Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Ibu-ibu Berdaster


__ADS_3

"Assalamu'alaikum Ul'...?!" ucap Naziah dengan tersenyum sekilas. Sambil memeluk Ulfi sejenak sebagai salam jumpa mereka.


"Wa'alaikumsalam Ziah cantik...!" balas Ulfi dengan menyambut pula pelukan Naziah. "Wah... yang diantar sama pangeran tampannya! Seneng nggak?" goda dan tanya Ulfi selanjutnya.


"Jangan menggodaku Ul'...!!! Baru nyampe nih...!" ucap Naziah lembut namun datar. Sambil melangkahkan kakinya menaiki lantai teras.


Tanpa mengucap terimakasih ataupun mempersilahkan orang yang sudah mengantarnya. Naziah langsung masuk kedalam rumah kontrakannya.


"Zi'...!!! Tamunya kok nggak dipersilahkan masuk sih...!" teriak Anto sedikit keras, agar terdengar oleh Naziah.


Mendengar itu, akhirnya Naziah berbalik kembali. Dan mendapati Tita yang menyusulnya sambil menarik koper mininya.


"Ekh... nggak boleh diajak masuk rumah!!! Seperti perjanjian kita, cukup sampai teras aja." ucap Naziah sedikit ketus dan menekan setiap kata-katanya. Lalu mengambil alih koper miliknya dari tangan Tita.


Mendengar kata Perjanjian, sejenak Rendi dan Aldi saling pandang dengan kening berkerut dalam dan terangkat.


Mendapati wajah bingung tamu yang merupakan teman barunya itu. Anto segera mempersilahkan tamunya tersebut. Dan bermaksud menjelaskan semuanya nanti. Jika tamunya itu bertanya soal perjanjian yang dimaksud Naziah barusan.


"Ayo silahkan masuk Ren'...Aldi...! Kita ngobrol-ngobrol dulu." ajak Anto sambil tersenyum ramah.


Karena berdekatan, Anto sedikit menyenggol pundak Ulfi. Sambil berkata : "Ul', tolong buatkan kami minum ya?!!"


Ulfi sedikit tersentak mendapat senggolan dari Anto itu. Sebab sejak tadi, dia sedikit bengong. Karena bingung mendapati sikap ketus Naziah itu. Sementara, dia merasa tak punya salah sama sekali pada sahabatnya itu. Tadi dia hanya menggoda untuk membuka obrolan mereka. Yang baru saja bertemu setelah berpisah selama sehari semalam.


"Oh iya, kalian mau minum apa? Kopi, teh atau jus? Tapi, jusnya cuma ada jus alpukat, jeruk dan strawberry. Kalian mau yang mana?" tawar Ulfi. Setelah berhasil menetralisir kebingungannya tadi.


"Em...aku jus alpukat aja." jawab Rendi. Sambil menyamankan posisi duduknya di kursi besi yang tersedia di teras itu.


"Aku kopi aja Ul'!" jawab Aldi

__ADS_1


"Aku juga kopi ya Ul'...! Tadi pagi kan, aku belum ngopi." ucap Anto ikut memesan minuman untuknya.


"Iya. Baik tuan-tuan. Minuman pesanan kalian akan segera datang. Bersabar ya...??!" ucap lebay Ulfi sambil melangkah masuk kedalam rumah.


Sesampainya di dapur, dia kembali bingung. Karena mendapati Naziah yang seperti sedang mengocok adonan kue. Didalam sebuah loyang yang berdiameter kurang lebih lima belas centimeter saja.


"Eh, Neng cantik! Lagi ngapain di dapur?" sapa dan tanya Ulfi sambil mendekati Naziah.


"Lagi buat pancake." jawab Naziah santai dengan sedikit melirik sahabatnya itu. Dan tanpa menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengocok adonan.


"Kamu itu, baru juga keluar dari rumah sakit dan masih belum sehat bener. Udah banyak gerak...! Nanti kamu kecapean bagaimana? Sudah... biar aku saja yang melanjutkannya." ucap Ulfi.


Ulfi mengomeli Naziah bak seorang ibu yang memarahi anaknya. Sambil tangannya mulai mengambil panci kecil dan menuangkan air kedalamnya. Kemudian meletakan panci berisi air itu di atas kompor. Lalu menghidupkan kompornya. Untuk merebus air itu dan dibuatkan kopi.


Sedang Naziah tampak tak perduli dengan ocehan dari sahabatnya itu. Dia terus saja memanggang pancakenya.


"Kau lanjutkan saja tugasmu untuk membuat minuman. Biar aku selesaikan ini sendiri." sambung Naziah.


"Emang... pancakenya buat siapa Zi'?" tanya Ulfi kembali lembut.


"Buat tamu didepan. Nggak enakkan, kalau bawa minuman nggak sama kuenya???" jawab dan tanya Naziah sambil menatap Ulfi.


"Hehe...iya." jawab Ulfi sambil cengengesan. "Kau memang paling pengertian deh Zi'. Kebetulan, dari tadi aku lagi pengen yang gurih-gurih. Nanti, sisain ya Zi'??!!!" sambungnya membujuk Naziah.


"Hem... tadi aja, marah-marah. Sekarang, ambil hati." cibir Naziah


Mendengar cibiran yang memang jelas-jelas ditujukan padanya. Ulfi hanya nyengir kuda sambil mulai menyeduh minuman untuk para tamu mereka.


*

__ADS_1


Sementara itu, di teras rumah. Anto, Rendi dan Aldi sedang berbincang-bincang santai.


"Maaf ya, atas sikap Ziah tadi??!" ucap Anto merasa sungkan, karena telah membuat teman-teman barunya merasa tersinggung mungkin.


"Aku juga tidak menyangka, jika reaksi Ziah akan seperti itu. Sebenarnya, hampir selama empat tahun ini. Kami memang tidak pernah sekalipun mengajak tamu kami masuk kedalam rumah, kecuali di teras. Sebab itu adalah salah satu dari peraturan yang kami buat sejak awal tinggal di rumah ini. Dan peraturan itu belum dan insya Allah tidak pernah akan kami langgar. Sampai nanti kami menyelesaikan kuliah kami. Dan keluar dari rumah ini." jelas Anto panjang kali lebar.


"Tidak apa-apa, jika seperti itu ceritanya. Kami memakluminya." jawab Rendi yang sebelumnya saling pandang sejenak dengan Aldi.


"Tapi, kenapa bisa peraturannya seperti itu? Aneh...!!! Baru kali ini, aku mendengar dan menemukan ada peraturan yang dibuat seperti itu!" ucap Aldi menimpali.


"Aneh ya...??!" tanya balik Anto. Dan Aldi serta Rendi hanya mengangguk saja.


"Memang terdengar aneh. Tapi, itulah peraturan yang dibuat oleh Ziah. Dan saya pribadi pun yang menyetujuinya pertama kali. Sebab alasan yang dia utarakan, sangat masuk akal. Karena itulah, ruang tamu sampai area dapur dan juga teras belakang serta halaman belakang. Itu merupakan area privasi bagi kami berempat. Sedang untuk kamar masing-masing adalah area pribadi dari kami masing-masing." jelas Anto lagi.


"Kalau boleh tahu, memangnya... apa alasan Ziah membuat peraturan seperti itu?" giliran Rendi yang bertanya karena penasaran yang mulai melingkupi hatinya.


Sebelum menjawab pertanyaan dari Rendi itu. Anto menengok kearah dalam rumah terlebih dahulu. Demi memastikan, jika diantara ketiga sahabat wanitanya itu. Tidak ada yang akan mendengarnya memberitahukan teman barunya itu. Tentang alasan yang paling sensitif bagi mereka.


Setelah merasa aman, Anto sedikit membungkukkan badannya. Sambil mengajak Rendi dan Aldi untuk melakukan hal yang sama dengannya.


"Karena para gadis-gadis itu hanya akan dasteran layaknya ibu-ibu pada umumnya. Dan juga melepas hijab mereka. Terutama Ziah!!! Dia akan sangat malu dan marah, jika ada yang melihatnya dalam tampilan seperti itu. Kecuali aku, Mamanya dan kedua adik perempuannya." jawab Anto dengan sangat detail.


Rendi dan Aldi saling melempar pandangan. Sambil mengembalikan posisi badan mereka Yang sebelumnya membungkuk menjadi tegap kembali. Lalu tersenyum smirk bersamaan.


"Aku pikir, gadis sepertinya tidak akan peduli dengan penilaian orang tentang penampilannya. Ternyata di---" ucap Rendi tiba-tiba terpotong.


Karena melihat kemunculan Ulfi dengan Tita berbarengan dari dalam rumah. Kemudian disusul oleh Naziah dibelakang mereka.


Dengan Ulfi terlihat membawa nampan yang berisi minuman pesanan mereka. Dan Tita pun tampak membawa nampan yang berukuran cukup besar. Yang ternyata berisi piring-piring kecil dengan isi cemilan sebagai teman minum mereka dan para tamunya itu.

__ADS_1


__ADS_2