Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
"Sah!!!"


__ADS_3

"Dimana dia sekarang?"


Tiba-tiba Naziah sudah berdiri dibelakang Ulfi. Dan langsung menyambar ucapan Tita tersebut.


"Masih dijalan, didepan sana, 'Zi." jawab Tita.



"Apa yang terjadi, Tita?" tanya Mama Adel, ikut berdiri di samping Naziah.


Setelah mendengar jawaban Tita atas pertanyaannya. Tanpa Ba-bi-bu, Naziah langsung menerobos tubuh Tita. Yang masih berdiri tepat didepan pintu kamar yang hanya dibuka setengahnya oleh Ulfi.


Saat menuju ruang tamu, Naziah berpapasan dengan Paman Lukman.


"Om! Apa yang terjadi pada Rega, Om?" tanya Naziah pada Paman Lukman.


Belum sempat Paman Lukman menjawab pertanyaannya. Dari arah pintu masuk, Naziah dapat melihat sahabatnya sedang menggendong seseorang di punggungnya. Sambil melangkahkan kakinya dengan sangat hati-hati. Dan dibelakangnya diikuti oleh Tuan Rully dan juga Nyonya Devi.


Tanpa banyak bertanya lagi, Naziah pun langsung mendudukkan dirinya begitu saja. Tepat dimana tempatnya berdiri saat itu. Sedang Tita, Ulfi, Mama Adel yang sempat mengejar langkah Naziah. Kini ikut duduk mendampingi Naziah di sana.


Sedang Rega mulai diturunkan Anto dengan perlahan dari punggungnya. Tepat didepan meja yang memang sudah dipersiapkan untuknya. Yang mana di sana sudah menunggu seorang penghulu yang akan menjadi saksi utama dan juga pembimbingnya dalam mengucapkan ijab Kabulnya.


Dari tempatnya duduk, wajah Naziah tampak datar saja. Melihat sang calon suami yang sedang duduk dan sedikit bersiap di sana.


Wajah Rega sudah tampak pucat dan tubuhnya semakin lemah. Dia duduk dengan sedikit bersandar pada tubuh Anto yang menjadi tumpuannya. Luka diperutnya masih tetap mengeluarkan darah segar. Meski tak sederas tadi saat masih di jalanan. Karena saat ini, selembar kain yang sepertinya itu adalah selendang dari kebaya Nyonya Devi. Sudah terlilit dan menutupi luka tusuk pada perutnya itu.


"Kau sudah siap, Nak?" tanya Pak penghulu lembut. Dan Rega hanya sedikit menganggukkan kepalanya.


Kemudian, Pak penghulu pun mulai menegakkan tubuhnya. Dan meminta Paman Lukman untuk berjabatan tangan dengan Rega. Setelahnya, Paman Lukman pun mulai mengucapkan kalimat sakralnya sebagai wali pengganti dari almarhum Ayah Naziah.


Dan hanya dengan satu tarikan nafas saja. Rega mengucapkan kalimat sakralnya itu. Dengan suaranya yang lemah namun masih terdengar lantang. Melalui sebuah mikrofon yang diletakkan didekatnya. "Saya, Adrian Rega Permana. Menerima pernikahan dan perkawinan ini untuk saya. Dengan mahar yang telah disebutkan secara tunai."


Kompak semua yang ada di ruang itu maupun yang ada diluar ruangan menjawab termaksud Pak penghulunya.

__ADS_1


"Sahhh!!!"


Dan Pak penghulu langsung melanjutkan dengan doanya. Agar mempersingkat waktu dan mempercepat proses pernikahan tersebut. Dan Rega bisa segara diberi pertolongan atas luka tusuk yang dialami saat itu.


Setelah doa selesai dibacakan, Naziah langsung berdiri. Dan diantarkan Mamanya dan juga dijemput oleh Nyonya Devi untuk duduk di samping suaminya.


Ya, saat itu Rega telah resmi menjadi suami sah bagi Naziah. Dimata agama maupun Negara.


Rega mengulurkan tangannya kearah Naziah. Dan langsung disambut oleh Naziah dengan mengecup punggung tangan Rega lembut. Dan kembali dibalas kecupan mesra di atas kening Naziah dari Rega.


Seiring kecupan Rega yang melekat pada keningnya. Naziah memejamkan matanya. Demi meresapi rasa kasih sayang yang disalurkan sang suami padanya melalui kecupan itu. Tangis kesedihan dan pilu yang sejak tadi ditahannya. Saat mendapati kondisi kritis pria yang menjadi suaminya itu, tadi. Dan mengendap sementara di tenggorokannya. Kini tumpah dan berjatuhan begitu saja tanpa permisi membasahi pipi mulusnya.


Merasakan air mata istrinya yang jatuh mengenai punggung tangannya. Rega melanjutkan ciumannya ke kedua kelopak mata Naziah yang masih tertutup.


Melihat kemesraan kedua mempelai pengantin itu. Semua yang ada dan menyaksikan di sana. Tanpa sadar ikut menitikkan air mata mereka. Mereka begitu merasakan atmosfir keharuan atas momen bahagia sekaligus peristiwa tragis yang dialami sang mempelai pria sesaat sebelum momen bahagia itu dialami seperti saat ini.


"Maafkan saya, Zi?! Mobil ambulans-nya sudah siap. Kau harus secepatnya membawa Rega ke rumah sakit." ucap Anto mengingatkan Naziah. "Ayo Rega! Naik ke punggungku kembali. Aku antar kau menuju ambulans!"


Sesampainya didekat mobil ambulans. Dua orang perawat pria sudah siap dengan brankar dorongnya menunggu kedatangan mereka. Anto dengan hati-hati membaringkan tubuh Rega yang sudah tak berdaya itu. Dan dengan sigap dua perawat itu membantunya. Lalu menaikan brankar yang berisi Rega diatasnya itu kedalam mobil mereka.



"Aamiin!" jawab Naziah.


🍃🍃🍃🍃🍃


Dan di sinilah Naziah, masih dengan pakaian pengantinnya. Yaitu kebaya berwarna silver dan rok panjang batik model duyung-nya. Dia baru saja keluar dari ruang operasi dengan langkah beratnya. Naziah baru saja mendonorkan darahnya untuk sang suami. Dan langsung disambut oleh Mama dan Nyonya Devi. Untuk diajak duduk di kursi tunggu tepat didepan ruang UGD.


Ya, saat itu Naziah ditemani oleh Mamanya, Nyonya Devi, dan juga Tuan Rully serta Paman Lukman. Setelah tadi keempat orang tua itu mengikuti dibelakang mobil ambulans yang membawa Rega dan Naziah. Mereka bersama-sama menunggui Rega yang masih menjalani operasinya di dalam sana. Mereka semua menunggunya dengan tingkat kecemasan yang tinggi.


Namun dari semuanya, Naziah-lah yang paling khawatir. Dia begitu awas akan kondisi Rega saat ini. Mengingat bagaimana sejarah tentang hidup Rega dari beberapa bulan lalu. Yang mana, Rega juga pernah mendapati luka tusuk seperti itu. Dan hampir merenggut nyawanya akibat kehabisan darah. Jika saat ini luka tusuknya berada tepat diperut bagian sebelah kiri. Sedang luka tusuk yang lama ada pada bagian punggung bawahnya sebelah kanan.


Luka lama itu didapatkannya saat Rega menyelamatkan Naziah. Karena lukanya banyak mengeluarkan darah dan sangat membutuhkan donor darah secepatnya. Akhirnya, setelah melewati beberapa proses tes darah. Ternyata golongan darah mereka sama, hanya berbeda positif dan negatifnya saja. Naziah pun bisa membalas budinya terhadap Rega selaku penolongnya dan juga Bosnya, saat itu.

__ADS_1


Dan kali inipun sama, Naziah kembali mendonorkan darahnya pada Rega. Namun yang berbeda kali ini adalah status diantara mereka. Jika dulu Rega dan Naziah berstatus Bos dan karyawan Rega saja. Tapi kali ini, mereka adalah suami dan juga istri.


Betapa beruntung dan bersyukurnya. Meski Naziah beberapa hari ini sedikit kelelahan dan banyak pikiran. Tapi tak membuat kondisi fisiknya menjadi lemah. Jadi, dia pun diizinkan untuk mendonorkan darahnya itu untuk sang suami. Yang baru hampir sekitar dua jam itu berubah statusnya. Dan proses operasi untuk Rega pun tidak perlu ada penundaan akibat harus mencari pendonor darah lain untuknya.


Beberapa saat kemudian, Elvira dan Ulfi datang. Mereka terlihat melangkah dengan tergesa-gesa seakan tak sabar untuk mencapai tempat tujuan mereka. Dengan sebuah paper bag berukuran sedang yang bergelantungan ditangan Elvira.


"Assalamu'alaikum!" ucap Ulfi dan Elvira bersamaan. Setelah langkah mereka sudah mendekat pada orang-orang didepan ruang tunggu operasi itu.



"Wa'alaikumsalam!" jawab semua yang ada di sana.



"Eh, Dede, Ulfi..." ucap Mama Adel.



"Iya, Ma. Gimana keadaan suami Ziah, Ma?" jawab dan tanya Ulfi sekaligus.


Mama Adel menggelengkan kepalanya. "Belum tahu. Operasinya masih berlangsung, Ul'."


"Ya Allah, semoga operasinya berjalan lancar. Dan suami kamu baik-baik saja ya, Zi'" ucap Ulfi sambil mendekati Naziah dan mengusap lembut pundak sahabatnya itu.



"Aamiin ya Allah...!" jawab Naziah lirih.



"Ini! Kami membawakan baju ganti untukmu, Zi'. Kau pasti sudah merasa risih dengan pakaian pengantin-mu itu. Sambil menunggu, pergilah dulu ke toilet. Dan ganti bajumu itu!" ucap Ulfi dan memberi titahnya.


__ADS_1


"Baiklah. Terimakasih, Ul'. Aku ke toilet dulu." jawab Naziah lemah sambil beranjak dari duduknya.


__ADS_2