Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Menjenguk


__ADS_3

Tepat pukul 07.55 WITA, Naziah baru sampai di kantornya.


"Selamat pagi, Pak Rafli dan Mas Kasno!" sapa Naziah begitu ramah pada kedua satpam yang bertugas pagi itu. Sambil menghentikan laju motor maticnya tepat didepan pos satpam tersebut.


Kemudian menyodorkan sekantong plastik jajanan kue basah yang tadi sempat dibelinya dalam perjalanan ke kantor itu. Sambil berkata, "Nih ... sedikit jajanan kue, Pak! Buat teman ngopi. Aku masuk dulu ya, Pak!" ucapnya sekaligus berpamitan.


"Selamat pagi juga, Mba' Ziah. Wah... terimakasih banyak. Semoga harimu menyenangkan Mba'. Silahkan...!" balas Pak Rafli dengan senyum bahagia mewakili Mas Kasno. Sambil menyambut kantong berisi jajanan pemberian Naziah itu. Kemudian mempersilahkan Naziah masuk.


Setelah dipersilahkan, Naziah pun mulai melanjutkan perjalanannya memasuki area basement. Untuk memarkirkan motornya terlebih dahulu. Sebelum akhirnya, dia masuk kedalam kantornya tersebut.


"Nona Naziah itu sangat baik ya! Setiap kali kita bertugas pagi, dia selalu membelikan kita jajanan untuk teman ngopi." ucap Mas Kasno.


"Iya. Dia memang sangat baik hati. Aku senang loh... bisa kenal sama wanita seperti Mba' Naziah itu. Selain wajahnya yang cantik; dia juga wanita yang cerdas, Kasno. Buktinya, hanya dalam waktu dua tahun saja. Dia sudah bisa menduduki jabatan penting dalam perusahaan ini dan sangat bertanggungjawab atas jabatannya itu." jawab Pak Rafli menceritakan sedikit tentang Naziah yang dia ketahui.


"Wah... benarkah?!! Kalau begitu, dia bisa dikategorikan sebagai wanita langkah, Pak." ucap kagum Kasno mengategorikan Naziah kedalam salah satu wanita langkah.


"He'em." jawab singkat Pak Rafli sambil mengangguk dengan mulut yang penuh sedang mengunyah salah satu kue pemberian Naziah tadi.


"Dan bukan hanya itu aja 'No." tutur Pak Rafli dengan sedikit berbisik dan melanjutkan penuturannya itu. "Semalam aku dapat kabar dari Si Halim. Kalau Mba' Naziah itu, sempat hampir dilecehkan sama kesepuluh preman. Yang tak tahu datangnya darimana, tiba-tiba saja sudah ada di basement. Singkat cerita, saat melihat Pak Rega yang ditikam sama salah satu preman itu. Tiba-tiba, ..."


Belum selesai penuturannya. Kasno langsung memotong perkataan Pak Rafli dengan suara cukup tinggi karena terkejut. "Astaghfirullah!!! Pak Rega ditikam ... ". Dan dengan spontan Pak Rafli membekap mulut Kasno itu.


"Jangan keras-keras ngomongnya Kasno!" ucap Pak Rafli dengan mengunci kedua barusan giginya karena gemes sama tingkah absurd temannya itu. "Karena, Pak Devan sudah memperingatkan kita untuk merahasiakan masalah semalam itu dari semua orang terutama para karyawan disini." lanjutnya menjelaskan pada Kasno. Agar, temannya itu mengerti dan bertanya dengan suara pelan saja.


Setelah mengerti, dengan cepat Kasno menganggukkan kepalanya. Dan Pak Rafli pun baru melepas bekapan tangannya dari mulutnya.


"Terus... bagaiman keadaan Direktur Rega sekarang, Pak?" tanya Kasno mulai memelankan suaranya.


"Aku dengar, beliau sudah baik-baik saja saat ini. Dan sedang menjalani pemulihan lukanya saja di rumah sakit XX." jawab Pak Rafli datar dan kembali menikmati kopi serta kue pemberian Naziah.

__ADS_1


Ya, setelah Rega sadar dari pengaruh obat bius saat tubuhnya dilakukan operasi penjahitan luka tusuk yang dialaminya. Dia memerintahkan Devan untuk memberitahu kepala polisi yang menangani kasusnya. Supaya segera membersihkan tempat kejadian perkara. Agar karyawan kantornya tidak tahu masalah itu yang akan mengurangi konsentrasi mereka dalam bekerja nantinya.


Dan meminta para satpam ataupun saksi lain yang menyaksikan langsung perkara itu untuk tutup mulut hingga kasusnya selesai diusut oleh anggota kepolisian terkait, nantinya.


...----------------...


Sementara itu, Naziah sudah memulai pekerjaan seperti biasa. Dan berencana menjenguk Rega saat jam kantor selesai. Untuk itu, dia ingin menyelesaikan pekerjaannya hari itu lebih cepat dari hari biasanya. Agar bisa pulang bersamaan dengan karyawan lainnya.


Di sisi lain ...


Di rumah sakit tempat dimana Rega saat ini dirawat. Devan yang sudah rapi seperti biasanya, menghampiri ranjang Rega.


"Kak, aku sudah mengantar sarapan seperti yang kau katakan pada Nona Naziah. Dan dia menitipkan ucapan terimakasihnya atas perhatianmu padanya, tadi. Dan dia juga mengatakan, kalau pekerjaannya hari ini tidak banyak. Maka, dia akan datang menjengukmu nanti. Apa kau bahagia?" ucap Devan menyampaikan titipan pesan dari Naziah untuk Rega.


Dan bertanya, demi memastikan kalau kakak sepupunya itu merasa bahagia mendengar pesan tersebut.


Rega tersenyum sangat lebar karena bahagia. Sambil menjawab pertanyaan adik seperguruannya itu dengan anggukan kepalanya.


"Kirimkan aku nomor ponsel miliknya, secepatnya!!!" ucap Rega tegas dan tak terbantahkan.


"Itu saja?!" tanya Devan lagi memastikan. Dan Rega pun mengangguk pasti. "Hem... baiklah. Akan aku kirimkan setelah mendapatkannya. Aku pergi dulu. Assalamu'alaikum." lanjutnya pasrah dan pamit pergi.


Sedang keluarga Devan; ayah, ibu dan kakak Ferry. Telah kembali ke kota J subuh tadi. Setelah memastikan kalau Rega sudah dalam kondisi baik-baik saja. Tinggal pemulihan atas luka tusuk yang dialaminya itu.


____________


Malam hari, setelah jam kantor selesai. Naziah pun bergegas keluar dari ruangannya. Dan menuju motor matic kesayangannya yang terparkir seperti biasa di basement.


Karena telah berjanji untuk menjenguk big bosnya hari ini. Dan baru memiliki waktu luang setelah jam kantor selesai. Dan waktu itupun bertepatan dengan kurang dari satu jam sebelum jam besuk pasien berakhir.

__ADS_1


Dengan sedikit melajukan motornya di jalanan. Dan tak lupa mampir untuk membeli buah segar di penjual buah ditepi jalan. Sebagai buah tangannya menjenguk big bosnya itu.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 15 menit saja. Akhirnya Naziah sampai di rumah sakit tempat Rega dirawat.


Tok tok tok


"Assalamu'alaikum...!" ucap Naziah


Tepat didepan salah satu ruang rawat pasien. Yang tentunya itu adalah ruang rawat Rega. Naziah sudah tahu ruangannya tanpa perlu lagi bertanya pada resepsionis. Karena malam sebelumnya, Naziah memang pernah keruangan itu. Namun, dia tidak sampai masuk kedalam. Sebab harus memberi privasi pada keluarga Rega dan Devan.


Pintu terbuka dan menampilkan wajah Devan di sana. "Wa'alaikumsalam." ucap Devan menjawab salam Naziah.


"Eh... Nona Naziah. Mari, silahkan masuk! Tuan Rega sudah menunggu Anda sejak tadi." lanjut Devan mempersilahkan Naziah untuk masuk. Sambil membuka pintu ruang rawat Rega itu dengan lebar.


"Tuan, Nona Naziah telah datang." ucap Devan memberitahu Rega atas kedatangan Naziah.


Namun, saat matanya tertuju pada Rega. Tiba-tiba saja, Devan menautkan keningnya dalam. Bingung melihat Rega yang menutup matanya rapat. "Hah!!! Apa yang kak Rega lakukan? Kenapa dia menutup mata dan berpura-pura tidur? Apa ini aksi merajuknya dan tidak mau ditemui oleh Nona Naziah? Tapi, ... "


"Tuan Rega sudah tidur, Tuan Devan. Aku akan pulang saja. Aku tidak ingin mengganggunya. Ini ... " ucap Naziah dengan suara pelan, merasa tak enak hati dan tak ingin mengganggu tidur Rega. Jika menjenguk pasien yang sedang tertidur. Untuk itu, dia memutuskan untuk pulang saja, namun terpotong.


Saat tiba-tiba Rega mengeluarkan suaranya. "Keluarlah 'Van! Tinggalkan kami berdua disini. Dan jangan lupa untuk menutup pintunya." ucap Rega tegas dan tak ingin dibantah.


Mendengar perintah tegas seperti itu, Devan tanpa bertanya atau membantah sepatah katapun. Langsung pamit undur diri dan keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Naziah dan Rega berdua di sana.


"Baik. Aku keluar Tuan. Permisi, Nona!" ucap Devan berpamitan pada Naziah.


Naziah yang diminta untuk tetap tinggal di sana. Hanya menatap bingung kepergian Devan yang meninggalkannya berdua saja dengan big bos yang terkenal dengan sikap dingin, galak dan tegasnya itu.


Sungguh! Seiring tertutup rapatnya pintu ruangan tersebut. Udara dingin langsung menyergap tubuh Naziah dan membuat bulu-bulu halus yang ada pada tengkuknya menjadi sedikit merinding takut.

__ADS_1


Namun, dengan cepat Naziah dapat menguasai diri dan menaklukan rasa takutnya itu. Agar tetap terlihat biasa-biasa saja di mata big bosnya itu.


__ADS_2