
"Baiklah...akan ku jawab. Iya, pagi tadi dia demam dan panas tinggi. Syukur Anto bersiap menemaninya dan nggak ngampus. Kata Anto, baru saja dia meninggalkan Ziah. Untuk mengambil laptopnya di kamarnya. Namun, begitu dia kembali ke kamar Ziah. Dia sudah mendapati Ziah yang terkapar pingsan didepan kamar mandinya. Setelah beberapa usaha dia lakukan untuk menyadarkan Ziah. Tapi, Ziah tak kunjung sadar lebih dari 15 menit lamanya. Akhirnya, Anto memutuskan untuk membawanya kemari dan memberi tahu kami untuk menyusul. Begitu ceritanya...!" jawab Ulfi santai.
Bak seorang petuah yang sedang berdongeng. Ulfi menutup ceritanya seperti itu.
Namun, bak lain tanya, lain pula jawabnya. Rendi malah beralih pertanyaan. Karena otaknya terfokus ke salah satu nama. Yang disebut-sebut oleh Ulfi dalam menolong Naziah dan membawanya ke rumah sakit.
"Anto?! Siapa dia? Dan sekarang, Ziah nya ada dimana?" tanya Rendi
Dengan kening sedikit berkerut karena bingung mendapat pertanyaan tentang siapa Anto itu? Ulfi kembali mencibir Rendi.
"Hem... Anda sudah seperti pacar Ziah saja, Pak. Mendengar nama pria lain yang menolong Ziah dan bukan Anda. Maka Anda marah dan bertanya siapa pria itu?!!"
"Em... dengar ya Pak!!! Aku akan jelaskan sedikit. Kami adalah empat bersahabat. Dan salah satunya itu pria, namanya Anto. Sekarang Ziah ada di ruangannya bersama Tita. Kami bergantian untuk menjaganya." jawab Ulfi
"Oh..." ucap Rendi ber'oh ria. "Terus, bagaimana keadaan Ziah? Apa dia sudah sadar?" tanya Rendi lagi menggebu-gebu.
"Ekh...kok Anda menggebu-gebu seperti itu sih?! Apa Anda menyukai sahabat saya itu?" tanya Ulfi sedikit bingung dan mencoba menebak perubahan sikap Rendi tersebut. Yang tadinya pendiam dan ceuk abis. Malah berubah cerewet dan perhatian.
"Biasa Jo le...." ucap Ulfi lagi dengan gaya dan tata cara bicara asli daerahnya. "Dia udah sadar dari setengah jam yang lalu. Makanya, karena udah merasa lega, perutku jadi lapar. Dan aku pamit kesini deh...!" sambungnya.
"Alhamdulillah..." ucap Rendi dan Aldi kompak.
"Boleh kami menjenguk?" tanya Rendi pelan.
__ADS_1
"Emm...boleh nggak ya...???" ucap Ulfi dengan ekspresi seperti berpikir. "Tapi dengan satu syarat?!!" sambung Ulfi kemudian.
"Apa itu?" tanya Rendi setelah sebelumnya saling pandang dengan Aldi.
"Kalian harus membayar makananku ini. Bagaimana?" ucap Ulfi
"Membayar makananmu itu. Hanya itu saja??!!!" ucap Rendi untuk memastikan.
Dan dengan sedikit ragu, Ulfi mengangguk pasti. Mendapat jawaban dari pertanyaannya. Dengan segera Rendi menuju kasir dan membayar semua makanan yang dia, Aldi serta Ulfi makan.
Melihat tingkah Rendi yang baru diketahui olehnya itu. Ulfi sedikit menganga dan geleng-geleng kepala karenanya. Sebab dalam pikirannya, seorang Rendi akan memiliki sifat dan sikap seperti seorang CEO yang ada didalam cerita-cerita novel yang pernah dibacanya. Ternyata, Rendi yang ini hampir memiliki sifat dan sikap sebaliknya.
"Sudah. Sekarang, apa kita sudah boleh pergi menjenguknya?" tanya Rendi saat sudah berada didepan Ulfi.
Rendi dan Aldi keluar dari kantin itu. Bersiap menuju kamar rawat Naziah. Dan Ulfi menjadi penunjuk jalan mereka.
Karena Naziah berada di kamar perawatan umum. Jadi, mereka tidak perlu berjalan jauh atau menaiki banyaknya anak tangga untuk ke lantai dua ataupun tiga.
Setelah berada tepat didepan sebuah kamar perawatan pasien. Ulfi langsung masuk, setelah sebelumnya memberi salam pada penghuni kamar tersebut.
"Assalamualaikum..." ucap Ulfi
"Walaikumsalam..." jawab Tita pelan.
__ADS_1
"Ssst....!"
Saat mengetahui yang datang adalah Ulfi. Dengan cepat Tita memberi isyarat untuk diam pada Ulfi. Agar tak menimbulkan suara-suara berisik. Yang akan mengganggu Naziah yang sedang beristirahat. Setelah selesai makan dan meminum obatnya.
Kemudian, di detik berikutnya. Rendi dan Aldi ikut masuk dan mengucap salam. Namun dengan suara pelan. Karena, setelah Ulfi membuka pintu. Naziah yang tertidur di atas brankarnya. Langsung menjadi pemandangan pertama bagi Rendi dan Aldi.
"Assalamu'alaikum..." ucap pelan dan kompak Rendi dan Aldi.
"Wa'alai-kum-salam." jawab Tita.
Mendengar ucapan salam dari dua suara pria yang asing baginya. Tita sampai menjawab dengan terbata-bata. Setelah matanya langsung menangkap kedua sosok pria yang memberi salam tersebut. Dengan ekspresi yang tampak bingung.
Melihat wajah bingung salah satu sahabatnya itu. Ulfi langsung menjelaskan pada Tita.
"Mereka adalah Rendi dan Aldi. Dua orang pria-pria aneh yang pernah ditolong oleh Ziah. Sewaktu kita PulKam kemarin, 'Ta. Apa kau masih ingat?" jelas dan tanya Ulfi.
"Ohh... Mau ngapain mereka kesini?" tanya Tita ketus dan sinis setelah ber'oh ria.
"Jangan salah paham dulu Nona! Kami datang bukan karena berniat jahat pada kalian. Kami hanya ingin menjenguk Nona Ziah saja. Setelah tadi kami mendengar kabarnya dari Nona Ulfi. Bahwa Nona Ziah sedang sakit dan dirawat di rumah sakit ini. Jadi, karena kebetulan ada disini. Kami putuskan untuk menjenguknya." jelas Aldi.
Mendengar penjelasan dari Aldi tersebut. Akhirnya, Tita melunak dan beranjak dari kursi tempat duduknya. Dan mempersilahkan tamunya tersebut.
"Seperti itu ya... Baiklah. Silahkan duduk! Maaf??! Kursi untuk penjenguknya cuma ada satu." ucap Tita. "O iya, tolong jangan dulu membangunkannya ya...! Sebab dia baru saja tertidur." sambung Tita mengingatkan, tetap dengan nada ketusnya.
__ADS_1
"Iya. Aku tidak akan membangunkannya kok. Nona tenang saja...!" jawab Rendi sambil duduk di kursi yang baru saja disodorkan oleh Tita padanya.