
"Nggak apa-apa. Hanya sedikit perih saja dibagian ini saat bergerak." jawab Naziah dengan seulas senyum.
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu yang langsung dibarengi dengan ucap salam. Langsung mengalihkan perhatian para penghuni ruang rawat itu. Dan serempak menjawab salam seseorang tersebut.
"Assalamu'alaikum..." ucap Dokter Karina dari balik pintu.
"Walaikumsalam." jawab semua penghuni ruangan itu.
Saat mata Rendi dan Dokter Karina saling bertemu. Kening Dokter Karina tampak berkerut dalam. "Rendi. Kok bisa ada disini?" ucap batin Dokter Karina. Sedang Rendi yang ditatap sedemikian rupa, tampak datar.
Namun detik berikutnya, Rendi yang dalam posisi duduk di kursi di samping brankar Naziah. Langsung berdiri dan menghadang Dokter Karina. Yang di belakangnya diikuti oleh salah seorang perawat yang bertugas sebagai asistennya.
"Bunda. Rendi perlu bicara sebentar. Ayo ikut aku?!!" bisik Rendi sambil merangkul pundak Dokter Karina dan mengajaknya keluar dari ruangan tersebut.
"Tapi, Ren---"
Belum tuntas ucapan Dokter Karina itu. Rendi sudah berhasil menyeretnya secara halus. Sementara itu, selain Aldi dan asisten dari Dokter Karina. Tampak saling pandang penuh tanya dengan kening berkerut dalam.
"Kamu apa-apaan sih Nak??! Bunda mau periksa pasien. Kok malah dibawa keluar." ucap Dokter Karina sedikit kesal.
"Jelaskan sama Rendi! Ziah sakit apa Bunda?"
Pertanyaan itu langsung meluncur begitu saja tanpa basa-basi. Setelah mereka sudah berada diluar ruangan. Rendi mengajak Dokter Karina untuk berbicara berdua di kursi tunggu tepat didepan kamar rawat Naziah saat ini.
"Kau mengenal gadis itu? Apa hubunganmu dengannya Hem?"
Bukannya menjawab, Dokter Karina malah balik melemparkan pertanyaan pada Rendi. Yang ternyata mereka itu adalah ibu dan anak.
"Ya, aku mengenalnya. Dan mengenai hubungan.... untuk sementara, masih sebatas teman. Sudah jelas?!! Sekarang, Bunda jelaskan padaku! Hasil rontgennya sudah keluarkan??!"
__ADS_1
Tanya Rendi menggebu-gebu ingin segera mendapatkan jawaban dari pertanyaannya itu. Setelah memberikan jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan ibunya itu.
"Heem... Ada tukak pada lambungnya." jawab Dokter Karina setelah membuang nafas pelan.
"Apa penyebabnya Bun'?"
"Itu karena dia sering terlambat makan. Dan belakangan, dia terlalu sering mengkonsumsi obat-obat generik, kata para sahabatnya. Terus, terlalu banyak beban pikiran yang hampir menyebabkan dia mengalami stres ringan. Asam lambungnya naik dan menyebabkan luka diarea lambung dalam." jelas Dokter Karina
"Ngomong-ngomong, apa anak Bunda ini sedang jatuh hati pada pasienku itu?" lanjut Dokter Karina.
Dia mulai ingin tahu lebih jauh tentang hubungan putranya itu dengan salah seorang gadis pasiennya.
"Entahlah Bunda. Melihatnya seperti itu, aku merasa ikutan sakit." jawab Rendi sedikit sendu.
"Sudah berapa lama kalian saling kenal? Karena seingat Bunda, kau baru sekitar sebulan berada di kota ini kan?!!." ucap Dokter Karina memastikan.
"Ya, aku bertemu dengannya di jalan. Saat melakukan perjalanan ke kabupaten P. Jalan ceritanya cukup panjang, Bun'. Nanti saja, jika ada kesempatan Rendi akan cerita sama Bunda, oke??!" ucap Rendi "Sekarang, Rendi mau minta bantuan Bunda boleh?" tanyanya pelan.
"Sebelum itu, Ziah butuh dirawat berapa lama disini, Bun'?" tanya Rendi lagi.
"Kurang lebih satu Minggu." jawab Dokter Karina "Memangnya kenapa sayang?" lanjutnya bertanya.
"Aku ingin memindahkannya disalah satu kamar VVIP, Bun? Aku nggak tega ngelihat dia dirawat di kamar umum seperti ini. Dan kamar ini pastinya kurang steril 'kan Bunda? Dan satu lagi, tolong berikan perawatan yang terbaik untuknya ya Bunda....??!" ucap Rendi dengan sedikit manja, mengungkapkan isi hatinya
"Yah...begitulah." jawab Dokter Karina santai "Baiklah, kau suruh saja Aldi untuk mengurus perpindahan kamarnya. Sekarang, Bunda harus memeriksa keadaannya dulu. Serta menjelaskan hasil Rontgennya."
"Gara-gara kamu, Bunda sampai lupa tugas deh...!" ucap Dokter Karina menggerutu. Sambil meninju pelan lengan anaknya itu, sebelum beranjak pergi.
"Assalamu'alaikum... Maaf ya sudah membuat kalian menunggu?!!" ucap Dokter Karina saat melangkah memasuki kamar rawat Naziah itu lagi.
"Walaikumsalam." ucap serempak penghuni ruangan itu, tak terkecuali Naziah.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok, Dok'!" lanjut Naziah
Rendi yang tadinya mengajak Dokter Karina keluar. Ikut masuk menyusul Dokter Karina. Namun hanya sebentar dan kembali keluar bersama Aldi.
Sedang Dokter Karina langsung melanjutkan niat awalnya untuk memeriksa kondisi Naziah. Serta menjelaskan hasil rontgen Naziah tadi pagi. Dia tak menyangka, gadis cantik alami meski tampak pucat dan tanpa polesan makeup itu. Dan baru tadi pagi menjadi pasiennya itu. Kini menjadi pasien istimewa baginya, karena putranya.
"Gimana saat makan siang tadi? Apa kau merasa mual atau terasa perih di bagian lambungmu ?" tanya Dokter Karina sambil memeriksa kondisi Naziah.
"Merasa mual tidak. Hanya terasa sedikit perih saja, Dok'"jawab Naziah.
"Ya, itu karena makanan yang masuk ke lambungmu itu menyentuh luka yang ada didalam. Dan luka yang terjadi di lambung itu disebut tukak lambung. Semoga dalam waktu satu minggu ke depan, Tukak lambung itu sudah bisa terpulihkan. Dengan serangkaian pengobatan yang akan kau jalani nanti ya..!" ucap Dokter Karina lemah lembut.
"Aamiin..." ucap Naziah pelan. Dan diikuti pula oleh Ulfi dan Tita mengamini.
"Tapi Dok', sebelum itu, bolehkah saya tahu berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk membayar semua pengobatan itu?" tanya Naziah hati-hati.
"Emm... sepertinya, kau tidak perlu khawatir tentang itu. Yang terpenting saat ini dan nanti, kau bisa cepat sembuh dan sehat kembali. Oke!!! Tidak usah kau pikirkan."
"Ya sudah, aku pergi dulu. Assalamu'alaikum!" ucap Dokter Karina pamit undur diri dengan memperlihatkan senyum ramah.
*
Sementara itu, di tempat lain. Aldi dan Rendi sibuk mempersiapkan sebuah kamar lain untuk Naziah.
*
*
*
Jangan lupa tinggalkan jejak ya para readesku.... Dengan menekan tanda Like, Vote dan hadiah serta komentar positifnya.
__ADS_1
Agar aku makin semangat nulisnya...🙏🤗