Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Tergoda


__ADS_3

Detik berlalu berganti menjadi beberapa menit dan juga menjadi beberapa jam, kemudian. Setelah dirasa kondisi tubuhnya mulai sedikit fit. Dan dokter juga sudah mengizinkannya pulang. Serta jika Rega berkenan, bisa rawat jalan saja nantinya. Hingga bisa dipastikan luka tusuk yang dialami sudah sembuh dan hanya meninggalkan bekasnya saja.


Kini Rega sudah berada dikediaman Mama Adel bersama Naziah, sang istri. Sedang keluarganya yang lain kembali ke homestay.


Di sana, tepatnya, didalam kamar pribadi milik Naziah. Yang sementara ini berubah menjadi kamar pengantin bagi mereka berdua. Saat sampai, Naziah dan Rega harus langsung bersiap untuk acara resepsi pernikahan mereka selanjutnya. Yang memang telah diatur sejak awal akan dilaksanakan pada malam hari. Setelah acara akad nikah mereka pagi harinya.


Jadilah saat ini mereka sedang bersiap-siap. Didalam kamarnya, Naziah yang sudah selesai mandi lebih dulu. Dan langsung mengganti pakaiannya didalam kamar mandi, tadi. Kini sedang menunggu Rega yang bergantian dengannya mandi.


Jujur! Naziah merasa begitu canggung sekali, saat ini. Karena ini, pertama kalinya dia berada dalam satu ruangan tertutup dengan lawan jenisnya. Namun, ia berusaha untuk menutupi kecanggungan-nya itu. Dengan bersikap biasa-biasa saja dan menyibukkan dirinya seperti saat ini.


Sambil menunggu, dengan cekatan Naziah mempersiapkan segala perlengkapan untuk membalut luka Rega. Yang memang sudah dibekali oleh dokter padanya. Saat kepulangan mereka tadi dari rumah sakit.


Rencananya, setelah Rega selesai mandi. Naziah akan membantu Rega menggantikan perban pada lukanya. Karena di sana, tidak ada perawat ataupun suster. Apalagi seorang dokter! Jadi, sebagai seorang istri dialah yang akan membantu suaminya itu.


Beberapa saat menunggu, akhirnya Rega pun keluar dari kamar mandi. Dan dengan santainya ia melewati Naziah. Yang sedang duduk di pinggir ranjang, menunggunya. Dan sempat termangu beberapa detik menatap tubuhnya yang tampak seksi itu. Dengan hanya mengenakan handuk sebatas lutut untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Sedang bagian atas dibiarkannya terbuka begitu saja. Oh iya, ada juga yang sedikit tertutupi. Yaitu, pada bagian yang terdapat luka dan sejajar dengan pusarnya, itu terlilit perban.


Kulit Rega yang cenderung putih sangat kontras dengan handuknya yang berwarna coklat gelap. Dan yang bikin gagal fokus yaitu tubuhnya yang sixpack. Dengan perut kotak-kotaknya, dada bidang yang tampak sedikit berotot dan juga pundaknya yang cukup lebar. Membuat wanita mana saja akan nyaman bila bersandar di sana. Dan mendapat pelukan hangat darinya.


Author : "Uuhhh..., jadi traveling tingkat dewa deh! Hehehe...😄😄😄✌️"


Kembali ke laptop!!!


Sungguh! Pemandangan itu membuat Naziah langsung menelan ludahnya kasar dan salah tingkah. Beruntung, Naziah mampu menguasai diri dan segera sadar dari ke-termangu nya itu. Dan buru-buru menundukkan kepala demi menghindari pemandangan menggoda iman tersebut. Jika sampai Rega menyadari keterpesonaa nya Naziah atas tubuhnya itu. Naziah tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan pria itu padanya. Akan semakin menggodanya seperti cerita-cerita novel yang pernah dibacanya. Atau... entahlah?!!! Naziah malas memikirkan lebih lanjut.


"Nih orang! Apa dia nggak ngerasa kalau tubuhnya itu sangat menggodaku. Khem! Pengen aku belai terus ku cubit deh, tuh otot perutnya. Aku 'kan wanita normal. Dan sudah pasti akan tergoda dengan pemandangan indah seperti itu. Menggemaskan sekali deh. Ekhem!"

__ADS_1


Batin Naziah mengomel sekaligus gemes akan pria didekat itu. Yang merupakan suaminya sendiri sejak beberapa jam sebelumnya. Dan kemudian, ia berdehem demi menetralisir perasaannya yang sedang campur aduk itu.


Mendengar deheman Naziah itu. Seketika pula, Rega yang sedang mengenakan celana boxernya itu. Langsung meliriknya sebentar sambil tersenyum kecil. Namun, tetap meneruskan kegiatannya dalam mengenakan pakaiannya.


"Kalau sudah selesai berpakaiannya. Kesini ya Mas! Perban lukamu harus diganti karena sudah basah 'kan, Pastinya?! Setelah itu, baru kita keluar untuk makan. Sebelum nantinya, selesai sholat magrib para asisten MOA akan datang untuk meriasku." ucap Naziah akhirnya, setelah berhasil menguasai diri dan berusaha agar terlihat biasa-biasa saja.


"Iya, Sayang. Bentar! Aku harus pakai celana panjang ku dulu." jawab Rega dan tiba-tiba meringis sambil memegangi luka pada perutnya itu. Saat ia ingin menunduk untuk mengambil celananya yang masih ada didalam kopernya. "Sssst ....!"


Melihat Rega seperti kesakitan sambil memegangi lukanya itu. Spontan Naziah yang tadi setia menunggu ditepi ranjang langsung mendekatinya.


"Astagfirullahal'adzim! Mas kenapa? Lukanya terasa sakit lagi ya?" ucap dan tanya Naziah dengan khawatir. "Mas mau apa tadi? Biar aku bantu." sambungnya saat sudah didekat Rega.



"Mas mau ambil celana Mas didalam koper itu, Yang. Tapi sedikit lupa sama lukanya. Jadi, spontan aja langsung nunduk." jelas Rega, maksudnya tadi.



Setelahnya, Naziah membantu mengambilkan celana panjang yang dimaksud suaminya itu.


"Yang inikah, Mas?" tanya Naziah saat menemukan celana bahan panjang berwarna hitam. Dan menunjukan pada suaminya itu. Yang langsung diiyakan oleh suaminya itu.


Setelahnya, tak lupa Naziah menutup kembali koper milik suaminya itu. Dan dibawanya ke dekat lemari pakaiannya. Sebab tadi, hanya diletakkan begitu saja di dekat pintu kamarnya itu.


Selesai itu, Naziah mendekat dan langsung berjongkok didepan kaki Rega. Dan....

__ADS_1


"Sini Mas, biar aku bantu pakaikan sekalian. Biar Mas nggak perlu menunduk." ucap Naziah, sambil mulai memegangi pinggang celana itu dan diarahkan ke kaki Rega.



"Tapi, Sayang..." ucap Rega yang berniat menolak. Tapi, Naziah tak ingin mendengar penolakannya.



"Sudah. Jangan menolak! Nanti lukanya semakin berdarah lagi, Mas. Itu saja sudah mulai berdarah sedikit. Ayok!" ucap Naziah, sambil melirik luka Rega yang memang benar mulai berdarah lagi.


Akhirnya, tanpa banyak berkata lagi, Rega menurut saja. Namun, saat celana itu sudah terpasang kancingnya. Dan tinggal menaikkan kepala resletingnya saja. Naziah langsung mundur dan berucap ;


"Resletingnya, Mas bisa naikin sendiri kan?!"


Mendengar itu, sejenak Rega menatapnya bingung. Namun setelahnya, dia mengerti juga. Dan seketika itu bibirnya menyunggingkan senyum menggoda.


"Oh, baiklah. Aku mengerti. Masih takut ya Sayang? Dipatok sama burung yang ada didalam, Hem?" goda Rega sambil menaikkan kepala resleting celananya itu.



"Ngomong apaan sih, Mas? Nggak jelas banget." elak Naziah, pura-pura tak mengerti. Padahal sesungguhnya, dia sangat mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya itu. "Sudah ah. Ayo cepat, aku ganti perbannya itu. Sebelum darahnya semakin deras keluarnya, nanti." sambungnya cepat, demi mengalihkan dari pembicaraan sensitif itu.



"Iya-iya, baiklah. Nih, lukanya! Tolong diobati dengan pelan dan hati-hati ya Sayang." ucap Rega dan mulai memasang badannya. Agar Naziah mudah mengganti perban pada lukanya itu.

__ADS_1


Dan seperti permintaan suaminya itu. Naziah benar-benar melakukannya dengan hati-hati. Meski dalam hatinya, sedang panas dingin saat tangan lentik dan lembutnya menyentuh kulit perut sixpack dari suaminya itu.


__ADS_2