Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Posesif


__ADS_3

Setelah makanan mereka habis dan tak bersisa. Naziah segera merapikan kembali meja makannya. Kemudian membawa bekas piring makan mereka ke wastafel dan langsung mencucinya. Meninggalkan Rega yang memilih menunggu istrinya dengan menyibukkan diri bermain dengan ponselnya.


Sementara itu, karena waktu telah menunjukan jam 11.45 malam. Permainan musik dari grup band yang tadi mengiringi acara resepsi saat itu, mulai berhenti. Sebab, memang kontrak yang disepakati hanya sampai tengah malam. Dan seiring berhentinya musik penggiring itu. Para orang-orang yang masih bertahan di sana pun membubarkan diri mereka. Untuk kembali ke rumah masing-masing. Meninggalkan para panitia pesta yang mulai membereskan kembali segala perlengkapan yang digunakan saat acara tadi. Dan juga para pemain musik yang sibuk membereskan alat musik mereka untuk dibawa pulang malam itu juga.


Usai mencuci piring, Naziah langsung berpamitan. Pada Mama dan para tante-tantenya yang masih setia mengobrol diruang dapur yang cukup luas itu. Untuk lebih dulu masuk kamar dan ingin beristirahat. Dan setelah mendapat izin, Naziah pun beranjak pergi.


Namun, saat ia akan melewati ruang makan. Dia bingung saat melihat, ternyata sang suaminya itu masih setia duduk di kursi meja makan itu.


"Mas...! Kok masih di sana? Kenapa nggak masuk ke kamar duluan?" tanya Naziah, bingung.


"Aku nungguin kamu. Udah selesai beberesnya?" jawab Rega santai dan balik bertanya. Sambil beranjak dari duduknya.


"Em" jawab Naziah sambil mengangguk.


"Ya udah, ayo kita masuk sama-sama!" ajak Rega. Dan kembali merangkul pundak Naziah seperti saat mereka datang ke sana tadi.


"Wah... yang pengantin baru! Kemana-mana selalu bersama, bahkan didalam rumah pun masih di pepet'in terus ya, Mas. Takut Ziah-nya diculik orang kah?" goda Tita pada Rega.

__ADS_1


Karena, ruang tamu rumah Mama Adel itu langsung terhubung dengan ruang keluarga. Yang mana pembatasnya langsung bersisian dengan pintu kamar Naziah. Jadi, Tita yang saat itu sedang melepas segala bunga-bunga plastik yang melekat pada kain didinding antara kamar Naziah dan ruang tamu itu. Dalam rangka membantu para asisten MUA yang hanya dua orang itu. Untuk membereskan kembali berbagai peralatan dan perlengkapan mereka. Yang telah dipergunakan untuk segala acara pernikahan Naziah dan Rega dari pagi hingga malam tadi itu.


Tak sengaja melihat tingkah posesif Rega pada Naziah. Dengan terus merangkul mesra pundak dari sahabat itu. Yang sejak pagi tadi itu, resmi dan berhasil diperistrinya pagi tadi itu.


"Ya... itu memang harus Mas Rega-nya lakukan, 'Ta. Karena kalau tidak seperti itu. Bisa-bisa nanti malam, sahabat kita itu menghilang dari sisi Mas Rega. Lihat saja raut wajah dari sahabat kita itu. Dia seperti sedang menyusun rencana terselubung saat ini dibenaknya. Iya 'kan Zi?!"


Bukannya Rega menjawab godaan dari Tita, salah sahabat dari istrinya itu. Malah... Ulfi, salah satu sahabat istrinya yang lain. Yang menimpali dan ikut menggoda istrinya itu.


Mendengar ucapan yang mengada-ada dari Ulfi tentang isi hati dan pikirannya saat itu. Membuat Naziah spontan melebarkan matanya, melototi Ulfi.


"Benarkah begitu, Sayang? Memangnya kenapa kau harus punya niat menghilang dari sisiku, Hem?!" tanya Rega, sambil menatap dalam wajah Naziah. Yang sibuk melototi kedua sahabatnya itu.


"Nih! Kita lagi bantuin Mba' Astrid dan Mba' Rahma buat beres-beres. Kasian mereka, cuma berdua aja buat membereskan semuanya ini. Dari luar sana sampai didalam sini." jawab Ulfi.


"Iya. Karena kita belum terlalu capek dan juga belum mengantuk. Kami putuskan untuk membantu mereka saja. Dede sama Ade dan juga teman-teman mereka yang lain kami tugaskan bantu beberes di luar sana." timpal Tita, sambil tangannya terus sibuk bergerak ke sana kemari. Dan Sekilas menunjukkan dengan matanya kearah Elvira dan Lastri yang membantu mereka diluar sana.


__ADS_1


"Oh...begitu. Ya sudah, aku bantu disini juga ya!" ucap Naziah



"Eh... nggak usah, Mba' Naziah! Mba' Naziah istirahat saja. Biar Mba' Ulfi, Mba' Tita sama yang lainnya saja yang bantu kami. Aku sama Rahma nggak enak sama Tuan Rega. Mungkin beliau sudah ingin beristirahat saat ini dan ditemani Mba' Naziah. Jadi, Mba' Naziah sama Tuan Rega, Silahkan masuk kamar saja, Mba'...!" tolak Astrid lembut, mewakili temannya. Merasa sungkan pada kedua pengantin baru itu.



"Tidak apa-apa, Astrid. Biar pekerjaan kalian cepat kelar dan kita bisa cepat istirahat sama-sama nantinya. Lagipula, Mas Rega juga belum ngantuk 'kan?" jawab Naziah dan langsung beralih bertanya pada Rega. "Mas duduk aja dulu di situ. Biar aku bantu mereka dulu, ya...!" lanjut Naziah lagi, sedikit memberi perintah pada suaminya itu.


Dan Rega sedikit bergumam serta mengangguk pelan kearah kedua asisten itu, meyakinkan. Bahwa dia belum ingin beristirahat saat itu. Dan akan siap menunggui istrinya itu.


Setelahnya, Rega pun menuruti perintah istrinya untuk duduk saja. Sebab, jika dia memaksa untuk membantu. Maka luka pada bagian perutnya itu bisa saja akan berdarah lagi. Dan akan menyebabkan lukanya itu lama sembuhnya. Jadi, setelah ia berhasil mendudukkan dirinya disalah satu kursi bantal yang ada entah kapan sudah ada di sana.


Karena setahu Rega, sejak tadi pagi hingga selesai acara resepsi mereka tadi. Tidak ada satupun kursi yang ada di ruangan itu. Hanya beberapa karpet bulu yang digelar sana. Untuk tempat duduk para tamu tetua adat yang datang tadi. Namun, ia tak ambil pusing akan hal itu. Sambil menunggu istrinya yang ikut membantu para sahabat dan juga kedua asisten MUA itu.


Rega putuskan kembali menyibukkan diri dengan ponsel genggamnya itu. Dan mulai memeriksa beberapa email yang masuk di sana. Setelah tadi ia sempat meminta pada Devan saat masih ruang makan. Untuk mengirimkannya semua laporan yang memang perlu ia periksa saat itu. Biar tak menumpuk nanti saat dia sudah kembali masuk kantor. Dan dia juga tidak harus bengong serta seperti orang bodoh. Saat masih berada di lingkungan baru dan rumah mertuanya itu.

__ADS_1


Sedang Naziah, sudah ikut bergerak membantu para sahabatnya dan kedua asisten MUA itu. Dan mereka beberes sambil diselingi dengan canda tawa. Hingga semua perlengkapan dan peralatan tersebut sudah tertata rapi. Dan tinggal diangkut saja kedalam mobil. Dan ruang tamu rumah itu kembali seperti semula.


__ADS_2