
Rega dan para rombongannya saat itu sedang berdiri dan membentuk sebuah barisan, namun tak beraturan. Mereka berbaris di sisi kiri jalanan. Dan berjarak kurang lebih lima belas meter dari rombongan yang siap menyambut mereka, didepan sana.
Namun, baru saja kaki Rega melangkah sebanyak dua langkah. Sesuatu terjadi dengan tiba-tiba dan tak terduga.
Bugh!!!
Salah seseorang pria yang menutupi sebagian wajahnya dengan masker. Dan mengenakan jaket kulit serta topi di kepalanya. Yang kesemuanya berwarna hitam. Dengan kencangnya berlari dan menabrakkan tubuhnya ke tubuh Rega. Orang tersebut keluar dari kerumunan orang-orang yang berdiri dibelakang tenda terowongan. Yang saat itu didalamnya, berdiri pelaminan untuk Rega dan Naziah, nanti. Orang-orang itu sengaja berdiri di sana. Demi untuk menyaksikan upacara penyambutan Rega saat itu.
Dan Rega yang tak siap dan saat itu sedang sedikit merasa gugup atas momen sakral yang akan dilaluinya beberapa menit lagi. Sedikit terhuyung ke belakang akibat seseorang tersebut. Beruntung, kedua tangan Rega reflek langsung berpegangan pada lengan seseorang yang telah menabraknya itu.
Seiring dengan tubrukan yang terjadi pada tubuhnya. Rega juga merasakan sesuatu telah menembus kulit perutnya sebelah kiri. Hingga ia tiba-tiba merasakan perih yang teramat pada bagian perutnya itu. Namun, karena rasa terkejut dan fokusnya teralihkan. Pada setiap perkataan pria yang lengannya ada dalam genggamannya. Sehingga, rasa perih yang teramat itu tak sedikitpun ia hiraukan.
"Selamat menikmati rasa sakitnya, Bro...!" ucap seseorang itu dengan seringai licik, tepat didekat telinga Rega. "Ini adalah ganjaran dariku. Karena, kau telah berani ingin memiliki gadisku itu. Naziah itu adalah milikku. Dia hanya milikku! Tidak akan ada yang bisa memilikinya selain aku. Termaksud kamu!!!" lanjutnya, dengan menekan setiap kata-kata yang keluar dari bibirnya itu.
Setelah selesai mengatakan semua yang ingin dikatakan. Seseorang itupun langsung mendorong tubuh Rega ke depan.
"Aaakh!!!"
Seiring dengan dorongan itu, Rega langsung mengerang kesakitan. Sambil memegangi perut bagian kirinya dengan tangan kirinya. Sedang tangan kanannya, masih berusaha menahan jaket pria yang telah melukainya itu.
"Aaaa...."
"Astagfirullahal'adzim!!!"
__ADS_1
Ucap spontan dan sedikit berteriak orang-orang yang ada di sana, syok. Semua yang ada di sana terkejut melihat sebilah pisau yang telah berlumuran darah ditangan pria yang telah menabrak kemudian mendorong tubuh Rega itu. Dan juga, Rega yang terlihat kesakitan sambil memegangi perutnya. Yang mulai tampak banyak mengeluarkan darah dari sana. Hingga suasana yang semula penuh khidmat, kegembiraan dan ramai dengan suara tabuhan rebana dari penggiring pengantin. Berubah menjadi riuh akan teriakan orang-orang tersebut.
Melihat hal tersebut, spontan Anto yang pada saat itu sempat terbengong dan heran. Dan berada di belakang Tuan Rully, paman dari Rega dan juga ayah dari Devan. Tepatnya di belakang tubuh Rega. Otaknya sibuk berpikir; " Kenapa bisa ada pria aneh yang tiba-tiba menabrakkan dirinya pada pengantin? Yang jelas-jelas saat itu semua yang ada di sana pusat perhatiannya ada pada Rega. Dan juga jalan yang telah dinetralisir dari kendaraan serta warga yang tidak berkepentingan dan hanya ingin menyaksikan acara tersebut. Untuk sementara waktu dan demi kelancaran proses upacara adat ini 'kan?
Langsung saja menahan sambil merangkul tubuh Rega yang hampir jatuh dengan sebelah tangannya. Dan tangan yang lainnya dengan cepat menggantikan tangan Rega yang menahan jaket pria penusuk itu.
Setelah Paman Rully mengambil alih tubuh Rega. Segera Anto bergerak melumpuhkan pria penusuk Rega itu. Sebelum pria tersebut berhasil kabur dan melukai orang lain lagi.
Dan dalam sekejap, Anto berhasil melumpuhkan pria tersebut. Kemudian, dua orang polisi yang memang bertugas mengamankan pelaksanaan upacara saat itu. Langsung memborgol kedua tangan dan kaki pria tersebut. Lalu memasukannya kedalam mobil partroli mereka yang tersedia di sana.
Sedang Rega saat itu, langsung saja terduduk dan terbaring di atas aspal jalanan. Dengan paman Rully yang memangku kepalanya.
Dan Ayahnya Anto yang juga ada di sana. Langsung menelfon petugas kesehatan setempat yang merupakan kenalannya. Untuk segera datang dengan membawa mobil ambulans ke sana dan membawa Rega ke rumah sakit.
"Ya Allah, Ega! Si-siapa orang itu? hiks ... Kenapa dia melakukan ini padamu, Nak?" ucap dan tanya Nyonya Devi sambil terisak.
Sungguh, saat ini hatinya begitu takut dan khawatir pada keponakannya itu. Apalagi, peristiwa itu terjadi tepat didepan matanya.
Tak jauh berbeda dengan Nyonya Devi dan Tuan Rully. Mega dan juga keluarga inti dari Rega yang ikut saat itu. Ikut cemas dan takut melihat keadaan Rega seperti itu.
Luka tusuknya semakin banyak mengeluarkan darah. Dan sesekali Rega terlihat memejamkan matanya. Saat rasa sakit pada luka tusuknya itu semakin bertambah.
"Pak Ibnul! Berapa lama lagi mobil ambulans-nya akan datang, Pak? Tolong disuruh lebih empat lagi!!! Luka Rega semakin banyak mengeluarkan darah ini" panggil dan titah Nyonya Devi tak sabar.
__ADS_1
"Ibu, Ayah, tolong bawa Rega segera ke hadapan penghulu! Ega tidak ingin melewati waktu baik Ega untuk mengikrarkan ijab Kabul buat Ziah. Ekhem...! Tolong... 'Yah!" ucap Rega dengan sedikit terbata-bata dan berdehem. Demi membasahi tenggorokannya yang mulai terasa kering sekali.
"Tapi, Nak! Lukamu semakin banyak mengeluarkan darah. Jadi, kita harus ke rumah sakit terlebih dahulu untuk mengoperasi lukamu itu, Nak. Jangan dulu pikirkan itu! In syaa Allah, setelah lukamu sudah dioperasi. Baru kita pikirkan itu ya?!" ucap Tuan Rully menolak karena sangat khawatir pada keponakannya itu.
"Rega tidak apa-apa, Ayah. Rega masih kuat kok. Rega hanya ingin agar Ziah bisa ikut ke rumah sakit. Dan bisa berada di sampingku saat operasi dilakukan. Lagipula, jika pernikahan ini ditunda. Maka, orang tadi akan tertawa bahagia melihatku. Tolong Ayah...!" ucap Rega semakin memelas pada Ayah angkat sekaligus pamannya itu.
Melihat itu semua, beberapa orang mulai ikut meneteskan air matanya. Merasa sedih menyaksikan kisah cinta tragis antara dua insan manusia yang saling mencintai itu.
❄️❄️❄️❄️❄️
Sementara didalam kamarnya, sejak setengah jam yang lalu. Perasaan Naziah begitu tak tenang. Bukan karena merasa gugup. Tetapi, ....entahlah! Dia merasa campur aduk. Memang, dia merasa gugup awalnya. Tapi, semakin dekat perasaan gugup itu bertambah dengan rasa takut, khawatir, dan lainnya.
Namun tiba-tiba, seseorang datang dan mengetuk pintu dari luar dengan tidak sabarnya. Mendengar ketukan itu, Naziah terkejut dan sedikit terlonjak dibuatnya. Hingga jantung Naziah semakin berdetak dengan kencang pula. Ulfi yang ada di sana bersama Mama Adel dan juga dua orang MOA yang merias Naziah, sejenak saling tatap.
"Assalamu'alaikum, Ulfi! Tolong buka pintunya cepat! Sesuatu telah terjadi diluar. Cepatlah buka pintunya!!!" ucap seseorang dibalik pintu kamar Naziah itu dengan sedikit berteriak.
Mendengar itu, dengan segera Ulfi beranjak dari duduknya. Dan membukakan Tita pintu itu. Yang ternyata itu adalah suara Tita.
"Ada apa, 'Ta? Kenapa...."
"Calon suami Ziah ditusuk seseorang diluar." potong Tita atas pertanyaan Ulfi itu. Karena tak sabar menyampaikan peristiwa yang menimpa calon suami dari Naziah, salah satu sahabatnya itu.
__ADS_1
Mendengar kata tertusuk, Ulfi tak mengerti. Sehingga, iapun menatap Tita dengan alis matanya yang terangkat sebelahnya. Sedang dibelakangnya, meski tak terlalu jelas mendengar ucapan Tita. Tapi, Naziah mampu menangkap maksud dari kata tertusuk yang diucapkan dan dimaksud oleh salah satu sahabatnya itu.