Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Membawa Pergi


__ADS_3

"Eh...eh... nggak usah pakai tarik tangan saya segala juga, Tuan!" ucap Naziah mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Rega. Namun tak berhasil.


"Tunggu, Mba!!!" teriak pria teman duet Naziah tadi dari atas panggung, memanggil Naziah. Dan berniat ingin sekedar berkenalan, sebelum Naziah pergi. Namun terlambat, karena Naziah telah jauh pergi meninggalkan panggung itu. Dan dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menatap sendu kepergian Naziah tersebut.


Mendengar seperti ada yang memanggil dirinya dari atas panggung. Naziah segera menoleh ke sumber suara. Namun, dia tidak bisa menghentikan langkahnya. Karena Rega terus menarik paksa tangannya dan membawanya pergi dari sana.


"Tuan...! Tolong lepasin tangan saya?! Saya bisa jalan sendiri." mohon Naziah. Sambil terus berusaha melepaskan genggaman erat Rega dari tangannya.


Namun, Rega seakan tak mendengar permohonannya itu dan terus berjalan maju. Dan sesaat sebelum mereka mencapai pintu keluar dari cafe tersebut.


"Waduh, Bambang ganteng! Jangan kasar-kasar kek' gitu sama adiknya. Kasihan dia...!!!" ucap salah satu pengunjung yang merasa iba melihat Naziah ditarik paksa seperti itu.


Tiba-tiba, Rega langsung menghentikan langkahnya dan membuat Naziah tanpa sengaja menabrak punggungnya. Beruntung, Naziah sigap menghalangi tubuh depannya dengan tangannya.


Sehingga, aset berharga miliknya yang ada pada tubuh bagian atas. Tak saling bersentuhan dengan punggung Rega. Namun, Naziah tetap mengadu kesakitan. Karena, aset tersebut menabrak kasar tangannya sendiri dengan cukup keras.


"Aaauhh...!!!" ucap Naziah. Sambil menatap wajah Rega dengan bingung. "Kenapa berhenti mendadak sih!!!" sambung Naziah bertanya dengan nada kesal.


Bukannya menjawab pertanyaan Naziah. Rega malah berbalik dan menghampiri pengunjung wanita yang baru saja memperingatkan atas perlakuannya terhadap Naziah.


"Maaf, Nona?! Dia bukan adikku, tapi... dia tunanganku." ucap Rega tegas, mengoreksi statusnya dengan Naziah. Yang bukan seorang adik, melainkan seorang tunangan.


"Ayo cepat !!!" ucap Rega pada Naziah dan kembali melanjutkan langkah mereka.


"Hehh...!!!"


Naziah mendengus kesal dan pasrah mengikuti langkah Rega yang entah akan membawanya kemana? Setelah keluar dari ruangan cafe itu. Dan membiarkan saja tangannya yang terus digenggam oleh Rega.

__ADS_1


Setelah Rega dan Naziah keluar dan menuju parkiran. Ternyata di sana sudah ada Ifah dan juga Devan yang menunggu kedatangan mereka.


"'Van, kau bawa motornya! Biar mereka naik taksi bersamaku." ucap Rega yang bernada perintah.


"Baik, Kak." jawab Devan patuh.


"Eh, nggak bisa. Kami mau naik motor saja. Emang ada apa sih...? Datang-datang... kok kayak gini." ucap Naziah menolak. Dan bingung dengan sikap Rega yang tiba-tiba seperti itu.


"Dan ini... bisa nggak dilepas sekarang!" sambung Naziah sambil menunjuk kearah tangannya yang masih juga setia digenggam oleh Rega.


"Aku nggak akan melepasnya, sebelum kamu masuk kedalam taksi itu." tolak Rega tegas dan menunjuk ke depan dengan matanya. Kearah taksi yang telah menunggu mereka sejak tadi, tepat ditepi jalan didepan cafe tersebut.


"Tapi,..." ucap Naziah


"Jika kau masih bersikeras juga. Jangan salahkan aku! Jika sampai aku akan..." ucap Rega sengaja menahan kalimatnya. Dan mendekatkan wajahnya ke sisi telinga Naziah. Kemudian melanjutkan kalimatnya; "Mencium bibirmu itu, disini!"


Melihat gerakan kepala Rega yang mendekat. Spontan Naziah sedikit menjauhkan kepalanya. Namun, telinganya masih dapat mendengar dengan sangat jelas ucapan yang sangat lirih dari Rega itu. Sehingga, iapun membelalakkan matanya sejenak. Kemudian, dalam waktu sepersekian detik. Naziah kembali melakukan gerakan secepat kilatnya lagi, bagai superhero flash yang ada di TV. Tanpa sadar karena terkejut dan ingin segera menghindari terjadinya hal yang dikatakan Rega itu. Dia masuk kedalam taksi yang ditunjuk oleh Rega.


"Astaghfirullah... Astaghfirullah... Astaghfirullah...!!!" ucap sang sopir dengan suara keras. Dan tanpa sadar melepas begitu saja ponsel ditangannya. Kemudian mengusap-usap dadanya untuk meredakan detak jantungnya yang tiba-tiba memompa dengan cepat.


Naziah yang juga masih dengan jantung berdegup kencang karena mendengar ancaman Rega tadi. Namun telah berada ditempat yang aman. Diapun membuang nafasnya, lega. "Huufh!!!"


"Maaf, Pak?! Aku mengagetkan mu ya?" ucap tanya Naziah dengan menatap wajah sang sopir dari balik kaca spion dalam mobil itu.


"Udah tahu nanya!!!" ucap sang sopir sewot. "Mba, siapa? Kok tiba-tiba ada di mobil saya! Mba', hantu ya?" sambungnya dengan wajah berubah bingung dan juga ketakutan.


"Eh... aku manusia, Pak. Bukan hantu! Aku disuruh masuk sama Tuan yang itu tuh!" jawab Naziah dengan nada suara ikutan sewot. Dan menunjuk kearah Rega yang berjarak kurang lebih sepuluh meter dari mobil yang tempati saat ini.

__ADS_1


Sang sopir taksi itupun, spontan mengikuti arah yang ditunjuk oleh Naziah.


Sedang Rega yang ditunjuk, tampak tersenyum smirk. Dan masih berdiri didekat Devan dan Ifah ditempat parkir cafe. Sambil melihat kearah Naziah dengan tampak menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


Begitupun dengan Devan dan Ifah yang sedikit terkejut dan bingung. Namun ikut menggelengkan kepala mereka. Melihat tingkah laku Naziah barusan.


Sang sopir itu segera keluar dari mobilnya itu dan menghampiri Rega.


"Tuan! Siapa wanita yang ada didalam taksi saya itu? Kenapa dia tiba-tiba sudah berada di sana?" tanya sang sopir dengan wajah sedikit ketakutan dan bingung.


"Dia calon istri saya, Pak. Tidak apa-apa. Dia memang seperti itu." jawab Rega ambigu. Sambil tersenyum demi menghilangkan ketakutan yang terpancar dari wajah sang sopir taksi itu.


"Ayo, Nona Ifah! Temani Naziah duduk dibelakang. Saya akan duduk di samping pak sopir. Biarkan Devan yang membawa motornya, sendiri." ucap Rega dengan menjelaskan, kenapa dia mengajak Ifah untuk menaiki taksi itu.


"Iya, Tuan. Tapi, kunci motornya masih sama Mba' Naziah." jawab Ifah mencoba menjelaskan. Sebelum Devan nantinya mengalami kesulitan saat akan membawa motor milik Naziah itu.


"Oh... ya sudah, ayo 'Van, ikut kami untuk ambil kunci motornya!" ucap Rega seraya melangkah lebih dulu mendekati mobil taksi yang telah diisi oleh Naziah didalamnya.


Dan diikuti oleh Ifah dan sang sopir taksi serta Devan dibelakangnya.


Setelah berada tepat didekat pintu mobil taksi itu. "Mba', mana kunci motornya? Tuan Devan yang akan membawa motormu itu" ujar Ifah sambil mengulurkan tangannya kearah Naziah didalam mobil. Karena, Naziah duduk jauh di kursi dekat pintu sebelahnya.


"Em... tunggu!" ucap Naziah seraya merogoh saku dalam jaket bombernya. Untuk mengeluarkan kunci motornya yang ia letakkan di sana. "Nih...!" ucapnya menyerahkan kunci motor itu ke tangan Ifah yang terulur.


"Ini kunci motornya, Tuan. Berhati-hatilah saat berkendara!" ujar Ifah lembut seraya tersenyum manis. Sambil memberikan kunci motor itu pada Devan dan tak lupa memperingatinya. Untuk berhati-hati dalam berkendara nanti.


"Iya. Terimakasih." jawab Devan datar seraya membalas senyum Ifah itu dengan tersenyum sepintas lalu. Kemudian mengambil kunci motor yang diberikan padanya itu.

__ADS_1


Setelahnya, Ifah masuk kedalam taksi itu. Dan duduk di kursi penumpang di samping Naziah. Sedang Rega duduk di kursi penumpang di samping sang sopir taksi itu.


Melihat semua penumpangnya sudah duduk dengan posisi aman ditempatnya masing-masing. Dan dengan sabuk pengaman yang sudah terpasang rapi. Sang sopir pun mulai menghidupkan mesin mobilnya dan melaju dengan perlahan memasuki jalanan. Meninggalkan Devan yang tampak sibuk mengeluarkan motor milik Naziah itu dari parkiran cafe.


__ADS_2