Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Dede dan Ade


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama dua jam lebih. Dari tempat mereka bertemu yang kedua kalinya dengan pria-pria aneh dan sombong menurut Ziah dan para sahabatnya itu.


Akhirnya, Ziah dan kedua sahabatnya itu mulai memasuki gerbang perbatasan Desa mereka dengan desa sebelumnya.


Ziah semakin memacu laju kecepatan motornya. Dia sudah tidak sabar untuk segera sampai dirumahnya. Karena sejak tadi, tubuhnya sudah gerah dan kepalanya terasa berdenyut-denyut seakan ingin meledak. Akibat menahan emosi yang meradang di dirinya sendiri. Karena bertemu dengan Rendi dan Aldi. Yang menurutnya adalah pria-pria aneh yang baru pertama kali ia temui.


Sampai-sampai, Ziah melupakan kedua sahabatnya. Yang terus berusaha untuk mengejar kecepatan motornya. Namun, saat melewati daerah perkotaan. Motor yang dikendarai oleh Ulfi dan sedang berboncengan dengan Tita. Tidak berani untuk menyalip mobil-mobil truk bermuatan pasir yang ada didepan mereka.


Sehingga, membuat mereka tertinggal sangat jauh dari motor yang dikendarai oleh Ziah. Yang sudah melaju dengan kencang dan menyalip setiap kendaraan yang ada didepannya. Dan membuat para pengendara yang tersalip berteriak mengumpat.


Ziah mengendarai motornya memasuki pekarangan rumahnya. Yang saat ini hanya dihuni Ibu dan kedua adik perempuannya.


Ziah memarkir motornya dibawah pohon mangga yang ada dihalaman depan rumahnya. Saat matanya menatap kaca spion motornya, seketika itu pula Ziah mengingat kedua sahabatnya.


"Astaghfirullahal'adzim! Apa yang sudah Aku lakukan? Gara-gara pria-pria aneh itu! Emosiku jadi tak terkendali dan membuatku melupakan kedua sahabatku."


"Ya Allah, jangan sampai Aku bertemu dengan pria-pria aneh itu lagi." lanjut Ziah memanjatkan doa.


Sambil melepas helm di kepalanya, Ziah berjalan menuju gerbang rumahnya. Lalu membuang pandangannya kearah jalanan yang baru saja dia lalui tadi.


Dari kejauhan, tampak Ulfi masih melaju dengan kecepatan sedang di atas motornya. Sambil berbincang dengan Tita yang berada diboncengannya.


"Kau sungguh keterlaluan Zi!" Umpat Ulfi kesal. "Kau meninggalkan kami terlunta-lunta di jalanan begitu saja tadi. Kejamnya!!!" lanjut Ulfi lebay dan mendramatisir keadaan mereka.


"Kau kenapa Zi'? Apa yang sudah dikatakan Tuan Rendi itu padamu? Hingga membuatmu melupakan kami Heh...!" timpal Tita mencerca sahabatnya itu dengan pertanyaan.


"Mereka memalak nomor ponsel aku guys. Katanya, untuk berjaga-jaga jika suatu hari nanti. Si Tuan Rendi Pangalila itu terkena penyakit berbahaya yang berhubungan dengan persendian tubuhnya. Maka, bisa dengan mudah dia menemukan aku. Demi mempertanggungjawabkan perbuatanku yang telah menotoknya tadi. Lebay dan menyebalkan sekali!!!"


"Jika bukan karena menghargai mereka sebagai pendatang baru di daerah tercinta kita ini. Sudah sejak awal aku patahkan semua tulang-tulangnya itu. Agar tak modusin aku seperti tadi."


"Sungguh! Karena menahan kesal, ubun-ubun aku rasanya berdenyut dan darahku seperti mendidih melihat wajahnya yang sok tampan itu!" ujar Ziah meluapkan segala isi hatinya pada kedua sahabatnya yang setia mendengarkannya.

__ADS_1


"Maaf ya...gara-gara kesal sendiri?! Aku meninggalkan kalian dijalan tadi." ucap Ziah lagi.


"Tidak apa-apa say...! Yang terpenting kau tidak diapa-apakan oleh mereka kan?!" ucap Ulfi bijak.


"Cup...cup..cup...! Kasihan sekali sahabat kita ini ya Ul'?! Baru pertama kalinya berbuat baik pada seorang pria tampan dan rupawan. Udah dibuat sedongkol itu hatinya ya..." hibur Tita.


" Udah ah, nggak usah bahas mereka lagi. Sekarang, aku tanya: jadi nggak kita mandi lautnya?" ucap Ziah mengalihkan pembicaraan.


"Jadi dong....masa nggak! Udah dibela-belain pulang sejauh ini juga." ucap Ulfi


"Baiklah...lepas sholat ashar ya guys, kita start. Aku mau istirahat dulu. Nanti, aku akan ajak Dede sama Ade ke pantai. Biar rame!" putus Ziah.


"Iya. Kami lanjut dulu ya...?! Salam sama Mamamu. Katakan, nanti sebelum balik ke kota baru kita mampir. Dah..dah...!" pamit Ulfi. Sambil menarik tuas gas motornya. Dan meninggalkan Ziah yang masih setia menunggu kepergian mereka.


Setelah kepergian Ulfi dan Tita. Ziah kembali ke motornya. Dan menurunkan semua barang bawaannya. Kemudian beranjak memasuki teras rumah Orang tuanya.


"Assalamualaikum...!" salam Ziah sebelum memasuki rumah masa kecilnya.


Sambil menunggu penghuni rumahnya. Ziah meletakan semua barang bawaannya. Kemudian memilih duduk di kursi teras dan melepaskan sepatu dari kakinya. Lalu meletakan ditempat sepatu yang tersedia disisi kanan teras rumahnya.


"Kakak...!" ucap Ibu Adel terkejut melihat anak sulungnya. Sudah berada dirumahnya saat ini. "Kok nggak bilang, kalau mau pulang kampung Kak!" lanjut Ibu Adel.


"Hehehe... iya, maaf Ma?! Kakak cuma pulang sebentar kok. Besok siang, udah balik lagi ke kota... Mamaku sayang." ucap santai Ziah sambil nyengir kuda dan mencium tangan Ibunya takzim.


"Lho...kok cepat banget baliknya Kak?! Emangnya...cuma datang dalam rangka apa?" ucap Ibu Adel.


"Em...kita cuma mau refresing aja ke pantai Tumpapa Ma. Karena sebentar lagi, udah mulai menyusun skripsi. Jadi, kita ingin merilekskan tubuh kita yang pada lelah ini terlebih dahulu. Biar nanti, saat menyusun skripsinya... otak udah fresh dan siap diisi dengan segala ide-ide cemerlang untuk srkripsinya..." ujar Xiah, menjawab pertanyaan Ibunya.


"Oh begitu ya...! Selamat refresing dan semoga menyusun skripsinya nanti lancar sampai selesai. Aamiin..." ujar Ibu Adel penuh doa dan harapan.


"Aamiin... Ya udah, Kakak istirahat dulu ya Ma!" ucap Ziah

__ADS_1


"Iya. Tapi, Kakak udah makan siang apa belum? Kalau belum, makan dulu Kak. Baru kau istirahat." ucap Ibu Adel lagi.


"Iya, Ma. Kakak mau mandi dan sholat dulu. Oh iya, Ini ada sedikit roti boy. Mama tinggal bagi aja dengan Pakde ya...!" ucap Ziah. Sambil menyerahkan sebuah dus berukuran sedang yang berisi roti boy kepada Ibunya.


"Iya, terimakasih ya kakak! Nanti Mama bagi rotinya. Ya sudah, pergilah mandi dan sholat Setelah itu makan baru istirahat." ucap Ibu Adel.


"Iya Ma, Kakak masuk ya!" pamit Ziah. Sambil beranjak dari duduknya dan memasuki rumahnya.


Ibu Adel pun mengikutinya, masuk kedalam rumah mereka. Dia mengetuk sebuah pintu kamar yang berada didepan pintu kamar yang dimasuki oleh Ziah tadi.


"Dede....Ade...!"teriak Ibu Adel sambil mengetuk pintu. "Buka pintunya, ini ada roti boy dari Kakak." sambung Ibu Adel


Didalam kamar, kedua adik Ziah itu saling pandang mendengarkan ucapan Ibunya. Dan secepat kilat mereka berdua bergerak untuk membuka pintu.


"Roti boy, Kakak...!" ucap Dede dan Ade kompak. "Apa kakak beneran pulang Ma?" lanjut Dede.


" Iya. Nih... roti boy oleh-olehnya. Ayo, kita bagi-bagi!" ucap ibu Adel santai sambil menerobos masuk kedalam kamar kedua anaknya itu.


"Terus.... dimana Kakak? Kok cuma rotinya aja!" tanya Ade lagi bingung.


"Kakak lagi mandi dan mau sholat Dzuhur dulu. Setelah itu, baru keluar kamar untuk makan siang. Kita disuruh membagi roti ini untuk PakDemu juga, katanya." jawab Ibu Adel


"Oh....." ucap Dede dan Ade ber'oh ria.


* Elvira atau Dede adalah panggilan kesayangan untuk anak kedua dari Ibu Adel dan suaminya. Yang merupakan adik pertama Ziah. Sedang Sulastri atau biasa dipanggil Ade adalah anak ketiga. Yang merupakan adik kedua dari Ziah.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2