Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Bi' Suni?


__ADS_3

"Maksud, Mba', apa?" tanya Ifah akhirnya.


Ifah sungguh tak mengerti isi pikiran temannya itu. Bukannya menghindar atau diam ditempat. Naziah malah tampak santai dengan gerakannya yang semakin membuat Ifah bingung. Bagaimana tidak? Jalan yang seharusnya mereka lalui untuk pulang, lurus melewati kedua persimpangan jalan itu. Tapi Naziah, malah berbelok ke salah satu simpang yang tampak pencopet keluar dari sana.


Awalnya, Ifah memang berencana akan kompak menghadang pencopet itu bersama Naziah. Dengan menggunakan jurus emak-emak rempong. Yaitu, mengeroyok pencopet itu dengan kayu atau apapun yang bisa digunakan untuk memukul pencopet itu .


Tapi saat ini, Ifah ingin bersikap masa bodoh saja dengan masalah pencopetan itu. Melihat bagaimana kekarnya tubuh pencopet itu. Membuat nyalinya menciut seketika. Dia berpikir : Meski mereka berdua, tapi mereka hanya wanita biasa. Bukan wonder woman seperti yang ada didalam sebuah film superhero. Mereka tidak akan bisa mengalahkan pencopet itu. Jika mencoba memaksa menghadangnya. Maka, mereka juga akan kena imbasnya. Contohnya; Mereka akan dipalak dan diancam agar menutup mulut tentang kejahatannya itu, mungkin!


Jadi, meski dianggap tak berperikemanusiaan. Ifah tak perduli. Itu lebih baik daripada berurusan dengan hal-hal kriminalitas seperti itu, pikir Ifah.


"Mau kemana, Bang?" tanya Naziah santai, sambil memasukan kedua tangannya kedalam kedua saku outfitnya. Dan berdiri tepat menghalangi jalan pencopet itu.


"Heh..heh... Jangan ikut campur, cantik. Menyingkirlah dari jalanku!!!" ucap pencopet itu angkuh dengan tatapan meremehkan. Masih dengan nafasnya yang terengah-engah setelah melarikan diri dari korban copetnya.


"Aku tidak akan menyingkir. Dan memangnya, kenapa kalau aku ikut campur hm?!" tolak Naziah dan balik tanya.


Bukannya mengindahkan perkataan copet yang meminta diberi jalan. Naziah justru semakin mengikis jarak antara mereka yang masih lebih dari satu meter.


Melihat hal tersebut, pencopet itu tersenyum sinis. "Em... Kau ingin bermain-main denganku hah?!" ucapnya marah.


Seiring dengan kalimat akhirnya. Pencopet itu melayangkan pukulannya kearah Naziah. Namun, meleset! Naziah dengan mudahnya menghindari pukulan tersebut. Dan, dengan gerakannya yang entah secepat apa? Tanpa disadari oleh si pencopet, dompet curiannya. Kini telah berpindah tangan, ke tangan Naziah.


Wuush.... bunyi pukulan copet yang meleset dan hanya mengenai udara saja.

__ADS_1


Setelah dompet sudah ditangannya. Dengan santainya, Naziah segera menghampiri pemiliknya. Yang sejak tadi sudah berdiri tidak begitu jauh dari dia dan pencopet itu. Kemudian menyerahkan dompet tersebut.


"Permisi, Bu! Ini dompetnya." ucap Naziah tersenyum ramah dan manis. Sambil menyerahkan dompet curian itu ke pemiliknya.


"Terimakasih, Cantik!" ucap wanita paruh baya pemilik dompet dengan ramah dan balas tersenyum.


Sementara itu, pencopet hanya memandang beo kearah Naziah dan terpaku ditempatnya. Sedang Naziah telah melengos pergi begitu saja dengan dompet curian itu. Yang entah bagaimana sudah berpindah tangan.


Seperti halnya si pencopet. Ifah yang masih stay ditempatnya pun tampak conge. Dia sedikit syok. "Mba' Ziah, bagaimana dia melakukannya? Aku tak melihatnya melakukan apapun, selain menghindari pukulan copet itu tadi. Tapi, dompet tersebut sudah ada ditangannya! Astaga...!!! Apa sebenarnya dia? Manusia... atau hantu!" batin Ifah penuh tanya dan bergidik sendiri.


"Hei...!!! Berikan kembali dompet itu padaku. Bagaimana bisa sudah ada di tanganmu?" sarkas pencopet itu dan bertanya, karena tak habis pikir dengan yang dilakukan Naziah padanya.


Naziah mengendikan kedua bahunya cuek sambil menatap pencopet itu.


"Jika kau bisa, ambil saja sendiri. Tapi sebelum itu, hadapi aku!" ucap Naziah santai dan sekejap kemudian berubah nyalang. "Ayo!!!" sambungnya dengan menyentakkan sebelah kakinya dan nada suara sedikit membentak.


Seketika, nyali si pencopet bertubuh kekar itu menciut dan bahkan hilang entah kemana? Dia langsung lari tunggang langgang tak tentu arah.


Membuat Naziah menerbitkan senyum geli di bibirnya. Begitupun dengan wanita paruh baya yang masih setia berdiri didekat nya.


Sedang Ifah, tak usah ditanya. Dia sudah tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Hingga matanya tampak berair, akibat tertawa terlalu keras. Sampai si pencopet yang lari terbirit-birit itupun hilang dari pandangannya, ia masih terus saja tertawa.


"Sekali lagi, terimakasih, Cantik. Sudah membantu saya." ucap wanita paruh baya yang diperkirakan Naziah seumur dengan ibunya.

__ADS_1


"Kembali kasih, Bu. Dan tidak perlu mengucap terimakasih dengan cara berulang-ulang begitu. Ini sudah kewajiban kita untuk saling menolong sesama, selagi mampu." ucap terang Naziah.


Karena tidak terlalu suka menerima ucapan terimakasih berulang-ulang. Apalagi, dia seperti tidak melakukan apa-apa tadi.


"Em... ngomong-ngomong, Ibu baru dari pasar?! Udah mau pulang? Rumahnya dimana Bu? Ayo, saya antar bareng teman saya itu! Takut, pencopet tadi menghadang ibu lagi." sambung Naziah sedikit mencerca wanita paruh baya itu. Dan menunjuk kearah Ifah berada.


Karena mendengar cercaan Naziah. Seketika, wanita paruh baya itu terbengong menatap wajah Naziah. Wajahnya tampak seperti gadis kalem dan pendiam. Ternyata, diam-diam cerewet juga, pikir wanita paruh baya itu.


"Bu'!" panggil Naziah dengan melambai-lambaikan tangannya ke depan wajah wanita paruh baya yang terus menatapnya.


"Eh, iya, Cantik. Ibu baru dari pasar. Saya mau pulang ke rumah majikan saya di jalan itu. Sudah dekat kok! Apa saya tidak merepotkan kalian? Kalau harus diantar." jawab wanita paruh baya itu saat tersadar dari lamunannya. Dan menunjuk jalan diseberang jalan poros yang ada di depan mereka.


"Kami tidak merasa direpotkan kok, Bu'. Iya kan Ifah?!" jawab Naziah dan meminta dukungan pada Ifah yang baru bergabung bersama mereka berdua di sana.


Ifah yang memang sudah sempat mendengar sedikit obrolan Naziah dan wanita paruh baya itu. Langsung ikut nimbrung dengan menimpali ucapan Naziah yang ditujukkan padanya itu.


"Iya, Bu. Kami tidak merasa direpotkan kok." timpal Ifah.


"Daripada saya harus menyesal nanti, jika terjadi sesuatu pada Ibu sebelum sampai tujuan. Pencopet tadi, pasti masih menunggu Ibu di suatu tempat sepi lainnya. Dan akan mengulang kembali kelakuannya tadi yang gagal karena saya. Kebetulan, kami juga lagi senggang dan baru habis berolahraga saja tadi. Untuk mengisi waktu libur dari pekerjaan kami. Ayo, Bu!! Dan mari, biar saya saja yang bawa keranjangnya sayurnya." jelas Naziah panjang lebar. Kemudian mengambil alih keranjang bawaan ibu dari tangannya.


"Hem... baiklah. Ayo!" jawab pasrah wanita paruh baya itu sambil mulai melangkah maju.


"Oh iya, kalau boleh tahu, nama kamu sebenarnya memang Cantik atau..." ucap Wanita paruh baya itu bertanya.

__ADS_1


"Hahaha... bukan, Bu. Perkenalkan, nama saya Naziah. Panggil aja Ziah atau Zi'. Dan teman saya ini, namanya Ifah. Kalau boleh tahu, Ibu namanya siapa?" jawab Naziah setelah tertawa garing. Dan kemudian balik bertanya.


"Wah... nama kalian cantik-cantik, sangat pas dengan pemiliknya yang memang tampak cantik-cantik. Nama saya, Suni. Biasa dipanggil Ibu Suni. Tapi, kalau majikan saya. Biasa panggil saya, Bi' Suni." jawab Ibu Suni memperkenalkan dirinya. Setelah sebelumnya, memuji Naziah dan Ifah.


__ADS_2