
Sementara itu, masih ditempatnya semula. Yaitu didalam kamar dan di atas tempat tidur Ulfi dan Tita. Naziah mendengarkan hampir semua penjelasan yang diungkapkan oleh Rendi itu.
Anto sengaja menelfon Naziah secara diam-diam tanpa sepengetahuan Rendi. Dan tanpa perlu lagi dia repot-repot menjelaskan pada Naziah nanti. Semua penjelasan tersebut yang secara tak langsung dititipkan Rendi padanya dan harus disampaikan pada Naziah.
Dan tanggapan Naziah saat mendengar hampir semua penjelasan tersebut. Sungguh tak sesuai dengan yang diharapkan oleh Rendi.
Naziah tidak akan mudah percaya hanya dengan penjelasan seperti itu. Dia justru memiliki persepsi sendiri dan otak cerdasnya terus membandingkan serta mengaitkan masalah yang ada di video dengan penjelasan sepihak dari tunangannya itu.
"Kau mungkin mengatakan semua masalah yang terjadi antara kau dan wanita itu telah selesai. Tapi, bagaimana kalau wanita itu hamil?! Aku sangat yakin, jika hatiku ini tidak pernah salah. Kau pasti sudah melakukan hal terlarang itu dengan wanita itu. Dan kau membungkam mulut wanita itu dengan uangmu. Itu pasti!!! Awalnya, aku pikir semua itu hanya ada di cerita-cerita novel yang pernah aku baca. Ternyata, hal serupa juga terjadi di dunia nyata dan itupun terjadi padaku. Mirisnya kisah cintaku ini...! Baru saja ingin merasakan indahnya romansa percintaan. Eh... malah sudah patah hati di tengah jalan! Ya sudahlah... mungkin ini jalan cintaku. Semoga dengan semua masalah ini, Allah sedang menyiapkan cerita cinta yang lebih indah dan abadi untukku di masa depan. Aamiin...!!!" ucap Naziah membatin. Dengan penuh harapan dan doa untuk masa depannya.
Naziah menghapus dengan cepat sisa air mata yang masih tertinggal di matanya. Dan segera beranjak dari sana menuju kamarnya. Dia berniat membersihkan diri dan akan melaksanakan sholat Azhar.
Sementara di teras depan rumah itu. Rendi masih terus berbincang dengan Anto.
"In Syaa Allah, aku akan membantumu semampu ku. Untuk menjelaskan semuanya pada Ziah. Semoga dia mau mengerti dan tidak lagi mempermasalahkan video itu. Yang seperti katamu telah selesai. Pulanglah! Siapkan dirimu untuk nanti malam. Aku akan memberi kabar selanjutnya nanti. Oke." ucap Anto menanggapi permohonan Rendi itu.
"Aamiin, semoga saja. Oh iya, baiklah. Jangan lupa untuk berhasil mengajaknya ke rumahku nanti malam. Aku sangat mengharapkannya dan berharap banyak padamu. Aku masih harus melakukan sesuatu hal untuk acara kedua orang tua ku nanti malam. Aku pergi ya?!" ucap Rendi dan dengan berat hati beranjak dari duduknya.
"Assalamu'alaikum!" ucap Rendi pamit.
"Iya. Wa'alaikum salam. Hati-hati di jalan dan Jangan ngebut!!!" ucap Anto penuh peringatan.
__ADS_1
Dan Rendi hanya mengangguk lemah menanggapi peringatan untuknya itu. Kemudian masuk kedalam mobil dan pergi dari sana.
Anto masih memandangi mobil Rendi dari teras hingga bayangan mobil itu menghilang di balik gerbang lorong masuk rumah tersebut.
"Melihat wajahnya seperti itu, aku sangat kasihan padanya. Semoga Ziah mau memaafkannya dan melupakan semuanya. Kemudian melanjutkan kembali kisah cinta mereka sampai kejenjang pernikahan nanti. Aamiin...!" ucap Anto penuh harap.
"Heh...begitulah nasib seorang pria tampan dan kaya raya. Hidupnya akan penuh dengan pengganggu yang mengincar kedudukan dan hartanya. Terutama para wanita matre yang gila harta. Beruntunglah aku, lahir sebagai pria sederhana yang memiliki ketampanan yang jika di nilai dengan angka satu sampai sepuluh. Maka aku mendapat nilai depalan. Haha... Alhamdulillah!" gumam Anto berbicara pada dirinya sendiri. Sambil melangkah masuk kedalam rumah.
Baru saja Anto akan mengetuk pintu kamar milik Ulfi dan Tita. Karena berpikir Naziah masih di sana. Namun, mendengar pintu kamar milik Naziah terbuka. Ia pun spontan menoleh dan melihat Naziah keluar dari kamar itu.
"Eh Ziah, kukira kau masih didalam sini. Hehe... " ucap Anto kemudian cengengesan nggak jelas. "Ayo kita diskusi disitu?!!" lanjutnya mengajak Naziah mengobrol. Dan menunjuk dengan matanya sofa yang ada di ruang televisi.
"Hmm... baiklah." jawab Anto malas namun tetap mengikuti langkah sahabatnya itu.
Sesampainya di teras belakang, bukannya duduk. Naziah malah terus melangkah turun dan menuju ke kebun kecil mereka yang ada di sana. Anto menatapnya bingung dengan menautkan kedua keningnya.
"Loh... katanya di teras aja, kok ke sana sih?!!" tanya Anto.
"Kalau di situ, masih kedengaran orang lain. Mending disini, tidak ada yang dengar dan sambil membersihkan kebun kita ini 'kan." jawab Naziah santai. Sambil tangannya mulai mencabut-cabut rerumputan yang baru saja tumbuh disekitar tanaman cabe dan juga tomat di kebun itu.
"Heh!!! Ucapanmu itu selalu tidak bisa aku tolak Zi'. Dan mau tak mau aku harus pasrah menurutimu." ucap Anto lagi pasrah dan kembali mengikuti apa yang dilakukan Naziah.
__ADS_1
Anto mengambil duduk berjongkok tepat di samping Naziah.
"Bagaimana? Kau sudah mendengar semuanya tadi 'kan?" tanya Anto langsung ke intinya. Dan Naziah hanya mengangguk untuk menjawabnya.
"Jadi, apa pendapatmu tentang penjelasannya itu? Apa kau yakin mereka tidak benar melakukannya?" tanya Anto kembali. Dan Naziah hanya menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaannya.
"Iihhh... apaan sih Zi'. Ditanggapi apa ke' gitu?! Bukan cuma mengangguk dan menggeleng saja begitu. Kau membuatku kesal aja." ucap Anto kesal dan geram dengan tingkah sahabatnya itu.
Dan melampiaskan kekesalannya itu pada rerumputan yang ada didepannya. Anto mencabut mereka dengan gerakan cepat dan sangat kasar.
"Hatiku mengatakan tidak percaya begitu saja pada semua omongan Rendi, 'Nto. Dia mengatakan, kalau malam itu dia dalam keadaan tidak sadar. Yang itu artinya, dia bisa saja melakukannya. Namun saat dia terbangun tidak mengingatnya sama sekali. Itu bisa saja 'kan? Dan kalaupun di sana ada sisi tv-nya, mungkin dia sudah memerintahkan orang untuk menghapus semuanya. Seperti yang dia katakan, kalau masalah itu sudah dia selesaikan saat itu juga 'kan." ucap Naziah akhirnya menanggapi sahabatnya itu.
"Em... mungkin saja. Tapi... Rendi bilang, wanita itu sudah berjanji tidak akan menggangunya. Jadi, hubungan kalian in syaa Allah aman, Zi'. Apa lagi yang membuatmu ragu Hem...?" ucap Anto dan kembali bertanya. Karena melihat raut wajah sahabatnya yang tidak ada bahagia-bahagianya.
"Dia wanita yang terbiasa hidup di kota metropolitan. Dan aku lihat, wanita itu tipe wanita yang tidak mudah menyerah begitu saja. Dan sudah pasti dengan begitu, dia akan berusaha keras untuk mendapatkan apa saja yang dia inginkan. Dan dengan cara bersilat lidah didepan Rendi tentunya itu hanya salah satu hal yang sangat mudah untuk dilakukannya, 'kan??!" ucap Naziah mengungkapkan segala persepsinya saat itu.
Sementara Anto, hanya diam mendengarkan segala pernyataan sahabatnya itu. Dia bingung harus menanggapi seperti apa segala ungkapan isi pemikiran Naziah itu. Dan karena semua dikatakan Naziah itu cukup masuk akal untuknya.
"Bagaimana kalau wanita itu hamil? Kemudian meminta pertanggungjawaban Rendi nantinya. Dan saat itu, aku mungkin sudah berubah status menjadi istri Rendi. Apa kau tega melihat sahabatmu ini dipoligami?" ucap Naziah dengan nada yang mulai sedikit meninggi.
Sungguh!!! Pemikiran Naziah sudah sangat terlalu jauh ke depan. Dan dia tidak ingin salah mengambil jalan nantinya. Kemudian menyesal dikemudian hari. Itu penyesalan yang tiada guna.
__ADS_1