Rully, balas mencibir dengan pertanyaan yang aambigu.
Rega hanya mendelik dan tersenyum devil kearah pamannya itu untuk menjawab cibir yang ditujukkan langsung padanya itu.
"Tindakan seperti itu, termasuk bentuk kekhawatiran kan Bu?" tanya Devan pula pada sang ibu. Dan ibunya menjawab dengan anggukan kepala pasti.
Sementara Rega, mendengar jawaban Devan tentang Naziah yang menungguinya dan mendonorkan darahnya, untuknya. Reflek membulatkan matanya menatap tajam wajah Devan. Seperti mencari kebenaran atas penuturan tersebut.
"Sikap seperti itu, memang bisa diartikan seperti itu. Tapi, kita juga harus melihat alasan apa yang mendasari sikap dan tindakan orang itu melakukannya. Bukan begitu, Ferry?!!" ucap Tuan Rully ikut mencari teman yang sependapat dengannya dalam hal tersebut.
Dan Ferry yang sejak tadi diam dan tidak ingin ikut bergabung dengan perdebatan antara adik, ibu dan ayahnya itu. Mau tak mau, hanya mengangguk saja demi menanggapi pendapat ayahnya yang memang sangat masuk akal.
Tahu arti dan makna dari tatapan Rega yang tajam dan tertuju padanya itu. Devan pun langsung mengkonfirmasi semuanya.
__ADS_1
"Iya, Kak Rega. Sejak kau masuk kedalam ruang IGD tadi. Nona Naziah, bla...bla...bla..."
Devan pun menceritakan semua yang terjadi dan yang dilakukan Naziah atas diri Rega. Hingga Rega bisa melewati masa kritisnya dan sadar seperti saat ini. Serta selamat dari maut yang hampir merenggut nyawanya. Devan menceritakan semuanya dengan detail. Tanpa ada yang dikurangi atau dilebih-lebihkannya.
"Terus... Kemana dia sekarang? Kenapa tidak ikut masuk kemari?" tanya Rega datar, namun dengan tatapan mengintimidasi.
"Maafkan saya, Kak?! Karena mendengar, kau sudah sadar dan baik-baik saja. Nona Naziah langsung memutuskan untuk pulang. Saat aku kembali menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Dia tetap menolak dan ingin pulang sendiri saja. Dan dia hanya berkata, kalau dia akan datang untuk menjenguk mu, besok saja." jawab Devan setelah sebelumnya meminta maaf, karena tak bisa menahan Naziah, tadi.
"Mungkin, dia hanya ingin memberi privasi kepada kami untuk menjengukmu terlebih dahulu, sayang. Jadi, biarkan saja dulu dia beristirahat. Dia kan juga baru selesai mendonorkan darahnya untukmu." timpal Nyonya Devi memberi penjelasan dan pengertian pada Rega. "Aku suka pada gadis pengertian sepertinya. Meski baru pertama kali bertemu dan mengenalnya. Aku langsung menyukai gadis itu. Dia sangat ramah, lemah lembut dalam bertutur kata dan .... cantik, tentunya. Jadi, kapan kau akan menjadikannya pacarmu?" lanjut Nyonya Devi bertanya to the poin.
Mendapat pertanyaan seperti itu dari Tante yang sudah seperti ibu kandungnya itu. Rega kembali menatap tajam wajah adik sepupunya, Devan. Dan dari tatapannya itu seperti mengatakan, "Pasti kau kan... yang mengungkapkan semuanya?"
Devan yang ditatap sedemikian rupa. Hanya pura-pura membuang pandangannya kearah lain. Agar tak melihat tatapan tajam Rega yang lagi-lagi tertuju padanya itu.
"Em... nanti saja, Bu. Tunggu waktu yang tepat. Aku masih dalam tahap pendekatan terlebih dahulu, dengannya. Jika aku tiba-tiba mengatakan cinta padanya. Itu sangat tidak masuk akal. Dan dia, mungkin tidak akan percaya dan bahkan akan menolakku mentah-mentah. Sebab, dia punya pengalaman pahit tentang cinta, Bu. Atau biasa disebut pernah patah hati." terang Rega jujur apa adanya.
"Benarkah???" ucap Nyonya Devi ragu dan bingung. "Memangnya, kau tahu darimana kalau gadis itu pernah patah hati?" tanyanya lagi karena penasaran.
"Ibu, aku sudah belajar dari Kak Ferry dalam menilai dan melihat wanita yang baik dan cocok untuk dijadikan pendamping hidupku, nantinya. Jadi, sebelum aku memilihnya. Aku harus mengenalnya lebih dalam. Bukankah begitu, Ayah?" jawab Rega
Sambil melihat kearah Ferry yang langsung dibalas dengan senyuman bangga olehnya. Dan meminta pula pendapat Tuan Rully.
"Betul sekali, Nak. Ternyata, sekarang kau benar-benar sudah rupanya. Sudah sangat tahu mana yang baik dan mana yang buruk untukmu. Tapi ingatlah pada suatu pepatah yang mengatakan, jodohmu adalah cerminan dirimu. Maka, jika kau ingin yang baik atau bahkan yang terbaik untukmu. Perbaikilah dulu dirimu sendiri. Kemudian berdoa pada Tuhan untuk meminta agar diberikan jodoh yang seperti dirimu atau lebih baik dari dirimu. Oke?!!" ucap Tuan Rully penuh kata-kata bijak.
Rega pun mengangguk patuh dan menjawab sambil tersenyum bahagia. Karena diberikan keluarga yang begitu menyayanginya. Dan juga orang tua pengganti yang begitu bijaksana dan mengayomi.
__ADS_1
Dan akhirnya, malam itupun berlalu dengan obrolan-obrolan ringan antara Rega dan keluarganya itu. Meski ia baru saja menjalani operasi. Tapi, itu tak lantas membuat fisiknya lemah. Apalagi, jika hanya untuk berbicara banyak dengan keluarganya yang sekali-kali seperti itu dapat berkumpul lagi.
Beruntung, luka sobek yang dialaminya tak mengenai area vitalnya. Sehingga, ia hanya butuh penyembuhan atas luka sobek pada tubuhnya itu saja. Setelahnya, ia akan kembali ke kondisinya seperti biasa. Meski, terdapat bekas luka yang akan tercetak jelas di bagian bawah punggungnya.